Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Siang hari di bandara.
Jantung Nismara berdetak tak karuan ketika dia menyodorkan passport barunya atas nama Sofia Elena. Nismara beberapa kali mengusap tangannya ke atas wajahnya.
Petugas di depan Nismara melirik dan menatapnya tajam. "Anda baik-baik saja?"
Nismara tergagap menjawab. Dan petugas itu makin menghujamkan tatapan, seperti mencium sesuatu yang tidak beres. Dia membuka halaman depan passport kemudian melihat ke arah Nismara, lagi-lagi dengan tatapan tajam.
"Sofia Elena...."
Nismara tersenyum, petugas bandara itu pun membalas senyum sambil menyerahkan passport.
"Apakah ini perjalanan jauh pertamamu seorang diri? Kamu terlihat begitu tegang." ucapnya santai pada Nismara.
Nismara tidak menjawab, dia hanya melempar senyum lagi dan menerima kembali passport nya.
"Santai dan nikmati perjalananmu. Dunia selalu ramah untuk perempuan muda dan cantik seperti kamu." katanya lagi.
Kali ini Nismara membuka senyumnya lebih lebar. "Terima kasih."
Nismara bernafas lega.
"Om Ben memang tidak perlu diragukan lagi, tidak sia-sia selama ini aku membayarnya mahal." Nismara permonolog sendiri seraya menepuk-nepuk passport atas nama Sofia Elena.
Penerbangan lancar sesuai jadwal yang tertera.
Sampai di Denpasar Nismara membeli sebuah telepon pintar dan kartunya. Setelah itu dia menuju sebuah tempat makan. Satu bulan di Swiss cukup membuat lidahnya merindukan sambal dan nasi pulen.
Nismara masuk ke sebuah restoran tradisional yang cukup ramai. Dia segera memesan beberapa menu dan sambil menunggu pesanan datang, dia mengulik telepon pintarnya. Yang pertama tentu saja dia membuat email baru atas nama barunya pula. Selama di pesawat, Nismara berpikir untuk menggunakan email saja, meniru langkah Si Peduli Kamu.
Jadi nanti Nismara akan berkomunikasi dengan Miranti dan Benjamin melalui email saja, itupun akan dia batasi. Sebab Nismara benar-benar ingin meminimalisir kontak dengan masa lalunya, dia mau menjadi Sofia Elena seutuhnya. Lagi pula misi ini memang berbahaya, buktinya Sherin dan Joana mati dengan begitu mudah. Nismara sama sekali tak ingin terjadi dengan orang-orang yang dia kenal, terlebih Miranti dan Benjamin. Dalam hidupnya sekarang dia hanya punya dua orang itu untuk bersandar.
Minuman datang tak berapa lama, namun malah perut Nismara bermasalah. Tiba-tiba dia ingin buang hajat. Mata Nismara langsung nyalang mencari papan petunjuk keberadaan toilet. Begitu tahu arahnya, Nismara bergegas menuju ke sana sambil setengah berlari. Karena terburu-buru dia bertabrakan dengan seorang pria, 2 meter sebelum dia sampai ke toilet.
"Sorry sorry. Aku buru-buru ke toilet."
Nismara melesat dan langsung duduk di toilet.
Krucuk- krucuk.
"Hah, legaaa." ucap Nismara agak keras sambil mengusap-usap perutnya.
Tapi begitu dia membuka pintu toilet, wajahnya bersemu merah karena malu, ternyata ada seorang ibu yang tersenyum lebar ke arahnya. Mungkin ibu itu mendengar seruan kelegaan yang Nismara lakukan barusan.
Nismara segera menyelonong pergi.
Dan entah kenapa, dia menabrak lagi seorang pria, tempatnya pun hampir sama dengan saat pertama dia bertabrakan sebelum masuk ke toilet tadi.
Nismara menatap sang pria. Jantung nya serasa lepas ketika mata perempuan itu menangkap sosok utuh di depannya ternyata Rudi, mantan suami Miranti.
"Maaf, maaf. Sungguh aku nggak sengaja." seru banget sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dadanya sendiri.
Rudi hanya menatapnya, matanya sedikit terbeliak.
Karena tidak ingin berhubungan dengan laki-laki itu, Nismara segera bergegas melangkah.
"Nismara?!"
Nismara berhenti. Sedetik kemudian Rudi sudah berada di hadapannya lagi.
"Jadi benar kamu Nismara?" Rudi berkata, nadanya meninggi dan mata laki-laki bertawakal lumayan tambun itu tiba-tiba membela liar. "Tapi kenapa kamu berubah begini?"
Deg.
Jantung Nismara kembali melorot. Dia lupa bahwa sekarang dia adalah Sofia Elena, bukan Nismara. Secepat kilat Nismara membuka tasnya berpura-pura memeriksa sesuatu. Beberapa detik dia menunduk, mengubah-ubek tasnya sambil bergumam sesuatu.
"Oh, kirain ketinggalan di toilet." Serunya berakting lega. Lalu beralih pada Rudi dan kembali berakting, berpura-pura tidak mendengar semua pertanyaan Rudi. "Om ada apa? Saya kan udah minta maaf."
"Nismara? Kamu Nismara kan?" Rudi lebih mendekat, matanya memindai seluruh tubuh Nismara dengan cepat.
"Nismara siapa?" jawab Nismara sambil mundur. "Jangan coba-coba menipu ya! Kenal aja nggak!"
Rudi menggaruk kepalanya. "Wajahmu memang beda. Tapi suara dan gerak-geriknya persis sekali sama teman saya, namanya Nismara. Jadi kamu bukan Nismara?"
"Jangan modus!" Tukas Nismara sambil pergi.
"Tunggu - tunggu!" Rudi mendekati Nismara lagi.
"Pergi atau saya teriak? Saya sudah sering dapat modus dari om-om seperti kamu ini!" Nismara mendelik.
"Eh, tenang, tenang cantik. Maafkan aku. Aku pergi atau boleh kah aku mentraktir kamu hari ini sebagai....."
"Pergi!!!"
Nismara mendorong tubuh Rudi sekuat tenaga dan buru-buru kembali ke mejanya. Nismara duduk, namun matanya mengikuti arah Rudi yang perlahan-lahan pergi dari tempat terakhir nya berdiri. Mata Rudi sesekali memandang Nismara hingga hilang di salah satu bagian lain di restoran.
Nismara menutup matanya. Napasnya terhembus kasar. "Hampir saja "
"Rudi mengenali aku dari suara ku, gerak-gerik ku. Apakah semudah itu aku dikenali? Bahkan sudah setahun lebih Rudi tidak pernah ketemu aku. Hmmmm..... Masa operasi ratusan juta seperti tidak berguna?" Nismara bermonolog sendiri. "Hai, tapi Rudi kan karena dia pernah mengenal aku bertahun-tahun. Kalau untuk orang baru, pasti hanya kenal Sofia Elena bukan Nismara."
Es teh yang telah menyegarkan tenggorokan nya dan membuat otaknya menjadi sedikit cemerlang.
"Aku perlu menciptakan karakter Sofia Elena, dan karakter itu harus benar-benar melekat. Bisa jadi kan dalam penyamaran ini aku ketemu orang yang aku kenal." Nismara bermonolog sambil asyik menyikat semua makanan yang dia pesan.
Nismara ingin Sofia Elena menjadi sosok yang mudah dimanfaatkan oleh laki-laki, jadi Sofia Elena harus genit dan gampang melayang kalau dirayu. Yang paling penting adalah mata duitan. Rasanya karakter itu sangat cocok untuk lebih mendorong dirinya ke dunia laki-laki berduit yang punya akses ke Majafas.
Nismara tahu, ini bukanlah suatu hal yang mudah, bagi perempuan galak dan keras kepala seperti dirinya, tiba-tiba berubah menjadi gadis haus perhatian dan harus menghamba pada laki-laki.
"Tapi aku pasti bisa. Aku tinggal sedikit lebih lama di Denpasar untuk mematangkan karakter Sofia Elena." kata Nismara lagi.
Sesuap nasi dan sambal masuk kembali ke mulutnya.
***
Sudah dua Minggu, sejak terakhir kali Nismara berkabar kepada nya dan sampai hari ini, Miranti belum juga mendapat kabar terkini dari sahabatnya itu. Hati Miranti mulai gundah gulana, sudah tidak konsentrasi lagi untuk bekerja.
Miranti tidak bisa bertanya kepada siapa-siapa, kecuali Benjamin. Namun Benjamin pun tidak mendapat kabar dari Nismara. Nomor telepon, email dan semua perangkat atas nama Nismara benar-benar membisu dan tuli.