Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 — Balapan dengan Waktu
Wulan mematikan rokok elektriknya, wajahnya diterangi cahaya biru dari tiga monitor sekaligus di bengkel tua yang kini berubah menjadi pusat komando dadakan mereka. "Aku sudah menembus jaringan luar perusahaan investigasi yang disewa Handoko — namanya Tri Daya Investigasi. Tapi data inti mereka, termasuk hasil pemeriksaan latar belakangmu, disimpan di server lokal, tidak terhubung ke internet."
"Air-gapped," gumam Bara. "Standar untuk perusahaan yang menangani data sensitif klien besar."
"Artinya aku tidak bisa meretasnya dari sini," lanjut Wulan. "Seseorang harus masuk secara fisik, menyisipkan perangkat kecil ke server mereka, memberiku akses sementara untuk mengubah satu file sebelum diserahkan ke Handoko."
Raka menatap layar yang menunjukkan denah kantor Tri Daya Investigasi — bangunan empat lantai di kawasan bisnis, dengan sistem keamanan yang jauh lebih sederhana dibandingkan Andratama Tower, tapi tetap bukan tempat yang bisa dimasuki sembarang orang tanpa alasan.
"Berapa lama sampai hasil itu diserahkan ke Handoko?" tanya Raka.
"Laporan awal mereka kirim lewat kurir khusus, bukan email — kebiasaan lama perusahaan investigasi kelas atas, menghindari kebocoran digital." Wulan memperbesar sebuah jadwal di layar. "Kurir dijadwalkan mengambil laporan besok malam, pukul sepuluh. Setelah itu, tidak ada jalan mundur."
"Kita punya kurang dari dua puluh empat jam," kata Bara, menyandarkan diri ke dinding, menghitung cepat di kepalanya. "Dan kita masih harus muncul di briefing Praetora besok pagi, tanpa terlihat mencurigakan absen dari salah satu penyamaran."
Raka mengepalkan tangan, pikirannya berpacu antara dua front yang harus ia jaga sekaligus — penyamaran di Praetora, dan sekarang, penyusupan darurat ke kantor investigasi. "Aku yang masuk malam ini. Kau tetap di briefing besok pagi supaya kecurigaan Harun tidak makin besar kalau kita berdua absen bersamaan."
"Aku akan menyiapkan rute masuk dan jalur keluar," kata Wulan, jarinya sudah bergerak cepat di keyboard. "Tapi Raka — kalau kau tertangkap menyusup ke kantor investigasi yang disewa mertuamu sendiri, tidak ada cerita 'refleks bagus dari wajib militer' yang bisa menyelamatkanmu kali ini."
"Aku tahu," jawab Raka pendek. "Karena itu aku tidak akan tertangkap."
Di rumah utama keluarga Wijayakusuma, malam yang sama, Reza — kakak ipar Cinta — duduk sendirian di balkon kamarnya, ponsel menempel di telinga, suaranya ditahan rendah agar tidak terdengar siapa pun.
"Aku cuma diminta memberi info soal jadwal keluarga, bukan mengkhianati siapa pun," katanya, setengah membela diri pada lawan bicaranya.
Suara di ujung telepon — halus, meyakinkan, khas seseorang yang terlatih membaca kelemahan orang lain — menjawab tenang. "Tuan Reza, kami hanya ingin memastikan merger ini berjalan lancar demi kebaikan bersama, termasuk kebaikan Anda sendiri. Ayah Anda sudah terlalu lama meletakkan kepercayaan pada orang luar seperti Raka, sementara Anda, darah dagingnya sendiri, terus dikesampingkan dari posisi penting perusahaan."
Reza menutup mata sejenak, rasa cemburu lama yang selalu ia sembunyikan dengan senyum sinis di meja makan kini merangkak naik ke permukaan. "Apa untungnya buat saya?"
"Posisi Direktur Operasional cabang baru, begitu merger selesai. Cukup untuk membuktikan pada ayah Anda siapa yang sebenarnya pantas memimpin." Sebuah kesunyian singkat, disengaja, sebelum suara itu melanjutkan. "Kami hanya minta Anda memberi tahu kami jika ada hal aneh dari Raka — jadwalnya, orang-orang yang ia temui, kebiasaan barunya belakangan ini. Tidak lebih."
Reza menatap ke arah garasi di kejauhan, ke kamar kecil tempat Raka tinggal, dan untuk sesaat, keraguan sempat muncul di wajahnya — sebelum ambisi yang lebih lama membakar dalam dirinya memadamkannya.
"Baik," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. "Tapi ini yang terakhir. Setelah ini, saya tidak ikut campur lagi."
Di ujung telepon, senyum tipis terbentuk di wajah orang yang sedang berbicara dengannya.