Indonesia
NovelToon NovelToon
ILA ( Si Gadis Permata Biru)

ILA ( Si Gadis Permata Biru)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Arrosyad

Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fatimah

Aku berhembus

Disamping aku juga masih keadaan perjalanan pulang. Tadi aku memberikan pesan kepada orang tuaku bahwa aku baik-baik saja, hanya mobilnya saja yang terjebak macet. Aku tahu aku mengarangnya. Tapi aku tidak mau mereka khawatir. Bisa saja aku langsung disuruh pulang begitu mereka tahu apa yang terjadi, aku tidak bisa membantu Ila.

Tapi entahlah. Aku belum menemukan rencana dengan kemungkinan terbaik. Terang saja, sebenarnya Ila pergi ke Jakarta justru menjadi tujuan yang buruk karena di sana sangat ramai, apalagi teknologi sekarang sudah mutakhir. Ila bisa saja terlacak dengan mudah di sana.

Beberapa menit lengang untuk berfikir. Akhirnya Bu Evi dan Ila datang ke ruangan dengan membawa mangkuk dan piring. Waktunya sarapan. Pak Baruh langsung menyuruh ku mencuci tangan. Aku mengangguk.

Aku bertemu Ila di dapur. Wajahnya tidak lagi murung seperti tadi. “Kita berangkat kapan?”

Ila yang sedang membawa piring terhenti. “entah bang. Kita disuruh sarapan dulu. Pikirkan saja nanti”

Aku mengangguk.

Selepas cuci tangan aku kembali ke ruangan. Di sana sudah siap berbagai makanan dan minuman. Kenapa banyak sekali.

Bu Evi tersenyum ke arahku. “Ila ulang tahun, syukuran”

Aku melirik ke arah gadis itu. Huhh dasar merepotkan.

Yang di lirik hanya menyeringai. “Bu Evi sudah kutawarin uang belanja tidak mau bang”

Bu Evi balas tertawa. “Gak papa. Kalian kan tamu”

“sudah-sudah.. Mari makan. Bapak sudah lapar..” Pak Baruh menyahut, beliau langsung menyendok nasi.

Lanjut suasana senyap, menyisakan suara sendok dan piring. Bu Evi ini makanannya enak sekali.

“kau memang anak yang diberkati, Ila. Udah cantik. Pintar masak pula” Bu Evi berkata di tengah keasyikan makan bersama.

Mata Pak Baruh melebar. Menatap Ila. “ini kamu yang masak?”

Ila tersipu, sedikit menyeringai. “aku cuman masak telur balado sama semurnya doang. Sayur dan gorengan tetap buatan Bu Evi”

Aku tidak menyangka anak ini bisa memasak. Keren. Kukira hanya bisa menangis, dan mengeluh.

Lengang lagi. Beberapa menit berlalu. Aku sudah menghabiskan makanan ku lebih dahulu. Aku segera ke dapur setelah itu, menuju wastafel dan mencuci piring.

Dari sini aku masih bisa mendengar percakapan orang-orang di ruang tamu. Walau hanya sayup-sayup, tapi aku bisa dengan cermat meniti kata-kata yang ke luar.

“kau Ila binti?” Pak Baruh bertanya.

“Mura” jawab Ila singkat.

“kalau ibumu?” Bapak bertanya lagi.

“ibuku Fatimah” Ila juga menanggapi.

Aku selesai mencuci piring. Lalu kembali ke ruang tamu. Ila dan Pak Baruh sudah menghabiskan makanannya. Aku langsung mengambil ke dua piring bekas mereka dan mencuci nya lagi di dapur.

Pak Baruh terkekeh melihat ku. “jangan sok rajin kamu di depan cewek”

Aku tersentak. Siapa yang ingin mencari perhatian. Gabut sekali aku melakukan hal itu.

Aku kembali lagi ke ruangan.

“hey aro” Pak Baruh memanggilku.

Aku menoleh.

“sudah tau kemana kau harus pergi?” Tanya beliau, Sambil mengunyah gorengan.

Aku terdiam sejenak. Aku masih bingung soal ini. “jika menurut bapak gimana?”

Ila menatapku. Juga bingung.

“Katanya kalian pingin ke Jakarta” balas Pak Baruh.

Aku menoleh ke arah Ila. “kau ke Jakarta mau kemana?”

Ila bergeming, mulai berfikir.

Ah Iya, Aku kembali menghadap Pak Baruh. “Ila baru sadar kalau dia sedang melarikan diri. Jadinya dia bingung mau pergi ke Jakarta, tapi kemana?”

“Eh hati-hati loh… orang Jakarta keras-keras. Tidak jarang orang jahat di sana” Bu Evi memotong, memberi tahu.

Aku mengangguk. Aku sudah memikirkan hal itu semalam sebelum tidur. Tapi tidak jadi masalah, aku bisa sedikit melawan.

Pak Baruh menyipit kan mata melihat Ila. “masa kamu ga punya saudara seorang pun di Jakarta”

Yang ditanya masih terdiam. Tiga pasang mata tertuju padanya. “aku ada paman dari ayah. Dia baik tapi jauh di Kudus”

“terus kenapa ga di sana aja?” Tanya bapak.

“Kurang aman. Masih dekat dengan kota Rembang dan Lasem” Jawab Ila.

Aku mengeluh. Ah.. Terus kemana?. “kau mau ke Jakarta, mau ke daerah mana?”

“Aku sebenarnya punya kakek. Tapi tidak pernah menemuinya. Karena ibuku tidak pernah membawaku untuk berkunjung ke rumah kakek seumur hidupnya. Saudara ku juga sama. Nasib mereka tidak mengenal kakek dari ibu. Berbeda denganku yang masih ada kesempatan” Ila menjelaskan. Memecah suasana senyap.

Aih.. Apa maksud nasib mereka?

Wajah Pak Baruh mulai cerah. “Nah kabar yang bagus. Kamu tahu nama kakekmu siapa?”

Ila menatap Pak Baruh. “Syamun Mahmudi”

Demi mendengar jawaban tersebut. Pak Baruh seketika menampakan ekspresi seru.

“Ya! Benar sekali dugaanku” Pak Baruh kali ini berseru.

Aku, Ila, dan Bu Evi menatap bapak kebingungan.

“aku sudah menduganya. Kau benar-benar titisan ratu laut Selatan” Senyum Pak Baruh melebar.

Aku menilik Ila.

“Apakah kau tidak tahu bahwa kau adalah titisan ratu selatan?” Tanya Pak Baruh.

Ila mengangkat bahu. “Ratu selatan? Setahuku selama ini sesosok lain yang bersamaku” Ila rupanya juga ke bingungan.

Pak Baruh menatap Ila antusias. “Jadi algoritma semalam benar. Baiklah, kubicarakan dari awal terlebih dahulu, supaya tidak bingung”

Suasana kembali senggang. Sekarang semua pasang mata sepenuhnya melihat ke arah Pak Baruh. Menunggu beliau melanjutkan kata.

“sekitar hampir empat puluh tahun yang lalu. Seorang ustadz terkenal. Menikah untuk ke -empat kalinya dengan seorang gadis muda. Nahh.. Dulu tuh kakekmu terkenal Ila. Ustadz Syam’un. -bukan Syamun ya” Pak Baruh menyeringai menghadap Ila.

Ila balas tersenyum malu.

“Nah. Dia itu menikah lagi bukan tanpa alasan. Karena beliau memang dinikahkan oleh seorang kyai dengan gadis itu. Kalo ga salah saat itu gadisnya masih delapan belas tahun.

Bersama gadis itu, pada 2080 Ustadz Syam’un mendapatkan keturunan lagi. Di beri nama Fatimah. Ibunya Ila.

Singkat cerita. Suasana dalam rumah tangga ustadz Syam’un mulai terasa tidak baik-baik saja sejak si Fatimah menginjak usia belasan tahun. Anak perempuan itu tumbuh dengan mengagumkan. Dia hafal 30 juz Al-Quran dalam setahun pada usia belasan tahun. Dia juga pintar sekali dalam bidang ilmu agama lainnya. Udah cantik pintar lagi. Anak itu suka ilmu fiqh, yang entah apa kaitannya dia jadi ahli bahas hukum tatanegara.

Tapi sayang, dia kehilangan satu permata mahkota. Karena dia banyak ke lebihan di bandingkan anak-anak dari istri ustadz Syam’un lainnya, Fatimah lupa untuk rendah hati. Menginjak 17 tahun sifatnya semakin arogan. Semakin pintar pulak. Ibunya sudah berkali-kali menasehati, tapi ranting sudah menjadi batang besar. Fatimah sulit di rubah.

Alhasil. Gadis itu memiliki hubungan kontroversi dengan anak anak dan istri ustadz Syam’un lainnya. Ya.. Biasalah. Tokoh arogan kok. Akhirnya pada suatu saat ibunya Fatimah ini menderita suatu penyakit dan nahasnya meninggal karena itu. Fatimah terpukul. Sifatnya juga berubah seketika.

Dia mulai sadar jika selama ini dia banyak bersalah. Tapi entah kenapa dia tidak pernah mengungkapkan pada keluarga lainnya. Dia jadi pendiam, sering merenungi kepergian ibunya.

Dari itulah ustadz Syam’un memberikan perhatian lebih pada gadis itu. Dia kan yang kehilangan.”

Aku, Ila, dan Bu Evi terdiam. Tidak membalas. Lebih tertarik menunggu Pak Baruh lanjut bercerita.

“Tapi.. Karena itu juga Fatimah semakin membuat geram keluarga lainnya. Dan parahnya saat itu juga, keluarga, Istri ustadz Syam’un yang ada tiga beserta anak-anaknya mengecam Fatimah dan menyuruhnya pergi. Alasan mereka satu. Fatimah yang sombong tidak layak mendapatkan itu

Fatimah pun nurut. Dia sadar, dia pantas mendapatkan nya. Suatu malam gadis itu lekas pergi jauh dari kawasan rumahnya yang ada di jakarta. Ustadz Syam’un mencarinya, namun satu keluarga menyimpan gelap fakta itu. Fatimah di usir dan akhirnya pergi.

Tapi beberapa hari kemudian fakta Fatimah di usir tetap terungkap. Ustadz Syam’un marah besar, dan segera menceraikan tiga istrinya sekaligus. Dia kecewa sekali atas penghianatan tersebut.

Alhasil beliau hidup menjadi kyai tanpa istri sampai sekarang. Walau keturunannya ada banyak tapi beliau membencinya karena turut ikut mengusir Fatimah.

Sebenarnya ini tidak masuk dalam pembahasan Ila titisan ratu laut Selatan. Dia hanya memiliki genetik yang sama dengan leluhurnya. Genetik tersebut dulunya di dapat dari seorang pembantu di kerajaan bawah laut Selatan. Orang itu mewarisi semua kelebihan dari ratu laut Selatan setelah beliau menyuruhnya menelan batu permata dari mahkota.

Intinya, ayahnya Ila bukanlah siapa-siapa. Ila juga. Dia hanya gadis cerdas yang cantik menurut ginetik. Adapun Fatimah tidak ada kabar setelah dia pergi dari rumah keluarganya. Tau-tau malah muncul anaknya di sini” Pak Baruh melirik Ila. Sedikit terbahak.

Lengang lagi.

“pertanyaannya. Siapa ayahmu?. Kenapa Bisa sekejam itu. Jika ibumu benar-benar Islam dia pasti tahu lelaki mana yang pantas di nikahi” Tanya Pak Baruh. Memecah lengang.

Ila terdiam. Menunduk. “ibuku adalah politisi. Dia menjadi anggota organisasi wakil rakyat. Tapi pada akhirnya ayahku tidak suka cara politik ibuku.

Didaerah Lasem. Sekarang menggunakan hukum Islam sepenuhnya. Baik secara tindakan, etika dan hukuman untuk pidana harus sesuai syari’at. Tapi hanya ayahku dan golongan kecil dari warga saja yang ribet. Lainnya justru senang dengan sistem syari’at ini. Benar kata Bapak barusan. Ibuku suka fiqh hukum tata negara”

Ila terdiam sejenak. Berhembus nafas. “Dulu nya ayahku orang Islam biasa. Menikahi ibuku karena kasihan, mereka saja bertemu di kosan. Namun itu sebelum ibu dikenal banyak masyarakat dan akhirnya diangkat menjadi ketua atas masyarakat sekitar. Begitupun seterusnya hingga menjadi wakil rakyat di kota Lasem. Idenya untuk membangun selalu di pilih walikota Lasem. Sudah begitu saja, tapi ayahku terlanjur tidak suka”

Disini Ila berhembus berat. Seperti tidak kuat mengatakan. “Tapi ayahku entah mendapat kekuatan dari mana. Dia mungkin sudah melenceng. Sekarang sekitar dua ratus orang Telah menjadi pengikutnya”

“Lalu kenapa ayahmu membunuh kakak dan adikmu?” Tanyaku.

“Entah, tapi satu yang ku ketahui dari ayahku”

Satu ruangan senyap. Menunggu ila melanjutkan kata-katanya.

“Ayahku seperti memiliki ilmu gelap. Dulu ia pernah melakukan ritual aneh di suatu tempat. Lambat laun aksinya membutuhkan darah. Mula-mula hewan, hanya itu yang ku tahu”

Ila terdiam. Menghadap pak baruh.

Aku juga ikut melirik.

Orang yang ditatap berfikir sejenak, dahinya mengkerut. “Darah adalah lambang pengorbanan. Tapi jika sampai manusia bisa tambah lagi maknanya sampai kekuasaan dan kekuatan. Dan saudaramu, mungkin dijadikan tumbal unuk menambah kekuatan ayahmu”

“Berarti bisa aja karena itu. Kau diburu ayahmu demi kekuatan”

Ila berfikir sejenak. “entah, tapi ayahku juga tahu jika aku bisa melakukan hal di luar nalar manusia. Hingga pernah, aku di paksa membuat ombak besar di pesisir pantai”

Wah itu menarik “Lalu?”

“Tapi aku tidak bisa, entah karena apa. Tapi menurutku kejadian tersebut tidak bisa dirumuskan sesuatu. Terjadi tanpa sebab begitu saja”

“Kayak-kayak bukan kamu yang melakukannya berarti?” Aku bertanya.

Ila mengangkat bahu.

“Mungkin bisa jadi” Pak Baruh yang menyahut. “Tapi kita jangan salah paham jika Ila akan meminta bantuan Nyi kidul untuk melakukan sesuatu. Ayah Ila mungkin sudah menjadi korban faham tersebut. Dan Itu pemahaman yang fatal. Kita hanya boleh meyakini jika Nyi kidul datang kembali dengan kesaktian yang tidak bisa di fahami. Namun Itu semua atas izin Allah. Kau tau karomah kyaimu yang masih bisa mengawasi santrinya walau sudah beda alam? Mungkin kasus ini serupa. Ila terkadang ada kekuatan, atau melakukan tindakan supranatural, bisa saja dari Ila sendiri atau Nyi kidul yang hendak menyampaikan pesan” Pak Baruh melihat ke arahku.

Aku mengangguk paham. “ouh jadi kaya pendamping, gitu ya?”

“Tidak se-pendampig itu” Pak Baruh menggeleng. “kalau mengenal khodam, makhluk yang bersampingan dengan seseorang itu merupakan sebuah jin. Jin sama aja kayak manusia, ada yg beragama Islam dan ada yang tidak. Kalau ada seseorang di dampingi khodam itu belum tentu salah, kecuali dia jelas menjalin kontrak dan menggunakan kekuatannya”

Aku terenyak. Jadi dugaanku selama ini ada benarnya.

 “Ouhh, gitu” aku mulai memegang janggut “Soalnya selama ini aku agak bimbang dengan orang-orang yang punya jin pendamping, mereka Islam nya patut di pertanyakan? Dan sekarang terjawab. Aku mulai bisa mendetail lebih jauh lagi. Jadi yang selama ini mengganggu orang memang benar jin. Entah ada yang harus ada yang hendak disampaikan atau hanya sekedar menemani, jin tetap saja bisa mempengaruhi seseorang, buktinya adalah kegiatan di luar nalar pada orang itu sendiri. Tapi ada arti khusus untuk orang yang telah valid dampingi jin, maksudnya dia memiliki kaitan dengan dunia luar sana. Mereka yang memiliki pendamping bisa saja melakukan kekuatan khusus juga, yang tidak dimiliki banyak orang. Apa bila itu terjadi, kemungkinannya ada dua. Orang itu sendiri yang jaduk, atau ada campur tangan pendampingnya tanpa harus orang yang di dampingi meminta langsung. Karena jin masih bisa kontak fisik dengan manusia. Namun itu tidak bisa di jadikan sebagai hal absolute karena sifatnya yang ambigu. Seperti kata Ila, kekuatan luar nalarnya tidak bisa dirumuskan sesuatu.

Selain itu, banyak konsekuensi untuk orang yang terlanjur memiliki pendamping. Salah satunya adalah kehilangan jati diri karena tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Tapi dia tidak dihukumi musyrik. Dia masih aman karena dianggap Jahil

Nah, yang di hukumi musyrik adalah orang yang secara harfiah benar-benar, dia akan mencarinya menjalin kontrak atau bahkan bisa menindas jin agar tunduk dengan nya. Itu sama saja membutuhkan kepada selain Allah.

Intinya satu. Kita harus mengecam kan bahwa Allah lah yang menguasai semuanya. Baik jin, manusia, malaikat dan sebagainya. Allah juga yang menggerakkan mereka.

Begitu pemikiran paling aman dari tauhidnya. Kita –dan makhluk Nya tidak akan memiliki kekuatan apapun jika Allah tidak mengizinkan”

Ruangan dibuat senyap. Aku berkata begitu mantap. Ila, dan Bu Evi menatapku tidak berkedip. Pak Baruh melebar kan senyum. “Bapak tahu kau bakal lebih paham dariku”

Sekarang aku menghadap Ila. “Baiklah aku benar-benar paham dengan keadaanmu sekarang” Ujarku penuh percaya diri. “Aku akan mengantarmu ke pada kyai Syam’un. Di sana kau akan mendapat kondisi terbaik. Beliau pasti ahli agama dan lebih tau dariku. Namun, Kau tau tempatnya?”

Ila menggeleng. “Aku kan udah kasih tau kalau gepernah berkunjung ke tempat kakekku”

Ah iya. “Baiklah. Jika begitu, di manapun itu.. Yang penting di Jakarta” Aku berkata mantap lagi.

Ila terlihat tersenyum. Akhirnya dia senang juga –aku mulai sadar selama ini senyumnya adalah topeng dari jiwa yang selalu menangis, tertekan.

Tenang Ila, serahkan saja semuanya kepadaku. Gumam dalam hati.

Pak Baruh juga menatapku penuh antusias. “Kau sekarang tahu melakukan apa?”

“aku harus… eeh.. Apa ya?” Aku kebingungan.

“ya kemas-kemas lah bang” Ila yang menjawab

Hah kemas-kemas? “kita ga bawa barang banyak lohh” aku melirik ke segala arah.

Ila mengernyitkan dahi. “kau yang belum kemas bang. Bukan barang. Kau belum mandi dari semalam”

Bu Evi dan Pak Baruh tertawa. Suasana pun pecah. Aku hanya bisa menyeringai pasi sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Heheh iyadah..

1
Marina
keran, keren bgt
Arrosyad: makasih ibu'
total 1 replies
Kiritsugu Emiya
Harus jam berapa baru bisa update ya thor? Jangan sampai terlalu malam~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!