Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi Rahasia Pasar Tradisional dan Lencana Panda
Di luar rumah, asap tipis masih mengepul malas dari kap mesin van hitam yang kini mogok total. Para penyusup di dalamnya tampak panik, mencoba membongkar pintu kendaraan yang terkunci dari sistem dalam.
Chiko berdiri di samping sepeda motor bekasnya, pura-pura kebingungan sambil memegang kunci inggris. "Aduh, kasihan sekali ya mobil itu, mogok pagi-pagi," gumam Chiko dengan nada pria lugu yang polos. Namun, melalui lensa kontak pintarnya, ia secara rahasia baru saja mengirimkan koordinat van tersebut ke tim pembersih Leonhart Enterprises.
Tak jauh dari sana, Mila sedang menyiram tanaman bunga kertas dengan selang air. Wajahnya tersenyum manis, tapi matanya melirik tajam ke arah van yang berasap. "Mogok di area kekuasaanku? Kasihan sekali. Anak buahku dari Black Crimson sebentar lagi akan menjemput kalian untuk 'mengobrol' hangat," batin Mila dingin.
Keduanya lalu saling pandang, melempar senyum canggung ala suami-istri baru, sama sekali tidak menyadari bahwa dalang di balik lumpuhnya van canggih itu adalah bocah empat tahun yang sedang duduk di kamar sambil menyanyikan lagu tentang panda makan bambu.
"Lala! Ayo siap-siap, kita mau belanja ke pasar!" panggil Mila dari ruang tengah dengan suara merdu.
Pintu kamar mendadak terbuka lebar. Puk-puk-puk!
Lala berlari keluar dengan gaya melompat-lompat bagaikan kelinci. Hari ini ia mengenakan gaun merah muda berenda dengan topi bundar kecil yang ada telinga pandanya. Di dadanya, terpasang sebuah lencana plastik bergambar kepala panda—yang sebenarnya adalah alat pemindai frekuensi radio rahasia buatan Lala sendiri.
"Horeee! Belanja! Lala mau beli ikan yang matanya melotot!" seru Lala gembira sambil memeluk kaki Mila.
Chiko yang sedang bersiap berangkat ke "kantornya" tersenyum lembut. Ia berlutut di depan Lala, merapikan tali sepatu kecil putrinya. "Lala jangan nakal ya di pasar. Pegang tangan Bunda terus. Nanti kalau Lala penurut, pulang kantor Papa belikan biskuit panda tiga boks!"
Mata bulat Lala langsung berbinar-binar bagaikan bintang di langit malam. "Tiga boks?! Janji ya Papa? Kalau Papa bohong, nanti kacamata Papa Lala sembunyikan di dalam pot bunga!"
Chiko tertawa renyah sambil mengusap hidung mungil Lala. "Janji, Sayang."
Chiko kemudian bangkit dan berpamitan pada Mila. Sebelum menaiki motor matic tua-nya, Chiko sempat menatap Mila dengan raut khawatir yang dibuat-buat. "Mila, pasar tradisional di distrik empat agak ramai. Hati-hati ya, kalau ada orang mencurigakan, langsung panggil satpam atau lari."
Mila menyunggingkan senyum paling lembut dan tak berdaya. "Iya, Mas Chiko. Terima kasih sudah mengkhawatirkan saya. Mas Chiko juga hati-hati di jalan ya."
‘Lari dari panggil satpam? Hahaha... kalau ada pencopet di pasar, aku akan mematahkan pergelangan tangannya sebelum dia sempat berkedip,’ batin Mila kejam di balik senyum manisnya.
‘Semoga tim pembersihku sudah membereskan van itu sebelum Mila dan Lala pulang dari pasar,’ batin Chiko sambil menyalakan mesin motornya yang terdengar seperti batuk-batuk tua.
Pasar Tradisional Distrik Empat sangat ramai. Suara tawar-menawar penjual sayur, aroma rempah-rempah, dan lalu lalang pembeli memenuhi udara.
Mila menggandeng tangan kecil Lala dengan sangat protektif. Setiap tiga detik sekali, mata Viper milik Mila memindai seluruh sudut pasar, memetakan setiap wajah orang asing, posisi melarikan diri, hingga benda-benda yang bisa dijadikan senjata darurat jika ada serangan mendadak.
Namun, di sampingnya, Lala berakting penuh totalitas sebagai anak kecil yang norak dan menggemaskan.
"Bunda! Lihat! Ikan itu kumisnya panjang sekali seperti Lele Superhero!" seru Lala menunjuk lapak penjual ikan asin.
"Itu memang ikan lele, Lala Sayang," sahut Mila sabar sambil menyunggingkan senyum.
"Wah! Kalau lelenya diberi biskuit cokelat, lelenya bisa terbang tidak, Bunda?" tanya Lala dengan raut wajah sangat serius dan penasaran.
Mila terkekeh, mencubit pelan pipi tembam Lala. "Tidak bisa, Sayang. Nanti lelenya malah sakit perut."
‘Hehehe, Bunda terhibur. Poin kasih sayang naik 10 persen!’ batin Lala puas.
Namun, di tengah keriuhan pasar, lencana panda di dada Lala mendadak bergetar halus. Bzz-bzz.
Sensor mikro di lencana tersebut mendeteksi peningkatan frekuensi gelombang otak dan sinyal radio taktis di radius lima belas meter. Lala berpura-pura melihat-lihat buah jeruk, tapi matanya yang cerdas bergeser melirik ke arah tiga pria berjaket kulit hitam yang berjalan mendekat dari arah kerumunan.
Dari cara berjalan mereka yang tegap dan tangan kanan yang selalu bersiap di balik lipatan jaket, Lala tahu persis: Mereka adalah kelompok intelijen Laboratorium Vanguard yang memburuku!
‘Waduh... para ilmuwan itu gigih sekali ya,’ pikir Lala sambil memutar otak. ‘Kalau mereka mendekat dan melihat wajahku, penyamaranku terbongkar. Bunda juga bisa terseret bahaya!’
Mila sendiri sebenarnya sudah menyadari keberadaan tiga pria berjaket kulit itu sejak sepuluh detik lalu.
Aura membunuh sang Ratu Mafia perlahan meningkat secara samar. Tangan kirinya yang senggang bergerak perlahan menuju saku celananya, tempat ia menyembunyikan pisau lempar lipat. ‘Anak buah kelompok mana yang berani membuntutiku sampai ke pasar? Mau menculik anakku? Akan kukuliti organ tubuh mereka satu per satu jika berani menyentuh sehelai rambut Lala.’
Menyadari situasi yang makin tegang, Lala memutuskan untuk mengambil kendali dengan cara yang paling konyol!
"ADUHHH! PANDA LALA JATUH KE DALAM TONG SAMPAH!" teriak Lala sangat keras dengan suara dramatis melengking.
Lala sengaja membuang boneka pandanya ke arah tumpukan keranjang buah kosong dekat penjual buah, lalu ia berpura-pura menjatuhkan dirinya ke lantai pasar, berguling-guling seperti bola daging yang menggemaskan sambil menepuk-nepuk tanah.
"Bunda! Pandanya kotor! Pandanya menangis! Aaaaa!" jerit Lala sambil berpura-pura menangis histeris, membuat seluruh pengunjung pasar—termasuk tiga pria berjaket kulit—sontak menoleh kaget ke arahnya.
Mila panik. Aura membunuhnya langsung menguap seketika, berganti menjadi kepanikan seorang ibu. "Eh?! Lala! Sayang, jangan berguling di tanah! Nanti bajunya kotor!"
Mila buru-buru berlutut dan mengangkat tubuh kecil Lala ke dalam pelukannya.
Di saat yang sama, karena perhatian semua orang teralih pada aksi drama heboh Lala, dua anggota pasukan rahasia Leonhart Enterprises yang sengaja dikirim oleh Chiko untuk mengawal anak-istrinya dari jauh, memanfaatkan momen gangguan itu! Mereka dengan cepat menyergap tiga pria berjaket kulit tersebut dari belakang, menyuntikkan obat penenang dosis tinggi secara diam-diam, lalu menyeret mereka keluar dari pasar seperti orang mabuk.
Hanya dalam waktu tiga puluh detik, ancaman bahaya itu sirnah tanpa memicu keributan!
Lala yang berada di pelukan Mila mengintip dari balik bahu ibunya. Ia melihat para pengejarnya sudah berhasil dibereskan oleh "orang-orangnya Papa".
Lala seketika menghentikan tangis palsunya. Ia mengusap matanya yang sama sekali tidak berair, lalu menyunggingkan senyum lebar tanpa dosa ke arah Mila.
"Bunda, pandanya sudah tidak menangis lagi! Pandanya bilang mau makan es krim rasa strawberry!" kata Lala riang tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Mila menatap Lala dengan melongo, lalu menghela napas panjang dan tertawa geli. Kebetulan dan kelakuan konyol putrinya baru saja menyelamatkan situasi tanpa perlu pertumpahan darah di tengah pasar.
"Dasar Lala... bikin Bunda kaget saja," bisik Mila lembut sambil mencium pipi tembam Lala. "Ya sudah, ayo kita beli es krim!"
"Horeee! Bunda terbaik di seluruh alam semesta!" seru Lala sambil bertepuk tangan riang.
Di balik pelukan hangat Mila, Lala menyenderkan kepalanya dengan nyaman.
‘Papa mengirim pengawal rahasia, Bunda siap bertarung pakai pisau, dan Lala yang mengeksekusi gangguannya,’ batin Lala sambil menyeringai licik di balik baju Mila. ‘Kombinasi keluarga ini benar-benar tidak ada tandingannya!’
Bersambung..