Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Transmigrasi Ke Tubuh Putri Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Time Travel / Fantasi
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

⭐ Novel dengan 20 BAB Terbaik 🏆🏅 ⭐

Mati konyol di dunia modern, jiwanya justru bertransmigrasi ke tubuh seorang gadis lemah yang dijadikan bidak catur. Keluarganya sendiri menjualnya ke istana demi harta dan posisi, sementara sang Putra Mahkota mendominasi pernikahan mereka sebagai transaksi dingin demi takhta.
Semua orang mengira dia akan pasrah dan hancur di dalam lingkaran intrik istana. Namun, mereka tidak tau bahwa jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi gadis penurut yang bisa diinjak-injak.
Saat keluarga yang memanfaatkannya dan calon suami yang meremehkannya mulai menyadari perubahan drastis dalam dirinya, permainan kekuasaan di istana berubah total.

Akankah sang calon putri mahkota melarikan diri membawa kebebasannya, atau justru membalikkan keadaan dan merebut seluruh isi istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 35: Cemburu

Keheningan yang mencekam melingkupi kamar utama selama beberapa saat. Hanya suara gemertak lilin merah yang memecah kesunyian di antara mereka berdua.

Shen Yue tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut atau gugup. Ia berdiri tegak di tengah ruangan, seraya memperbaiki posisi lengan jubah kebesarannya yang menjuntai anggun, lalu menatap Zhao Xiao dengan tenang.

"Rupanya Yang Mulia Putra Mahkota yang berada di dalam kamar," suara Shen Yue mengalir tenang, jernih, dan tanpa celah. "Hamba tidak menyangka Anda akan datang ke Paviliun Phoenix Agung tanpa pemberitahuan kasim di depan."

Zhao Xiao terkekeh pelan, sebuah tawa yang sangat dingin, kering, dan mengerikan. Kemudian ia perlahan berdiri dari kursinya, dan melangkah maju mendekati Shen Yue. Setiap tapakan kakinya terasa berat dan bertekanan tinggi.

"Tanpa pemberitahuan?" bisik Zhao Xiao dengan suara rendah yang menahan murka. "Mengapa? Apakah kedatanganku yang tanpa pemberitahuan ini telah mengganggu pertemuan rahasiamu yang menyenangkan dengan saudara keduaku... Pangeran Ketiga Zhao Feng?!"

Shen Yue menyipitkan matanya sedikit, namun raut wajahnya tetap tidak tergoyahkan. "Jadi Yang Mulia melihat kami di balkon."

"Melihat kalian?!" meledaklah amarah Zhao Xiao! Ia melangkah lebar hingga memangkas jarak di antara mereka dan hanya tersisa satu jengkal.

Wajah tampannya berjarak sangat dekat dengan wajah Shen Yue, matanya merah menyala menahan cemburu. "Aku tidak hanya melihat, Shen Yue! Aku menyaksikan bagaimana istri sahku, Putri Mahkota Utama Kekaisaran, tersenyum begitu manis dan saling berbisik mesra dengan pria lain di bawah sinar bulan pada malam hari kedua pernikahan kita!"

Shen Yue menatap langsung ke dalam manik mata Zhao Xiao yang terbakar emosi, namun tidak ada getaran ketakutan sedikit pun di manik matanya.

"Yang Mulia Putra Mahkota," balas Shen Yue dengan nada datar dan dingin. "Jaga kata-kata Anda. Hamba dan Pangeran Ketiga hanya membicarakan urusan stabilitas politik dan ancaman yang mengintai Istana Timur. Tidak ada hal tidak seronok atau hubungannya dengan perasaan pribadi seperti yang Anda tuduhkan."

"Bicara urusan politik?!" geram Zhao Xiao seraya tertawa mencemooh. "Sejak kapan seorang Putri Mahkota harus berurusan secara rahasia di tengah malam dengan Pangeran Ketiga untuk membahas politik?! Bukankah aku suanimu?! Bukankah aku Putra Mahkota di istana ini?! Mengapa kau harus menemui Zhao Feng di belakangku?!"

Shen Yue menyunggingkan senyuman miring yang sangat tajam dan merendahkan. Sebuah senyuman yang seketika menghantam harga diri Zhao Xiao tepat di dadanya.

"Mengapa hamba menemui Pangeran Ketiga dan bukan Anda?" tanya Shen Yue dengan kecerdasan analisisnya yang mematikan. "Apakah Yang Mulia benar-benar ingin tau jawabannya?"

Zhao Xiao mengepalkan tangannya rapat-rapat, sementara dadanya naik turun dan memburu. "Katakan!"

"Karena Anda," tegas Shen Yue, suaranya menembus bagaikan pedang porselen yang tajam, "terlalu sibuk dibutakan oleh manipulasi rendahan Selir Agung Lin Wanru dan fraksi Perdana Menteri Lin! Jika hamba mengandalkan Anda untuk mendeteksi konspirasi yang mengancam Istana Timur, kita berdua mungkin sudah menjadi mayat di bawah jebakan musuh sebelum minggu ini berakhir!"

Deg!

Kata-kata Shen Yue menghantam Zhao Xiao bagaikan petir di siang bolong! Zhao Xiao terhenyak kaku, matanya membelalak tidak percaya mendengar ucapan yang begitu berani dan jujur meluncur dari mulut istrinya.

"Kau..." bisik Zhao Xiao dengan suara bergetar. "Kau berani merendahkanku seperti itu?!"

"Hamba tidak merendahkan Anda, hamba hanya menyatakan fakta yang ada," potong Shen Yue dingin. "Semalam, Anda menolak tidur di ranjang ini dan memilih berdiri di pihak Lin Wanru. Tadi pagi di hadapan Kaisar dan Ibu Suri, hamba yang menyelamatkan nama baik dan kehormatan Anda dari kemurkaan kekaisaran. Dan sore tadi, Anda masih mencoba membela pelanggaran anggaran yang dilakukan oleh selir Anda. Katakan pada hamba, Yang Mulia... di bagian mana dari sikap Anda yang menunjukkan bahwa Anda bisa dijadikan sekutu tepercaya dalam perang politik ini?"

Ruangan itu mendadak hening total. Ruang napas di antara mereka terasa begitu sempit dan panas.

Zhao Xiao menatap Shen Yue dengan perasaan yang sangat berkecamuk. Di satu sisi, amarah dan kecemburuannya sebagai seorang pria dan Putra Mahkota membakar jiwanya.

Namun di sisi lain, setiap kata yang diucapkan Shen Yue adalah kebenaran pahit yang tidak bisa dibantahnya. Ketegasan, kecerdasan, dan keberanian Shen Yue berdiri di hadapannya tanpa sedikit pun rasa takut telah melumpuhkan keangkuhannya.

Zhao Xiao memajukan langkahnya, hingga semakin mengikis sisa jarak di antara mereka. Tangan kanannya terangkat cepat, dan menepuk dinding kayu tepat di samping kepala Shen Yue, hingga mengurung wanita itu dalam jangkauan tubuhnya yang tegap.

"Shen Yue," desis Zhao Xiao. "Kau mungkin sangat cerdas. Kau mungkin berhasil memegang Segel Keuangan dan mendapat dukungan Ayahanda serta Ibu Suri. Tapi ingat satu hal... kau adalah Putri Mahkotaku! Kau adalah istriku yang sah secara hukum kekaisaran! Aku tidak akan membiarkan pria mana pun termasuk Zhao Feng, menyentuh atau mengambil milikku!"

Shen Yue mendongak dengan perlahan. Jarak wajah mereka pun hanya sejari. Ia bisa merasakan hembusan napas hangat Zhao Xiao yang memburu di kulit pipinya. Namun bukannya panik atau terpesona, mata Shen Yue justru memancarkan kilatan ketegangan yang amat dingin.

"Milik Anda?" bisik Shen Yue merdu namun mematikan. "Yang Mulia Putra Mahkota, status 'milik Anda' hanyalah sebuah gelar di atas kertas kekaisaran. Jika Anda ingin hamba menghormati Anda sebagai seorang suami dan pemimpin sejati, buktikan dengan ketajaman otak dan ketegasan sikap Anda... bukan dengan kecemburuan buta dan rasa kepemilikan yang childish di dalam kamar ini."

Zhao Xiao terpaku. Tatapan mata Shen Yue begitu dominan hingga membuat sang Putra Mahkota merasa seolah-olah dialah yang sedang dihakimi di kediamannya sendiri.

Shen Yue meletakkan jemari lentiknya di dada jubah emas Zhao Xiao, lalu mendorong tubuh pria itu mundur dengan tekanan yang stabil dan penuh wibawa. Zhao Xiao yang terhenyak refleks melangkah mundur dua tindak.

Shen Yue membenahi jubah luarnya dengan sangat anggun, lalu berjalan melintasi Zhao Xiao menuju meja rias utama.

"Jika Yang Mulia berniat menghabiskan malam di sini untuk membuktikan posisi Anda sebagai suami," ujar Shen Yue seraya memadamkan salah satu lilin merah dengan alat pemadam perak, "ranjang utama cukup luas untuk kita berdua. Namun jika Anda hanya datang kemari untuk melempar tuduhan tak berdasar dan emosi konyol... pintu keluar berada di belakang Anda."

Zhao Xiao berdiri mematung di tengah ruangan. Matanya memperhatikan setiap gerak-gerik Shen Yue yang begitu tenang, memikat, dan tak terjangkau.

Ada rasa geli, kekaguman, dan gairah persaingan yang mendadak muncul di dalam lubuk hati sang Putra Mahkota. Wanita ini benar-benar berbeda 180 derajat dari semua wanita yang pernah ditemuinya dalam hidupnya.

Zhao Xiao mendengus pelan, lalu menyunggingkan senyum miring yang jarang diperlihatkannya.

"Pergi?" gumam Zhao Xiao seraya melepaskan sabuk emas kekaisarannya dan melemparkannya ke atas meja. "Ini adalah Paviliun Putri Mahkota, tempat kediaman resmi istriku. Mengapa aku harus pergi?"

Zhao Xiao melangkah menuju ranjang utama berkanopi merah emas, lalu mendudukkan dirinya di sana dengan sikap penuh dominasi yang tak ingin kalah.

"Malam ini," tegas Zhao Xiao sambil menatap Shen Yue dari kejauhan, "aku akan tidur di ranjang ini. Dan kita akan melihat... sejauh mana ketenangan dan kecerdasanmu bisa bertahan di hadapanku, Putri Mahkota."

Shen Yue memutar tubuhnya, dan memandang Zhao Xiao yang kini bersandar santai di ranjang utamanya. Sudut bibir Shen Yue terangkat tipis, memancarkan senyuman yang anggun.

"Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia," sahut Shen Yue merdu. "Mari kita lihat... siapa yang akan bertahan di atas papan catur ini."

Bersambung...

1
Dewi Habibah
lagi donk😍
Aurora: Siap... othor up besok ya... 🤗
total 1 replies
merry
gpp si lkimu agk pengecut dan buta gk tau mn tipu muslihat,, asal ceraikan selir jgn ambil selir ckp satu istri sah ajjj🤭🤭🤭🤭
Aurora: di jamannya punya istri banyak itu sudah biasa, apalagi keluarga kerajaan 😅🤭
total 1 replies
merry
jgn smpai kmu ksh kesucian kmu putri gk ikls wlpun hak mslhnya lkimu pyn bini muda,,, 🤭🤭🤭🤭licik lggg
merry
moga cerai lh sm suami mu yg pengecut bodoh itu 🤭🤭🤭🤭
merry
penghianat ap cb bos kau ajj nikh istri mu sexgus nkhin kekasih gelapmu,, mls dech sm kmu atrnn she Yue nkh sm kakak mu itu
merry
tumis rebung enk bgtt ap lg yg ada ruas ya itu 🤭🤭🤣🤣
Aurora: bener, renyah n lembut...🤗
total 1 replies
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
aku lanjut baca lagi nanti . Kren k👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!