Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Desir Hangat yang Terucap
Ray terkejut mendengar ucapanku, aku pun sama terkejutnya. Bagaimana tidak? Kata-kata itu meluncur begitu saja secara refleks dari mulutku.
"Maaf..." ucapku merasa bersalah karena telah mengejutkannya.
"Enggak apa-apa, Ra. Aku yang minta maaf. Kalau gitu, aku pulang dulu ya," jawabnya pelan.
"Iya."
Aku buru-buru merapikan sisa alat makan kami di meja seolah mengabaikannya, membawanya ke dapur tanpa menoleh lagi pada Ray yang beranjak menuju pintu depan.
"Aku pulang ya, Ra. Sampai ketemu lagi," pamitnya dari ambang pintu.
Aku tak menghiraukan pamitannya dan terus membiarkan kran air mengalir, mencuci piring di bak cuci.
"Benar kan tindakanku? Aku enggak salah, kan? Dia yang begitu egois waktu itu. Dia bahkan enggak pernah mengerti kondisiku malam itu. Dia yang memutuskan hubungan ini, lalu sekarang tiba-tiba kembali dan menyalahkanku atas sikapku yang berubah? Memangnya dia siapa? Apa dia pikir aku akan menyambut kedatangannya dengan penuh manja seperti dulu saat kami berpacaran? Apa aku harus antusias mendengar kabar putusnya dia dengan Indah? Aneh. Mana ada orang kayak gitu."
Aku terus menggerutu dalam hati sembari menyelesaikan cucian piring.
Selesai di dapur, aku mengunci pintu depan lalu kembali ke kamar. Ku buka laptop dan mencari beberapa film menarik yang mungkin bisa mengikis rasa kesal ini. Namun setelah lama mencari, aku tak menemukan satu pun yang sanggup menyita perhatian. Mood-ku sedang sangat berantakan.
Aku menutup kembali laptopku, merobohkan tubuh ke atas kasur, lalu meraih ponsel di samping bantal. "Sialan, mati... Semalam lupa kuisi daya," umpatku pada diri sendiri.
Aku beranjak menancapkan pengisi daya. Begitu layar menyala selagi terhubung kabel, sebuah notifikasi pesan seketika mencuri perhatianku. Dari Mas Adrian.
"Selamat pagi, Sera."
Pesan itu dikirim dua jam yang lalu, sekitar pukul sembilan pagi. Rasa bersalah mendadak menyengatku karena baru bisa membalasnya sekarang.
"Pagi juga, Mas," balasku cepat.
Aku menunggu beberapa saat, namun tak ada balasan lanjutan darinya. Kuletakkan ponsel di atas meja nakas, lalu merebahkan tubuh kembali ke kasur.
"Huft..." Aku menghela napas panjang. Ada rasa bersalah pada Ray yang masih tersisa, tapi di sisi lain, aku tak bisa menahan refleks emosiku. Aku juga terluka. Saat aku sudah merasa baik-baik saja dan mulai sembuh, dia malah datang kembali dan menyalahkanku.
Ku peluk guling erat-erat, memutuskan untuk tidak ke mana-mana hari ini. Hingga tanpa sadar, mataku kembali terpejam.
---
Aku terbangun saat jarum jam sudah menunjukkan pukul dua siang lebih sedikit. Dua jam aku tertidur. Hari Minggu ini terasa sangat senggang dan membosankan. Lagipula tak ada hal penting yang bisa kukerjakan, tak ada PR sekolah, pekerjaan rumah sudah diselesaikan Ibu sebelum berangkat ke toko, dan urusan mencuci baju sudah menjadi bagian Mbak Ratih dua hari sekali.
"Ngapain ya gue?" gumamku pada kamar yang sepi.
Perutku mendadak berbunyi nyaring. "Lapar..."
Aku meraih ponsel yang sudah terisi daya cukup, mencabut kabelnya, lalu kembali berbaring di kasur. Saat membuka kuncinya, layarku masih menampilkan obrolan Chatku dengan Mas Adrian yang belum terbalas.
"Ke mana dia? Tumben pesan singkatku belum dibalas," batinku bertanya-tanya. "Ah, mungkin lagi sibuk."
Aku beralih membuka aplikasi ojek online untuk mencari makanan. Pilihanku jatuh pada satu porsi nasi ayam geprek pedas.
Setengah jam kemudian, pengemudi ojek online tiba di depan pagar rumah. Aku bergegas keluar untuk mengambil pesanan.
"Kembaliannya ambil aja ya, Pak," ucapku menyodorkan uang.
"Makasih banyak ya, Neng!"
Aku kembali ke dalam rumah, duduk di sofa ruang tamu, lalu menyalakan televisi sembari membuka bungkusan nasi ayam geprek. Aku menyantapnya perlahan sambil menyaksikan tayangan komedi di televisi.
Begitu suapan terakhir habis, aku beranjak hendak membereskan bungkus bekas makananku. Namun, saat menoleh ke arah pintu depan, langkahku mendadak terhenti. Sosok pria jangkung sudah berdiri santai di ambang pintu.
"Mas Adrian?!" seruku terbelalak kaget.
"Hai, Sera!" sapa Adrian dengan senyum ramah yang khas.
"Bikin kaget aja! Kok enggak ngabarin dulu mau ke sini?" tanyaku panik sembari meremas kantong bekas makananku.
"Maaf soalnya tadi gerbangnya terbuka, jadi mas Mas masuk aja. Ponsel Mas ketinggalan. Mas habis dari kafe Bram, lokasinya kan dekat dari sini, Mas sekalian mampir. Mas ganggu, ya?"
"Enggak kok, masuk, Mas! Masuk," ajakku cepat.
"Sera habis makan?" tanyanya melirik bungkusan di tanganku.
"Iya nih. Mas sendiri udah makan?" tanyaku berjalan ke dapur untuk membuang sampah dan mencuci tangan.
"Belum, sih. Padahal tadinya Mas ke sini mau ngajak kamu makan," sahutnya dari ruang tamu.
"Yaaah... Sera udah makan, Mas. Gimana dong?" seruku dari balik dinding dapur.
Adrian tertawa pelan.
Aku kembali ke ruang tamu lalu duduk di sofa di sebelahnya.
"Temenin Mas makan, yuk," ajaknya menatapku.
"Di mana, Mas?"
"Tapi Mas capek banget, terus lapar juga. Gimana dong, ya?" keluhnya berpura-pura lelah.
"Mau pesan ojol aja? Atau Sera buatin mie instan?" tawarku.
"Buatin mie instan boleh deh. Mie rebus ada?" tanyanya dengan mata berbinar penuh semangat.
"Ada..." jawabku tersenyum. "Tunggu sebentar ya, Sera masakin dulu."
Aku bangkit melangkah ke dapur, membuka lemari penyimpanan untuk mengambil satu bungkus mie instan kuah, lalu merogoh satu butir telur dari dalam kulkas. Saat aku baru hendak menyalakan kompor, langkah kaki terdengar mendekat. Adrian sudah berdiri di area dapur.
"Mas? Ngapain ke sini? Udah, tunggu aja di depan, nanti Sera bawain," tegurku heran.
"Enggak boleh nih Mas bantuin kamu masak?" tanyanya santai.
"Enggak boleh! Pamali cowok masuk dapur," sahutku menahan senyum.
"Siapa bilang? Chef terkenal banyak yang cowok. Dulu Ayah Mas juga sering bantuin Ibu masak di dapur," kilahnya melangkah mendekat ke arah ku.
"Iya deh, iya... Tapi kan ini cuma masak mie rebus, Mas mau bantuin apa coba?"
"Mas bukain bumbunya ya," ucapnya makin merapat ke posisiku.
"Sini, sama Mas aja." Ia meraih bungkus bumbu mie instan di tanganku.
"Eh, udah Mas, enggak usah! Sera aja," cegahku mencoba menahan bungkus itu.
"Enggak apa-apa, sini Mas bantuin."
Di posisi yang sangat dekat itu, jemarinya tak sengaja menggenggam jemariku yang sedang memegang bungkus bumbu. Sentuhan kulitnya seketika membuat jantungku berdegup kencang bak ditabuh bertubi-tubi. Aku panik luar biasa, khawatir ritme dadaku yang liar bisa terdengar olehnya.
Kami berdua mendadak membisu di depan kompor yang menyala, bertatapan dalam jarak yang teramat dekat. Ada getaran tak kasat mata yang merayapi udara di antara kami.
"Sera..." panggil Adrian sangat lirih. Matanya menatap lurus ke dalam mataku.
"Mas sayang sama Sera."
Duniaku seolah berhenti berputar detik itu juga. Jantungku makin terpacu hebat saat kami saling terkunci dalam tatapan, tenggelam dalam pengakuan yang mendadak melumpuhkan seluruh inderaku.