Bagi Senja Kala, pernikahan ini adalah jembatan menuju kebebasan. Bagi Alfa, pernikahan ini adalah keterpaksaan saat kekasihnya, Dila, berjuang melawan maut.
Terjebak dalam sangkar baru, Senja memilih mencintai dalam diam dan merawat Dila tanpa dendam. Namun ketika pengorbanan terbesarnya diberikan secara rahasia dan Senja memilih menghilang, Alfa baru menyadari fakta yang menghancurkannya, wanita yang ia abaikan adalah rumah yang selama ini ia cari.
Akankah Alfa bisa menemukan Senja?
Apa Senja bersedia memaafkan dan memberi kesempatan Alfa jika mereka bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di balik cermin
Pesta pernikahan mewah itu akhirnya benar-benar usai.
Serangkaian acara yang melelahkan dari pagi hingga larut malam telah menguras seluruh stamina fisik dan mental Senja. Sebagai pernikahan dua dinasti konglomerat terbesar, tamu yang hadir memang tidak main-main, mulai dari para pengusaha kaliber internasional, jajaran pejabat tinggi negara, para konglomerat lama, hingga perwakilan diplomatik asing.
Ribuan jabat tangan harus disambut dengan senyum sempurna, puluhan foto bersama harus dilalui tanpa menunjukkan seulas pun rasa lelah.
Kini, Senja dan Alfa telah tiba di kamar executive suite hotel tempat mereka menginap.
Keheningan yang mendadak melingkupi ruangan luas itu terasa begitu kontras setelah berjam-jam diterpa bisingnya musik pesta dan riuh tepuk tangan.
Senja duduk di depan meja rias berukuran besar. Jemari lentiknya yang gemetar halus mengusap wajah secara perlahan, membersihkan sisa-sisa make-up tebal yang seharian membebani kulitnya.
Beruntung, aksesoris sanggul yang berat dan merusak kulit kepala tadi sudah dibantu dilepaskan oleh Meimei sebelum asistennya itu undur diri dari kamar.
Meskipun ekspresi wajah Senja nampak sangat tenang, bagaikan air danau yang tak terjangkau angin, di dalam dadanya bergemuruh rasa canggung dan gugup yang amat sangat.
Senja tidak nyaman berada di dalam satu ruangan tertutup bersama Alfa.
Bagaimana tidak? Jika dihitung secara jujur, ini baru kali ketiga mereka bertatap muka secara langsung. Pertemuan pertama terjadi di restoran privat satu bulan yang lalu saat pembacaan perjodohan.
Pertemuan kedua terjadi satu minggu yang lalu, itu pun hanya dalam durasi singkat ketika mereka melakukan fitting baju pengantin dan mencocokkan ukuran cincin pernikahan.
Pertukaran pesan singkat atau obrolan lewat telepon sama sekali tidak pernah terjadi di antara mereka selama satu bulan terakhir.
Mereka berdua adalah dua orang asing yang secara mendadak diikat oleh hukum dan agama untuk berbagi ruang yang sama. Senja yang selama ini terbiasa menyembunyikan emosinya terpaksa menggunakan topeng ketenangan itu rapat-rapat demi menutupi detak jantungnya yang berpacu liar.
Srett...
Pintu kamar mandi utama terbuka pelan. Senja menghentikan usapan kapas di wajahnya selama pecahan detik.
Alfa keluar dari kamar mandi. Rambut hitam pekatnya masih basah, menyisakan tetesan air tipis yang jatuh di sekitar tengkuknya. Pria itu tidak tampil seperti stereotip pria-pria di dalam novel roman yang sering digambarkan keluar kamar mandi hanya dengan berbalut handuk sebatas pinggang.
Alfa tampil sangat santun dan sopan, ia sudah mengenakan setelan piyama tidur berbahan sutra tebal berwarna abu-abu gelap dengan lengan dan celana panjang.
Pakaian yang sangat tertutup, namun nampak jauh lebih nyaman ketimbang setelan jas kaku yang mengungkungnya saat resepsi tadi.
Senja dengan cepat mengalihkan pandangannya kembali ke cermin rias, pura-pura sibuk mengusapkan pembersih wajah.
Jujur saja, Senja benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ini adalah pengalaman pertama dalam hidupnya berada sedekat ini dengan seorang pria dewasa di dalam ruang privat.
Selama dua puluh delapan tahun usianya, Senja tidak pernah diizinkan dekat dengan lawan jenis manapun. Sejak usia remaja, Papanya telah memagari kehidupannya dengan aturan yang teramat ketat.
Setiap teman sekolah, rekan kuliah, hingga lingkaran pekerjaan yang berpotensi mendekatinya akan langsung diseleksi dan dilarang keras oleh Prasetya Anjasmara jika tidak membawa keuntungan bisnis bagi keluarga.
Senja tak pernah merasakan indahnya cinta monyet, tak pernah memegang tangan pria dalam hubungan asmara, dan tak pernah tahu bagaimana rasanya membagi perhatian pada seorang kekasih.
Mungkin ada yang bertanya, jika hidupnya sebegitu terkekang dan menderita, mengapa Senja tidak pernah kabur? Mengapa ia tidak lari dari rumah sejak dulu?
Jawabannya sangat sederhana namun pahit, Itu semua sia-sia.
Kekuatan, dana, dan jaringan intelijen pribadi milik Papanya begitu gurita dan menakutkan. Prasetya Anjasmara bisa menemukan keberadaan Senja sampai ke lubang semut mana pun di muka bumi ini jika ia nekat kabur secara liar.
Tidak ada tempat bersembunyi bagi seorang Senja Kala Anjasmara dari cengkeraman sang papa, kecuali jika ia memilih untuk angkat kaki dari dunia ini secara permanen.
Karena itulah, pernikahan dengan Alfa adalah jalan satu-satunya yang masuk akal.
Dengan menikah, secara hukum dan norma sosial ia keluar dari rumah orang tuanya. Ia pindah ke bawah naungan keluarga Argantara.
Kendati ia masih harus bertemu Papanya di acara-acara dinasti atau rapat direksi perusahaan, setidaknya ia tidak lagi tidur di bawah atap yang sama.
Bagi Senja, menghirup udara yang tidak dikontrol langsung oleh Papanya setiap detik di dalam rumah adalah sebuah kebebasan besar yang layak diperjuangkan, sekecil apa pun celahnya.
Senja memegang botol serum wajahnya, bermaksud melanjutkan perawatan kulit malamnya demi mengalihkan rasa gugup yang kian memuncak.
"Senja"
Suara berat dan dalam milik Alfa tiba-tiba memecah keheningan kamar.
Tangan Senja yang masih memegang botol pembersih wajah mendadak membeku di udara. Napasnya tertahan. Ia tidak berbalik secara langsung, melainkan memilih untuk tetap diam dan menatap figur Alfa melalui pantulan cermin di hadapannya.
Dari cermin itu, Senja melihat Alfa berdiri beberapa langkah di belakangnya. Pria itu menatap punggung Senja dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca, bukan raut pria yang dingin atau penuh amarah, melainkan sebuah raut yang memancarkan beban yang amat berat, keputusasaan yang tertahan, dan rasa canggung yang mendalam.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Alfa pelan.
Suaranya terdengar begitu lelah, namun tetap tersampaikan dengan nada yang sangat ramah dan santun.
biar dia tau perasaan .yg sesungguhnya ...
Karena bisa jadi nanti pelarian Senja dalam pernikahan ada campur tangan orang tua Senja karena Senja diabaikan oleh Alfa
" Selama kita bersama, aku akan selalu ada disini menemanimu." Jangan terlalu umbar janji Alfa. saat masih bersama sebagai suami istri, dihatimu masih ada Dila.