Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Keesokan paginya ketenangan masih menyelimuti kediaman Halvar. Livia dengan telaten menyiapkan sarapan untuk keluarganya, dibantu Bibi Tun yang menjadi asistennya.

Wanita itu cukup semangat membuat sarapan, hampir semua menu yang ada di meja adalah masakannya, Bibi Tun hanya membantu jika disuruh.

Tak lama kemudian Faresta dan Lucas mendekat dengan langkah lunglai seperti mayat hidup. Kantung mata yang semalam sudah terlihat kini justru semakin jelas.

Keduanya langsung mengambil tempat di kursi masing-masing. Membuat Livia yang tengah mencicipi kuah sayur itu merasa heran.

“Kalian ini kenapa?”

Faresta dan Lucas kompak menggeleng pelan, tak ada semangat sama sekali.

Livia menatap Bibi Tun yang sama herannya. Pasalnya kedua Tuan Muda Halvar itu secapek apapun mereka tidak pernah terlihat seperti itu.

“Apa masalah kalian cukup berat sampai kalian terlihat seperti mayat hidup sekarang?” Danendra masuk dengan keringat yang masih membanjiri tubuhnya, pria itu baru saja berlari mengelilingi kediaman Halvar yang sudah menjadi rutinitasnya saat ini.

Faresta menghela nafasnya. “Iya, sangat berat. Tapi ada yang lebih berat lagi dari masalah ini, Pa.”

Danendra mengerutkan keningnya. “Apa?”

“Hantu,” jawab Lucas cepat dengan wajah yang kembali memucat.

Keadaan hening sesaat sebelum Livia menatap malas putranya itu dan kembali melanjutkan menata makanan.

Danendra juga lebih memilih pergi untuk membersihkan diri, dari pada merespon kedua putranya. Ia merasa, mereka mungkin terlalu lelah sampai berhalusinasi.

Melihat reaksi kedua orangtuanya yang tidak percaya, Faresta dan Lucas saling bertukar pandang sebelum kembali ke ekspresi lelahnya.

Tak berselang lama, siulan kecil terdengar dari arah tangga, Lionel  turun dengan gaya tengilnya, satu tangannya ia letakkan di saku celana sedangkan tangan yang lain menyampirkan tasnya di pundak.

Leonard menyusul di belakang dengan gaya yang lebih tenang dan santai. Tangan kirinya menjinjing tas, sedangkan tangan kanannya memegang ponsel.

Keduanya terlihat rapi dengan seragam sekolah. Setelah beberapa hari kemarin libur kini mereka merasa cukup semangat untuk kembali bersekolah.

“Kakak berdua ini kenapa? Muka kalian seperti kertas yang baru aja di remas dan di masukkan ke dalam air. Kucel.”

Lionel sengaja sedikit menekan pada kata terakhir, untuk menggoda mereka. Namun melihat reaksi kedua kakaknya yang hanya menatapnya tanpa minat membuat Lionel semakin terheran.

Karena tak ada jawaban dari keduanya, Lionel ahirnya memilih untuk menghampiri Livia.

“Ma, kakak kakak kenapa?”

“Katanya habis lihat hantu,” Livia menjawab dengan tenang, sambil menata lauk terakhir di meja.

Leonard mengernyit heran menatap kedua kakaknya. “Hantu?”

Berbeda dengan Leonard, Lionel justru melepaskan tawanya keras. Ia merasa ini cukup lucu, kakak tertuanya yang terlihat kaku dan kakak kedua yang seorang dokter bahkan seringkali berhadapan dengan mayat ternyata masih takut hantu.

Namun, tawa itu terhenti ketika suara langkah kaki menuruni tangga mulai terdengar pelan dan teratur, seperti detakan menyeramkan yang mengusik ketenangan dalam rumah itu.

Faresta dan Lucas seketika menegakkan tubuh. Bayangan ketakutan semalam tiba-tiba terlintas kembali di kepala mereka. Wajah mereka tampak sedikit pucat saat saling menatap seolah sama-sama memahami ketakutan masing-masing.

Perlahan, kepala mereka menoleh dengan gerakan patah-patah. Menunggu detik demi detik yang semakin berjalan sangat lambat.

Nafas mereka tercekat saat sepasang kaki jenjang itu mulai terlihat dari balik tangga. Untaian dres putih yang menggantung di atas mata kaki seolah menambah ketegangan suasana.

Detik demi detik terasa menyesakkan sampai akhirnya wajah Elara muncul dan membuat mereka bisa menghela nafas lega.

“Astaga, gara-gara kakak berdua, jantung Lio rasanya ikutan mau copot,” keluh Lionel sambil memegangi dadanya.

Danendra yang muncul dari belakang Elara, menatap heran kearah putra-putranya yang seperti baru saja melihat hantu.

“Kalian kenapa?”

Faresta segera mengalihkan wajah dan berdehem. “Gak ada apa-apa.”

“Iya, Pa. Mereka cuma terlalu banyak nonton film horor,” sahut Lionel cepat dengan senyum mengejek.

Lucas langsung melotot tajam ke arah adiknya. “Diam kamu!”

Lionel justru terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya ia melihat Faresta dan Lucas benar-benar kehilangan ketenangan hanya karena suara langkah kaki.

“Sudah sudah, cepat duduk dan makan!”

Suasana makan terlihat cukup hangat meski sikap keempat putra Danendra masih terkesan mengabaikan Elara. Tapi Livia selalu berusaha membuat gadis itu nyaman, wanita itu tak hentinya mengajak Elara berbicara.

“Bagaimana tidurmu, Elara? Apa kamu nyaman di kamar itu?”

“Em, cukup nyaman.”

“Apa perlu kamarnya mama ubah sesuai keinginan kamu? Kamu mau kamar dengan desain seperti apa? Atau mungkin warna cat-nya kurang cocok di kamu? Bilang saja, nanti Mama urus semuanya.”

“Terimakasih, Ma. Tapi, seperti itu saja sudah cukup.”

Livia tersenyum haru dan mengusap lembut kepala Elara. Ia merasa cukup kagum dengan sikap Elara yang tidak tamak dan serakah.

“Besok papa mulai daftarkan kamu ke sekolah si kembar. Mungkin minggu depan kamu baru mulai masuk sekolah.”

Perkataan Danendra itu sontak membuat Lionel ingin melayangkan protes, tapi belum juga membuka mulut sorot mata Livia sudah mengarah dengan sangat tajam  memaksanya untuk tetap diam.

Elara mengangguk singkat sambil terus mengunyah.

“Makanan ini enak. Ini apa namanya?” Gadis itu menunjuk mangkuk yang berisi irisan wortel, buncis dan juga daging beserta tulangnya.

“Ini namanya asem-asem iga,” jawab Livia.

“Iga? Maksudnya, tulang rusuk?”

“Iya, tulang rusuk sapi. Disini makanan ini cukup terkenal karena memang rasanya yang enak dan unik.”

“Ooh, kirain tulang rusuk manusia.”

Uhuukk…

Faresta dan Lucas seketika tersedak mendengar perkataan Elara yang entah mengapa terdengar menakutkan di telinga mereka.

“Mana ada yang mau makan kalau itu terbuat dari tulang manusia,” sahut Leonard sini.

Elara menatapnya sekilas kemudian mengedikkan bahunya menganggap jika ucapan itu hanya angin lalu.

“Oh iya, tawaranku semalam untuk kak Faresta masih berlaku. Benar tidak butuh bantuanku?”

Sendok yang penuh makanan dan siap masuk ke mulut Faresta itu seketika terjatuh dan menimbulkan dentingan yang cukup terdengar di kesunyian ruang makan.

Tak jauh berbeda dengan Faresta, Lucas yang baru saja hendak mengambil gelas mendadak berhenti. Beruntung gelas itu belum terangkat sehingga tidak akan ada omelan pagi dari Livia karena ia memecahkan gelas.

“J-jadi… yang semalam itu… beneran kamu?” tanya Faresta.

Kening Elara mengernyit bingung, “Memang aku. Ada yang salah?”

Seketika itu pula Faresta dan Lucas seperti terkena peluru tepat di dadanya yang membuat keduanya langsung tumbang tak sadarkan diri.

***

Hari menjelang siang, setelah insiden Faresta dan Lucas yang tiba-tiba pingsan kini mereka semua telah kembali pada aktivitas masing-masing.

Setelah sadar tadi faresta langsung menceritakan apa yang mereka alami semalam, dengan kesaksian Lucas keduanya sangat menggebu-gebu dalam bercerita.

Namun apa yang terjadi, respon kedua orang tuanya serta adik kembarnya justru nampak tidak percaya. Mereka selalu mengira jika Faresta dan Lucas hanya terlalu lelah bekerja sehingga membuat mereka berhalusinasi. Atau mungkin efek setelah mereka bermalam di hutan kemarin.

Meski tidak percaya dengan apa yang diceritakan kedua putranya, tapi hal itu membuat Livia terus memikirkannya.

“Mama kenapa?” Elara menghampiri Livia yang tengah termenung di ayunan dekat kolam.

“Mama cuma kepikiran sama kedua kakak kamu itu. Mereka terlalu gila kerja sampai gak sadar tubuh mereka sudah diambang batas garis kelelahan.”

Elara ikut duduk disamping Livia, menatap permukaan kolam yang memantulkan cahaya matahari siang.

“Mereka memang terlihat lelah,” ujar Elara pelan

Livia menghela nafas pelan. “Faresta terlalu memikirkan perusahaan. Sedangkan Lucas… dia terlalu sibuk dengan profesinya. Mama kadang takut mereka lupa cara hidup dengan tenang.”

Angin berhembus pelan membawa udara panas yang menerpa wajah Elara. Gadis itu menatap tanaman hijau di ujung kolam cukup lama sebelum akhirnya kembali membuka suara.

“Manusia memang aneh.”

“Hm?” Livia menoleh bingung.

“Kalian terlalu mengejar sesuatu sampai lupa menjaga diri sendiri. Padahal kalau tubuh kalian rusak, semuanya juga akan ikut hancur.”

Livia terkekeh kecil mendengar cara bicara Elara yang kadang terasa lebih dewasa dari usianya.

“Kamu bicara seperti orang yang sudah hidup sangat lama.”

Elara terdiam. Tatapannya perlahan turun ke permukaan kolam yang tenang.

“Aku hanya sering melihat orang seperti itu,” jawabnya singkat.

Livia tidak terlalu memikirkan jawaban aneh dari Elara sebelumnya. Tangannya justru terulur mengusap lembut rambut Elara.

“Anak baik.”

Elara terdiam menerima sentuhan itu. Ada rasa hangat asing yang merayap di hatinya. Perasaan yang sama sekali belum pernah ia rasakan.

Apakah sekarang… aku mulai memiliki perasaan seperti manusia?

Belum selesai dengan perang batinnya, tiba-tiba tubuhnya menegang, dan keningnya mengernyit. Iris mata hijau itu kembali menyala terang, bahkan terlihat lebih terang dari sebelumnya.

“Elara, kamu kenapa?” tanya Livia panik

“Gawat…” gumamnya pelan.

Tatapannya langsung mengarah ke depan dengan ekspresi serius.

“Kakak kembar dalam bahaya.”

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!