Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Menjanda untuk Suami Terkaya di Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Berbaikan / Janda / Dokter / Peramal
Popularitas:5
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Lelaki yang Semakin Nekat

Tiga hari setelah nama Nyai Ratri menjadi viral, tiga saluran media membatalkan ruang hak jawab pada jam yang hampir bersamaan.

Mbak Rara meletakkan daftar pembatalan di meja Ratri. "Pemilik jaringan menerima tekanan dari salah satu penyandang dana Wiryawan. Mereka tidak akan memuat koreksi tentang video yang menyerang mendiang ibu Bos."

"Kita tidak perlu memaksa redaksi," jawab Ratri. "Kirim somasi pada pembuat tuduhan. Siapkan halaman data milik kita sendiri."

"Masalahnya, penyedia distribusi juga menahan kampanye edukasi kita. Mereka menyebut risiko reputasi."

Ratri membaca surel penolakan. Bahasa di dalamnya sopan, tetapi polanya jelas. Wiryawan tidak mencoba membuktikan tuduhan. Mereka hanya ingin membuat satu versi cerita terdengar lebih keras daripada versi lain.

"Cari jalur lain," katanya.

Baskara yang sedang meletakkan makan siang di meja tidak ikut berbicara. Ia hanya melihat nama perusahaan di sudut surel.

Sore itu, Panji menerima satu pesan.

Periksa siapa pemilik utang perusahaan distribusi ini. Jangan beli medianya. Buka jalur yang mereka tutup dan pastikan tidak ada yang tahu aku terlibat.

Dua jam kemudian, perusahaan tersebut menghubungi Rara. Mereka mengaku terjadi salah penilaian internal dan memulihkan seluruh akses. Salah satu jaringan berita bahkan menawarkan slot khusus untuk koreksi fakta tanpa biaya.

Rara memeriksa semua jalur kepemilikan, pembayaran, dan komunikasi. Tidak ada nama yang bisa ia kaitkan dengan pihak pendukung Ratri.

"Seseorang membersihkan jalan," katanya.

Ratri menoleh kepada Baskara. Pria itu sedang menyiram tanaman di balkon dengan wajah orang yang tidak tahu apa-apa.

"Kenapa melihatku?" tanyanya.

"Tanaman itu plastik."

Baskara memandang pot di tangannya. "Pantas tidak tumbuh."

Ratri menyipitkan mata. "Siapa yang menelepon perusahaan distribusi?"

"Bukan aku. Aku bahkan tidak punya uang untuk membeli pot asli."

"Saya tidak bertanya soal uang."

"Kalau begitu jawabannya tetap bukan aku."

Ia meletakkan penyiram tanaman dan pergi sebelum pertanyaan berikutnya datang.

Ratri semakin yakin suaminya berbohong.

Hari berikutnya, Sinar Sentosa mengadakan peluncuran program bantuan hukum bagi keluarga korban kekerasan. Acara kecil itu awalnya direncanakan untuk mitra komunitas, tetapi perhatian publik membuat halaman gedung dipenuhi wartawan.

Baskara datang membawa dua payung, obat luka, air hangat, serta daftar jadwal makan Ratri.

"Anda mau pindah rumah ke kantor?" tanya Ratri.

"Aku belajar dari kesalahan. Kemarin kau kehujanan tujuh menit."

"Saya tidak meleleh."

"Aku tidak mau menguji kemungkinan itu."

Ratri merampas satu payung dan berjalan ke area acara. Baskara mengikutinya dengan wajah puas hanya karena satu barang bawaannya diterima.

Ganendra Wangsa tiba menjelang sesi utama. Ia tidak membawa rombongan besar, hanya seorang ajudan yang berhenti di dekat mobil. Kehadirannya tetap membuat para wartawan berpindah arah.

"Bu Ratri," sapa Ganendra. "Saya ingin mendukung program ini."

"Dukungan tidak membeli pengaruh terhadap perkara."

"Saya tahu. Itu sebabnya saya tertarik."

Ganendra menawarkan bantuan fasilitas untuk klinik hukum keliling dan akses bagi keluarga personel yang memerlukan pendampingan. Ia tidak menyebut malam Wiryawan, tetapi pujiannya terdengar jelas.

Ratri meminta Mbak Lia mencatat tawaran itu sebagai dukungan lembaga, bukan sumbangan pribadi. Setiap biaya harus masuk rekening program dan dilaporkan terbuka. Ganendra menerima syarat tersebut tanpa menawar.

Di belakang panggung, Rara menunjukkan bahwa materi koreksi tentang ibu Ratri akhirnya berhasil didistribusikan. Bukan pembelaan emosional, hanya dokumen pendidikan, riwayat pekerjaan, dan catatan komunitas yang membuktikan banyak cerita Sekar tidak konsisten.

"Jalur yang kemarin tertutup sekarang dibuka semua," kata Rara. "Bahkan pihak yang menolak menelepon untuk meminta maaf."

Ratri kembali menatap Baskara. Pria itu sedang membantu seorang anak kecil memperbaiki payung kertas untuk acara. Pemandangan itu terlalu biasa, seolah ia tidak mungkin baru saja membuat jaringan bisnis besar mengubah keputusan.

Namun, Panji berdiri jauh di dekat mobil, dan setiap kali Baskara mengangkat mata, pria itu memberi anggukan kecil.

Ratri menyimpan detail tersebut. Ia tidak akan menuduh tanpa bukti. Suaminya boleh memainkan peran miskin selama yang dia inginkan. Setiap kebohongan selalu meninggalkan biaya, arah, dan orang yang harus bergerak.

"Jarang ada orang yang bisa membuat ruangan penuh petinggi diam hanya dengan tiga pertanyaan," katanya. "Jakarta butuh lebih banyak orang seperti Anda."

Baskara berdiri di sisi Ratri. "Jakarta sudah punya satu. Itu cukup."

Ganendra menoleh. "Mas Baskara, bukan? Saya dengar Anda baru kembali."

"Pendengaranmu baik."

"Saya hanya ingin berteman dengan Bu Ratri."

"Dia sibuk."

Ganendra tersenyum. "Saya bertanya kepada beliau."

Udara di antara kedua pria itu mengeras.

Ratri mengembuskan napas. "Pak Ganendra datang untuk program kantor. Jangan bersikap seperti penjaga gerbang."

"Aku memang menjaga gerbang."

"Mas Baskara tampaknya sangat protektif," kata Ganendra.

Beberapa kamera mengarah kepada mereka. Ratri melihat bagaimana pertukaran kecil itu bisa dipotong menjadi berita asmara baru.

"Dia suami saya," katanya dingin. "Tentu dia berdiri di sini."

Hening berlangsung satu detik.

Ganendra mengangguk. "Kalau begitu saya menghormati batasnya."

Baskara tidak berkata apa-apa sampai pria itu pergi. Lalu ia menoleh kepada Ratri dengan mata terang.

"Kau menyebutku suamimu."

Ratri baru menyadari kalimat yang keluar dari mulutnya. "Itu fakta hukum."

"Aku suka fakta hukum."

"Diam."

Sepanjang acara, Baskara tersenyum seperti baru memenangkan sebuah kerajaan.

Malamnya, senyum itu hilang di ruang sunyi bagian belakang rumah.

Tidak ada pelayan yang diizinkan masuk. Baskara duduk bersila di depan pusaka yang dibungkus kain gelap. Di sampingnya terbuka lembar-lembar tulisan Eyang Suryo tentang laku penyambungan sukma.

Ia menggulung lengan kemeja.

Bagian dalam lengannya dipenuhi garis tipis, sebagian memudar, sebagian masih merah. Baskara menarik napas, mengangkat belati kecil yang telah disucikan, lalu membuka satu luka baru di antara bekas lama.

Darah menetes ke wadah tanah liat di depan pusaka.

Cahaya lampu minyak bergoyang. Benang sukma yang tidak terlihat mata biasa bergetar dari darahnya, menembus jarak menuju kamar Ratri.

Di kamar utama, Ratri yang sedang membaca tiba-tiba merasakan hangat mengalir dari dada menuju ujung jari. Lebam kecil di pergelangannya memudar satu tingkat. Ia menyentuh pusaka dari Eyang Suryo di sisi tempat tidur, tidak tahu bahwa denyut kedua di bawah kulitnya berasal dari ruangan belakang.

Di sana, bahu Baskara bergetar. Setiap tetes yang berpindah membawa sebagian tenaga hidupnya. Garis wajahnya semakin cekung, bibirnya kehilangan warna, dan nyeri tajam menjalar dari lengan ke dada.

Ia pernah melakukan laku serupa dari negeri yang jauh, hanya berpegang pada ikatan sukma kembar untuk menemukan Ratri. Jarak tidak memutus sumpah darah mereka. Jarak hanya membuat harga yang dibayar tubuhnya semakin besar.

Kini ia berada di rumah yang sama, tetapi tetap tidak berani membiarkan Ratri melihatnya.

Baskara memucat. Napasnya menjadi berat, tetapi ia tidak menghentikan laku sampai pusaka menyerap tetes terakhir.

"Ambil umurku," bisiknya. "Jangan miliknya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!