Indonesia
NovelToon NovelToon
Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Enemy To Lovers: Tersangkut Cinta Musuh Bebuyutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Idola sekolah / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: theonlywaaannn_

Kiara cuma punya satu impian di sekolah barunya: lulus dengan tenang tanpa drama.

​Sayangnya, takdir malah melemparnya tepat ke lingkaran kehidupan Khafi Mahendra—cowok paling jahil, menyebalkan, dan susah ditebak di SMA Cahaya Permata.

​Dua kepala batu. Dua pendirian kuat. Satu hubungan tanpa komitmen yang dipenuhi provokasi. Ketika benci menjadi satu-satunya bahasa yang mereka pahami, seberapa jauh mereka bisa saling menghindar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon theonlywaaannn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : Cara Terburuk Memayungi Cewek

   Suasana kelas XI IPS 2 saat ini senyap dan sunyi. Presentasi tugas sosiologi yang sudah disiapkan dua minggu belakangan ini siap di tampilkan. Kelompok dua menjadi kelompok terakhir yang maju karena saat pengundian, Okta mengambil nomor urut terakhir.

Di samping papan tulis, Kiara---Bertugas sebagai moderator---memegang remote clicker dengan wajah super serius, sementara Khafi berdiri santai di sebelah layar proyektor dengan tangan masuk ke saku celana.

​"Sekian penjelasan dari latar belakang usaha ini. Selanjutnya, untuk bagian analisis strategi pemasaran akan dijelaskan oleh Khafi," ucap Kiara dengan nada formal yang sengaja dibuat kaku.

​Khafi melirik Kiara dari sudut matanya, menyeringai tipis sebelum menatap ke arah teman-teman sekelasnya.

​"Ya, terima kasih Mbak Ara atas pembukaannya yang sangat kaku seperti kanebo kering," celetuk Khafi tanpa rasa bersalah.

​Seisi kelas langsung meledak dalam tawa. Kiara melotot tidak terima, jemarinya mengepal erat di samping paha. "Khaf, bisa profesional dikit nggak?!" bisik Kiara dengan gigi terkatuk.

​"Lah, ini gue profesional. Kan nyapa moderator," balas Khafi santai setengah berbisik, lalu melanjutkan presentasinya sambil menunjuk slide proyektor.

​Semuanya berjalan lancar sampai di menuju akhir presentasi saat bagian analisis video wawancara diputar. ​"Bisa kita lihat dari data hasil wawancara ini, sistem Pre-Order yang diterapkan sangat membantu menjaga kualitas bahan baku tetap segar—" Misya menjelaskan dengan rinci.

​"Serta meminimalisir risiko donatnya dimakan duluan sama moderator kita yang bolak-balik comot pas proses pengerjaan tugas," potong Khafi tiba-tiba, tanpa rasa bersalah ia menunjuk Kiara pakai pulpennya.

​Seisi kelas XI IPS 2 seketika pecah dalam tawa.

​Kiara tersentak. Kepalanya menoleh patah-patah ke arah Khafi dengan wajah sedikit memerah. "Siapa yang nyomot lima biji?! Kan Tante Siska sendiri yang nyuruh makan!" bisik Kiara dengan gigi terkatuk, berusaha menjaga volume suaranya.

​"Ya kan gue nggak bilang lima biji, Kuntil. Berarti lo ngaku sendiri, kan?" balas Khafi santai seraya menaikkan sebelah alisnya, menyunggingkan senyum tengil yang sangat memancing permusuhan.

​"Khafi! Fokus ke materi!" tegur Bu Linda dari meja guru, walau beliau sendiri menahan tawa melihat muka memerah Kiara.

​"Siap, Bu," sahut Khafi sok penurut, lalu kembali menatap teman-sekelasnya. "Lanjut, untuk bagian kesimpulan akan disampaikan oleh Saudari Kiara... yang kalau lagi panik mukanya makin mirip---" ucapan Khafi terpotong.

​"Khafi ih!" bentak Kiara tak tahan lagi, refleks menginjak ujung sepatu Khafi dengan sepatunya cukup keras.

​CTAK!

​"Aduh! Sakit, Kuntil!" Khafi meringis spontan seraya memegang kakinya, melompat kecil di depan papan tulis.

​"Makanya mulutnya dikondisikan!" semprot Kiara makin melotot tajam. "Bu Linda, lihat deh! Khafi dari tadi nggak ada serius-seriusnya!"

​Adu argumen sengit itu terjadi tepat di depan papan tulis. Keduanya saling menatap tajam, maju satu langkah seolah siap berduel, melupakan fakta bahwa mereka sedang dinilai di depan kelas. Seisi kelas bukannya tegang malah makin heboh memprovokasi, bersiul-siul menikmati pertunjukan gratis.

​"Wah, mulai... Tom and Jerry beraksi!" sahut Pratama gembira di bangku belakang.

​"Ayo, Ra, bantai! Jangan mau kalah." kompor Ferdi ikut-ikutan.

Anggota kelompok dua yang lain sudah menyingkir sambil menepuk dahi dan muka, malu sendiri menghadapi Tom & Jerry ini.​

Bu Linda yang duduk di meja guru pun sampai menghentikan ketukan pulpennya. Wanita paruh baya itu memijat pelipisnya, menggelengkan kepala dengan napas terhela berat. Capek hati melihat dua murid pintarnya ini kalau disatukan selalu berujung seperti perang dunia.

​"Khafi... Kiara..." tegur Bu Linda lembut tapi tegas.

​Keduanya masih saling melotot, napas mereka memburu.​"Khafi! Kiara!" panggil Bu Linda sekali lagi, kali ini mengetuk meja dengan penggaris kayu.

TAK!

​Seketika keduanya tersentak dan kompak menoleh ke arah Bu Linda. ​"Kalian ini mau presentasi tugas Sosiologi atau mau ajang debat politik?" sindir Bu Linda sambil menyandarkan punggungnya di kursi, menggelengkan kepala gelisah. "Ibu capek kepalanya dengar kalian sahut-sahutan dari tadi. Tinggal lanjutin slidenya apa susahnya, sih?"

​"Khafi yang mulai duluan, Bu," tuduh Kiara cepat seraya menunjuk Khafi pakai clicker.

​"Lah, kok gue? Kan lo yang nyolot duluan." bela Khafi tak mau disalahkan.

​"Sudah! Diam atau Ibu potong sepuluh poin nilai kalian?!" ancam Bu Linda mantap.

​Seketika mulut Khafi dan Kiara terbungkam rapat. Keduanya kompak mengatupkan bibir, membuang muka ke arah berlawanan dengan napas menahan kekesalan.

Pandu, Kevin dan Ferdi di bangku belakang sampai menutupi muka mereka dengan buku paket, menahan tawa sampai mules melihat kekonyolan dua murid tersebut.

​"Lanjutkan. Tinggal dua slide lagi," perintah Bu Linda tegas.

​Meski sepanjang dua slide terakhir mereka saling diam dan membelakangi, materi yang disampaikan tetap meresap dan sangat tajam. Bahkan saat sesi tanya jawab, kombinasi jawaban pedas Kiara dan jawaban logis Khafi berhasil membungkam semua pertanyaan sulit dari kelompok lain.

​Saat slide terakhir ditutup, applause meriah memenuhi kelas XI IPS 2. ​Bu Linda mendengus pelan, lalu terkekeh sendiri seraya mencoret sesuatu di buku nilainya. "Jujur, Ibu pusing dengar debat kusir kalian di awal tadi. Tapi harus Ibu akui, materi kalian paling dalam, videonya rapi, dan jawaban kalian berdua tadi sangat melengkapi. Terima kasih, silakan kembali ke tempat duduk masing-masing,"

​"Tuh kan, berkat musik jedag-jedug gue," bisik Khafi menunduk pelan ke arah Kiara saat mereka berjalan kembali ke bangku.

​Kiara mencibir tajam, "Diem lo! Hampir aja nilai kita dipotong sepuluh poin gara-gara mulut lo."

​Meski terus mengomel pelan sepanjang jalan menuju meja, bibir Kiara tak bisa menyembunyikan senyuman tipis dan puas dengan hasil presentasi kelompok mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

   Sore harinya, hujan deras tanpa ampun mengguyur SMA Cahaya Permata. Suara gemuruh air yang menghantam atap koridor beradu dengan hilir mudik para siswa yang sibuk menyelamatkan diri. Beberapa murid yang jemputannya sudah tiba berbondong-bondong menerobos hujan menggunakan payung colorful, sementara yang membawa motor sibuk memakai jas hujan plastik di kelas atau mengganti sepatunya dengan sandal. Sebagian lagi memilih pasrah, duduk berderet di tempat duduk koridor yang memang disediakan untuk menunggu hujan reda.

Di dalam kelas XI IPS 2 yang mulai sepi, Kiara masih anteng duduk di bangkunya. Mang Ujang—sopir keluarganya—baru saja mengirim pesan kalau ia terjebak macet parah di persimpangan jalan akibat antrean jemputan anak-anak sekolah lain.

​Di sebelah Kiara, Neona sedang berjuang mengancingkan jas hujan plastik warna hijau milik kakaknya yang ukurannya super besar.

​"Buset, Ona! Lo mau berubah jadi Hulk, anjir?" celetuk Kevin yang lewat di depan pintu kelas untuk menyimpan sepatunya sambil membawa bola basket basah.

​"Biarin. Dari pada lo main hujanan kayak anak kecil nanti malemnya jompo masuk angin!" sungut Neona kesal, tangannya sibuk membetulkan kupluk jas hujannya yang kebesaran sampai menutup setengah matanya.

​Kiara yang melihat penderitaan sahabatnya itu spontan tertawa geli di bangkunya. "Tapi beneran agak kebesaran sih, Na..."

Neona jadi manyun karena malu juga dia jalan ke parkiran dengan keadaan begini. "Kia, jangan gitu... Malu banget nih gue,"

Kiara menggeleng sambil membenarkan kupluk jas hujan Neona. "Nggak kok, lucu liatnya. yang penting kan nggak akan kebasahan kalau kaya gini, yang penting aman." ucapnya sedikit terkekeh.

​Beberapa saat kemudian, rintik hujan mulai agak mereda. Angin kencang yang tadinya menusuk kini berganti menjadi gerimis tipis, meski air di halaman sekolah sudah lumayan menggenang setinggi mata kaki.

​Kiara segera memakai sweater berwarna pink dan memakai tasnya, Neona yang sudah mengganti sepatunya dengan sandal jepit dan siap dengan 'kostum Hulk'-nya langsung berpamitan. "Kia, gue duluan ke parkiran ya! Mau ngambil motor sebelum hujannya gede lagi."

​"Sip, hati-hati Ona!" sahut Kiara.

​Karena tidak membawa sandal ganti dan ogah sepatunya basah kuyup, Kiara terpaksa melepas sepatu sekolahnya. Dengan bertelanjang kaki alias nyeker, ia menatap ngeri air genangan di halaman luar kelas.

​"Kia! Mau ke depan, kan?" sapa Febri, teman sekelasnya yang baru saja membuka payung lipat warna merah muda. "Barengan yuk! Sepayung berdua sampai gerbang, gue juga udah dijemput tuh di depan."

​"Wah, beneran nih, Feb? Mau banget! Makasih yaa," ucap Kiara lega.

​Kiara langsung merangkul erat lengan kiri Febri. Tangan kirinya menjinjing sepasang sepatu sekolah, sementara kaki telanjangnya mulai melangkah hati-hati menembus gerimis dan genangan air hujan bersama Febri.

​Namun, ketenangan mereka tak bertahan lama. Baru saja melewati area lapangan basket tengah, sesosok cowok dengan kaos hitam dan celana seragam abu yang basah kuyup tiba-tiba berlari kencang dari tengah lapangan dan mencegat langkah mereka.

​Ciprat!

​Satu hentakan kaki berbalut sepatu basket itu sukses memuncratkan air genangan tepat ke arah betis dan rok Kiara.

​"Khafi! Mata lo ditaruh di mana, sih?!" jerit Kiara refleks mundur, tangannya makin erat mencengkeram lengan Febri.

​Khafi berdiri di hadapan mereka, memegang bola basket yang licin oleh air hujan. Rambut basahnya meneteskan air ke dahi, dan seringai tengilnya langsung terpasang lebar begitu melihat penampilan Kiara yang nyeker sambil menjinjing sepatu.

​"Lah, Kok nyeker? Mau melaut apa gimana?" ledek Khafi santai, lalu sengaja memantulkan bola basketnya ke tanah basah tepat di samping kaki Kiara.

CTAK!

Air genangan kembali terpercik. ​"Khafi! Berhenti nggak?!" amuk Kiara, matanya melotot tajam seraya mengangkat sepatu di tangan kirinya, siap melayang ke wajah Khafi. "Udah tahu orang lagi jalan rapi-rapi, pakai ngegangguin segala!"

​Febri yang berdiri di samping Kiara mulai panik melihat aura permusuhan yang mendadak meledak di bawah payungnya. Apalagi Khafi malah makin gencar tertawa dan maju mendekat untuk mengambil sepatu Kiara.

​"Kia... sorry banget, gue kabur duluan ya! Takut ketumpahan perang kalian!" bisik Febri. Tanpa menunggu jawaban Kiara, Febri langsung menarik langkahnya berlari cepat menuju gerbang meninggalkan Kiara sendirian di bawah rintik gerimis.

​"Febri! Jangan tinggalkan gueee!" Kiara berteriak panik menatap kepergian Febri.

​Tapi Febri sudah menghilang di antara kerumunan payung di depan gerbang. Kini tersisa Kiara yang berdiri nyeker dengan sepatu di tangan dan tangan kanan yang menghalau hujan di atas kepalanya. Khafi terkekeh puas berdiri tepat di depannya.

​Kiara mendongak, menatap galak cowok jangkung yang basah kuyup itu. "Puas lo bikin orang menderita, Hah?!"

​Khafi tertawa pelan, lalu menyisir rambut basahnya ke belakang dengan jemari. "Lagian lagak lo sok-sok'an nyeker. Siniin sepatu lo!"

​"Nggak mau, nanti basah! ini sepatunya warna putih, gaje banget!" Kiara merengutkan wajahnya.

​"Udah tau lagi musim hujan bukannya pakai hoodie malah sweater nggak ada kuplukan kaya gitu." kata Khafi mengomel setelah memperhatikan penampilan Kiara.

​Kiara memutar bola matanya jengkel. "Ya terserah gue. kalau tau lagi musim hujan ya lo awas, jangan ngehalangin jalan!"

Namun Khafi bergeming, ia mendadak bungkam. Tatapan matanya terkunci pada raut wajah Kiara yang berada tepat di depannya. Bulir-bulir air gerimis yang menempel di poni lepek Kiara, pipinya yang sedikit kemerahan karena emosi, hingga napas cewek itu yang berembus cepat—semuanya mendadak terasa begitu jelas dan dekat.

​Karena posisinya masih di tengah lapangan upacara yang menuju gerbang depan, ia seakan tersadar mereka jadi tontonan gratis beberapa anak yang berteduh di koridor, Khafi berdehem pelan. Seringai tengilnya buru-buru ia pasang kembali untuk menutupi getaran aneh yang tiba-tiba menyengat di dadanya.

​"Lagak lo sok galak, tapi muka udah kayak anak kucing hanyut gini," cetus Khafi secara asal.

​Tanpa aba-aba, Khafi mengangkat telapak tangan kanannya yang lebar, melayang tepat di atas kepala Kiara untuk memayungi cewek itu dari rintik gerimis. Sementara tangan kirinya yang basah kuyup bergerak santai memindahkan bola basket ke ketiaknya, lalu dengan cepat merampas sepasang sepatu sekolah dari cengkeraman tangan Kiara.

​"Eh! Sepatu gue! Mau lo bawa ke mana, Khafi?!" seru Kiara kaget, tangannya refleks hendak merebut kembali sepatunya.

​"Gue bawain sampai gerbang. Daripada lo jalan nyeker sambil jinjing sepatu kayak mau pindahan rumah," jawab Khafi santai seraya menjinjing sepasang sepatu kiara dengan dua jari tangannya.

​Ia lalu berbalik dan berjalan santai dengan langkah lebarnya menembus gerimis. Tangan kanannya yang panjang sengaja ia bentangkan sedikit ke belakang—tetap berusaha memayungi kepala Kiara walau cowok itu berjalan di depan.

​"Khafi!Tungguin, tangan lo kebesaran!" teriak Kiara setengah pasrah karena tangan Khafi menghalangi pandangannya. Mau tidak mau, dengan kaki bertelanjang ia buru-buru menyusul dan berjalan mepet di samping Khafi agar tidak makin kehujanan.

​Di sepanjang selasar koridor, sorak-sorai dan siulan jahil dari Kevin, Ferdi, Pandu dan anak-anak cowok yang tadi bermain basket sedang istirahat dan berteduh langsung membubung tinggi melihat pemandangan ajaib itu: Khafi yang basah kuyup jalan santai sambil menjinjing sepatu cewek, dan Kiara yang nyeker mepet di sebelahnya.

​Wajah Kiara seketika memerah padam—bukan cuma karena angin dingin sore itu, tapi juga karena detak jantungnya yang mendadak tak terkendali di bawah lindungan telapak tangan Khafi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!