Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.7
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33 - Dinda Mengembalikan Cincin

Dinda mengirim pesan pukul enam pagi.

`Aku mau mengembalikan cincin ke Reza hari ini. Kamu bisa ikut?`

Safira membaca pesan itu sambil duduk di tepi ranjang. Arga masih di sampingnya, sudah bangun tetapi belum membuka mata.

"Dinda?" tanyanya.

"Iya."

"Butuh kamu?"

"Hari ini dia mau mengembalikan cincin."

Arga membuka mata. "Kamu pergi."

"Kamu tidak tanya jadwalku?"

"Jadwal bisa diatur. Sahabat yang sedang memutuskan hidupnya tidak selalu bisa diulang."

Safira menatapnya.

"Kamu makin pandai menjadi suami."

"Catat di buku prestasi saya."

Safira tersenyum, lalu membalas Dinda.

Mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat taman kota. Dinda datang lebih dulu, memakai kemeja biru muda dan celana hitam. Wajahnya pucat, tetapi matanya tidak kosong. Di tangannya ada kotak cincin kecil.

"Aku belum putus resmi," kata Dinda saat Safira duduk. "Tapi aku rasa hari ini akan jadi resmi."

"Kamu yakin?"

Dinda melihat kotak itu. "Aku tidak yakin aku tidak akan menangis. Tapi aku yakin aku tidak mau akad dalam keadaan begini."

Safira menggenggam tangannya.

Reza datang sepuluh menit kemudian bersama ibunya.

Safira hampir tertawa karena sudah menduga. Namun kali ini Dinda tidak terkejut. Ia hanya menarik napas.

"Reza," kata Dinda.

Reza duduk di hadapannya. Bu Mira duduk di samping, wajahnya dingin.

"Dinda," kata Bu Mira lebih dulu. "Tante harap hari ini kamu sudah lebih tenang."

Dinda mengangguk. "Saya tenang, Bu."

"Bagus. Karena pernikahan tidak bisa diputuskan dengan emosi."

"Saya setuju."

Reza tampak lega sesaat.

Dinda meletakkan kotak cincin di meja.

Kelegaan itu hilang.

"Din..."

"Aku kembalikan dulu," kata Dinda. "Bukan karena aku membenci kamu. Tapi karena kita tidak siap."

Bu Mira langsung menegang. "Tidak siap apa? Semua keluarga sudah tahu."

"Justru karena semua keluarga sudah tahu, saya tidak mau pura-pura."

Reza menatap cincin itu. "Aku bilang butuh waktu."

"Aku juga. Dan selama waktu itu, cincin ini tidak perlu ada di tanganku."

"Kamu mau putus?"

Dinda menelan napas. "Aku mau berhenti dipaksa maju saat kamu sendiri belum bisa berdiri di sampingku."

Bu Mira tertawa kecil. "Ini pasti karena teman-temanmu."

Safira membuka mulut, tetapi Dinda mengangkat tangan kecil. "Bukan, Bu. Ini karena saya."

Kalimat itu membuat Safira diam.

Dinda melanjutkan, "Saya yang merasa tidak nyaman. Saya yang tidak mau tinggal di rumah Ibu. Saya yang ingin Reza bicara sebagai calon suami, bukan selalu menunggu Ibu menjawab. Kalau itu dianggap salah, berarti memang saya tidak cocok."

Reza menunduk.

"Aku sayang kamu," katanya pelan.

Dinda tersenyum sedih. "Aku juga. Tapi aku tidak mau menikah hanya dengan rasa sayang. Aku butuh hormat. Aku butuh ruang. Aku butuh kamu memilihku saat ibumu tidak setuju."

Bu Mira berdiri. "Reza, kita pulang."

Reza tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung mengikuti.

Bu Mira menatapnya tajam. "Reza."

Reza mengambil kotak cincin. Tangannya gemetar.

"Kalau aku berubah?"

Dinda menatapnya lama.

"Berubahlah untuk dirimu dulu. Jangan untuk mengejarku sebentar lalu kembali seperti biasa."

Reza memejamkan mata.

Bu Mira menarik lengannya. Kali ini Reza berdiri, tetapi sebelum pergi ia berkata, "Maaf."

Dinda mengangguk.

Setelah mereka keluar, Dinda duduk diam. Safira tidak memeluknya langsung. Ia menunggu.

Air mata Dinda jatuh tanpa suara.

"Sakit," bisiknya.

"Aku tahu."

"Rasanya seperti aku sendiri yang mematahkan sesuatu."

"Kadang sesuatu memang harus dipatahkan sebelum menusuk lebih dalam."

Dinda tertawa lirih di tengah tangis. "Kamu dan kalimat tajammu."

Safira akhirnya memeluknya.

Di luar kafe, Bima berdiri di dekat motornya.

Ia tidak masuk. Tidak membuat lelucon. Hanya menunggu.

Saat Safira dan Dinda keluar, Bima menatap Dinda. "Mau diantar pulang?"

Dinda menggeleng. "Aku mau jalan kaki sebentar."

"Saya jalan di belakang?"

"Mas Bima."

"Jarak aman. Dua pohon di belakang."

Dinda menatapnya, lalu untuk pertama kalinya hari itu, tertawa.

"Satu pohon saja."

Bima mengangguk serius. "Siap."

Safira melihat mereka berjalan pelan di trotoar. Bima benar-benar menjaga jarak beberapa langkah, tidak memaksa bicara. Dinda sesekali menghapus air mata, lalu berjalan lagi.

Arga datang menjemput Safira tidak lama kemudian.

"Bagaimana?"

"Dia mengembalikan cincin."

"Berani."

"Sangat."

Safira masuk mobil. "Aku sedih untuknya. Tapi juga lega."

"Dua perasaan bisa tinggal bersama."

"Seperti aku marah dan sayang padamu?"

Arga menatap jalan. "Saya berharap sayangnya lebih besar."

"Tergantung perilakumu."

"Tekanan yang adil."

Safira tersenyum.

Ponselnya berbunyi. Pesan dari Dinda:

`Aku menangis lagi. Mas Bima beli es krim. Katanya patah hati butuh gula.`

Safira menunjukkan pesan itu kepada Arga.

Arga menghela napas. "Dia benar, tapi saya tidak mau mengakuinya."

"Mas Bima?"

"Iya."

Safira menyandarkan kepala ke kursi. Hari itu Dinda kehilangan calon suami, tetapi mungkin ia mendapatkan dirinya sendiri kembali.

Dan itu bukan akhir yang buruk.

Paling tidak, bukan akhir yang sia-sia.

Sore itu Dinda kembali ke atelier dengan mata bengkak dan kantong plastik minimarket di tangan. Ia menaruh tiga es krim di meja jahit, satu untuk Safira, satu untuk Nadia, satu untuk dirinya sendiri.

"Untuk Mas Bima?" tanya Nadia.

Dinda pura-pura sibuk membuka sendok plastik. "Dia sudah pergi."

"Ke mana?"

"Katanya ada urusan kantor Mas Arga."

Safira menatapnya. "Kamu kecewa?"

"Tidak."

Nadia dan Safira diam.

Dinda menghela napas. "Sedikit."

Ia duduk di lantai, punggung bersandar pada kaki meja. Untuk pertama kalinya sejak datang pagi tadi, ia tidak berusaha membuat lelucon.

"Aku malu," katanya pelan. "Bukan karena Reza selingkuh. Itu salah dia. Aku malu karena aku hampir menikahi orang yang sejak awal membuatku mengecilkan suara."

Safira turun duduk di depannya.

"Aku dulu pikir itu normal," lanjut Dinda. "Calon suami marah kalau aku terlalu berisik. Calon suami tidak suka aku kerja terlalu lama. Calon suami bilang keluarga baik-baik tidak punya menantu yang sering pulang malam dari toko. Semua orang bilang aku harus kompromi."

"Kompromi tidak sama dengan hilang," kata Safira.

Dinda menatapnya. Matanya kembali berair. "Kak Safa, kalau nanti keluarga Reza datang minta maaf, aku takut goyah."

"Kalau kamu goyah, datang ke sini."

"Kalau mereka bawa ibuku?"

"Datang ke sini."

"Kalau mereka bilang aku merusak nama keluarga?"

"Datang ke sini juga."

Dinda tertawa sambil menangis. "Atelier ini tempat jahit atau posko patah hati?"

"Dua-duanya kalau perlu."

Pintu kaca terbuka sebelum Dinda sempat menjawab. Bima berdiri di luar dengan ekspresi datar dan tas kertas kecil di tangan.

Dinda langsung mengusap mata. "Katanya sudah pergi."

"Sudah," jawab Bima. "Lalu lewat toko roti."

Ia meletakkan tas itu di meja.

Nadia membuka sedikit, lalu tersenyum lebar. "Brownies."

Dinda menunduk. "Aku tidak pesan."

"Saya tidak bilang ini pesanan."

"Terima kasih," katanya nyaris tak terdengar.

Bima mengangguk. Ia hendak pergi, tetapi Dinda memanggilnya.

"Mas."

Bima berhenti.

"Besok kalau aku harus ambil sisa barangku di rumah Reza, boleh temani?"

Bima menatap Safira sebentar, seolah memastikan ia tidak melangkahi batas. Safira hanya mengangguk kecil.

"Boleh," jawabnya.

Dinda menggenggam sendok es krim lebih erat. Wajahnya masih sedih, tetapi ada garis baru di sana. Bukan bahagia. Belum. Lebih mirip seseorang yang akhirnya melihat pintu keluar.

Safira memandangi dua orang itu dan menahan senyum.

Di belakangnya, Arga berbisik, "Jangan ikut campur."

"Aku tidak ikut campur."

"Wajahmu ikut campur."

Safira menoleh tajam.

Arga mengangkat kedua tangan. "Saya hanya observasi."

Untuk pertama kalinya hari itu, Dinda tertawa sungguhan.

Tawa itu tidak menghapus sakitnya. Setelah brownies dibagi, Dinda tetap beberapa kali menatap ponsel, seolah menunggu Reza muncul dengan pesan panjang yang bisa membuat semuanya kacau lagi. Namun setiap kali layar menyala, ia menarik napas dulu sebelum membaca.

Safira memperhatikan dari meja potong.

"Kalau dia kirim pesan, kamu tidak wajib jawab cepat," katanya.

Dinda mengangguk. "Aku tahu."

"Mengetahui dan melakukan itu beda."

"Aku tahu juga."

Bima yang masih di dekat pintu berkata datar, "Kalau perlu, matikan ponsel satu jam."

Dinda menatapnya. "Kalau ada pesanan?"

"Pakai nomor atelier."

Safira menyodorkan ponsel toko. "Ini."

Dinda menerima benda itu, lalu mematikan ponsel pribadinya dengan gerakan ragu. Setelah layar gelap, bahunya turun sedikit.

"Rasanya aneh," bisiknya.

"Aneh boleh," kata Safira. "Balik ke diri sendiri memang sering tidak terasa seperti pesta."

1
e²n
Dinda udah gak kerja di klinik lagi ya? tau2 ikut safa
e²n
ya udah ganti aja gak usah Bambang, Bambang nama suami saya 🤭
e²n
Jovan itu sebenarnya keponakan Reyhan atau anaknya? diawal blg keponakan, kok skrg panggil nya pa...
e²n
kok tau2 tinggal di apartemen ya?
Heny
Dari awal baca gk ada romantis nya msh jln di tempat
Ivan Sumampouw
setelah mencoba bertahan 59 episode ternyata memang cerita JELEK !!!
Heny
Cerita nya datar arga dan safira gk ada romantis nya
Akbar Nasution
bagus
Hariyanti
ceritanya bagus dan menyenangkan 😘😘😘 masalahnya cuma nama tokoh yg bolak-balik salah😬
Ivan Sumampouw
sdh 51 episode,,, jauh dari judul,,, kenapa bukan Safira yg rahasia 🤣
Hariyanti
kenapa jg ga pake baby sitter 🤔🤔🤔
Hariyanti
dulu sebenarnya hubungan Rayhan dan nara seperti apa sih 🤔🤔 kok kesannya Nara yg paling bersalah padahal waktu bikin berdua
Imas Karmasih
thor kurang fokus aturan Bambangan bukan dimas
Hariyanti
Jovan itu hasil hubungan tanpa status kah🤔🤔karena Rayhan dan nara seperti dua orang yang tidak pernah dekat
Hariyanti
ibunya Rayhan sebenarnya siapa sih🤔Sinta atau Laras.byk betul yg namanya laras🤔🤔pelanggan Safa, mertua Safa jg Laras
Ayu Puput
udh eps 62 padahal pusing bacanya gitu² aja ceritanya, terlalu bertelew. tapi penasaran endingnya
Ratih magani
mmsh bingung ini do bdg ato jkt sih setting tempatnya?
Imas Karmasih
setuju
Hariyanti
kalo Safira bayi yg ditukar🤔apa maksudnya ditukar🤔🤔🤔kalo bayinya sendiri meninggal tapi ternyata masih hidup🤔semoga hasil tes Maya bukan keluarga santoso
Hariyanti
bertele-tele 😏 padahal jujur aja ttg statusnya .... kalo Safira ga nyaman dgn status suaminya lebih baik bubar drpd gengsi dibantu suami yg kaya raya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!