Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Penyelamatan
Ruby dan yang lainnya sudah menemukan Ruangan Melati. Dan benar saja, suami Manda masih selamat dan juga beberapa orang lainnya.
Dokter Wiliam sangat terkejut melihat kedatangan Istrinya, kenapa Istrinya bisa ada di Rumah Sakit?
"Syukurlah. Kamu baik-baik saja, aku dan Sila begitu mengkhawatirkanmu!" kata Manda sambil memeluk suaminya dengan haru.
"Ya. Mendengar kalian baik-baik saja, membuatku sangat lega!" kata Dokter Wiliam sambil melepaskan pelukannya. "Tapi kenapa kamu ada di sini? Di mana Sila dan Ibu?"
"Mereka berada di tempat yang aman!" balasnya tanpa menyebutkan perkebunan, karena Ruby melarangnya. "Aku datang untuk mencarimu, aku sangat khawatir, di luar sana sangat kacau!"
"APA?"
Beberapa orang terkejut mendengarnya, bagaimana cara mereka sampai ke lantai tiga dengan banyaknya Zombie di halaman Rumah Sakit.
"Manda. Kamu nggak lagi berbohongkan?" tanya Dokter Wiliam yang juga sangat terkejut, ini sangat sulit dipercaya. Zombie-zombie di luar sana sangat sensitif dan ganas.
"Aku nggak bercanda, aku datang bersama Ruby!" Jelas Manda sambil menatap Ruby yang masih berdiri di belakang pintu. Dia tidak berani mendekat, karena bajunya penuh dengan darah.
"Ruby? Anak Paman Edward?" tanya Dokter Wiliam yang makin sulit percaya. Bagaimana bisa Tuan Edward membiarkan anak gadisnya keluar di dunia yang kacau.?
Ruby membuka maskernya dan menyapa Dokter Wiliam. "Kak Wili, kami tidak punya banyak waktu, sisanya kami akan jelaskan setelah keluar dari sini!"
Dokter Wiliam benar-benar tak menyangka, istrinya benar-benar datang bersama dengan Ruby. Ada banyak pertanyaan di benaknya, "Bagaimana caranya kita keluar?"
Keluar cari makanan di kantin saja butuh perjuangan besar. Untung saja, setiap lantai ada kantinnya, jadi tidak perlu berjalan jauh.
Di kantin masih ada beberapa makanan siap saji dan juga cemilan kering. Bisa mereka gunakan dalam waktu satu bulan jika tidak ada orang lain yang merebutnya.
Manda menjelaskannya secara singkat bagaimana mereka bisa masuk dan naik sampai lantai tiga. "Jadi, kita bisa keluar menggunakan cara yang sama!"
"Astaga, kalian benar-benar nekat!" ucap salah satu orang di ruangan itu. Di ruangan ada tujuh orang Dewasa, dan tiga anak-anak.
"Hmm.. Dunia sudah berubah, jika tidak nekat, maka sulit bagi kita untuk hidup dengan keadaan yang begitu kacau!" kata Manda.
"Benar juga. Jika terus mengharapkan bantun dari orang lain, kita akan dibuang!" Kata seorang pemuda. "Orang lain juga belum tentu mau membantu kita!"
"Benar. Bantuan yang kita tunggu saja belum datang sampai sekarang. Jadi kita harus berjuang sendiri!"
"Kalian benar-benar mau ikut keluar dengan Istriku?" tanya Dokter Wiliam dengan serius. Ini menyangkut nyawa, dia tidak ingin mereka menyalahkan Manda jika ada yang tidak berhasil keluar.
"Aku ingin ikut!"
"Aku juga!"
"Kita keluar bersama saja!"
"Dokter aku juga ingin pulang!" kata salah satu anak kecil yang ternyata seorang pasien.
Dokter Wiliam tidak langsung menjawab, dia harus merundingkannya dengan Manda dan Ruby terlebih dahulu.
Ruby terdiam cukup lama, tapi pada akhirnya dia setuju untuk mengajak mereka semua keluar, tapi dengan syarat, jika ada yang terluka atau digigit zombie, mereka tidak boleh menyalahkannya.
"Tenang saja! Aku yang memukulnya jika ada yang menyalahkanmu!" kata Pemuda itu dengan tegas.
Pemuda itu baru sebulan magang di Rumah Sakit tersebut, dan dia ditugaskan untuk merawat pasien anak-anak.
"Baiklah. Kita berangkat sekitar pukul 4 pagi. Sekarang aku ingin istirahat dulu!" Kata Ruby yang tampak sangat lelah.
"Kamar mandinya di sana!" kata Dokter Wiliam yang melihat Ruby tampak sangat kacau.
Ruby ke kamar mandi dan segera masuk ke Ruangannya untuk mandi dengan bersih. Bau darah zombie benar-benar sangat busuk.
Ruby tidak berani berlama-lama, karena mereka tidak punya banyak waktu lagi, tersisa dua jam untuk beristirahat.
Ruangan itu lumayan luas, jadi cukup untuk mereka berbaring di lantai dengan kain sebagai alas.
***
Pukul empat pagi mereka semua sudah bersiap dengan darah Zombie yang sudah dilumuri seluruh tubuh.
"Kita akan sarapan setelah berhasil keluar dari sini!" kata Ruby. Takutnya mereka tiba-tiba muntah.
"Keluar dengan selamat saja, kami sudah sangat bersyukur!"
"Baik. Oh kalian bertiga, untuk berjaga-jaga, kami harus tutup mulut kalian dengan lakban!" kata Ruby pada ketiga anak kecil itu.
Entah apa yang terjadi, jika mereka tiba-tiba berteriak karena takut. Pasti penyamaran mereka sudah terbongkar.
Ketiga anak kecil itu menurut, mereka tidak berani membantah. Meski takut, mereka tetap memberanikan diri, daripada harus tinggal di Rumah Sakit.
Jack dan Ruby yang pertama keluar ruangan, suasananya sangat sepi dan suram. Begitu mengerikan dengan bangkai zombie yang berserakan di mana-mana.
Mohan dan Timnya berjalan bagian belakang, jika ada zombie mereka harus berjalan pelan tanpa melakukan gerakan tambahan.
"Syukurlah. Tidak ada zombie yang datang di sini!" kata Jack setelah melewati tempat dimana mereka menyelamatkan Mohan.
"Berjalan dengan pelan. Mereka pasti sedang tidur!" kata Ruby.
Ruby terus melangkah tanpa ragu, dia berjanji akan datang lagi menyelamatkan orang-orang yang berada di lantai atas. Dari informasi Dokter Wiliam, setiap lantai ada orang yang berhasil selamat.
Dia tidak bisa membawa mereka semua sekaligus, tenaganya tidak cukup. Tidak mungkin hanya mereka bertiga, rencananya dia akan membuat Tim sekitar 10 orang.
Mereka tiba di lantai dua tanpa ada masalah. Tapi di lantai itu ada beberapa zombie yang berkeliaran.
Manda segera menenangkan ketiga anak kecil itu, tubuh mereka bergetar hebat, jika mulut mereka tidak dilakban, mungkin suara tangis mereka sudah membangunkan para zombie.
Grrr-Khhh....
"Jangan takut! Kak Ruby akan membunuhnya!" kata Manda berusaha menenangkan mereka.
Ruby dan Jack segera maju dengan pelan agar tidak membangunkan Zombie yang lain.
Classs...
Jleb....
Grrr-Khhh....
Clas... Jleb.... krek.... krak....
Dokter Wiliam dan yang lainnya begitu terkejut melihat Ruby yang tampak sangat berani. Dia membunuh zombie tanpa ada rasa takut dan keraguan.
"Kalian nggak apa-apa?" tanya Dokter Wiliam.
"Aman! Ayo kita lanjut!" ajak Ruby menuju Apotik di mana orang yang pertama mereka temukan.
Ada sekitar 15 orang. Dan itu membuat rombongan mereka makin banyak. Ruby sedikit tidak yakin, apakah penyamaran mereka berhasil atau tidak.
"Kenapa kita ke Apotik?" tanya Dokter Wiliam.
"Ada kelompok orang yang juga mau ikut keluar! Tapi Ruby meminta mereka untuk mengumpulkan obat-obatan!"
"Oh ternyata seperti itu!"
Ruby mengetuk pintu dengan kode yang sudah mereka sepakati. Dan orang-orang yang ada di dalam sangat bahagia melihat kedatangan Ruby.
Ruby mengajak semuanya untuk masuk, karena mereka harus merencanakan sesuatu terlebih dahulu, mereka tidak bisa keluar begitu saja tanpa ada persiapan.
"Syukurlah kamu datang juga!" ucap salah satu dari mereka.
"Kami sedikit terlambat, karena ada beberapa zombie di depan sana!" balas Ruby.
"Astaga, kalian nggak apa-apakan? Kami semua sempat khawatir, kamu tidak datang menjemput kami. !" katanya dengan nada bersalah.
"Kami baik-baik saja!"
"Syukurlah. Oh kalian sudah bertemu dengan Dokter Wiliam!"
Dokter Wiliam menyapa mereka, meski dia tidak mengenalnya, tapi orang-orang itu bekerja di Rumah Sakit, jadi anggap saja rekan kerja.
"Hmm.. Sekarang kita bagi kelompok, kita tidak bisa keluar bersama-sama. Kalau satu ketahuan, semuanya juga akan kena. Kalau dibagi, setidaknya ada yang selamat.!"
"Baik! Kami ikut rencanamu!"
.
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka