Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Pangakalan Biru
Melihat Roti itu aman-aman saja, mereka akhirnya memakannya dengan perlahan. Perasaan mereka campur aduk, mereka mendapatkan makanan tanpa harus memburu zombie.
Kelima orang itu akhirnya beristirahat dengan tenang, kewaspadaan terhadap tim Ruby makin menurun, jika Ruby ingin berniat jahat, tidak perlu sampai sejauh itu.
Sedangkan Ruby dan yang lainnya tidak mengganggu mereka. Dia membiarkannya beristirahat dengan tenang.
...
Di malam hari, kety kembali mengeluarkan makanan dan air minum dalam jumlah yang lumayan banyak.
Kelompok itu makin terkejut, apakah mereka menemukan tempat yang masih memiliki stok makanan? Tapi itu tidak mungkin.
"Makanlah! Kalian bisa memburu zombie besok pagi!" kata Ruby.
"Ini.. Kami nggak bisa menerimanya lagi!" ucap salah satu dari mereka sambil menggeleng.
"Benar. Kami masih ada yang tadi siang. Simpanlah, meski kalian punya banyak makanan, pasti akan habis juga.!"
"Di luar sana, nggak ada lagi makanan seperti itu!"
Ruby tersenyum, dia tidak memaksa tapi tetap meletakkannya di atas meja. "Hmm.. Kita sudah berbincang dari tadi, tapi belum berkenalan!"
"Oh benar juga! Aku ketua di Timku. Panggil aku Jery.!"
Mereka akhirnya berkenalan satu sama lain. Dari obrolan itu, Ruby akhirnya mendepatkan informasi jika Pangakalan tersebut seperti dibuat sebelum terjadinya virus zombie.
Jery dan rekannya bergabung di pangkalan itu sekitar enam bulan yang lalu. Mereka awalnya ada 15 orang dengan umur yang berbeda-beda.
Tapi saat bergabung di pangkalan Biru. Mereka yang usianya di atas 50 tiba-tiba tertular virus zombie, pada akhirnya mereka dibunuh.
Katanya ada luka cakaran kecil yang mereka sembunyikan di tubuh, atau mungkin mereka tidak menyadarinya.
Ruby hanya terdiam dengan wajah dingin, mana mungkin dia tidak tahu trik apa yang dilakukan oleh pemimpin mereka, yang tak lain si Pemeran Utama wanita.
...----------------...
Keesokan paginya, Jery dan rekannya berpamitan, mereka merasa sedikit malu karena sudah meragukan ketulusan Ruby.
Namun, itu sebuah adalah insting yang harus dipertahankan, di zaman itu bukan cuma Zombie yang harus diwaspadai, tapi manusia itu sendiri.
"Kalian meninggalkan pangkalan sedang cari apa?" tanya Jery sebelum mereka keluar pagar. Pertanyaan itu sudah dia tahan sejak semalam.
"Ya. Apa kalian sedang mencari seseorang? Siapa tahu kami bisa bantu!" sela rekan Jery.
Menurut Jery dan rekannya, Ruby terlihat seperti bukan penyintas atau pengungsi. Tubuh mereka terlihat sangat sehat dan kuat, itu membuktikan, jika tim Ruby tidak kekurangan makanan.
"Emm ... Bisa dibilang begitu! Tapi kami sudah mencari kemana-mana!" balas Ruby menghela nafas panjang.
Saat ini dia belum menemukan Kakek dan Nenek dari pihak Ayahnya. Dia sudah mencari ke seluruh kota, tapi belum ketemu juga.
Ruby berpikir ada dua kemungkinan, mereka sudah jadi zombie, atau bergabung di salah satu pangkalan. Tapi, dia belum ada waktu untuk mencari ke sana.
"Oh baiklah, jika butuh bantuan, kalian bisa cari kami di pangkalan Biru!" kata Jery.
"Emang orang luar bisa masuk ke sana?" tanya Ruby. Jika dia masuk tanpa mendaftar, maka dia akan datang ke sana untuk melihat-lihat cara kerja si Pemeran Utama.
"Benar juga! Aku hampir lupa, jika ada tamu yang ingin datang berkunjung, mereka tidak diperbolehkan masuk melewati gerbang!"
"Hmm aku paham!" kata Ruby sambil mengangguk kecil. Di perkebunan saja, pengawasannya sangatlah ketat.
"Besok kalian masih di sini?" tanya Jery lagi. " Bisakah kami datang untuk beristirahat jika kalian meninggalkan tempat ini?"
"Kami masih di sini beberapa hari. Kalian bisa datang istirahat, di jam yang sama seperti kemarin!" jelas Ruby. Permainan emosinya masih harus berlanjut.
"Terima kasih.. Kalau begitu, kami pergi memburu zombie dulu!" katanya dengan wajah sedikit gelisah.
Kemarin mereka hanya membunuh sedikit zombie, pemimpin pasti sudah tahu entah bagaimana caranya. Pulang nanti, timnya akan diintrogasi seperti biasa.
Ruby juga tidak menahan lagi, karena dia dan yang lainnya juga harus mencari orang yang butuh pertolongan atau tempat tinggal. Di perkebunan, masih muat tambahan 500 orang lagi.
Makin banyak orang, makin kuat pondasi mereka. Jadi, saat ada musuh atau orang jahat, mereka tidak gentar. Setiap hari ada yang melatih mereka bela diri, menembak dan menggunakan tombak.
Ruby memang jarang langsung mengajak jika bertemu dengan para penyintas. Kecuali, mereka sudah diambang keputus asaan. Ruby lebih suka, jika orang itu yang menawarkan diri.
...----------------...
Malam hari di pangakalan Biru, Jery dan beberapa tim lainnya sedang antri untuk mengambil jatah makan.
Saat gilirannya yang maju, pemimpin alias si pemeran utama wanita mengerutkan kening, karena Jery dan timnya membunuh sedikit zombie.
"Kalian, mengambil misi untuk yang tiga hari kan?" Suaranya lembut, tenang tapi tetap terlihat tegas.
"Ya. Kami memburu zombie di tempat yang sedikit jauh. Di sana memang banyak zombie, tapi juga ada beberapa orang asing, entah mereka menjalankan misi atau tidak, kami nggak tahu!" jelas Jery.
"Benar! Karena adanya mereka, kami hanya memburu sedikit saja. Sekalian mencari perbekalan!" sela yang lain.
"Oh. Apa kalian menemukan persediaan?" tanya pemimpin yang bernama Bella.
"Ada untuk sekali makan!" balas Jery membual. Mana ada sisa makanan di luar sana.
"Begitu yaa..!" kata Bella sambil mengangguk. Dia bisa tahu jika mereka tidak sedang berbohong dari sistem yang dia miliki.
Tiba-tiba seorang pria masuk ruangan dan langsung duduk di samping Bella dan bertanya apa yang terjadi.
"Tidak ada masalah! Sayang kamu kenapa ke sini? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" tanyanya dengan lembut.
"Belum. Aku datang mencarimu! Di luar ada tim dari Militer yang ingin bertemu denganmu!" ucapnya dengan nada cemburu.
"Hmm.. Bukankah belum waktunya untuk gantian jaga?" tanya Bella sambil beranjak.
Dia meminta orang kepercayaannya mengambil alih tugas pembagian makanan. Data mereka dicetak setiap hari oleh sistem, data itu sangat lengkap, mulai dari jumlah zombie yang mereka bunuh dan di mana lokasinya.
Bella keluar untuk menemui tim Militer. Dia bekerja sama dengan semua pangakalan Militer, dia akan menyediakan perbekalan, dengan syarat mereka bergiliran menjaga keamanan di pangakalannya.
Para anggota militer bisa mendapat jatah tambahan pribadi jika mereka mau mendaftarkan nama mereka tanpa harus tinggal di pangkalan Biru.
"Oh Komandan Kai.. Katanya kamu mencariku?" tanya Bella sambil tersenyum dengan tatapan berbinar.
Kai mengabaikan tingkahnya, jika bukan karena misi dari sistem, dia mana mau mendaftarkan namanya di Pangakalan Biru.
Tapi dia akhirnya sadar, jika bukanlah Bella yang harus dia bantu. Mungkin ada orang lain di luar sana sedang berjuang untuk menyelesaikan misinya.
Jika orangnya Bella, lalu kenapa presentasinya belum berubah dari angka NOL ? Dan sistem yang dia miliki tidak pernah memberi petunjuk sama sekali.
Hanya sekali itu saja saat dia masuk ke dunia itu. Sistem memberinya misi tanpa ada pentunjuk sama sekali, dan sampai sekarang sistem itu tidak pernah muncul lagi.
"Ya. Untuk saat ini, aku ingin mencari pergi keluargaku. Mungkin aku tidak bisa membantumu memburu zombie lagi!" ujar Kai.
Bella tertegun, dia diam sejenak lalu berkata. "Oh itu hal yang bagus. Jika kamu sudah bertemu dengan mereka, bisa bawa kemari!" terdengar begitu pengertian.
"Tidak perlu, aku datang untuk memintamu untuk menghapus namaku di daftar nama. Aku tidak tahu, aku bisa kembali atau tidak!" ujar Kai.
"Benar! Hapus nama kami juga!" sela rekan Kai yang bernama Beno.
"Kalian...!" Bella tidak tahu bagaimana cara menghentikan mereka. Jika nama itu dihapus, dia tidak bisa tahu kemana mereka pergi.
"Ada apa?" tanya Kai dengan dingin. "Bukankah waktu itu kamu bilang akan menghapus nama kami jika kami memintanya suatu hari nanti. Dan hari inilah waktunya!"
Bella terdiam, dia sama sekali tidak ingin menghapus nama mereka. Dari data sistem, Tim Kai yang paling banyak membunuh Zombie.
"Emmm baiklah.. Aku akan menghapusnya nanti!" ucapnya dengan pasrah.
"Tidak! Kami ingin melihatnya!"
"Itu... Kenapa harus terburu-buru?" tanya Bella dengan sedikit kesal.
"Hmm.. Jangan pikir aku tidak tahu apa yang ada pikiranmu!" kata Kai dengan nada intimidasi. "Jika kau tidak membiarkan kami melihatnya, aku membocorkan rahasiamu kepada para penyintas!"
Deg
"A-apa maksudmu?" Tanya Bella sedikit panik. "Aku nggak ada rahasia. Jika kalian ingin menghapus nama, kenapa harus mengancam seperti ini?"
Bella tidak lagi berusaha menahan. Dia mengambil tablet pemberian sistem, dimana nama-nama penyintas yang terdaftar.
Di meletakkan di atas meja, agar Kai dan Timnya bisa melihat jika dia benar-benar sudah menghapusnya.
"Sudah!"
"Aku harap kau tidak berbohong! Karena aku bisa tau jika nama kami belum terhapus total!" kata Kai sambil beranjak.
Tangan Bella terkepal erat, tubuhnya gemetar entah dia takut atau menahan amarah.
"Apa dia menyadari sesuatu? Itu nggak mungkin! Tapi kenapa memaksa untuk menghapus nama? Apa jangan-jangan dia juga punya sistem?".
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka