Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Episode 1 : Nasib Winarsih

"Kelak kalau Mas sudah berhasil di Jepang, kita bangun rumah sendiri. Kamu nggak usah capek-capek kerja lagi."

Kalimat itu masih terngiang jelas di telinga Winarsih Larasati setiap kali ia memandang jalan tanah yang membelah Desa Sekar Sari. Baru dua bulan menikah ia langsung di tinggal suaminya Benni Ardiansyah, berangkat menjadi TKI ke Jepang.

Di usia yang baru menginjak dua puluh tahun, Winarsih sebenarnya masih ingin menikmati masa-masa awal pernikahan, namun kenyataan berkata lain.

Kini ia sudah harus menjalani hari-harinya sendirian. Benni berangkat dengan harapan bisa mengubah nasib keluarga mereka. Upah bertani di desa tak cukup untuk membayar hutang orang tua Benni.

Ia juga terpaksa menjual sawah milik mendiang Ayahnya demi bisa berangkat ke Jepang. Maka dengan berat hati, ia meninggalkan istrinya dan menitipkannya kepada sang ibu.

"Aku titip Winarsih ya, Bu. Tolong dijaga seperti anak sendiri," ucap Benni saat berpamitan.

"Iya... tenang saja," jawab ibunya sambil tersenyum.

Saat itu Winarsih percaya, ia tidak tahu bahwa senyum itu hanyalah topeng. Rumah sederhana milik keluarga Benni berdiri di pinggir sawah. Dindingnya masih berupa papan kayu, sebagian sudah mulai lapuk.

Mertua Winarsih yang bernama Sulastri, dikenal hampir seluruh warga sebagai perempuan yang suka berhutang. Ke mana-mana ia meminjam uang dengan alasan berbeda-beda. Ada yang untuk biaya berobat, modal usaha, dan ada pula yang katanya demi biaya keberangkatan Benni.

Padahal sebagian besar uang itu habis untuk memenuhi gaya hidupnya sendiri. Sayangnya, Benni tidak mengetahui semuanya. Selama bekerja di Jepang, ia percaya penuh kepada ibunya.

Satu bulan setelah Benni bekerja, gaji pertamanya akhirnya dikirim. Jumlahnya cukup besar jika dibandingkan penghasilan di desa. Winarsih membayangkan uang itu bisa digunakan untuk memperbaiki rumah atau menabung, namun harapan itu sirna.

"Ini uang buat kebutuhan rumah."

Sulastri meletakkan tiga lembar uang seratus ribuan di atas meja.

Winarsih terdiam sejenak sambil mengambil uang itu. "Bu... cuma segini?" tanyanya gugup.

"Iya," jawabnya dengan ketus.

"Tapi... bukannya Mas Benni kirim lebih banyak?" tanya Winarsih pelan.

Tatapan Sulastri langsung berubah tajam. "Kamu mau ngatur uang anakku?"

"Bukan begitu, Bu. Saya cuma..."

"Cukup!" Suara Sulastri menggema memenuhi rumah. "Sebagai ibu, saya lebih tahu uang itu harus dipakai untuk apa! Lagi pula banyak hutang yang harus dibayar."

Winarsih menggigit bibirnya.

"Tiga ratus ribu itu cukup untuk makanmu sebulan."

"Tapi, Bu..."

"Kalau kurang, ya cari kerja!" bentaknya.

Kalimat itu menusuk hati Winarsih, bukan karena nominal uangnya. Melainkan karena ia merasa bukan lagi dianggap sebagai keluarga.

Sejak hari itu, Winarsih mulai hidup hemat. Ia memasak nasi dengan lauk seadanya, kadang hanya tempe, sayur bayam hasil memetik di pekarangan. Bahkan beberapa kali ia memilih menahan lapar agar uangnya tidak cepat habis.

Tetangga mulai memperhatikan perubahan itu. "Winarsih kok makin kurus ya?"

"Iya. Kasihan. Baru juga nikah sudah ditinggal suami."

Namun tak seorang pun berani ikut campur urusan keluarga Sulastri. Memasuki minggu ketiga, uang tiga ratus ribu itu hampir habis.

Winarsih duduk termenung di depan rumah. "Aku nggak mungkin terus begini..."

Ia teringat sebuah pabrik roti kecil di ujung desa. Pabrik itu milik Juragan Warso, pengusaha yang dikenal baik hati dan sering membantu warga sekitar.

Keesokan paginya, Winarsih memberanikan diri datang. Bangunan pabrik itu tidak terlalu besar, tetapi aroma roti hangat langsung memenuhi udara begitu ia masuk ke halaman. Beberapa pekerja sedang mengangkat loyang-loyang berisi roti yang baru matang.

"Permisi..."

Seorang pria berusia sekitar lima puluh lima tahun menoleh. Wajahnya ramah dengan senyum yang menenangkan.

"Kamu siapa, Nak?"

"Nama saya Winarsih, Juragan."

"Ada perlu apa?"

Winarsih menundukkan kepala. "Saya... ingin mencari pekerjaan."

Juragan Warso memperhatikan gadis itu dari ujung kepala hingga kaki. Pakaiannya sederhana, wajahnya pucat. Tetapi sorot matanya penuh kesungguhan.

"Kamu pernah kerja?"

Winarsih menggeleng pelan. "Belum pernah, Juragan. Tapi saya mau belajar."

"Kenapa mendadak cari kerja?" tanya Juragan Warso sambil menatap wajah Winarsih.

Winarsih sempat ragu, namun akhirnya ia berkata jujur. "Suami saya kerja di Jepang, jadi saya harus memenuhi kebutuhan hidup saya sendiri."

Juragan Warso tidak banyak bertanya, dia hanya mengangguk pelan. "Baiklah, besok kamu sudah bisa kerja."

"Sungguh, Juragan?" tanya Winarsih dengan mata yang berbinar.

"Iya," jawab Juragan Warso sambil tersenyum. "Tapi gajinya nggak besar."

"Tidak apa-apa, Juragan. Yang penting saya bisa bekerja disini." Air mata Winarsih hampir jatuh. "Terima kasih banyak, Juragan."

***

Winarsih Larasati

Keesokan harinya, Winarsih resmi bekerja. Tugasnya sederhana, mengaduk adonan, membungkus roti, membersihkan meja produksi. Pekerjaan itu cukup melelahkan, tangannya pegal, punggungnya terasa sakit.

Namun setiap kali mengingat dirinya kini bisa memperoleh uang sendiri, semua rasa lelah seolah menghilang. Sayangnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

Sore hari ketika pulang, Sulastri sudah berdiri di depan pintu dengan wajah masam.

"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang!"

Winarsih menundukkan kepala dan menjawab pelan, "saya habis kerja bu."

"Siapa yang nyuruh kamu kerja?" tanyanya sambil melipat tanyanya di dada.

"Saya sendiri."

"Memangnya uang yang saya kasih itu kurang?"

Winarsih menunduk. "Saya cuma ingin membantumu, Bu."

Sulastri mendengus sinis. "Bagus, kalau begitu nanti gajimu serahkan ke saya."

Winarsih langsung mengangkat kepala. "Bu?"

"Kamu tinggal dimana, jadi... semua penghasilanmu itu wajib di setor ke saya."

Jantung Winarsih berdegup kencang, ia baru saja mendapatkan secercah harapan. Namun kini, bayangan penderitaan itu kembali menghantuinya.

Winarsih mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Kali ini ia memberanikan diri menatap wajah ibu mertuanya. "Maaf, Bu... gaji itu ingin saya simpan untuk kebutuhan saya sendiri."

Plak!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Winarsih hingga tubuhnya terhuyung. Belum sempat ia menyeimbangkan diri, Sulastri kembali menarik rambutnya dengan kasar.

"Berani sekali kamu melawan! Sejak Benni pergi, kamu merasa paling berkuasa, ya?"

Air mata Winarsih jatuh tanpa suara. "Saya tidak melawan, Bu. Saya hanya ingin punya uang untuk makan dan membeli kebutuhan saya."

"Jangan banyak alasan!"

Sulastri merampas tas lusuh yang dibawa Winarsih. Ia membongkarnya tanpa izin hingga menemukan amplop berisi uang muka gaji dari Juragan Warso.

"Nah, ini dia!"

Dengan cepat uang itu dimasukkan ke dalam sakunya.

"Itu uang saya, Bu... tolong kembalikan," pinta Winarsih sambil menahan tangis.

"Tidak akan! Semua yang kamu dapat adalah hak saya."

Saat Winarsih hendak merebut kembali uangnya, suara deru sepeda motor terdengar dari depan rumah. Seorang kurir berhenti sambil membawa sebuah amplop cokelat.

"Permisi... ada surat dari Jepang untuk Mbak Winarsih."

Namun sebelum Winarsih sempat menerimanya, Sulastri lebih dulu merebut amplop itu. Begitu membaca isi surat tersebut, senyum licik perlahan terukir di bibirnya.

"Bagus... akhirnya kesempatan itu datang juga."

Tanpa diketahui Winarsih, surat itu akan menjadi awal fitnah yang menghancurkan rumah tangganya.

Terpopuler

Comments

Arditya

Arditya

Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭

2026-07-25

4

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 : Nasib Winarsih
2 Episode 2 : Mulai Fitnah
3 Episode 3 : Pertemuan
4 Episode 4 : Pandangannya
5 Episode 5 : Di usir mertua
6 Episode 6 : Dokter Baik
7 Episode 7 : Perasaan Arga
8 Episode 8 : Masalalu Arga
9 Episode 9 : Hanya Mantan
10 Episode 10 : Memesan Roti
11 Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12 Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13 Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14 Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15 Episode 15 : Surat Gugatan
16 Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17 Episode 17 : Tangis Winarsih
18 Episode 18 : Air mata Winarsih
19 Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20 Episode 20 : Kembali Pulang
21 Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22 Episode 22 : Ancaman Clarissa
23 Episode 23 : Arga merasa bingung
24 Episode 24 : Winarsih Jujur
25 Episode 25 : Air Mata Winarsih
26 Episode 26 : Terlihat Kecewa
27 Episode 27 : Calon Menantu
28 Episode 28 : Pengakuan Arga
29 Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30 Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31 Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32 Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33 Episode 33 : Hampir di Culik
34 Episode 34 ; Arga Panik
35 Episode 35 : Arga kembali
36 Episode 36 : Dokter Arga terluka
37 Episode 37 : Di tolak
38 Episode 38 : Kembali ke kota
39 Episode 39 : Kembali Galau
40 Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41 Episode 41 : Rencana Sulastri
42 Episode 42 : Kemarahan Sari
43 Episode 43 : Membantu mencari
44 Episode 44 : Melamar Winarsih
45 Episode 45 : Bersandiwara
46 Dear Para Readers
47 Episode 47 : Mencari tahu
48 Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49 Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50 Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51 Episode 51 : Kerumah Arga
52 Episode 52 : Makanan malam bersama
53 Episode 53 : Susana di Kota
54 Episode 54 : Dikira pembantu
55 Episode 55 : Kelakuan Deren
56 Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57 Episode 57 ; Sangat Cantik
58 Episode 58 : Rencana Licik Sulastri
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Episode 1 : Nasib Winarsih
2
Episode 2 : Mulai Fitnah
3
Episode 3 : Pertemuan
4
Episode 4 : Pandangannya
5
Episode 5 : Di usir mertua
6
Episode 6 : Dokter Baik
7
Episode 7 : Perasaan Arga
8
Episode 8 : Masalalu Arga
9
Episode 9 : Hanya Mantan
10
Episode 10 : Memesan Roti
11
Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12
Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13
Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14
Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15
Episode 15 : Surat Gugatan
16
Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17
Episode 17 : Tangis Winarsih
18
Episode 18 : Air mata Winarsih
19
Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20
Episode 20 : Kembali Pulang
21
Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22
Episode 22 : Ancaman Clarissa
23
Episode 23 : Arga merasa bingung
24
Episode 24 : Winarsih Jujur
25
Episode 25 : Air Mata Winarsih
26
Episode 26 : Terlihat Kecewa
27
Episode 27 : Calon Menantu
28
Episode 28 : Pengakuan Arga
29
Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30
Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31
Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32
Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33
Episode 33 : Hampir di Culik
34
Episode 34 ; Arga Panik
35
Episode 35 : Arga kembali
36
Episode 36 : Dokter Arga terluka
37
Episode 37 : Di tolak
38
Episode 38 : Kembali ke kota
39
Episode 39 : Kembali Galau
40
Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41
Episode 41 : Rencana Sulastri
42
Episode 42 : Kemarahan Sari
43
Episode 43 : Membantu mencari
44
Episode 44 : Melamar Winarsih
45
Episode 45 : Bersandiwara
46
Dear Para Readers
47
Episode 47 : Mencari tahu
48
Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49
Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50
Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51
Episode 51 : Kerumah Arga
52
Episode 52 : Makanan malam bersama
53
Episode 53 : Susana di Kota
54
Episode 54 : Dikira pembantu
55
Episode 55 : Kelakuan Deren
56
Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57
Episode 57 ; Sangat Cantik
58
Episode 58 : Rencana Licik Sulastri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!