Episode 3 : Pertemuan

Sorot mata pria itu mendadak membeku. Untuk beberapa detik, ia hanya terpaku menatap wajah Winarsih yang masih memejamkan mata. Rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan menutupi sebagian pipinya akibat terjatuh.

Kulit gadis itu tampak putih bersih tanpa polesan riasan sedikit pun. Meski hanya mengenakan kemeja lengan panjang sederhana dan celana kain, kecantikan alaminya begitu memikat.

"Bidadari..." gumamnya tanpa sadar.

Kelopak mata Winarsih perlahan terbuka. Begitu menyadari ada seorang pria asing yang tengah menatapnya, ia langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa nyeri.

"Aduh..."

Dengan gugup, Winarsih segera menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah lalu mundur beberapa langkah.

Dokter itu tersadar dari lamunannya. "Maaf... maaf. Saya benar-benar minta maaf," ucapnya penuh penyesalan.

Winarsih tidak menjawab. Pandangannya justru tertuju pada keranjang rotinya yang terlempar ke pinggir jalan. Roti-roti itu berserakan di atas tanah hingga beberapa bungkusnya penyok.

Wajahnya langsung berubah pucat. "Astaga... roti-rotiku," lirihnya panik.

Tanpa memedulikan luka di siku dan lututnya, Winarsih berjongkok memunguti satu per satu roti yang masih bisa diselamatkan.

Dokter itu ikut membantu. "Maaf ya. Saya tadi mengira jalan ini sepi."

Winarsih hanya mengangguk pelan sambil terus mengumpulkan roti.

Dokter itu melirik logo yang tertera pada plastik pembungkus. "Ini roti yang akan dikirim ke Puskesmas Sekar Sari, ya?"

"Iya, Dok," jawab Winarsih lirih.

Pria itu menghela napas panjang. "Kalau begitu ini memang salah saya. Saya kurang hati-hati saat menyetir."

Ia kemudian ikut memasukkan roti ke dalam keranjang. "Perkenalkan, nama saya Arga Pratama. Saya dokter baru yang ditugaskan di Puskesmas Sekar Sari."

Winarsih mengangguk singkat. "Saya Winarsih."

"Sebagai gantinya, biar saya antar kamu pulang."

Winarsih langsung menggeleng. "Tidak usah, Dok. Saya bisa pulang sendiri."

"Tapi kamu terluka."

"Tidak apa-apa. Cuma lecet sedikit."

Dokter Arga masih terlihat merasa bersalah. "Setidaknya izinkan saya mengantar sepedamu."

Winarsih kembali menolak dengan sopan. "Terima kasih, Dok. Sepertinya tidak usah."

Ia segera menegakkan sepedanya yang sempat terjatuh. Setelah memastikan rodanya masih bisa digunakan, Winarsih mengambil keranjang roti lalu menyerahkannya kepada Dokter Arga.

"Dok... ini rotinya. Kalau nanti ada roti yang rusak atau Dokter ingin komplain, Dokter bisa cari saya di pabrik roti Juragan Warso."

Setelah mengucapkan itu, Winarsih buru-buru menaiki sepedanya. "Saya permisi dulu, Dok."

Belum sempat Dokter Arga mengatakan apa pun, gadis itu sudah mengayuh sepedanya menjauh. Rambut hitamnya yang panjang melambai lembut tertiup angin sore.

Dokter Arga tetap berdiri di pinggir jalan sambil memegang keranjang roti. Tatapannya mengikuti sosok Winarsih hingga menghilang di balik tikungan.

"Cantik sekali wanita itu..." gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya sejak ditugaskan di Desa Sekar Sari, hatinya berdebar karena seorang gadis desa yang baru beberapa menit dikenalnya.

Tak lama kemudian, Dokter Arga akhirnya tiba di Puskesmas Sekar Sari. Ia turun dari mobil sambil membawa keranjang roti yang tadi dititipkan Winarsih.

Baru beberapa langkah masuk ke dalam, seorang perawat bernama Desi menghampirinya. "Lho, Dok... kok Dokter yang bawa keranjang roti?" tanyanya heran.

Arga tersenyum tipis. "Memangnya kenapa?"

"Biasanya roti dari pabrik Juragan Warso diantar sama pegawainya. Kami di sini memang langganan roti dari sana."

"Oh begitu, ya."

"Iya, Dok. Rotinya enak, makanya hampir setiap pagi kami selalu pesan."

Desi kembali menatap keranjang yang dibawa Arga. "Memangnya Dokter ambil sendiri ke pabrik?"

Arga menggeleng pelan. "Tidak, saya tadi bertemu pegawai pabrik roti di pinggir jalan."

"Oh..."

"Saya tidak sengaja menabrak sepedanya. Untung tidak terluka parah, cuma lecet sedikit. Jadi saya sekalian membawa rotinya ke sini."

Mata Desi langsung membulat. "Astaga... kok bisa, Dok?"

Arga mengembuskan napas pelan. "Saya kira jalanannya sepi. Ternyata ada orang dari arah depan."

"Kasihan juga ya."

"Iya. Saya juga merasa tidak enak."

Desi lalu tersenyum usil. "Memangnya yang ngantar roti cewek atau cowok, Dok?"

"Cewek."

"Oh..." Desi mengangguk sambil mengambil satu bungkus roti dari dalam keranjang. Tanpa sungkan, ia langsung membuka bungkusnya. "Hmm... masih hangat."

Ia menggigit roti itu sambil tersenyum puas. "Memang paling enak roti Juragan Warso."

Melihat tingkah perawatnya, Arga hanya tersenyum kecil. "Ya sudah, Des. Saya masuk ke ruangan dulu."

"Siap, Dok."

Sebelum masuk keruangannya Arga menoleh dan berkata. "Oh ya, roti itu tolong dibagikan ke yang lain juga."

"Siap, Dokter."

Arga mengangguk pelan lalu masuk keruang kerjanya. Sesampainya di dalam ruangan, ia meletakkan tas kerjanya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi.

Namun entah mengapa, pikirannya kembali melayang pada gadis berambut panjang yang ditemuinya di jalan. Wajah Winarsih yang polos, tatapan matanya yang lembut, dan senyum tipisnya terus terbayang di benaknya.

"Kenapa aku malah jadi kepikiran dia?" gumam Arga pelan sambil menggelengkan kepala, berusaha kembali fokus pada pekerjaannya sebagai dokter baru di Puskesmas Sekar Sari.

Sementara itu...

Winarsih akhirnya kembali ke pabrik roti milik Juragan Warso. Ia mengayuh sepedanya pelan karena lutut dan siku kirinya masih terasa perih akibat terjatuh.

Begitu sampai di halaman pabrik, Juragan Warso yang sedang memeriksa roti langsung menghampirinya.

"Winarsih, kenapa pulangnya lama?"

Winarsih tersenyum canggung. "Maaf, Juragan. Tadi di jalan saya mengalami kecelakaan kecil."

Juragan Warso langsung terkejut. "Kecelakaan? Kamu tidak apa-apa?"

"Alhamdulillah tidak apa-apa, cuma lecet sedikit."

Barulah Juragan Warso melihat luka di tangan dan lutut Winarsih. "Astaga... sudah diobati belum?"

Winarsih menggeleng. "Belum, Juragan. Nanti juga sembuh sendiri."

Juragan Warso menghela napas. "Kamu ini. Kalau luka dibiarkan nanti bisa infeksi."

Winarsih hanya tersenyum tipis. "Maaf sudah membuat Juragan khawatir."

"Lalu rotinya bagaimana?"

Winarsih langsung menundukkan kepala. "Beberapa bungkus penyok karena jatuh."

Juragan Warso tidak langsung marah. Ia justru menepuk pelan bahu gadis itu. "Yang penting kamu selamat. Roti masih bisa dibuat lagi."

Mendengar ucapan itu, mata Winarsih mulai berkaca-kaca. "Terima kasih, Juragan."

"Oh ya, siapa yang menabrakmu?"

"Dokter baru yang ditugaskan di Puskesmas Sekar Sari."

"Dokter?"

"Iya. Beliau juga minta maaf berkali-kali. Bahkan beliau yang mengantarkan roti ke puskesmas."

Juragan Warso mengangguk pelan. "Kalau begitu orangnya bertanggung jawab."

Winarsih mengiyakan. "Beliau juga menawarkan mengantar saya pulang, tapi saya menolak."

"Bagus." Juragan Warso tersenyum tipis. "Jaman sekarang memang harus hati-hati. Meski orangnya terlihat baik, kita tetap harus menjaga diri."

"Iya, Juragan."

"Sudahlah, sekarang kamu istirahat dulu. Setelah itu baru lanjut membantu di bagian pembungkusan."

"Baik, Juragan."

Winarsih berjalan menuju ruang belakang untuk membersihkan luka di tangan dan lututnya. Namun baru beberapa langkah, seorang rekan kerjanya bernama Rudi menghampiri sambil membawa kotak obat.

"Winarsih, aku dengar kamu jatuh."

"Iya, cuma lecet sedikit."

"Ini, pakai dulu obat merah sama plesternya."

Winarsih tersenyum ramah. "Terima kasih, Mas Rudi."

"Sama-sama. Lain kali lebih hati-hati di jalan."

"Iya."

Dari balik pintu pabrik, tanpa disadari siapa pun, sepasang mata kembali mengawasi Winarsih. Sulastri yang sejak tadi mengintip dari kejauhan menyipitkan matanya saat melihat Rudi menyerahkan kotak obat kepada menantunya.

"Huh... sekarang terang-terangan perhatian."

Ia segera mengeluarkan ponselnya lalu diam-diam mengambil beberapa foto.

Senyum licik kembali menghiasi wajahnya. "Bagus sekali. Bukti untuk Benni semakin banyak."

Tanpa mengetahui dirinya kembali dijebak, Winarsih justru tersenyum tulus mengucapkan terima kasih kepada Rudi, sementara kamera ponsel Sulastri terus mengabadikan momen itu dari kejauhan.

Episodes
1 Episode 1 : Nasib Winarsih
2 Episode 2 : Mulai Fitnah
3 Episode 3 : Pertemuan
4 Episode 4 : Pandangannya
5 Episode 5 : Di usir mertua
6 Episode 6 : Dokter Baik
7 Episode 7 : Perasaan Arga
8 Episode 8 : Masalalu Arga
9 Episode 9 : Hanya Mantan
10 Episode 10 : Memesan Roti
11 Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12 Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13 Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14 Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15 Episode 15 : Surat Gugatan
16 Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17 Episode 17 : Tangis Winarsih
18 Episode 18 : Air mata Winarsih
19 Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20 Episode 20 : Kembali Pulang
21 Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22 Episode 22 : Ancaman Clarissa
23 Episode 23 : Arga merasa bingung
24 Episode 24 : Winarsih Jujur
25 Episode 25 : Air Mata Winarsih
26 Episode 26 : Terlihat Kecewa
27 Episode 27 : Calon Menantu
28 Episode 28 : Pengakuan Arga
29 Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30 Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31 Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32 Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33 Episode 33 : Hampir di Culik
34 Episode 34 ; Arga Panik
35 Episode 35 : Arga kembali
36 Episode 36 : Dokter Arga terluka
37 Episode 37 : Di tolak
38 Episode 38 : Kembali ke kota
39 Episode 39 : Kembali Galau
40 Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41 Episode 41 : Rencana Sulastri
42 Episode 42 : Kemarahan Sari
43 Episode 43 : Membantu mencari
44 Episode 44 : Melamar Winarsih
45 Episode 45 : Bersandiwara
46 Dear Para Readers
47 Episode 47 : Mencari tahu
48 Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49 Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50 Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51 Episode 51 : Kerumah Arga
52 Episode 52 : Makanan malam bersama
53 Episode 53 : Susana di Kota
54 Episode 54 : Dikira pembantu
55 Episode 55 : Kelakuan Deren
56 Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57 Episode 57 ; Sangat Cantik
58 Episode 58 : Rencana Licik Sulastri
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Episode 1 : Nasib Winarsih
2
Episode 2 : Mulai Fitnah
3
Episode 3 : Pertemuan
4
Episode 4 : Pandangannya
5
Episode 5 : Di usir mertua
6
Episode 6 : Dokter Baik
7
Episode 7 : Perasaan Arga
8
Episode 8 : Masalalu Arga
9
Episode 9 : Hanya Mantan
10
Episode 10 : Memesan Roti
11
Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12
Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13
Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14
Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15
Episode 15 : Surat Gugatan
16
Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17
Episode 17 : Tangis Winarsih
18
Episode 18 : Air mata Winarsih
19
Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20
Episode 20 : Kembali Pulang
21
Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22
Episode 22 : Ancaman Clarissa
23
Episode 23 : Arga merasa bingung
24
Episode 24 : Winarsih Jujur
25
Episode 25 : Air Mata Winarsih
26
Episode 26 : Terlihat Kecewa
27
Episode 27 : Calon Menantu
28
Episode 28 : Pengakuan Arga
29
Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30
Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31
Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32
Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33
Episode 33 : Hampir di Culik
34
Episode 34 ; Arga Panik
35
Episode 35 : Arga kembali
36
Episode 36 : Dokter Arga terluka
37
Episode 37 : Di tolak
38
Episode 38 : Kembali ke kota
39
Episode 39 : Kembali Galau
40
Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41
Episode 41 : Rencana Sulastri
42
Episode 42 : Kemarahan Sari
43
Episode 43 : Membantu mencari
44
Episode 44 : Melamar Winarsih
45
Episode 45 : Bersandiwara
46
Dear Para Readers
47
Episode 47 : Mencari tahu
48
Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49
Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50
Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51
Episode 51 : Kerumah Arga
52
Episode 52 : Makanan malam bersama
53
Episode 53 : Susana di Kota
54
Episode 54 : Dikira pembantu
55
Episode 55 : Kelakuan Deren
56
Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57
Episode 57 ; Sangat Cantik
58
Episode 58 : Rencana Licik Sulastri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!