Episode 5 : Di usir mertua

Sore menjelang, langit Desa Sekar Sari mulai berwarna jingga. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di pabrik roti, Winarsih mengayuh sepedanya pulang dengan tubuh yang terasa lelah. Meski begitu, senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Ia berharap setidaknya malam ini ibu mertuanya tidak lagi memarahinya.

Namun, harapan itu kembali pupus. Begitu tiba di depan rumah, langkah Winarsih langsung terhenti. Di teras rumah, dua buah tas berisi pakaian miliknya sudah diletakkan begitu saja. Beberapa baju bahkan terlihat keluar dari dalam tas seolah dilempar dengan kasar.

"Bu... ini kenapa?" tanya Winarsih bingung.

Sulastri yang sejak tadi duduk di kursi bambu langsung berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Kamu akhirnya pulang juga."

Winarsih menatap tas-tas itu bergantian. "Pakaian saya kenapa dikeluarkan semua, Bu?"

"Karena mulai hari ini kamu bukan penghuni rumah ini lagi."

Jantung Winarsih seolah berhenti berdetak. "Maksud Ibu?"

Sulastri mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah foto yang baru dikirim Benni. "Nih, lihat sendiri!"

Dengan tangan gemetar, Winarsih menerima ponsel itu. Matanya membelalak saat melihat foto surat gugatan cerai yang dikirim Benni kepada ibunya.

Wajahnya langsung memucat. "Tidak... ini tidak mungkin...." Air mata mulai mengalir membasahi pipinya. "Mas Benni... menceraikan saya?"

Sulastri merebut kembali ponselnya. "Surat aslinya juga sudah dikirim lewat pos. Paling besok atau lusa sudah sampai."

Winarsih menggeleng kuat-kuat. "Saya tidak melakukan apa-apa, Bu. Saya tidak pernah mengkhianati Mas Benni."

"Cukup!" bentak Sulastri. "Benni sudah tahu semuanya."

Winarsih terus menggeleng sambil menangis. "Tidak... pasti ada salah paham." Ia mendekati Sulastri dengan wajah penuh harap. "Bu... tolong. Berikan saya nomor telepon Mas Benni. Saya ingin bicara langsung dengannya."

"Tidak perlu."

"Bu, saya mohon...."

"Saya bilang tidak!"

Winarsih sampai berlutut di hadapan ibu mertuanya. "Saya mohon, Bu. Saya hanya ingin menjelaskan semuanya. Mas Benni pasti mau mendengarkan saya."

Sulastri justru mencibir. "Menjelaskan apa? Menjelaskan perselingkuhanmu?"

"Saya tidak berselingkuh, Bu!"

"Kamu pikir Benni akan percaya?"

Air mata Winarsih semakin deras. "Bu... demi Allah, saya tidak pernah mengkhianati suami saya."

Namun, hati Sulastri sudah tertutup oleh keserakahan. Tanpa rasa iba sedikit pun, ia menunjuk ke arah jalan.

"Pergi!"

Winarsih masih terdiam.

"Saya bilang pergi dari rumah saya!" ucap Sulastri sambil menunjuk kearah pintu luar, wajahnya penuh emosi.

"Tapi... saya mau tinggal di mana, Bu?" tanya Winarsih sambil terisak.

"Itu bukan urusan saya," ketusnya.

"Tolonglah, Bu...."

Sulastri langsung meraih kedua tas Winarsih lalu melemparkannya hingga jatuh ke halaman. "Mulai hari ini, kamu tidak punya hubungan apa pun lagi dengan keluarga saya!"

Dengan langkah gontai, Winarsih memungut kedua tasnya yang tergeletak di halaman. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia bahkan tidak sempat menoleh ke belakang saat kaki-kakinya mulai melangkah meninggalkan rumah yang dulu ia anggap sebagai tempat pulang.

Setiap langkah terasa begitu berat. Dadanya sesak, pikirannya kosong. Ia sama sekali tidak tahu harus pergi ke mana. Sejak menikah dengan Benni, ia tinggal di Desa Sekar Sari mengikuti suaminya.

Sementara itu, satu-satunya kerabat yang masih dimilikinya hanyalah seorang bibi yang tinggal di desa lain, sekitar tiga jam perjalanan dari desa itu.

Namun, Winarsih ragu. Rumah bibinya pun sangat sederhana. Lagi pula, hubungan mereka tidak terlalu dekat. Ia merasa tidak enak jika harus datang tiba-tiba sambil membawa semua barang miliknya.

"Apa Bibi mau menerimaku?" gumamnya lirih.

Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Semakin dipikirkan, semakin ia kehilangan harapan. Winarsih menghentikan langkahnya di tepi jalan. Ia mengusap air mata yang terus membasahi pipinya.

"Tidak... aku tidak boleh menyerah."

Tiba-tiba ia teringat seseorang. Juragan Warso, pria paruh baya itu selama ini selalu bersikap baik kepadanya. Mungkin beliau bersedia membantunya untuk sementara waktu.

"Aku akan mencoba meminta tolong kepada Juragan."

Tanpa berpikir panjang lagi, Winarsih segera mengubah arah langkahnya menuju pabrik roti. Sayangnya, matahari sudah tenggelam.

Langit berubah gelap. Lampu-lampu rumah penduduk mulai menyala, sementara jalan menuju pabrik roti semakin sepi. Winarsih memeluk tasnya erat-erat sambil mempercepat langkah. Angin malam bertiup cukup dingin. Suara jangkrik terdengar bersahutan dari pematang sawah.

Tiba-tiba...

"Hei, cantik...."

Langkah Winarsih langsung terhenti. Dari bawah pohon besar di pinggir jalan, tiga orang pria bertubuh kekar keluar sambil tertawa.

Pakaian mereka berantakan, napas mereka tercium bau minuman keras. Salah seorang di antaranya melangkah mendekat.

"Sendirian aja nih, mau di temani?"

Winarsih mundur beberapa langkah. "Permisi... saya mau lewat."

Pria itu justru menghalangi jalannya. "Jangan buru-buru. Temenin kami ngobrol dulu."

Teman-temannya ikut tertawa. "Iya, cantik. Malam masih panjang."

Wajah Winarsih memucat. "Maaf... saya harus pergi."

Ia mencoba berjalan ke samping, tetapi pria lain kembali menutup jalannya. "Mau ke mana? Takut sama kami?"

"Tolong... jangan ganggu saya."

Salah satu preman menatap wajah Winarsih dari ujung kepala hingga kaki. "Sayang juga ya... gadis secantik ini jalan sendirian malam-malam."

"Hahaha... mungkin lagi kabur dari suaminya."

Ketiganya tertawa keras.

Jantung Winarsih berdegup semakin kencang. Tangannya gemetar memeluk tas yang dibawanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Jalan desa itu benar-benar sepi, tak ada satu pun orang yang melintas.

Ketakutan mulai menguasai dirinya. "Pak... saya mohon, biarkan saya lewat."

Bukannya merasa iba, salah satu pria itu justru mengulurkan tangan, berusaha menyentuh pipi Winarsih. Secara refleks, Winarsih menepis tangan itu lalu berlari sekuat tenaga.

"Heh! Berani kabur!"

"Tangkap dia!"

Ketiga preman itu langsung mengejar Winarsih di jalan yang gelap. Air mata Winarsih kembali mengalir. Napasnya mulai memburu, sementara kedua tas di tangannya membuat langkahnya semakin berat.

"Ya Allah... tolong hamba...."

Di belakangnya, suara langkah kaki para preman terdengar semakin dekat. Dan saat salah seorang dari mereka hampir berhasil meraih ujung baju Winarsih...

Winarsih terus berlari sekuat tenaga. Napasnya memburu, sementara air mata mengaburkan pandangannya. Kedua tas yang dibawanya membuat langkahnya semakin berat.

"Hei! Berhenti!" teriak salah seorang preman.

Belum sempat Winarsih mencapai jalan yang lebih ramai, salah satu dari mereka berhasil menangkap tali tas yang disandangnya.

Bruk!

Tubuh Winarsih kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Salah satu tasnya terlempar, sementara pria lain segera menghadangnya agar ia tidak bisa melarikan diri.

"Lepaskan saya!" teriak Winarsih sambil berusaha bangkit.

Namun jumlah mereka terlalu banyak. Salah seorang preman menarik lengan baju Winarsih dengan kasar hingga terdengar suara kain yang robek.

Sret!

Winarsih spontan memeluk tubuhnya, berusaha menutupi bagian bajunya yang robek. Wajahnya dipenuhi air mata.

"Tolong... jangan sakiti saya! Tolong...!" teriaknya sekuat tenaga.

Suara tangisnya menggema di tengah jalan desa yang sunyi. Ketiga pria itu justru tertawa.

"Berteriak saja sepuasmu! Tidak akan ada yang datang ke tempat seperti ini."

Winarsih terus meronta, menendang dan berusaha melepaskan diri. Kukunya bahkan sempat menggores tangan salah seorang dari mereka.

"Aduh! Perempuan ini melawan!" geram pria itu.

"Pegang dia!" bentak yang lain.

Winarsih semakin panik. Air matanya tak berhenti mengalir. "Ya Allah... tolong hamba...."

Di saat yang sama...

Dokter Arga baru saja menyelesaikan tugasnya di Puskesmas Sekar Sari. Ia mengemudikan mobilnya perlahan menyusuri jalan desa yang mulai gelap.

Tiba-tiba...

"Tolong...!"

Arga langsung mengerem. Decitan ban memecah kesunyian malam. "Itu seperti suara perempuan?"

Ia mematikan mesin mobil dan membuka jendela, berusaha memastikan arah datangnya suara.

"Tolong...!"

Kali ini terdengar lebih jelas.

Tanpa berpikir panjang, Arga segera turun dari mobil. Ia mengambil senter dari dalam kendaraan lalu berlari mengikuti arah suara yang berasal dari balik semak-semak di pinggir jalan.

Semakin dekat, suara tangisan itu semakin terdengar jelas. Ketika semak-semak terakhir disibakkan, langkah Arga mendadak terhenti.

Sorot matanya langsung berubah tajam. Di hadapannya, tiga pria sedang mengerumuni seorang perempuan yang berusaha melindungi dirinya sambil menangis.

Arga mengenali wajah itu dalam sekejap. "Winarsih!"

Winarsih yang mendengar suara tersebut langsung menoleh. Wajahnya yang dipenuhi air mata seketika memancarkan secercah harapan.

"Dok... tolong saya...!" serunya dengan suara bergetar.

Melihat masih ada orang yang berani mengganggu, salah seorang preman menoleh dengan kesal. "Siapa lo! Jangan ikut campur kalau masih pingin hidup!"

Arga melangkah maju tanpa sedikit pun rasa gentar. Tatapannya dingin, namun penuh kemarahan.

"Lepaskan dia, sekarang."

Ketiga preman itu saling pandang, lalu tertawa mengejek. "Lo itu cuma dokter, jadi jangan sok pahlawan."

Arga tidak menjawab. Ia hanya mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor darurat, lalu berkata dengan suara tegas, "Saya sudah menghubungi polisi. Mereka sedang menuju ke sini."

Ucapan itu membuat senyum para preman mulai memudar. Namun salah satu dari mereka masih melangkah maju, mengepalkan tangan.

"Kalau begitu, kita selesaikan dulu urusan sama dokter ini!"

Arga berdiri di depan Winarsih, menghalangi tubuh gadis itu dengan tubuhnya sendiri.

Terpopuler

Comments

Arditya

Arditya

kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.

2026-07-25

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 : Nasib Winarsih
2 Episode 2 : Mulai Fitnah
3 Episode 3 : Pertemuan
4 Episode 4 : Pandangannya
5 Episode 5 : Di usir mertua
6 Episode 6 : Dokter Baik
7 Episode 7 : Perasaan Arga
8 Episode 8 : Masalalu Arga
9 Episode 9 : Hanya Mantan
10 Episode 10 : Memesan Roti
11 Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12 Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13 Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14 Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15 Episode 15 : Surat Gugatan
16 Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17 Episode 17 : Tangis Winarsih
18 Episode 18 : Air mata Winarsih
19 Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20 Episode 20 : Kembali Pulang
21 Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22 Episode 22 : Ancaman Clarissa
23 Episode 23 : Arga merasa bingung
24 Episode 24 : Winarsih Jujur
25 Episode 25 : Air Mata Winarsih
26 Episode 26 : Terlihat Kecewa
27 Episode 27 : Calon Menantu
28 Episode 28 : Pengakuan Arga
29 Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30 Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31 Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32 Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33 Episode 33 : Hampir di Culik
34 Episode 34 ; Arga Panik
35 Episode 35 : Arga kembali
36 Episode 36 : Dokter Arga terluka
37 Episode 37 : Di tolak
38 Episode 38 : Kembali ke kota
39 Episode 39 : Kembali Galau
40 Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41 Episode 41 : Rencana Sulastri
42 Episode 42 : Kemarahan Sari
43 Episode 43 : Membantu mencari
44 Episode 44 : Melamar Winarsih
45 Episode 45 : Bersandiwara
46 Dear Para Readers
47 Episode 47 : Mencari tahu
48 Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49 Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50 Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51 Episode 51 : Kerumah Arga
52 Episode 52 : Makanan malam bersama
53 Episode 53 : Susana di Kota
54 Episode 54 : Dikira pembantu
55 Episode 55 : Kelakuan Deren
56 Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57 Episode 57 ; Sangat Cantik
58 Episode 58 : Rencana Licik Sulastri
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Episode 1 : Nasib Winarsih
2
Episode 2 : Mulai Fitnah
3
Episode 3 : Pertemuan
4
Episode 4 : Pandangannya
5
Episode 5 : Di usir mertua
6
Episode 6 : Dokter Baik
7
Episode 7 : Perasaan Arga
8
Episode 8 : Masalalu Arga
9
Episode 9 : Hanya Mantan
10
Episode 10 : Memesan Roti
11
Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12
Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13
Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14
Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15
Episode 15 : Surat Gugatan
16
Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17
Episode 17 : Tangis Winarsih
18
Episode 18 : Air mata Winarsih
19
Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20
Episode 20 : Kembali Pulang
21
Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22
Episode 22 : Ancaman Clarissa
23
Episode 23 : Arga merasa bingung
24
Episode 24 : Winarsih Jujur
25
Episode 25 : Air Mata Winarsih
26
Episode 26 : Terlihat Kecewa
27
Episode 27 : Calon Menantu
28
Episode 28 : Pengakuan Arga
29
Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30
Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31
Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32
Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33
Episode 33 : Hampir di Culik
34
Episode 34 ; Arga Panik
35
Episode 35 : Arga kembali
36
Episode 36 : Dokter Arga terluka
37
Episode 37 : Di tolak
38
Episode 38 : Kembali ke kota
39
Episode 39 : Kembali Galau
40
Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41
Episode 41 : Rencana Sulastri
42
Episode 42 : Kemarahan Sari
43
Episode 43 : Membantu mencari
44
Episode 44 : Melamar Winarsih
45
Episode 45 : Bersandiwara
46
Dear Para Readers
47
Episode 47 : Mencari tahu
48
Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49
Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50
Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51
Episode 51 : Kerumah Arga
52
Episode 52 : Makanan malam bersama
53
Episode 53 : Susana di Kota
54
Episode 54 : Dikira pembantu
55
Episode 55 : Kelakuan Deren
56
Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57
Episode 57 ; Sangat Cantik
58
Episode 58 : Rencana Licik Sulastri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!