Episode 2 : Mulai Fitnah

Winarsih menatap amplop itu dengan cemas. "Bu... itu surat untuk saya."

Sulastri melirik sinis sebelum melipat kembali surat tersebut. "Surat apa? Nggak ada surat buat kamu."

"Tapi tadi bapaknya bilang..."

"Diam!"

Kurir yang mengantar surat itu hanya bisa saling pandang dengan Winarsih. Ia merasa aneh, sebab nama penerima memang jelas tertulis Winarsih Larasati. Namun karena yang menerima adalah ibu kandung Benni, ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah kurir pergi, Sulastri segera masuk ke kamarnya sambil mengunci pintu. Di dalam kamar, ia kembali membaca isi surat itu. Surat itu berisi kabar dari Benni. Selain menanyakan keadaan istrinya, Benni juga menyelipkan secarik kertas berisi nomor telepon tempat ia bekerja di Jepang.

"Dek, mulai minggu depan Mas sudah bisa ditelepon setiap hari Minggu jam tujuh malam. Mas juga sudah mengirim uang lebih banyak agar kamu bisa membeli kebutuhanmu dan menabung."

Sulastri tersenyum licik. "Kalau kalian sampai berhubungan, semua rencanaku bisa gagal."

Tanpa ragu, ia merobek surat itu dan sebelum di robek, ia mencatat nomor telepon itu di ponselnya. Ia lansung mencoba menghubungi Benni, beberapa menit kemudian...

"Halo, Nak..."

"Bu, saya sudah mengirim surat untuk Winarsih, apa sudah sampai?"

Sulastri mengembuskan napas panjang, sengaja membuat suaranya terdengar sedih. "Ben... Ibu sebenarnya bingung harus ngomong apa sama kamu. Selama kamu di Jepang, Winarsih sudah banyak berubah."

"Maksud Ibu apa?"

"Ibu sering melihat dia pulang sore bersama laki-laki. Bahkan sekarang dia kerja entah di mana tanpa izin. Ibu takut... dia sudah punya pria lain."

Di Jepang, wajah Benni langsung pucat. Tangannya gemetar menggenggam ponsel. "Benarkah itu, Bu?"

Sulastri menutup mulutnya, menyembunyikan senyum kemenangan. "Kalau kamu tidak percaya, nanti Ibu akan buktikan semuanya."

Ucapan itu membuat dada Benni terasa sesak. "Bu... tapi Winarsih bukan perempuan seperti itu."

Sulastri mengembuskan napas panjang, seolah-olah menahan tangis. "Dulu memang bukan, Ben. Tapi sejak kamu pergi, semuanya berubah."

Benni terdiam, pikirannya dipenuhi kenangan saat pertama kali mengenal Winarsih. Gadis itu dikenal pendiam, sopan, dan tak pernah bertingkah aneh. Sulit rasanya mempercayai ucapan sang ibu.

Namun di sisi lain, Sulastri adalah orang yang membesarkannya seorang diri setelah ayahnya meninggal. Selama ini ia tak pernah sekalipun meragukan perkataan ibunya.

"Ibu nggak mungkin bohong sama kamu." Kalimat itu kembali terdengar. "Kalau memang Winarsih baik-baik saja, kenapa dia tiba-tiba kerja? Kenapa dia sering pulang sore?"

Benni hanya terdiam dan bingung harus berkata apa.

"Sepertinya dia mulai menyembunyikan sesuatu dari kamu dan Ibu."

Benni mengusap wajahnya kasar. "Memangnya kerja di mana, Bu?"

"Katanya sih di pabrik roti."

"Pabrik roti?"

"Iya. Tapi siapa yang tahu? Setiap pulang selalu sore. Kadang bajunya bau parfum laki-laki."

Padahal kenyataannya aroma yang melekat di pakaian Winarsih berasal dari mentega dan roti yang baru matang. Namun Sulastri sengaja memutarbalikkan semuanya.

Benni mulai gelisah. "Bu... tolong awasi dia."

"Ibu pasti awasi. Ibu juga nggak mau kamu dikhianati."

"Iya, Bu."

"Oh ya, uang yang kamu kirim sudah Ibu terima."

"Iya, Bu. Tolong sebagian buat Winarsih."

Sulastri tersenyum tipis. "Tentu."

Padahal tak sepeser pun uang itu akan diberikan kepada menantunya.

Malam itu Winarsih duduk sendirian di belakang rumah. Langit Desa Sekar Sari tampak dipenuhi bintang. Ia memeluk lututnya sambil menatap bulan.

"Mas... apa kabar di sana?"

Sudah sebulan lebih ia tak pernah mendengar suara suaminya. Ia tidak tahu bahwa Benni baru saja berkomunikasi dengan Ibunya.

Winarsih mengusap air matanya. "Aku cuma ingin dengar suaramu sekali saja."

Dari balik jendela, Sulastri memperhatikan Winarsih dengan tatapan penuh kebencian. "Menangislah sepuasmu, ini baru permulaan."

Hari-hari berikutnya, Winarsih semakin sibuk bekerja di pabrik roti. Ia datang sebelum matahari terbit dan pulang menjelang petang.

Juragan Warso memperhatikan etos kerja gadis itu. "Winarsih."

"Iya, Juragan?"

"Kamu cepat sekali mengerti."

Winarsih tersenyum tipis. "Saya cuma berusaha bekerja dengan baik."

Juragan Warso mengangguk puas. "Mulai bulan depan gajimu saya naikkan."

Mata Winarsih membulat. "Benarkah, Juragan?"

"Iya."

"Terima kasih banyak."

"Dan mulai besok kamu ikut mengantar roti ke beberapa warung."

Winarsih mengangguk. "Baik, Juragan."

Dari kejauhan, seorang pekerja bernama Rudi memandang Winarsih sambil tersenyum. "Gadis itu rajin sekali."

Sayangnya, senyuman sederhana itu justru menjadi awal petaka.

Siang itu Sulastri diam-diam datang ke pabrik roti. Ia berdiri di balik pohon mangga yang berada di depan bangunan.

Dari sana ia melihat Winarsih sedang berbicara dengan Rudi. Padahal mereka hanya menghitung jumlah roti yang akan dikirim.

Namun di mata Sulastri, pemandangan itu terlihat sangat berbeda. "Nah... akhirnya."

Ia segera mengeluarkan ponsel yang baru dibelinya dari uang yang di kirim oleh Benni.

Cekrek... cekrek...

Beberapa foto berhasil diambil. Sudut pengambilan gambar sengaja dibuat seolah-olah Winarsih sedang tertawa mesra bersama seorang pria.

Sulastri tersenyum puas. "Kalau foto ini dikirim ke Benni, pasti dia langsung percaya."

Malam harinya Benni mendapat kesempatan menelpon.

Akhirnya ia menghubungi Ibunya lagi. "Bu... bagaimana keadaan di rumah?"

Sulastri sengaja berbicara dengan suara pelan. "Ben... Ibu sedih."

"Ada apa lagi?"

"Ibu tadi melihat sendiri."

"Melihat apa, Bu?" tanya Benni penasaran.

"Winarsih berduaan dengan laki-laki di tempat kerjanya."

Jantung Benni kembali berdegup kencang. "Bu... mungkin mereka hanya teman kerja."

"Teman kerja sampai saling pandang begitu, Ibu juga sempat memotretnya."

Benni langsung terdiam.

"Besok Ibu kirim fotonya."

Ucapan itu membuat Benni tidak bisa tidur semalaman. Di dalam hatinya, ia masih ingin mempercayai istrinya. Namun setiap kata yang diucapkan ibunya perlahan mengikis kepercayaan itu.

Keesokan paginya, Winarsih sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya telah difitnah. Ia tetap bekerja seperti biasa, setelah semua roti selesai dimasukkan ke dalam keranjang, Juragan Warso menghampirinya.

"Winarsih."

"Iya, Juragan?"

"Hari ini kamu antar roti ke Puskesmas Sekar Sari."

Winarsih mengangguk. "Baik, Juragan."

"Karena ada Dokter baru yang bertugas di sana memesan cukup banyak."

Winarsih hanya mengangguk, lalu ia segera mengangkat keranjang rotinya ke atas sepeda.

Di sisi lain...

Sulastri baru saja selesai mengirim foto-foto hasil fitnahnya kepada Benni.

Beberapa menit kemudian, ponsel Benni berdering. Tangannya gemetar saat membuka gambar yang dikirim sang ibu. Matanya membelalak. Dalam foto itu, Winarsih terlihat sedang tersenyum ke arah seorang pria. Padahal kenyataannya foto tersebut diambil dari sudut yang menyesatkan.

Wajah Benni memucat. "Winarsih... kenapa kamu tega."

Sementara itu, tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi, Winarsih mengayuh sepedanya menuju Puskesmas Sekar Sari. Di tikungan tajam dekat jembatan, sebuah mobil SUV hitam melaju cukup kencang dari arah berlawanan.

Winarsih panik, rem sepedanya mendadak blong.

"Ya Allah...!"

Brak!

Suara benturan keras menggema di jalan desa. Keranjang roti terlempar ke segala arah. Tubuh Winarsih terjatuh ke aspal.

Pintu mobil itu langsung terbuka.

Sepasang sepatu pantofel hitam menginjak tanah, disusul sosok pria tinggi berkemeja putih dengan jas dokter yang masih melekat di tubuhnya.

Pria itu berlari menghampiri Winarsih yang mulai kehilangan kesadaran. Saat wajah Winarsih terangkat, sorot mata pria itu mendadak membeku.

Terpopuler

Comments

Arditya

Arditya

Ko kesel ya, sama si benni😄

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 : Nasib Winarsih
2 Episode 2 : Mulai Fitnah
3 Episode 3 : Pertemuan
4 Episode 4 : Pandangannya
5 Episode 5 : Di usir mertua
6 Episode 6 : Dokter Baik
7 Episode 7 : Perasaan Arga
8 Episode 8 : Masalalu Arga
9 Episode 9 : Hanya Mantan
10 Episode 10 : Memesan Roti
11 Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12 Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13 Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14 Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15 Episode 15 : Surat Gugatan
16 Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17 Episode 17 : Tangis Winarsih
18 Episode 18 : Air mata Winarsih
19 Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20 Episode 20 : Kembali Pulang
21 Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22 Episode 22 : Ancaman Clarissa
23 Episode 23 : Arga merasa bingung
24 Episode 24 : Winarsih Jujur
25 Episode 25 : Air Mata Winarsih
26 Episode 26 : Terlihat Kecewa
27 Episode 27 : Calon Menantu
28 Episode 28 : Pengakuan Arga
29 Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30 Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31 Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32 Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33 Episode 33 : Hampir di Culik
34 Episode 34 ; Arga Panik
35 Episode 35 : Arga kembali
36 Episode 36 : Dokter Arga terluka
37 Episode 37 : Di tolak
38 Episode 38 : Kembali ke kota
39 Episode 39 : Kembali Galau
40 Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41 Episode 41 : Rencana Sulastri
42 Episode 42 : Kemarahan Sari
43 Episode 43 : Membantu mencari
44 Episode 44 : Melamar Winarsih
45 Episode 45 : Bersandiwara
46 Dear Para Readers
47 Episode 47 : Mencari tahu
48 Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49 Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50 Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51 Episode 51 : Kerumah Arga
52 Episode 52 : Makanan malam bersama
53 Episode 53 : Susana di Kota
54 Episode 54 : Dikira pembantu
55 Episode 55 : Kelakuan Deren
56 Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57 Episode 57 ; Sangat Cantik
58 Episode 58 : Rencana Licik Sulastri
Episodes

Updated 58 Episodes

1
Episode 1 : Nasib Winarsih
2
Episode 2 : Mulai Fitnah
3
Episode 3 : Pertemuan
4
Episode 4 : Pandangannya
5
Episode 5 : Di usir mertua
6
Episode 6 : Dokter Baik
7
Episode 7 : Perasaan Arga
8
Episode 8 : Masalalu Arga
9
Episode 9 : Hanya Mantan
10
Episode 10 : Memesan Roti
11
Episode 11 : Kelakuan Sulastri
12
Episode 12 : Jumat Berkah Puskesmas
13
Episode 13 : Kecurigaan Clarissa
14
Episode 14 : Bersama Dokter Arga
15
Episode 15 : Surat Gugatan
16
Episode 16 : Perhatian Dokter Arga
17
Episode 17 : Tangis Winarsih
18
Episode 18 : Air mata Winarsih
19
Episode 19 : Perhatian Dokter Arga
20
Episode 20 : Kembali Pulang
21
Episode 21 : Winarsih dan Clarissa
22
Episode 22 : Ancaman Clarissa
23
Episode 23 : Arga merasa bingung
24
Episode 24 : Winarsih Jujur
25
Episode 25 : Air Mata Winarsih
26
Episode 26 : Terlihat Kecewa
27
Episode 27 : Calon Menantu
28
Episode 28 : Pengakuan Arga
29
Episode 29 : Kelakuan Bu Sulastri
30
Episode 30 : Kembali ke Indonesia
31
Episode 31 : Arga Mulai Curiga
32
Episode 32 : Perdebatan Arga dan Clarissa
33
Episode 33 : Hampir di Culik
34
Episode 34 ; Arga Panik
35
Episode 35 : Arga kembali
36
Episode 36 : Dokter Arga terluka
37
Episode 37 : Di tolak
38
Episode 38 : Kembali ke kota
39
Episode 39 : Kembali Galau
40
Episode 40 : Kebahagian Winarsih
41
Episode 41 : Rencana Sulastri
42
Episode 42 : Kemarahan Sari
43
Episode 43 : Membantu mencari
44
Episode 44 : Melamar Winarsih
45
Episode 45 : Bersandiwara
46
Dear Para Readers
47
Episode 47 : Mencari tahu
48
Episode 48 : Terhubung dengan Benni
49
Episode 49 : Ingin kembali Ke kota
50
Episode 50 : Bersiap untuk pergi
51
Episode 51 : Kerumah Arga
52
Episode 52 : Makanan malam bersama
53
Episode 53 : Susana di Kota
54
Episode 54 : Dikira pembantu
55
Episode 55 : Kelakuan Deren
56
Episode 56 : Apa! Calon Istri?
57
Episode 57 ; Sangat Cantik
58
Episode 58 : Rencana Licik Sulastri

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!