Kisah ini mengikuti perjalanan jiwa seorang wanita yang terjebak dalam siklus reinkarnasi lintas zaman demi mengejar satu cinta sejati yang selalu berujung tragis.
Pada kehidupan pertama (Era Romawi), ia adalah wanita dari kasta rendah yang mencintai seorang putra mahkota. Cinta mereka terhalang status sosial dan berakhir tragis dengan kematian.
Terlahir kembali di era kolonial (kehidupan kedua) sebagai putri gangster kaya raya, ia membawa ingatan masa lalunya dan berhasil menemukan kembali cinta pertamanya. Namun, takdir kembali merenggut kebahagiaan mereka akibat permusuhan darah antar keluarga besar.
Merasa lelah dengan takdir yang selalu menyakitkan, pada kehidupan ketiga (Era Modern) ia terlahir di keluarga biasa yang harmonis dan bertekad untuk menyerah serta menghindari cinta masa lalunya. Sialnya, semesta mempertemukannya kembali dengan pria tersebut yang kini menjadi CEO dingin di perusahaannya. Terikat kontrak kerja tiga tahun dengan penalti besar, ia mati-matian menghindar. Namun, tingkah lucunya justru meluluhkan hati sang CEO. Seiring berjalannya waktu, sang pria juga mulai mengingat kembali memori masa lalu mereka. Dan badai tidak di restu itu kembali menghatam cinta mereka, akan mereka kembali berpisah ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 : Pilihan Sulit
BAB 27: PILIHAN SULIT ANTARA CINTA DAN KESETIAAN KLAN
Desingan peluru yang dimuntahkan dari senapan laras panjang serdadu kolonial terus memecah malam di kawasan dermaga timur Pelabuhan Sunda Kelapa. Suara ledakan kecil, pecahan kayu yang berserakan, dan bau mesiu yang pekat menciptakan suasana mencekam layaknya medan pertempuran militer sungguhan. Di balik tumpukan karung goni besar yang berfungsi sebagai benteng pertahanan darurat, Clara van der Berg mendekap erat tubuhnya sendiri, sementara Julian van Houten tetap siaga dengan pistol di tangan, melindungi gadis itu dari hantaman peluru yang menghujani sekitar mereka.
"Kita tidak bisa terus-menerus bertahan di sini, Clara!" seru Julian di tengah bisingnya suara tembakan. Manik mata hazelnya menatap tajam ke arah barisan pasukan kolonial di bawah pimpinan Kapten Von Klaus yang terus merangsek maju. "Garis pertahanan ini akan segera jebol dalam beberapa menit ke depan. Aku harus membukakan jalan agar kau bisa lolos bersama ayahmu!"
"Tidak, Julian!" Clara menggelengkan kepalanya panik, jemarinya mencengkeram erat pergelangan tangan sang pemuda. "Jika aku pergi, kau akan ditinggalkan sendirian menghadapi mereka! Aku tidak akan membiarkan sejarah bodoh itu terulang lagi! Kita harus keluar dari tempat ini bersama-sama!"
Di sisi lain dermaga, Tuan Besar Ho dan pasukannya tengah membalas tembakan dengan sengit. Meskipun usianya tidak lagi muda, penguasa sindikat itu bergerak lincah dari satu tempat berlindung ke tempat berlindung lainnya, memastikan anak buahnya memberikan perlawanan maksimal terhadap pasukan kolonial yang berniat membumihanguskan operasi mereka. Namun, jumlah serdadu kolonial yang datang semakin banyak, didukung oleh kendaraan taktis berlapis baja ringan yang perlahan memblokir satu-satunya jalan keluar darat dari pelabuhan.
Situasi malam itu menempatkan mereka di persimpangan jalan yang paling kejam. Di satu sisi, ada kesetiaan mutlak terhadap klan dan keluarga besar—tanggung jawab darah yang mengikat Tuan Besar Ho dan Julian sebagai pewaris sah dalam dunia keras Batavia. Di sisi lain, ada ikatan jiwa yang telah melintasi ruang dan abad, memanggil mereka untuk memilih cinta di atas segalanya. Ketegangan ini bukan sekadar pertikaian fisik antara dua kubu, melainkan pertarungan batin yang menguji seberapa besar ketulusan seseorang ketika dihadapkan pada pilihan antara hidup dan mati, kehormatan marga atau keselamatan belahan jiwa.
Kapten Von Klaus berjalan mondar-mandir di balik barisan perlindungan pasukannya, memegang pistol dinas sambil meneriakkan perintah provokatif yang bertujuan untuk memecah belah mental pihak sindikat.
"Tuan Besar Ho! Percuma saja perlawanan bodohmu itu!" seru Kapten Von Klaus dengan tawa mengejek yang menggema di seluruh dermaga. "Sindikatmu sudah terkepung total! Menyerahkan dokumen arsip itu dan menyerahkan diri adalah satu-satunya jalan agar putri kesayanganmu tidak ikut mati tertembus peluru serdaduku malam ini!"
Mendengar ancaman tersebut, amarah Tuan Besar Ho meluap-luap melampaui batas rasionalitas. Ia melirik sekilas ke arah posisi tempat Clara dan Julian berlindung. Sebagai seorang ayah yang selama ini hidup di dunia hitam, ia tahu betul bahwa kompeni tidak akan pernah melepaskan nyawa mereka hidup-hidup, baik dokumen itu diserahkan maupun tidak. Niat busuk pemerintah kolonial adalah melenyapkan dua kekuatan terbesar di Batavia dalam satu malam malam berdarah, demi memonopoli seluruh pelabuhan tanpa ada lagi pihak yang berani menentang kebijakan ekonomi mereka.
Tuan Besar Ho menarik napas dalam-dalam, lalu menatap panglima kepercayaannya, Bang Jafar, yang berdiri di sampingnya dengan napas tersengat mesiu.
"Jafar," bisik Tuan Besar Ho tajam. "Dengar baik-baik perintahku. Ambil jalur pelarian rahasia di bawah dermaga kayu tua sebelah barat. Pastikan kau membawa Clara dan Julian keluar dari sini menuju kapal nelayan yang bersandar di ujung teluk. Aku akan menahan pasukan kolonial ini di sini bersama sisa anak buah kita."
Bang Jafar terbelalak kaget, wajahnya menyiratkan penolakan keras. "Tapi, Tuan Besar! Itu artinya Anda akan mengorbankan diri sendiri! Saya tidak bisa meninggalkan Anda..."
"Ini adalah perintah mutlak sebagai pemimpinmu!" potong Tuan Besar Ho dengan suara menggelegar penuh wibawa, matanya menyalang tajam. "Lindungi putriku! Pastikan dia tetap hidup, dan pastikan kebenaran tentang kebusukan kompeni ini sampai ke tangan yang tepat!"
Sebelum Bang Jafar sempat mendebat kembali, Tuan Besar Ho sudah melompat keluar dari tempat persembunyiannya sambil memberondongkan tembakan ke arah barisan depan serdadu kolonial, mengalihkan seluruh perhatian Kapten Von Klaus dan anak buahnya agar fokus menyerang dirinya.
"Cepat! Bergerak sekarang!" teriak Tuan Besar Ho di tengah hiruk-pikuk suara tembakan.
Di tempat perlindungannya, Clara melihat aksi nekat ayahnya. Air matanya tumpah menderas membasahi pipinya. Ia tahu persis apa arti pengorbanan itu. Ayahnya sedang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk memberikan kesempatan hidup bagi dirinya dan Julian, menebus semua kesalahan masa lalu dengan sebuah kasih sayang tulus yang tak terhingga.
"Ayah...!" teriak Clara histeris, hendak bangkit mengejar, namun Julian dengan sigap menahan tubuh gadis itu dalam dekapannya.
"Clara, kita harus pergi! Jangan sia-siakan pengorbanan ayahmu!" seru Julian dengan suara serak penuh emosi, menarik tangan Clara erat-erat mengikuti arah kedatangan Bang Jafar yang berlari membimbing mereka menuju celah pelarian di bawah struktur dermaga kayu.
Di bawah kegelapan malam yang dibasahi cipratan air laut dan gemuruh suara peluru di atas kepala mereka, Clara dan Julian merayap cepat melarikan diri dari pusaran maut pelabuhan. Namun, takdir rupanya masih menyimpan ujian paling berat dan menyayat hati sebelum mereka bisa mengecap kebebasan yang sesungguhnya. Di ujung jalan pelarian sempit tersebut, bayangan bayaran musuh telah menunggu di dalam gelap, siap melepaskan peluru penembus jantung di tengah derasnya hujan malam yang mulai turun mengguyur kota Batavia.