Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Takdir

Terpisah Oleh Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:205
Nilai: 5
Nama Author: Diah Lubis27

Mengisahkan tentang seorang pria yang sudah beristri yang mengalami sebuah kecelakaan hingga mengakibatkan ia kehilangan ingatan dan menikah dengan wanita beda keyakinan.
Akan kah kisah cinta mereka bertahan?
Bagaimana akhir kisah cinta mereka?.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Lubis27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

adzan maghrib sudah terdengar tapi Farhan dan kakek Danu belum juga kembali. Hal ini membuat Karisa dan nenek Melia menjadi panik.

"Nek bagaimana ini, Farhan dan kakek belum juga kembali. " Kepanikan terlihat jelas di wajah Karisa.

"Nenek juga cemas, belum pernah kakek mu pergi ke kolam sampai selama ini." Ucap nenek Melia tak kalah panik.

"Ayo kita sholat maghrib dulu, nanti selesai sholat maghrib nenek akan minta beberapa warga kampung untuk menemani nenek pergi melihat kakek dan Farhan di kolam."

Selesai mengerjakan sholat maghrib Karisa dan nenek Melia berencana untuk pergi ke rumah kepada desa untuk meminta bantuan beberapa warga menyusul Farhan dan kakeknya ke kolam, baru saja nenek Melia hendak pergi tapi pandangan mereka tertuju pada suara pintu belakang yang terbuka. Keduanya sama-sama menoleh perasaan lega langsung terasa begitu melihat Farhan dan kakek Danu sedang berdiri di ambang pintu sambil memikul karung yang penuh berisi ikan.

Karisa langsung lari dan memeluk tubuh suaminya sambil menangis.

"Kenapa lama sekali? Kamu membuatku takut. " Ucapnya sambil menangis.

"Tubuhku sangat kotor dan bau. " Farhan mendorong pelan tubuh istrinya.

Sementara nenek Melia langsung membantu menurunkan ikan yang sedang di pikul oleh suaminya, dan segera menyuruh suaminya untuk membersihkan diri.

Akhirnya Karisa pun tersadar kalau dia sudah memeluk suaminya di depan kakek dan nenek karena cemas. Benar-benar memalukan.

"Kenapa lama sekali?" Kembali bertanya setelah berhasil memenangkan diri.

"Debit air sungai di dekat kolam meningkat, kakek takut sungainya akan banjir dan mengenai kolam. jadi kami memutuskan untuk memanen ikan-ikan yang berada di kolam di dekat sungai." Jelas Farhan.

"Lalu ikan sebanyak ini mau di apakan?" Mata Karisa tertuju pada dua karung penuh ikan yang tadi di bawa oleh Farhan dan kakek Danu.

"Kata kakek sebagian mau di buat ikan asap dan sebagian lagi mau di bikin ikan asin." dan sisanya sudah di bagikan pada para tetangga.

Karisa mengangguk tanda mengerti.

Tidak terasa sudah hampir dua minggu Farhan dan Karisa berada di kampung halaman kedua orang tuanya Farhan, itu artinya mereka sudah harus kembali ke kota. Hampir semua tempat wisata di kampung ini sudah mereka datangi dan Karisa benar-benar merasa bahagia. Dia betah berada di kampung ini walaupun tanpa internet.

"Mas lusa kita sudah harus kembali ke kota, bagaimana kalau nanti kita pergi lagi ke air terjun biru aku belum puas menikmati ke indahan air terjun biru itu." Sebuah air terjun dengan warna air kebiruan yang sangat indah yang menjadi salah satu tempat wisata populer di kampung itu. Namun belum terlalu ramai pengunjung karena akses jalannya yang terbilang cukup sulit.

"Yakin mau ke sana lagi, nanti kamu kecapekan. "

"Nggak apa-apa, lagi pula kita sudah mau pulang entah kapan bisa ke sini lagi. " Tutur Karisa.

"Baiklah kalau gitu ayo. "

Setelah bersepeda hampir 70 menit lamanya Farhan dan Karisa akhirnya sampai di air terjun biru. Kali ini mereka tidak berboncengan melaikan naik sepeda masing-masing karena memang jalan yang di lalui tidak memungkinkan untuk berboncengan.

Saat mereka tiba suasana tempat itu masih terlihat sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang mengambil foto di sekitar air terjun.

"Mas ayo kita duduk di sana. " Karisa menunjuk sebuah batu besar yang ada di pinggir aliran air tidak jauh dari air terjun itu.

Keduanya pun berjalan ke arah baru itu lalu duduk di sana.

Karisa bersandar manja di bahu Farhan. tanpa mereka sadari sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari tempat yang tidak terlalu jauh.

"Indah sekali ya mas. " Ucap Karisa masih sambil bersandar pada bahu suaminya itu.

"Kamu suka?" Farhan merapikan hijab Karisa yang sedikit berantakan tertiup angin.

" Sangat suka. " Jawab Karisa.

"Kalau begitu jika ada kesempatan kita kesini lagi nanti. " Farhan.

Karisa tersenyum lalu mencium pipi suaminya. "Kamu baik banget sama aku. " Ucap Karisa dengan mata yang sedikit memerah, Karisa sama sekali tidak menyangka Farhan akan memperlakukannya dengan begitu baik padahal setelah mengetahui kebenaran bahwa dia tidak akan pernah bisa memberi keturunan untuk Farhan Karisa sudah tidak berani berharap banyak dari hubungan pernikahan mereka.

"Dasar bodoh. " Farhan mengacak pucuk kepala Karisa.

Segala tingkah laku dan kemesraan antara Farhan dan Karisa tidak luput dari tatapan seseorang yang berada tidak jauh dari mereka. Seorang wanita yang sejak tadi terus memperhatikan mereka. tangannya terkepal erat tidak Terima dengan kebahagiaan Farhan dan Karisa. Setetes air mata mengalir di pipi wanita itu. Dialah Anisa yang sejak beranjak remaja sudah memiliki perasaan untuk Farhan.

"Apa yang kamu lihat?" Ucap seorang pria yang baru saja datang menghampiri Anisa dengan menenteng dua gelas es teh dan seplastik gorengan.

"Oh ternyata dia, apa dia sangat tampan dan hatimu sakit melihat dia bersama wanita lain, ha?" Pria itu meletakkan es teh di tangannya lalu mencengkram dagu Anisa dengan kuat hingga Anisa meringis kesakitan.

"Tidak mas bukan begitu, sakit mas tolong lepaskan!" Anisa meronta berusaha melepaskan cengkraman tangan lelaki itu dari dagunya.

Lelaki itu mendorong tubuh Anisa, sebenarnya ia hanya mendorong pelan namun karena Anisa sedang tidak siap ia pun terjatuh dan terduduk di tanah dengan bunyi gedebukkk.

"Awwww, sakit mas. " Ringis Anisa.

Keributan itu menarik perhatian Farhan dan Karisa yang memang berada tidak jauh dari tempat itu.

"Anisa." Gumam Farhan.

"Siapa mas?" Tanya Karisa yang tidak mendengar jelas apa yang di gumamkan oleh suaminya.

"Wanita yang di sana itu Anisa dengan suaminya Natan." Ucap Farhan.

"Jadi itu yang namanya Anisa. " Karisa memperhatikan wajah Anisa dengan seksama "cantik" ucapnya.

"Tapi seperti nya mereka sedang bertengkar." Karisa masih memperhatikan ke arah Anisa dan suaminya.

"Biarkan saja bukan urusan kita. " Farhan ingin membawa Karisa pergi tapi Anisa justru memandang kearah mereka membuat suasana menjadi canggung.

Akhirnya Farhan dan Karisa memutuskan untuk menghampiri Anisa dan suaminya.

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kalau ada masalah sebaiknya bicarakan baik-baik di rumah jangan ribut di tempat umum begini tidak enak di lihat orang. " Ucap Farhan pada Natan yang juga merupakan sahabatnya.

"Tidak usah banyak bicara kamu senangkan melihat kami seperti ini!" Natan yang masih tersulut emosi langsung menarik kerah baju Farhan begitu Farhan mendekat.

"Natan istighfar. " Farhan mendorong tubuh Natan hingga ia mundur beberapa langkah.

"Kamu kenapa sih? Kita ini sahabat sejak kecil kalau ada masalah apa harus pakai kekerasan. "

Anisa yang sejak tadi hanya duduk diam di di tanah akhirnya berdiri.

"Maafkan Natan kak Farhan dia tidak bermaksud kasar sama kakak, Natan cuma sedang banyak pikiran. " Ucap Anisa sambil menunduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!