Indonesia
NovelToon NovelToon
RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

RODA DUA Dan RAHASIA BIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiawan

Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Jelaga Pantura di Atas Karpet Beludru Milan

Matahari pukul sembilan pagi telah berdiri dengan angkuh di atas langit Jakarta Pusat. Gedung pusat Dewantara Group, sebuah menara pencakar langit setinggi enam puluh lantai berlapis kaca biru antipeluru buatan Jerman, berdiri megah di kawasan segitiga emas Sudirman. Di lantai paling atas, tepatnya di dalam Ruang Rapat Utama "Ganesha", atmosfer udara terasa begitu tegang hingga suara desah napas dari mesin pendingin udara sentral pun terdengar seperti sebuah ancaman hukum.

Ruangan megah itu didesain oleh arsitek minimalis ternama dari Milan. Lantainya dilapisi oleh karpet beludru wol murni berwarna abu-abu arang yang diimpor langsung dari Italia utara, sementara meja rapat melingkar di tengah ruangan terbuat dari potongan tunggal kayu oak kuno berusia dua ratus tahun yang dipoles hingga mengilat sempurna. Di sekeliling meja tersebut, dua puluh empat orang anggota dewan direksi dan komisaris utama Dewantara Group sudah duduk dengan posisi tubuh yang sangat tegap. Mereka semua mengenakan setelan jas tiga lapis bermerek Brioni atau Armani, jam tangan Patek Philippe yang berkilau di bawah lampu kristal, dan raut wajah yang kaku layaknya patung-patung marmer di museum sejarah Romawi.

Di ujung meja utama, duduk Baskoro Dewantara, sang patriark tertinggi sekaligus pendiri tunggal imperium bisnis Dewantara Group. Pria paruh baya itu memiliki sorot mata yang tajam seperti elang gunung, rambut hitamnya yang disisir rapi ke belakang memiliki semburat uban perak di pelipis yang justru menambah kesan wibawa absolutnya. Tangan kanannya yang memegang sebuah pulpen emas Montblanc mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu dengan ritme yang konstan.

TOK... TOK... TOK...

Setiap ketukan pulpen itu terasa seperti detak bom waktu bagi para direktur di bawahnya.

"Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima puluh lima menit," suara Baskoro terdengar berat, dingin, dan bergaung dengan penuh otoritas di dalam ruangan yang kedap suara itu. "Pak Handoko mengabarkan kepada saya melalui pesan satelit subuh tadi bahwa suksesi takhta ini akan berjalan sesuai jadwal. Putra tunggal saya, Gavin Dewantara, akan memasuki ruangan ini tepat pukul sepuluh. Saya harap seluruh divisi hukum dan operasional sudah menyiapkan dokumen serah terima jabatan dengan sempurna."

Seorang direktur keuangan bertubuh tambun bernama Pak hermawan buru-buru membetulkan posisi dasi sutranya yang mulai terasa mencekik leher karena gugup. "S-Sudah, Bapak Ketua. Seluruh berkas aset senilai empat ratus dua puluh triliun rupiah sudah diverifikasi oleh akuntan publik independen dari London. Kami hanya tinggal menunggu tanda tangan fisik dari Tuan Muda Gavin."

"Bagus," jawab Baskoro datar. "Saya ingin peresmian ini berjalan dengan standar protokol kelas tertinggi. Putra saya telah menyelesaikan masa 'pengasingan spiritual'-nya sebagai mahasiswa di Yogyakarta selama tiga tahun. Hari ini, ia kembali untuk menunjukkan kepada kalian semua apa artinya menjadi seorang Dewantara: sempurna, tak tersentuh, dan berwibawa penuh."

Para direksi mengangguk-angguk serempak dengan gerakan yang sangat sinkron layaknya paduan suara yang sudah terlatih. Di dalam pikiran mereka, mereka sudah membayangkan sosok Tuan Muda Gavin Dewantara: seorang pemuda tampan dengan potongan rambut klimis ala bangsawan Jakarta, mengenakan setelan jas pesanan penjahit Prancis yang dibawa oleh Pak Handoko, melangkah masuk dengan senyuman karismatik yang dingin, dan memancarkan aroma parfum Creed Aventus seharga jutaan rupiah per mililiter.

Namun, sejarah manajemen krisis Dewantara Group tidak pernah menyiapkan mereka untuk apa yang akan terjadi lima menit kemudian.

________________________________________

Tepat pukul sepuluh pagi, pintu ganda Ruang Rapat Ganesha yang terbuat dari kayu jati solid setinggi empat meter perlahan terbuka dari luar. Dua orang petugas keamanan internal gedung yang mengenakan seragam safari abu-abu membungkuk hormat sedalam sembilan puluh derajat ke arah koridor luar.

Langkah kaki pertama terdengar melangkah masuk ke atas karpet beludru Milan yang mahal itu.

CEPLEK... CEPLEK... CEPLEK...

Suaranya sangat aneh. Itu bukan suara benturan sol sepatu pantofel kulit sapi Italia yang elegan. Itu adalah suara berisik dari sepasang sandal jepit karet merek Swallow warna hijau yang permukaannya sudah tipis di bagian tumit, dan yang lebih parah, bagian tali capit sebelah kanannya sudah diganjal menggunakan sebuah peniti berkarat agar tidak lepas dari lubangnya.

Seluruh dewan direksi reflek mencondongkan tubuh mereka ke depan, mata mereka melotot menembus ruang udara, mencoba memproses visualisasi objek yang baru saja melewati pintu gerbang takhta mereka.

Gavin Dewantara melangkah masuk dengan gaya jalanan yang sangat santai, ugal-ugalan, dan sedikit menyeret kakinya. Penampilannya benar-benar sebuah penghinaan visual terhadap estetika minimalis Milan senilai miliaran rupiah di ruangan itu. Ia mengenakan kaos oblong hitam polos favoritnya yang warnanya sudah pudar menjadi abu-abu monyet, penuh dengan lubang-lubang kecil di bagian bawah akibat terlalu sering terkena jepitan resleting celana. Celana jins yang dipakainya robek besar tepat di bagian lutut kiri, memperlihatkan kulit lututnya yang agak lecet berwarna merah kecokelatan akibat hantaman lubang maut di Batang kemarin sore.

Namun, hal yang paling merusak pemandangan moral para direktur berdasi itu adalah wajah Gavin.

Wajah sang pangeran mahkota tunggal triliuner itu sepenuhnya dilapisi oleh jelaga hitam pekat sisa pembakaran bensin campur minyak tanah dan uap parfum laundry Indramayu. Jelaga itu merata dari dahi hingga dagu, menyisakan dua lingkaran putih bersih di sekitar matanya akibat sempat memakai helm cetok tanpa kaca—membuat penampilan Gavin saat itu persis seperti seekor rakun raksasa yang baru saja selamat dari ledakan pipa gas bawah tanah di daerah pelabuhan. Rambutnya acak-acakan luar biasa, berdiri ke segala arah mirip sarang burung pipit yang diterpa angin topan berkekuatan lima belas knot.

Di pundak kanannya, Gavin menjinjing tas ransel kanvas hijaunya yang bolong di sudut bawah, yang dari dalam lubangnya menyembul keluar sebuah ujung kabel ties warna kuning dan sebungkus mi instan mentah rasa soto yang sudah remuk setengahnya.

Tidak ada aroma Creed Aventus. Begitu Gavin melangkah mendekati meja rapat, sebuah gelombang aroma udara baru langsung menyebar dengan agresif di dalam ruangan ber-AC sentral tersebut. Itu adalah sebuah aroma kombinasi yang sangat surealis: bau bensin eceran yang menyengat, wangi gosong minyak tanah kompor sumbu, bercampur dengan keharuman semerbak bunga lavender buatan yang sangat tajam dari sisa uap parfum laundry Lavender Storm.

"Selamat pagi, para pemegang saham yang terhormat dan bapak-bapak berdasi yang mukanya kaku banget kayak abis ditolak pengajuan KPR," sapa Gavin dengan suara lantang, renyah, dan penuh dengan nyali jalanan yang merdeka. Ia melambaikan tangannya yang hitam berlumuran oli bekas dengan santai ke arah dewan komisaris.

Hening.

Keheningan di dalam ruangan itu seketika menjadi begitu absolut hingga jika ada sebuah kancing baju yang jatuh di lantai, suaranya akan terdengar seperti ledakan granat. Dua puluh empat orang direktur eksekutif membeku di kursi mereka masing-masing. Pak Hermawan, sang direktur keuangan, matanya mendelik begitu besar hingga kacamata minusnya merosot jatuh ke atas piring kecil tempat cangkir kopinya, menciptakan bunyi KLING yang gemetar. Beberapa direktur hukum langsung memeriksa kembali berkas di tangan mereka, mengira mereka salah mengundang orang dan yang masuk saat ini adalah seorang pemulung dari pinggiran rel kereta Manggarai yang berhasil menembus barikade keamanan VIP.

Baskoro Dewantara sendiri, sang patriark tertinggi, menghentikan ketukan pulpen emasnya. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun terakhir karier bisnisnya, otot rahang Baskoro tampak berkedut sedikit. Ia menatap putra tunggalnya dari ujung kepala yang acak-acakan hingga ganjalan peniti di sandal jepit hijau bawahnya.

Tepat di belakang Gavin, Pak Handoko melangkah masuk ke dalam ruangan rapat dengan sisa-sisa wibawa pelayan setianya yang sudah porak-poranda. Penampilan Pak Handoko tidak kalah mengenaskan: jas Prancis-nya yang berharga puluhan juta kini dipenuhi noda lingkaran kuning bekas kuah sayur nangka Warteg Pemalang di bagian dada sebelah kiri, lengan kemejanya digulung acak-acakan, celana kain mahalnya dipenuhi serat daun pisang kering, dan seluruh tubuh pria paruh baya itu kini sewangi pakaian laundry kiloan yang baru matang dari mesin pengering.

Pak Handoko berjalan mendekati meja utama, lalu membungkuk hormat sedalam sembilan puluh derajat ke arah Baskoro dengan wajah penuh penderitaan spiritual tingkat tinggi.

"M-Mohon maaf... Bapak Ketua Baskoro," kata Pak Handoko dengan suara yang bergetar menahan tangis batin. "Saya telah mengerahkan seluruh kemampuan logistik taktis, protokol pengamanan VIP tingkat nasional, hingga opsi ancaman akuisisi perusahaan otobus di jalan raya. Namun... Tuan Muda Gavin menolak keras untuk menggunakan fasilitas limosin Maybach. Beliau memilih untuk mengendarai sepeda motor Astrea Grand tahun 1995 miliknya sendiri, menempuh jalur darat kedaerahan Pantura sepanjang ratusan kilometer."

Pak Handoko menarik napas panjang, lalu menyeka keringat di pelipisnya menggunakan saputangan sutranya yang kini juga sudah berbau bawang merah goreng. "Dan... mohon maaf yang sebesar-besarnya, dalam perjalanan malam di wilayah Indramayu, kendaraan Tuan Muda mengalami krisis bahan bakar yang sangat ekstrem, sehingga beliau melakukan tindakan konversi kimiawi mandiri menggunakan cairan minyak tanah milik warga setempat yang dicampur dengan sepuluh botol parfum isi ulang deterjen binatu. Itulah... itulah alasan mengapa aroma tubuh Tuan Muda saat ini menyerupai area jemuran pakaian basah di pemukiman padat penduduk."

Mendengar penjelasan panjang lebar dari kepala protokol pelayan setianya, beberapa direktur hukum langsung reflek menutup hidung mereka menggunakan saputangan masing-masing, sementara otak mereka mencoba mencerna istilah "konversi kimiawi minyak tanah dan parfum laundry" yang terdengar seperti sebuah tindakan kejahatan lingkungan berskala regional.

Gavin sama sekali tidak peduli dengan kepanikan moral di sekitarnya. Ia melangkah mendekati meja rapat kayu oak kuno seharga ratusan juta itu, lalu dengan sangat tanpa beban, ia melempar tas ransel kanvas hijaunya yang kotor di atas permukaan meja yang mulus.

BUMMM!

Tas kanvas itu mendarat dengan sukses, meninggalkan jejak lingkaran debu putih Pantura dan noda minyak hitam kecil tepat di atas permukaan kayu kuno abad kedelapan belas tersebut. Gavin kemudian menarik kursi kulit ergonomis berlapis beludru hitam yang biasa diduduki oleh wakil komisaris utama, memutar posisinya, lalu duduk di atasnya dengan gaya yang sangat tidak ergonomis: ia mengangkat kedua kakinya yang bersandal jepit hijau ke atas meja rapat, menyilangkan pergelangan kakinya tepat di samping tumpukan berkas laporan keuangan kuartal pertama Dewantara Group.

"Aduh, gila... pinggang gue serasa mau copot," kata Gavin sambil meregangkan kedua tangannya ke atas hingga kaos oblongnya yang bolong terangkat, memperlihatkan perutnya yang rata. "Pak Han, ini gedung pusat AC-nya terlalu kencang deh kayaknya. Gak ada ventilasi udara alami apa? Anginnya kurang jujur, gak kayak angin maut di jalur Batang kemarin sore yang penuh dengan aroma kebebasan dan kotoran ayam."

Pak Hermawan si direktur keuangan akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Gengsi korporatnya sebagai lulusan terbaik London School of Economics bergolak hebat melihat kelakuan anak muda di depannya. Ia berdiri dari kursinya dengan wajah merah padam.

"Bapak Ketua Baskoro! Saya protes keras!" seru Pak Hermawan dengan suara gemetar, menunjuk Gavin menggunakan jari telunjuknya yang dipenuhi cincin batu mulia. "Tindakan anak muda ini adalah sebuah penghinaan besar terhadap institusi dan martabat luhur Dewantara Group! Kita di sini sedang mengadakan Sidang Umum Pemegang Saham untuk mengelola aset senilai ratusan triliun rupiah yang memengaruhi hajat hidup puluhan ribu karyawan di seluruh Asia Tenggara! Bagaimana bisa calon pemimpin baru kita masuk ke ruangan suci ini dengan penampilan seperti montir bengkel tambal ban yang baru kena tilang?! Wajah penuh jelaga hitam, celana robek, sandal jepit diganjal peniti, dan bau badan yang... maaf, bau badan yang menyerupai bau ruang setrika laundry kiloan tingkat kelurahan ini benar-benar merusak reputasi internasional kita di mata investor global!"

Gavin tidak marah mendengarnya. Ia justru menurunkan kacamata selotipnya sedikit ke ujung hidung, menatap Pak Hermawan dari balik lensa yang buram, lalu tersenyum miring—sebuah senyuman jalanan yang penuh dengan nyali jalanan yang merdeka.

"Eh, Pak Direktur yang badannya subur makmur karena kebanyakan makan uang dividen," kata Gavin dengan nada santai namun dengan artikulasi kata yang sangat tajam memotong udara. "Nama lu siapa tadi? Pak Hermawan ya? Sini, gue mau tanya sama lu yang sekolahnya tinggi-tinggi sampai ke London. Lu bilang penampilan gue menghina martabat perusahaan ini? Lu bilang wajah gue yang penuh jelaga hitam ini merusak reputasi internasional di mata investor global?"

Gavin menurunkan kedua kakinya dari atas meja rapat dengan sentakan kasar, mengubah posisi duduknya menjadi condong ke depan, menopang dagunya menggunakan kedua tangannya yang masih kotor berlumuran oli bekas. Tatapan mata rakun Gavin mendadak berubah menjadi sangat tajam, menembus langsung ke dalam manik mata Pak Hermawan hingga direktur keuangan bertubuh tambun itu reflek mundur satu langkah ke belakang karena ketakutan psikologis yang tiba-tiba hadir tanpa peringatan.

"Pak Hermawan," kata Gavin dengan suara berat yang berwibawa penuh, menghilangkan semua nada ugal-ugalan mahasiswa kosannya untuk sementara waktu. "Jelaga hitam di wajah gue ini adalah bukti autentik dari debu jalur Pantura. Debu yang setiap hari dihirup oleh para sopir truk gandeng yang membawa pasokan bahan pangan dan komoditas logistik milik anak perusahaan Dewantara Group dari pelabuhan menuju pabrik. Sandal jepit hijau dengan ganjalan peniti ini adalah alas kaki yang sama yang dipakai oleh jutaan buruh pabrik tekstil kita di daerah Tangerang dan Bekasi yang setiap hari bekerja memeras keringat dengan upah minimum demi memastikan laporan keuangan kuartal pertama lu tetap terlihat hijau dan indah di depan investor asing."

Gavin mengambil selembar berkas laporan keuangan bersampul kulit dari atas meja, lalu melemparnya kembali dengan santai. "Lu semua di sini duduk manis di dalam ruangan ber-AC sentral yang kedap suara, mengunyah daging wagyu mewah dan minum kopi espresso mahal, lalu dengan sangat gampang menulis angka-angka triliunan rupiah di atas kertas tanpa pernah tahu bagaimana rasanya mendorong motor mogok di tengah malam maut Indramayu. Lu gak pernah tahu rasanya kuping lu mau tuli karena ledakan knalpot patah, atau bagaimana rasanya menahan lapar dan akhirnya menemukan kebahagiaan sejati pada sepiring tempe orek basah seharga belasan ribu rupiah di warteg pinggir jalan raya Pemalang."

Seluruh ruangan rapat kembali terdiam. Kata-kata Gavin melesat lurus layaknya peluru kendali taktis yang menghantam telak ego korporat dua puluh empat orang eksekutif senior di dalam ruangan itu. Pak Hermawan menelan ludahnya dengan susah payah, wajahnya yang tadi merah padam kini mendadak berubah menjadi pucat keunguan karena tidak mampu menemukan satu patah kata pun untuk membalas argumen sosiologis dari sang pangeran mahkota.

"Gavin Dewantara tahu diri," lanjut Gavin sambil menyandarkan punggungnya kembali ke kursi beludru dengan gaya santai andalannya. "Gue kembali ke sini bukan untuk menjemput takhta kekayaan yang kaku dengan setelan jas formal yang mencekik leher. Gue kembali ke sini untuk memastikan bahwa pemimpin baru dari Dewantara Group bukanlah seorang boneka korporasi yang buta terhadap realitas sosial di akar rumput jalanan. Jika wajah penuh jelaga hitam dan bau parfum laundry Lavender Storm ini membuat nilai saham kita di bursa efek London turun satu persen besok pagi, maka tugas gue sebagai pemimpin baru adalah membeli seluruh bursa efek tersebut dan mengubah sistem aturannya agar lebih menghargai keringat manusia merdeka sejati. Gimana? Ada protes hukum lain dari divisi keuangan?"

Pak Hermawan perlahan-lahan menurunkan pantatnya kembali ke kursi rapat dengan gerakan yang sangat lemas, tangannya gemetaran memegang pulpennya sendiri. Ia melirik ke arah Baskoro Dewantara, berharap sang Ketua Besar akan menjatuhkan hukuman disiplin atau membatalkan hak waris putra ugal-ugalan tersebut.

Namun, apa yang dilakukan oleh Baskoro Dewantara justru membuat seluruh dewan direksi hampir terkena serangan panik masal secara bersamaan.

Baskoro Dewantara, pria paruh baya yang terkenal dingin, kejam dalam bernegosiasi bisnis, dan tidak pernah tersenyum sedikit pun di depan media nasional selama tiga dekade terakhir, perlahan-lahan meletakkan pulpen emas Montblanc-nya di atas meja rapat.

Bahu Baskoro mulai bergetar kecil. Dan sedetik kemudian, sebuah suara tawa yang sangat keras, renyah, dan penuh dengan kebanggaan emosional yang mendalam meledak keluar dari mulut sang pendiri Dewantara Group tersebut.

"HAHAHAHA! LUAR BIASA! MAHA REKAYASA JALANAN YANG SANGAT MEMUKAU!" tawa Baskoro menggema keras, memantul di antara dinding kaca menMenara Dewantara. Ia berdiri dari kursi utamanya, lalu berjalan memutari meja rapat menuju ke arah Gavin.

Para direktur melongo dengan mata bulat sempurna. Mereka belum pernah melihat Ketua Besar tertawa sebahagia ini sepanjang sejarah berdirinya perusahaan.

Baskoro berhenti tepat di samping kursi Gavin. Tanpa ragu sedikit pun terhadap kebersihan jas Brioni kustom miliknya yang seharga ratusan juta rupiah, Baskoro langsung merangkul pundak putra tunggalnya dengan sentakan kasar yang sangat akrab—persis seperti cara Gavin merangkul Rian dan Dono di teras Kos Bu Broto kemarin pagi.

PLAK!

Telapak tangan Baskoro menepuk punggung Gavin yang kotor berlumuran debu Pantura, membuat sisa debu putih di kaos oblong pudar Gavin berhamburan ke udara dan menempel di kain jas mewah Baskoro. Baskoro menatap wajah rakun Gavin dengan pandangan mata yang berkaca-kaca penuh rasa bangga seorang ayah yang melihat putranya telah tumbuh menjadi seorang pria merdeka sejati yang tidak bisa dijinakkan oleh harta sepeser pun.

"Handoko!" panggil Baskoro dengan suara lantang yang masih menyisakan sisa tawa kegembiraannya.

"S-Siap! Saya, Bapak Ketua!" jawab Pak Handoko langsung menegakkan posisi berdirinya yang penuh noda gulai.

"Perintah pertama dari manajemen baru hari ini!" kata Baskoro sambil menunjuk ke arah koridor lobi utama di lantai bawah. "Sepeda motor Astrea Grand tahun 1995 milik Gavin yang diikat kawat jemuran dan tali rafia itu... bawa sekarang juga naik menggunakan lift barang VIP! Letakkan motor itu tepat di tengah-tengah lobi utama lantai satu, persis di samping meja resepsionis marmer Carrara Italia! Jangan ada yang berani membersihkan debu Panturanya, jangan ada yang berani melepas kawat jemurannya, dan biarkan aroma minyak tanah campur parfum laundry lavender itu tetap menguap di lobi utama gedung ini selama satu semester penuh!"

Baskoro menoleh ke arah seluruh anggota dewan direksi yang masih duduk membeku dengan wajah syok kultural tingkat nasional. "Biarkan seluruh investor asing, bankir internasional, dan direktur berdasi yang datang ke gedung ini tahu dengan pasti: bahwa Dewantara Group kini dipimpin oleh seorang pangeran mahkota yang tahu persis bagaimana caranya memutar roda kehidupan dari aspal jalanan yang paling keras! Serah terima jabatan disetujui! Gavin, tanda tangan berkas aset empat ratus triliun lu sekarang, setelah itu kita pergi ke warung tegal depan gedung untuk merayakan kemenangan ini menggunakan uang seratus dolar baru milik Handoko!"

Gavin terkekeh renyah, mengambil pulpen emas dari tangan ayahnya dengan gerakan ugal-ugalan khasnya, lalu mengedipkan sebelah matanya ke arah Pak Handoko yang kini akhirnya bisa tersenyum lega dengan air mata haru yang meleleh di pipinya.

Roda kehidupan terus berputar dengan cepat di atas aspal Jakarta, dan bagi Gavin Dewantara, babak baru penaklukan kekaisaran bisnis dengan nyali jalanan yang merdeka baru saja resmi dimulai dengan sebuah goresan tinta hitam di atas karpet beludru Milan yang sewangi parfum laundry kelurahan.

1
Mey-mey89
lanjut
Azmi Zildiawan: Terima kasih sudah membaca
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!