Setelah menyelesaikan masa militernya, Jiang Ming mendapati dirinya terjebak dalam kerasnya realita sebagai pemuda tanpa uang, pekerjaan, maupun koneksi, yang harus memutar otak demi menghidupi adik perempuannya.
Di tengah himpitan utang dan cibiran orang-orang yang meremehkannya, sebuah aplikasi aneh bernama "Toko Dewa Tiga Alam" tiba-tiba terinstal secara paksa di ponsel bututnya.
Aplikasi tersebut menjual berbagai barang supranatural dan keajaiban dari dimensi para dewa, namun ironisnya, semua benda ajaib itu hanya bisa dibeli jika Jiang Ming memiliki uang.
Alih-alih menjadi pahlawan super, Jiang Ming menggunakan kecerdasan dan insting bisnisnya untuk memanfaatkan barang ajaib termurah demi membangun kekayaan dari nol, perlahan memutarbalikkan nasibnya dari seorang pengangguran rendahan menjadi sosok yang mengendalikan kekuatan Tiga Alam di dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Lalat Pengerat
Srek srek srek.
Suara resleting tas ransel tua ditarik hingga tertutup rapat di dalam kamar yang pengap itu.
Jiang Ming mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar kontrakan kumuh itu untuk terakhir kalinya.
Tidak ada barang berharga lain yang dia bawa selain beberapa helai pakaian bersih dan peralatan melukisnya.
Dia meninggalkan kunci kamar itu tergeletak begitu saja di atas kasur lipat yang sudah tipis.
'Selamat tinggal kehidupan yang menyedihkan, aku tidak akan pernah merindukan tempat ini,' batin Jiang Ming dengan tekad bulat.
Tap tap tap.
Langkah kakinya menggema ringan di lorong yang sempit dan gelap itu.
Sejak meminum Pil Pembentuk Tulang Besi Fana, tubuh Jiang Ming terasa seringan kapas namun sekuat baja padat.
Setiap tarikan napasnya terasa lebih panjang dan pandangan matanya jauh lebih tajam dari manusia normal mana pun.
Dia berjalan keluar dari gang berdebu itu dan langsung menyetop sebuah taksi yang lewat di jalan raya.
Brak.
Pintu taksi ditutup dan Jiang Ming duduk bersandar di kursi penumpang dengan nyaman.
"Ke mana tujuan kita, anak muda?" tanya supir taksi itu sambil melirik dari kaca spion.
"Ke kompleks Apartemen Mawar Biru di distrik pusat kota, Paman," jawab Jiang Ming tenang.
Supir taksi itu sedikit menaikkan alisnya mendengar nama tempat yang sangat bergengsi tersebut.
Apartemen Mawar Biru adalah kawasan hunian elit yang terkenal dengan sistem keamanan tingkat tingginya.
Hanya para pebisnis sukses dan orang kaya baru yang sanggup menyewa apalagi membeli unit di sana.
Satu jam perjalanan berlalu dan taksi itu akhirnya berhenti di depan lobi utama bangunan pencakar langit yang mewah.
Jiang Ming membayar ongkos taksinya dan melangkah masuk ke dalam lobi yang berlantaikan marmer mengkilap.
Udara dingin dari pendingin ruangan sentral langsung menyambut wajahnya.
Dia berjalan menuju meja resepsionis panjang tempat seorang agen properti wanita sedang berdiri merapikan brosur.
"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" sapa agen wanita bernama Nona Chen itu dengan senyum profesional.
Meski begitu, mata Nona Chen diam-diam menilai jaket usang dan tas ransel lusuh yang dipakai oleh Jiang Ming.
"Aku sedang mencari unit apartemen satu kamar tidur yang siap huni hari ini juga," ucap Jiang Ming tanpa basa-basi.
"Sistem keamanannya harus yang terbaik, aku tidak suka diganggu oleh orang asing."
Nona Chen tersenyum canggung dan menelan ludahnya pelan.
"Kami kebetulan memiliki satu unit di lantai lima belas dengan pemandangan kota, Tuan."
"Tapi harga sewanya adalah delapan puluh ribu yuan per tahun, dan Anda harus membayar deposit jaminan sebesar dua puluh ribu yuan di awal," jelas Nona Chen dengan nada sedikit ragu.
Dia sengaja menekankan jumlah angka seratus ribu yuan itu agar pemuda miskin di depannya ini sadar diri.
Namun, Jiang Ming sama sekali tidak berkedip atau menunjukkan ekspresi terkejut.
Dia dengan santai merogoh saku celananya dan mengeluarkan kartu debit bank miliknya.
"Gesek semuanya sekarang untuk masa sewa satu tahun penuh," perintah Jiang Ming meletakkan kartu itu di atas meja marmer.
Mata Nona Chen langsung terbelalak lebar melihat respons pemuda berpakaian lusuh tersebut.
"B-baik, Tuan! Saya akan segera memproses dokumen sewanya sekarang juga!" ucap Nona Chen dengan nada yang seketika berubah menjadi sangat hormat.
Dia buru-buru mengambil mesin EDC dan memasukkan kartu milik Jiang Ming.
Titt.
Struk transaksi panjang keluar dari mesin itu, menandakan pembayaran seratus ribu yuan telah berhasil ditarik tanpa masalah.
Jiang Ming melihat notifikasi yang masuk ke ponsel bututnya dengan perasaan campur aduk.
[Bank Jinhai: Saldo Anda telah terpotong sebesar 100.000 Yuan. Sisa Saldo: 108.380 Yuan.]
'Uang tiga ratus ribu yuanku menyusut drastis dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam,' keluh Jiang Ming dalam hati.
Biaya hidup di lingkungan orang kaya ternyata sama kejamnya dengan di lingkungan kumuh, hanya saja skalanya berbeda.
"Ini kunci akses elektronik Anda, Tuan Jiang. Ada fasilitas kolam renang dan pusat kebugaran di lantai dasar," ucap Nona Chen menyerahkan sebuah kartu emas dengan kedua tangannya.
"Terima kasih."
Jiang Ming mengambil kartu itu dan langsung berjalan menuju lift khusus penghuni apartemen.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai lima belas, menyajikan lorong sepi yang dilapisi karpet tebal nan empuk.
Dia menempelkan kartunya ke pintu unit nomor 1504 dan melangkah masuk.
Ruangan apartemen itu sangat luas, didominasi warna monokrom elegan dengan perabotan mewah yang masih terbungkus plastik tipis.
Jiang Ming menjatuhkan tas ranselnya ke atas sofa kulit yang sangat empuk.
Bruk.
Dia menghempaskan tubuhnya sendiri ke sofa itu dan menatap langit-langit berhias lampu kristal dengan senyum lelah.
"Akhirnya aku punya benteng pertahanan pertamaku sendiri," gumamnya puas.
Namun kepuasan itu langsung terganggu oleh pemikiran pragmatis otaknya.
Uang seratus ribu yuan yang tersisa tidak akan cukup untuk bertahan lama jika dia harus terus berperang melawan Grup Tianyu.
Dia butuh aliran dana baru, dan satu-satunya cara tercepat saat ini adalah kembali menjual lukisan karya Tuan Wu Ming.
Trrrtt trrrtt.
Ponsel bututnya tiba-tiba bergetar keras di dalam saku celananya, membuyarkan lamunannya.
Jiang Ming mengambil ponsel itu dan melihat deretan nomor tidak dikenal memanggilnya.
"Halo? Siapa ini?" sapa Jiang Ming dengan nada datar.
"Tuan Jiang Ming. Ini aku, Su Qingxue dari Galeri Bintang Langit," balas sebuah suara wanita yang sangat dingin dan merdu dari seberang telepon.
Jiang Ming sedikit mengangkat alisnya karena terkejut.
"Nona Su? Dari mana kau mendapatkan nomor ponsel pribadiku?"
"Tentu saja dari formulir kontrak peralihan hak cipta yang kau tanda tangani kemarin," jawab Su Qingxue santai.
"Sebagai perantara seni, kau seharusnya lebih teliti menyembunyikan informasi pribadimu."
Jiang Ming mendecakkan lidahnya pelan, menyadari keteledorannya sendiri.
"Baiklah, aku akui kesalahanku. Jadi, ada urusan apa Nona Su menelepon perantara kecil sepertiku hari ini?"
Terdengar suara helaan napas pelan dari seberang sambungan telepon.
"Lukisan Puncak Tiga Alam karya Tuan Wu Ming telah menyebabkan kegaduhan besar di kalangan elit Jinhai tadi malam."
"Aku memajangnya di ruang VIP galeriku, dan beberapa master fengshui terkemuka nyaris berkelahi memperebutkannya," jelas Su Qingxue dengan nada serius.