Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Balik Langit dan bumi yang Berlubang
Bos yang sudah tidak berdaya itu menceritakan semua yang dia tahu dengan tubuh gemetar. Di bawah bayang-bayang ketakutan yang mencekam terhadap batu magis yang entah dengan cara apa telah diledakkan oleh Leo sebelumnya nyalinya benar-benar telah runtuh. Baru pertama kali dalam hidupnya menyaksikan batu magis bisa meledak, ia kini pasrah sepenuhnya di bawah ancaman batu magis yang telah disulap menjadi bom maut oleh Leo, lalu mulai membuka suara.
"Baiklah, baik... Pertama, kalian pasti tahu soal Elf dan Iblis, bukan?" tanya si bos, memilih untuk mengurai penjelasannya dari akar asal-muasal mereka.
Leo, Cheeta, dan Rheno mengangguk pelan. Bagaimanapun, keseharian mereka sebagai penjarah sisa-sisa perang dari kedua ras tersebut membuat mereka tidak mungkin tidak mengetahuinya.
"Sebenarnya mereka berasal dari dunia yang berbeda," ucap si bos.
"Hah... dunia berbeda?!" seru Cheeta seolah sulit percaya.
"Kamu yakin kamu bukan pecinta buku Narato dan One Pack?" lanjut Cheeta menyindir.
"Akhhh... makanya dengar dulu!" ucap si bos kesal, mencoba meredam dongkol di tengah rasa takutnya yang belum sirna.
"Awalnya aku pun tidak percaya sampai aku dapat buah itu dan memakannya," lanjut si bos berusaha keras meyakinkan mereka.
Ketiga pemuda itu saling bertukar tatap sejenak, lalu sepakat untuk mulai mendengarkan untaian kisah itu sampai selesai.
"Dulu dunia itu sangat indah dan mewah. Apapun ada, seperti kendaraan super cepat dan kereta kuda tanpa kuda. Isekai Phone itu sejenis alat komunikasi kamu bisa bicara dengan orang yang berbeda kota. Intinya sangat praktis dan canggih," lanjut cerita si bos.
Leo, Cheeta, dan Rheno hanya terdiam, terpasung fokus mendengarkan penuturan itu karena untaian kalimatnya memang menyiratkan tanda-tanda kebenaran. Leo sendiri cukup sering menemukan rongsokan Isekai Phone yang telah rusak serta roda-roda tua yang berkarat selama mereka melakukan penjarahan.
Menatap lumat wajah ketiga pemuda itu sejenak, si bos kembali melanjutkan kisahnya, "Entah apa yang terjadi, langit dan bumi kemudian berlubang. Dari lubang di langit dan bumi itulah muncul mereka. Awalnya, hubungan antara manusia dengan mereka baik-baik saja. Tapi seolah dunia kita ini adalah tembok pemisah antara mereka, saat mereka bertemu, pertarungan selalu terjadi bahkan sebelum mereka sempat berkenalan."
"Lubang itu bukan hanya tempat asal-usul mereka. Dari lubang-lubang itu pula energi dari dunia atas dan bawah merembes ke dunia manusia. Energi alam yang diserap dan menjadi bahan sihir adalah energi kedua dunia tersebut yang bocor ke dunia manusia."
Seketika itu juga, ingatan Leo langsung melayang pada kepulan asap pelangi berwarna-warni yang sempat ia saksikan sebelumnya.
Menangkap perubahan ekspresi pada wajah Leo, si bos langsung menebak isi kepala pemuda itu, "Kamu benar, Leo. Energi itulah yang aku maksud. Tapi tidak semua manusia bisa melihat, merasakan, atau menyerapnya. Hanya orang yang memakan buah magis yang bisa melakukannya."
Mendengar hal itu, wajah mereka bertiga kompak mendekat secara serempak, seolah-olah menyadari bahwa inilah momen krusial yang sejak tadi mereka nanti-nantikan.
[ENTER]
"Iya, iya, aku mengerti soal buah magis," si bos menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kesaksiannya.
"Lubang-lubang itu tidaklah satu. Entah berapa jumlahnya dan mereka tersebar di seluruh dunia. Ada kalanya, kedua lubang itu berada di satu garis lurus. Hal itu membuat energi yang naik bertabrakan dengan energi yang turun. Tabrakan energi tersebut membuat alam di sekitar berubah, dan di antara pepohonan di sana, ada beberapa yang memiliki kontaminasi sempurna dari energi atas dan bawah. Lalu, tumbuhlah buah magis itu."
Mereka bertiga memperlihatkan raut wajah yang sangat puas setelah menyerap seluruh cerita si bos. Sadar akan situasi tersebut, si bos sengaja berpura-pura sudah menceritakan semua yang ia tahu, padahal ia masih menyembunyikan sebuah rahasia besar.
"Siapa yang suruh berhenti?!" gusar Cheeta. Sejat awal, memang dialah yang paling tidak sabaran di antara mereka.
"Lalu di mana sisa buah yang kamu miliki?!" tanya Cheeta dengan nada yang penuh tekanan intimidasif.
"Ampun... jangan buahku, aku mohon!" si bos meratap pilu. Ratapan itu muncul karena jika buah magis tersebut sampai habis dimakan oleh Leo dan kawan-kawannya, artinya si bos tidak akan bisa menepati janji untuk menyediakan empat buah magis kepada sang pembeli. Konsekuensi dari kegagalan itu akan memaksa si bos membayar ganti rugi yang besar serta mengembalikan uang pembeli hingga dua kali lipat.
"Cepat katakan!" ucap Cheeta sembari melayangkan ancaman.
"Leo...!" Cheeta dan yang lainnya sama sekali tidak mengetahui jalinan masalah rumit yang sebenarnya sedang mengintai si bos.
Dicekam ketakutan yang kian memuncak, si bos akhirnya membeberkan lokasi persembunyian buah tersebut. Ia juga sengaja melontarkan ancaman menakutkan tentang keberadaan organisasi mafia yang jauh lebih besar dengan harapan Leo dan kawan-kawan akan gentar lalu mengurungkan niat untuk mengambilnya. Sebab pada kenyataannya, si bos sendirilah yang akan tamat dan menghadapi petaka besar dari mafia raksasa alias pihak pembeli jika buah itu sampai raib.
Malam telah larut. Berbekal informasi berharga dari mulut si bos, mereka bertiga bergerak kompak mendatangi tempat persembunyian rahasia tersebut demi mengamankan ketiga buah magis yang tersisa.
“Satu saja sudah jutaan, ini ada tiga,” ucap Cheeta, yang akhirnya membeberkan niatannya yang terpendam. Pantas saja, dialah yang sedari tadi paling tidak sabaran dan menggebu-gebu saat menginterogasi si bos di gubuk.
Di sisi lain, Leo tampak berjalan dalam keheningan, merenungkan ancaman tentang organisasi mafia besar yang dilontarkan si bos sebelumnya. Leo tidak pernah tahu bahwa ancaman itu sebenarnya hanyalah gertakan pura-pura untuk menakut-nakuti mereka. Namun, jika ancaman itu nyata, maka bukan uanglah yang mereka butuhkan saat ini melainkan kekuatan untuk bertahan hidup. Pikiran itulah yang berkecamuk di kepala Leo sepanjang perjalanan.
Langkah kaki mereka akhirnya membawa ketiganya tiba di lokasi tujuan. Suasana di sana tidak terlalu ramai dan hanya dijaga oleh beberapa orang saja. Hal yang sangat wajar, karena sebagian besar anak buah si bos telah dikerahkan untuk memburu Leo hingga ke gubuk mereka semalam, dan kini semuanya telah tewas. Memanfaatkan kelengahan akibat jumlah penjaga yang minim, Leo, Cheeta, dan Rheno berhasil menyelinap masuk ke dalam tanpa kendala berarti.
Setelah berhasil mencapai bunker bawah tanah yang dingin, mereka menemukan sebuah kotak hitam yang tersimpan rapi. Begitu Leo membuka penutupnya, benar saja, ketiga buah magis itu terbaring di sana. Sayangnya, satu dari tiga buah tersebut ternyata sudah dalam kondisi rusak dan membusuk.
“Ahh… apa ya kamu lakukan, pasti tangan mu itu beracun,” ucap Cheeta yang kecewa, namun sedetik kemudian ia langsung melanjutkan angan-angannya yang melambung tinggi.
“Bayangkan sebuah gedung mewah dengan dapur estetik, Leo Leo kamarmu akan menggantung hanya ninja dan kamu yg bisa masuk! Dan kandang anjing dengan pohon besar di luar untuk Rheno,” ucapnya lagi sambil menyindir Rheno, yang memang dikenal jarang pulang dan lebih suka menghabiskan malam dengan tidur di bawah keheningan pohon besar.
Rheno mengacungkan jempol ke arah Cheeta sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum tanda setuju.
“Woy, Rheno! Beneran kamu setuju!?” seru Leo, sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya yang satu itu.
Leo kemudian menepuk pundak keduanya. Ia terpaksa menghancurkan angan-angan indah tersebut dengan menolak mentah-mentah usulan yang dilontarkan Cheeta.
“Dengar kalian semua!,” ucap Leo, yang seketika membuat wajah berseri-seri di hadapannya mendadak lenyap tak bersisa.
“Jika ucapan bos benar maka buka uang yg kita butuhkan, aku mengerti keinginan kalian, tapi khusus untuk mu Rheno maaf aku tidak mengerti,” jelas Leo dengan raut wajah yang sangat serius.
Seketika itu juga, rasa kagum mendalam muncul di hati Cheeta. Ia mengira Leo secara heroik rela membuang kesempatan untuk memiliki banyak uang demi keselamatan mereka bersama.
Namun, bukan Leo namanya jika tidak membuat Cheeta kecewa hanya dalam beberapa detik setelah rasa kagum itu muncul. Sembari mengambil dua buah magis yang tersisa, Leo menyodorkannya ke hadapan mereka dengan air mata yang mulai menetes dari sudut matanya.
“Leo kamu!” ucap Cheeta, seketika disergap rasa kecewa yang mendalam melihat pemandangan itu.
“Bukan, tidak, maksudku ini air mata sedih kerna membayangkan hari hari sulit kalau kita tidak punya kekuatan,” jawab Leo dengan cepat, berusaha ngeles dari situasinya.
Meskipun tingkah Leo sempat goyah, Cheeta dan Rheno bisa melihat kesungguhan yang nyata di balik sorot matanya. Mereka pun akhirnya luluh dan setuju dengan keputusan tersebut.
“Baik, ayo kita keluar dari sini dulu,” ucap Cheeta, yang langsung disambut dengan anggukan mantap dari Rheno.
Namun, belum sempat mereka melangkah, lengan Leo bergerak cepat menghadang dada mereka berdua.
“Tunggu,” ucap Leo.
Saat kedua sahabatnya menoleh dengan heran, ia melanjutkan, “aku mau kalian langsung memakan nya disini.”
“Aku tidak yakin, mungkin setelah keluar dari sini akan berubah pikiran dan menyesal kemudian,” jelas Leo, dengan sorot mata yang kini terlihat begitu yakin dan teguh akan keputusannya.
Mendengar ketegasan Leo, mereka berdua tidak membantah lagi. Cheeta dan Rheno langsung memakan buah magis tersebut di dalam kegelapan ruangan itu hingga habis.
Setelah selesai, mereka segera bergegas pergi meninggalkan bunker bawah tanah tersebut dan kembali menuju gubuk. Setibanya di sana, tanpa berniat membangunkan si bos yang tampak tertidur pulas dalam kondisi masih terikat erat di tiang kayu, ketiganya langsung bergerak cepat membereskan barang-barang berharga dan mempersiapkan perbekalan yang cukup. Tepat saat jam menunjukkan pukul dua dini hari, di bawah keheningan malam yang pekat, mereka melangkah pergi untuk berkelana. Petualangan besar mereka pun resmi dimulai.
Bersambung