Indonesia
NovelToon NovelToon
Sweet & Psycho

Sweet & Psycho

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta setelah menikah / Psikopat itu cintaku / Perjodohan
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Pena kira

Axcelino Pierce tampak sempurna, namun raganya terpecah oleh dua kepribadian yang saling berebut kendali akibat trauma masa kecil. Menyaksikan rumahnya terbakar dan sang kakak tewas mengenaskan tepat didepan mata, membuat Amnesia traumatis yang mengunci kehidupannya. Penyakit itu mustahil disembuhkan medis, hingga ia lelah terus berbagi kehidupan.

Kehadiran Sora Kyne yang ceria menjadi titik balik. Sora bukan hanya satu-satunya orang yang sanggup meredam gejolak kepribadian ganda Axcelino, tetapi juga bertekad membantunya mengingat kembali masa lalu yang terkunci demi kesembuhan sahabat barunya itu.

Namun, misteri besar menanti, bagaimana cara mereka membongkar skandal konspirasi di balik kematian sang kakak yang janggal, sekaligus membuka kunci rahasia kesembuhan Axcelino, sebelum kepribadian gelapnya mengambil alih selamanya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena kira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran Aneh Axcel

# Lamaran Aneh Axcel #

"Axcel, stop ya! Nggak usah bahas pacaran atau nikah segala!" tegur Sora pedas sambil memperingatkan pria di sampingnya. Bagi Sora, hal sakral seperti itu sama sekali tidak lucu untuk dijadikan bahan candaan. Lagipula, untuk apa coba Axcel menyebut imbalan bantuan dengan istilah mahar? Kalau orang lain sampai dengar, pasti langsung salah paham!

Dan benar saja. Baru juga diucapkan, kesalahpahaman itu langsung menampakkan wujudnya secara nyata di depan mata mereka.

Sora dan Axcel sama sekali tidak menyadari kalau Audry sudah berdiri tepat di belakang mereka sejak tadi. Dengan suara tergagap dan mata berkaca-kaca, wanita itu menuntut penjelasan. Ia syok berat, seolah tidak siap menerima kenyataan kalau cinta pandangan pertamanya sedang membicarakan mahar pernikahan dengan cewek lain.

"Eh... eh... bukan gitu! Kamu salah dengar!" sergah Sora gagap, namun sedetik kemudian ia menepuk jidatnya sendiri. "Wait... tunggu deh. Kenapa aku malah repot-repot klarifikasi ke kamu ya? Nggak penting banget! Lagian, mau Axcel melamar aku atau nggak, emangnya ada masalah sama kamu? Kamu ini siapa sih?"

Sora berdiri dengan raut wajah muak. Ia menatap Audry dengan tatapan sombong, lalu mendorong pelan bahu kiri wanita itu menggunakan jari telunjuknya. Entah mengapa, setiap kali berhadapan dengan Audry, suasana hati Sora langsung anjlok ke titik terendah. Namun tanpa disangka-sangka, saat Sora mendorong bahunya sedikit lebih kuat, Audry malah langsung oleng dan jatuh terduduk di lantai!

Melihat pemandangan yang makin memanas, mahasiswa-mahasiswi yang tadinya cuma berani mengintip dari balik rak buku kini langsung mengerumuni mereka bertiga.

Sora memutar bola matanya jengah, melipat kedua tangan di dada. Sekarang ia terpaksa menonton Audry yang mulai mengeluarkan bakat aktingnya, pura-pura tertindas dan merasa jadi korban paling tersakiti. Audry bahkan menangis tersedu-sedu, membuat Sora sedikit tersentak kaget. Efek drama itu langsung bekerja, anak-anak kampus mulai bersimpati pada Audry dan menyudutkan Sora. Kasak-kusuk liar pun terdengar, menuduh Sora merebut Axcel dari Audry, padahal Audry katanya sudah merelakan Easton demi mengejar cinta Axcel kembali.

"Easton, kamu di mana sih?! Cepat ke perpustakaan!" bisik Sora panik, mengetik pesan di ponselnya, lalu menoleh ke samping. "Hey, Axcel! Kamu nggak ada niat mau klarifikasi apa? Pemuja-pemujamu ini bener-bener merepotkan tahu nggak!"

Axcel cuma tersenyum tipis. Ia sama sekali tidak merasa terusik dengan kehebohan yang diciptakan Audry. Pria itu malah santai menarik tangan Sora agar kembali duduk di kursi. Lagipula, bukankah seru menonton pertunjukan gratis seperti ini?

"Betul banget kata mu! Kapan lagi bisa nonton pentas drama live kayak begini?" sahut sebuah suara tiba-tiba dari belakang mereka. "Kira-kira judul dramanya apa ya...? Gimana sih rasanya diperebutkan begitu? Seumur-umur Ibu belum pernah lho rasanya direbutin cowok. Boro-boro direbutin, satu aja nggak ada yang inisiatif mendekat. Padahal Ibu lumayan cantik kan ya?"

Axcel dan Sora serentak menoleh ke belakang. Ternyata, bukan cuma Axcel yang sedang menikmati drama tersebut. Ibu Lidya, sang penjaga perpustakaan, ikut nengok dari balik meja tugasnya sembari asyik mengunyah kacang garing dan meratapi nasib kejombloannya!

Sora dan Axcel setengah mati menahan tawa, berusaha keras tidak merusak adegan dramatis yang sedang dibangun Audry dengan sangat epik itu.

"Sora! Apa-apaan kamu ini?!" suara berat tiba-tiba menerobos kerumunan. Easton muncul dengan wajah berang. "Lihat Audry sampai menangis di lantai, tapi kamu diamkan saja! Kamu bully Audry lagi, ya?! Udah aku jelaskan dari kemarin-kemarin, Audry sudah menyadarkanku Sora. Aku sudah nggak mengejar Audry lagi, jadi tolong jangan bully dia lagi, Please..., aku sudah terima kamu, Sora!"

Easton membantu Audry berdiri, mengusap air mata di pipi wanita itu dengan perhatian. Sora makin mual melihat pemandangan di depannya. Ia memalingkan wajah sembari berdecih pelan. Karena tak mendapat jawaban dari Sora, Easton berinisiatif memegang pergelangan tangan Sora dan berusaha menariknya pergi dari sana. Sora yang risih langsung mencoba melepaskan cengkeraman kuat Easton. Axcel yang tadinya berniat membantu dengan menarik tubuh Sora kembali duduk, mendadak mengurungkan niatnya.

Bakkk!

Tanpa ampun, Sora menginjak kuat-kuat kaki kanan Easton menggunakan hak sepatunya! Easton menjerit kesakitan dan refleks melepas pegangannya.

"Haaah lebay banget deh... Axcel! Ayo kita hitung maharmu di tempat lain saja! Di sini banyak orang nggak berkepentingan yang hobi ikut campur!" seru Sora keras-gara.

Tanpa membuang waktu, Sora melangkah pergi, melewati celah sempit di antara tubuh Audry dan Easton dengan gaya angkuh. Axcel menyusul tepat di belakangan Sora sembari memasang wajah tengil, sengaja mengejek Easton yang cuma bisa meringis menahan sakit tanpa mampu mencegah mereka.

"Kamu sekarang sudah berani melawan aku terang-terangan ya, Axcel?" gerutu Easton sambil bertolak pinggang, menatap punggung sepupunya yang makin menjauh. "Lihat saja nanti! Dari dulu kamu itu cuma seorang pecundang, dan sampai kapan pun bakal tetap jadi pecundang!"

Anak-anak kampus yang tadinya berkerumun perlahan membubarkan diri, siap menyebarkan gosip panas terbaru ke seluruh penjuru fakultas.

 

"Hari ini panas banget ya... Tapi mendingan deh, lebih tenang daripada di dalam perpustakaan tadi," ujar Sora begitu mereka tiba di taman belakang kampus yang sepi.

Sora duduk di bangku taman, lalu menoleh pada Axcel. "By the way... Gimana caranya aku bantu kamu? Apa kita perlu bikin jelangkung atau ritual pemanggilan setan gitu biar bisa ngobrol sama Ino? Agak serem sih, tapi jujur aku penasaran banget pengen coba!"

Sora tersenyum lebar, memamerkan ide gila yang sebenarnya sudah lama ingin ia coba sejak kecil namun tidak pernah terlaksana karena takut.

Axcel mengerutkan keningnya, menatap Sora tidak percaya. "Ritual pemanggilan setan? Memangnya bisa? Emang ada hal semacam itu?"

Sebagai pria yang selalu skeptis dan rasional, Axcel cuma bisa tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Bagi Axcel, di dunia ini cuma ada hal-hal nyata yang bisa dibuktikan secara ilmiah. Sangat bertolak belakang dengan Sora yang percaya pada keberadaan dunia gaib.

"Ya kalau kita nggak coba sendiri, mana kita tahu itu beneran berhasil apa nggak? Emangnya kamu punya ide lain, hah?" tantang Sora.

Axcel menghela napas panjang. Dipikir-pikir, ia memang meminta bantuan Sora karena sudah kehabisan cara untuk berkomunikasi dengan alter egonya itu. Akhirnya, Axcel setuju untuk mencoba ide aneh tersebut.

"Nanti malam kamu ajak aku ke rumahmu ya," kata Sora bersemangat. "Soalnya kan yang ketempelan itu kamu, jadi harusnya 'hantu' wanita itu sembunyinya di rumahmu kan? Logikanya gitu!"

Kebetulan nanti malam Sora ada jadwal panitia untuk menata aula pameran seni kampus. Orang tuanya sudah memberi izin untuk pulang terlambat. Celah waktu itulah yang dimanfaatkan Sora agar orang tuanya tidak curiga. Axcel pun menyambut ide itu dengan antusias. Jika cara ini berhasil, ia bisa secepatnya menginterogasi Ino dan lepas dari bayang-bayangnya selamanya.

 

"Waaaah... Rumahmu mewah banget, Cel! Halaman seluas ini pasti bikin abang kurir pingsan kalau disuruh jalan kaki antar paket. Ini rumah apa istana sih?!"

Axcel tersenyum melihat Sora yang melongokkan kepalanya keluar jendela mobil pink milik gadis itu. Sora tampak terkagum-kagum melihat kompleks kediaman keluarga Pierce yang sangat luas dan tertata rapi. Gadis itu tak henti-hentinya memuji atraksi air mancur warna-warni di tengah kebun yang tersorot lampu taman yang estetik.

Mereka berdua akhirnya pulang ke rumah Axcel mengendarai mobil Sora. Axcel yang berada dalam kesadaran penuh terpaksa meninggalkan motor kesayangannya di kampus hanya karena Sora takut dibonceng naik motor.

"Mau aku ajak house tour nggak?" tawar Axcel santai. "Kalau malam gini, pencahayaan di beberapa ruangan bentuknya mirip kastil tua. Soalnya rumah inti ini dibangun Kakek buat mewujudkan impian Mamaku yang pengen tinggal di kastil dan diperlakukan kayak princes."

Sora tentu saja menyambut tawaran itu dengan gembira. Mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong-lorong megah. Sora sibuk menanyakan berbagai ornamen unik dan barang antik yang terpajang di setiap sudut. Dalam hati, Sora mengagumi sosok Kakek Axcel yang begitu menyayangi putrinya.

Namun langkah Sora mendadak terhenti di depan sebuah foto keluarga berukuran besar yang terpajang di ruang keluarga.

"Tunggu sebentar, Axcel..." Sora menunjuk gambar seorang pria tua di foto itu. "Lelaki yang duduk di tengah ini... bukannya ini Profesor Antony Wistlen?! Tunggu, maksudnya gimana? Jangan-jangan beliau ini Kakekmu... atau malah Ayahmu? Terus dua pria dewasa di sebelahnya ini siapa? Yang mana Ayahmu?"

Axcel tertawa pelan melihat reaksi syok Sora. Dengan senang hati, ia menjelaskan foto keluarga besar tersebut. Di foto itu, Axcel baru berusia tujuh tahun, bersanding dengan kakak perempuannya yang berusia enam belas tahun.

"Profesor Antony itu Kakekku, Ayahnya Mama," terang Axcel. "Dan lihat yang pakai jas abu-abu tua itu? Nah, itu foto pacarmu waktu umur sembilan atau sepuluh tahunan. Dia anak kedua dari Pamanku. Di sebelahnya itu saudara-saudara kandungnya."

Axcel melirik Sora sambil berseloroh, "Coba perhatikan baik-baik. Aku sama pacarmu itu dari kecil sudah kelihatan banget bedanya kan? Jauh lebih tampanan aku kan? ."

Sora masih berdiri membeku dengan mulut sedikit terbuka. Fakta bahwa Profesor Antony yang tegas adalah Kakek Axcel, dan Easton adalah kakak sepupu Axcel sendiri, benar-benar membuat otaknya syok.

"Hei, malah melamun," Axcel mengguncang pelan bahu Sora.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.06 WIB. Tiba-tiba, suara melengking Nyonya Evelyn terdengar dari arah pintu depan, memanggil nama Sora dengan heboh. Karena ruang tamu dan ruang keluarga dibangun tanpa sekat, Nyonya Evelyn bisa langsung menangkap sosok mungil Sora yang berdiri di samping putranya.

Nyonya Evelyn langsung mengajak Sora untuk makan malam bersama. Wanita anggun itu mengaku sengaja pulang lebih awal dari urusan bisnisnya demi bisa menyambut Sora. Suasana makan malam berlangsung sangat hangat dan akrab, meski tanpa kehadiran Profesor Antony yang sedang ada tugas di luar kota. Namun, saat Nyonya Evelyn mendadak menyinggung soal 'mahar' yang akan dikirimkan besok pagi, Sora langsung tersedak hebat! Apalagi Nyonya Evelyn kemudian menawari Sora untuk menginap dan tidur di kamar almarhumah kakak perempuan Axcel.

"Maaaa... Jangan godain Sora lagi. Hari ini seisi kampus sudah bikin dia pusing," potong Axcel menyelamatkan Sora. "Malam ini aku sama Sora cuma mau bahas hal penting soal Ino. Nanti kalau sudah selesai, aku yang antar Sora pulang. Mama habis ini langsung istirahat ya, jangan gangguin kita. Jangan pakai alasan bawain kue ke kamar cuma buat kepo!"

Beberapa saat kemudian...

Klek.

Mereka berdua kini sudah berada di dalam kamar tidur Axcel. Sibuk menata lilin-lilin kecil di atas lantai dan menyebarkan kelopak bunga mawar di sekelilingnya untuk persiapan "ritual" versi Sora.

Saat mereka sedang fokus menyeimbangkan lilin, pintu kamar yang sengaja tidak dikunci mendadak terbuka! Nyonya Evelyn melangkah masuk membawa nampan berisi dua gelas susu hangat.

"Ups! Kalian lagi sibuk ya...?" Nyonya Evelyn terbelalak kaget melihat pemandangan di depannya. "Mawar? Lilin? Waaah, romantis banget! Ini susunya diminum dulu ya... Maaf ya Mama mengganggu momen romantis kalian. Apa mau Mama bawakan cemilan juga ke kamar?"

Axcel memijat pangkal hidungnya, sementara wajah Sora mendadak merah padam.

"Mama... Please...," desah Axcel pasrah.

Setelah Nyonya Evelyn akhirnya keluar sambil senyum-senyum sendiri, Axcel mengunci pintu kamar rapat-rapat. Mereka berdua kembali duduk berhadapan di tengah lingkaran lilin dan taburan mawar.

"Oke, perlengkapannya sudah siap," bisik Sora dengan yakin menatap lilin yang menyala di tengah kegelapan kamar. "Sekarang... Gimana cara mulainya, Cel?"

"Mana aku tahu, kan kamu yang punya ide gila ini," balas Axcel pelan.

Sora menarik napas dalam-dalam, lalu memegang kedua pergelangan tangan Axcel. "Coba kamu merem. Pikiranmu harus tenang. Panggil nama Ino di dalam hatimu... Bayangkan sosok dia..."

Axcel memejamkan matanya, menuruti instruksi Sora. Suasana kamar mendadak berubah menjadi sangat hening dan mencekam. Hanya ada suara helaan napas mereka berdua dan pendar cahaya lilin yang menari-nari di dinding.

Satu menit... Dua menit... Tidak terjadi apa-apa.

"Cel? Kamu ngerasa sesuatu nggak?" bisik Sora cemas.

Bibir Axcel menyunggingkan senyuman manis yang teramat mengerikan.

"Sora..." DEG!

⭐⭐⭐⭐⭐

WADUH KIRAVERS! Bencana besar! 

siapa sosok yang tersenyum manis mirip psycho ngincer mangsa itu? Apakah ritual dadakan ini bakal beneran berhasil bikin Axcel dan Ino saling tukar pesan, atau justru malah memicu kekacauan baru yang makin parah?!

Yuk, tumpahkan teori gokil kalian di kolom komentar sekarang, Kiravers! 💬👇

Jangan lupa ya Kiravers:

TEKAN TOMBOL LIKE & LOVE (❤️) buat support Pena kira!

SIMPAN CERITA INI KE LIBRARY kalian biar tidak ketinggalan Notifikasi Bab 18!

FOLLOW PROFILKU untuk dapat update cerita paling cepat!

Terima kasih banyak sudah setia membaca dan sampai jumpa di bab selanjutnya! Happy reading, Kiravers! 🚀🔥

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!