Indonesia
NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34 BAYANGAN MASA LALU

Matahari menjelang siang bersinar dengan sangat terik, memanggang atap genteng tanah liat rumah peninggalan orang tua Zaki. Meski begitu, rimbunnya pohon mangga di pekarangan depan rumah sukses memberikan naungan yang teduh, menyaring hawa panas menjadi semilir angin yang memanjakan tubuh.

Hari ini, suasana di rumah Zaki terasa jauh lebih santai dan lengang dari biasanya. Tidak ada rutinitas berangkat pagi buta menuju kaki bukit, tidak ada ayunan sabit, dan tidak ada pikulan karung goni. Masa panen raya kopi yang menguras tenaga selama beberapa hari terakhir telah resmi usai dengan sukses. Zaki, Pak Doyo, dan Wiwi telah bekerja keras bahu-membahu menuntaskan masa panen tersebut, disusul dengan penjualan biji kopi ceri merah ke tengkulak pasar desa yang menghasilkan keuntungan luar biasa memuaskan.

Sebagai bentuk apresiasi pada tubuhnya sendiri, Zaki memutuskan untuk mengambil hari libur total. Pemuda itu kini duduk bersandar dengan santai di kursi kayu jati tua di teras rumahnya. Ia mengenakan kaus oblong putih kesayangannya dan celana pendek selutut. Rambutnya masih sedikit basah sehabis mandi, menyebarkan aroma sabun batangan yang segar.

Di atas meja kayu di hadapannya, terhidang segelas kopi hitam panas hasil panen kebunnya sendiri, disandingkan dengan sepiring pisang goreng hangat yang tadi pagi sengaja diantarkan oleh Wiwi, sebelum calon istrinya itu kembali pulang untuk membantu ibunya.

Zaki menyesap kopinya perlahan. Matanya menerawang menatap hamparan dedaunan kering yang berserakan di pekarangannya. Senyum tipis tak henti-hentinya menghiasi wajah tegapnya. Pikirannya melayang pada persiapan pernikahannya yang kini tinggal menghitung hari.

Berkat bantuan dan solidaritas warga desa yang luar biasa, segala kebutuhan hajatan telah mulai tertata. Surat-surat pengantar dari KUA telah diurus, bahan-bahan makanan telah dicicil oleh ibu-ibu tetangga, dan bahkan kerangka tenda sederhana sudah mulai disiapkan di samping rumah Pak Doyo.

Semuanya berjalan terlalu mulus, terlalu indah, hingga Zaki sesekali merasa sedang berada di dalam sebuah mimpi panjang. Ketenangan yang ia rengkuh saat ini adalah hadiah terbesar dari Tuhan setelah belasan tahun ia harus hidup berdampingan dengan teror dunia tak kasat mata.

.....

.....

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan tongkat kayu yang beradu dengan jalanan berbatu memecah lamunan indah Zaki.

Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu pagar pekarangan. Dari balik bayang-bayang pohon jambu di pinggir jalan, muncullah sesosok pria sepuh yang berjalan tertatih namun memancarkan wibawa yang luar biasa besar.

Pria itu mengenakan pakaian adat Jawa sehari-hari; kemeja surjan bermotif garis-garis cokelat, kain jarik yang dililitkan rapi di pinggang, serta sebuah blangkon yang menutupi rambut putihnya. Tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat kayu jati berukir naga yang membantunya menopang tubuh rentanya.

Dia adalah Mbah Joyo.

Mbah Joyo bukanlah tetangga biasa. Beliau adalah sesepuh desa yang paling dihormati, pinihsepuh yang dianggap memiliki pemahaman mendalam tentang adat istiadat, sejarah desa, serta ilmu titen (pengetahuan membaca tanda alam dan kalender kuno Jawa).

Hampir seluruh warga desa selalu meminta petunjuk atau hari baik kepada Mbah Joyo sebelum melangsungkan hajatan besar, mulai dari membangun rumah, menanam padi, hingga menggelar pernikahan.

Melihat kedatangan sesepuh desa tersebut, Zaki buru-buru meletakkan cangkir kopinya. Ia bangkit berdiri dan setengah berlari menghampiri Mbah Joyo di ujung pekarangan.

"Assalamu'alaikum, Mbah Joyo. Monggo, Mbah, pinarak dhateng nglebet, (Silakan, Mbah, duduk di dalam,)" sapa Zaki dengan sangat sopan, menundukkan punggungnya dan menyalami tangan keriput pria sepuh tersebut dengan takzim.

Mbah Joyo membalas salam Zaki dengan deheman pelan. Wajahnya yang dipenuhi kerutan dalam tampak sangat datar, tak ada senyum basa-basi yang biasa ditunjukkan oleh warga desa lainnya setiap kali bertemu Zaki akhir-akhir ini. Sorot matanya yang mulai rabun justru menatap Zaki dengan tajam, seolah sedang menelanjangi batin pemuda tersebut.

"Wa'alaikumsalam, Le Zaki. Ora usah nang njero, nang teras kene wae wis cukup," (Wa'alaikumsalam, Nak Zaki. Tidak usah di dalam, di teras sini saja sudah cukup,) jawab Mbah Joyo dengan suaranya yang berat dan serak.

Zaki mengangguk patuh. Ia menuntun Mbah Joyo berjalan menuju teras dan mempersilakannya duduk di kursi kayu yang paling nyaman.

"Mbah Joyo tunggu sebentar nggih, Zaki buatkan teh hangat dulu ke belakang," ucap Zaki, berniat melangkah ke dapur untuk memuliakan tamunya.

Namun, belum sempat Zaki memutar tubuhnya, Mbah Joyo mengangkat tongkat kayunya sedikit, menahan langkah pemuda itu.

"Ora usah repot-repot, Le. Aku mrene dudu arep mertamu utawa ngombe wedang. Ana perkara wigati sing kudu tak omongke marang kowe awan iki," (Tidak usah repot-repot, Nak. Aku ke sini bukan mau bertamu atau minum minuman. Ada perkara penting yang harus aku bicarakan kepadamu siang ini,) cegah Mbah Joyo. Nada bicaranya mengisyaratkan sebuah urgensi yang tak bisa ditunda.

Zaki mengurungkan niatnya. Perasaan ganjil tiba-tiba menyusup ke dalam rongga dadanya, namun ia berusaha menepisnya. Ia menarik sebuah kursi kayu lain dan duduk berhadapan dengan Mbah Joyo. Posisi duduk Zaki sedikit menunduk, menjaga adab andhap asor (sopan santun) seorang anak muda kepada orang yang dituakan.

"Wonten kaperluan napa, Mbah? Menawi wonten ingkang saged Zaki bantu, insya Allah Zaki lampahi, (Ada keperluan apa, Mbah? Kalau ada yang bisa Zaki bantu, insya Allah Zaki lakukan,)" tanya Zaki lembut.

Mbah Joyo tak langsung menjawab. Pria sepuh itu merogoh saku surjannya yang dalam. Dari balik kain tersebut, ia mengeluarkan sebuah buku kecil yang halamannya sudah menguning dan sampulnya terkelupas di sana-sini.

Itu adalah buku Primbon Jawa kuno, catatan warisan leluhur yang berisi perhitungan neptu, hari baik, dan ramalan weton.

Mbah Joyo meletakkan buku Primbon itu di atas meja kayu, tepat di sebelah cangkir kopi Zaki. Ia menatap Zaki dengan sorot mata yang menyiratkan sebuah keprihatinan yang teramat dalam.

"Le Zaki... Kowe ngerti ta, nek wong Jawa arep rabi kuwi ana tata carane? Ora mung waton seneng, ora mung waton padha-padha gelem. Kabeh kudu diitung wetone, ben slamet anggone mbangun bale wisma," (Nak Zaki... Kamu mengerti kan, kalau orang Jawa mau menikah itu ada tata caranya? Tidak hanya asal suka, tidak hanya asal sama-sama mau. Semua harus dihitung wetonnya (hari lahirnya), supaya selamat dalam membangun rumah tangga,) Mbah Joyo memulai pembicaraannya dengan perlahan, mengeja setiap kata agar meresap ke telinga Zaki.

Mendengar arah pembicaraan itu, Zaki menarik napas panjang tanpa suara. Rahangnya mengetat secara refleks. Pembahasan tentang weton, perhitungan nasib, dan takdir yang digariskan oleh sebuah buku kuno perlahan-lahan memancing memori traumatisnya tentang dunia mistis.

"Inggih, Mbah. Zaki paham kalau itu bagian dari adat," jawab Zaki diplomatis, berusaha menjaga nada suaranya tetap netral.

"Wingi sore," lanjut Mbah Joyo, tangannya yang gemetar mengelus sampul buku Primbon tersebut, "Pak Doyo teka menyang omahku. Dheweke njaluk tulung marang aku kanggo ngitungake weton-mu lan weton-e Wiwi, sekalian nggolekake dina sing paling apik kanggo akad nikahmu sasi ngarep." (Kemarin sore, Pak Doyo datang ke rumahku. Dia minta tolong kepadaku untuk menghitungkan weton-mu dan weton-nya Wiwi, sekalian mencarikan hari yang paling baik untuk akad nikahmu bulan depan.)

Zaki terdiam. Ia baru tahu kalau calon mertuanya itu masih sangat memegang teguh tradisi pencarian hari baik. Namun, Zaki memaklumi hal itu sebagai bentuk kehati-hatian seorang bapak.

"Lalu, bagaimana hasilnya, Mbah?" tanya Zaki tenang, berharap perbincangan ini segera selesai dengan sekadar penentuan tanggal.

Alih-alih menjawab dengan senyuman, wajah Mbah Joyo justru berubah menjadi sangat kelam. Hawa di teras rumah Zaki mendadak terasa sedikit pengap, seolah angin siang itu enggan berhembus melewati mereka.

"Le... Sakwise tak itung bola-bali, tak cocogake karo neptu dina lan pasaran kelahiranmu kalihan Wiwi... asile ala banget, Le. Ala siala-sialane," (Nak... Setelah aku hitung berkali-kali, aku cocokkan dengan neptu hari dan pasaran kelahiranmu dengan Wiwi... hasilnya buruk sekali, Nak. Seburuk-buruknya kesialan,) ungkap Mbah Joyo, suaranya bergetar menahan kengerian dari apa yang ia baca di buku tersebut.

Jantung Zaki berdegup, namun bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang tiba-tiba mendidih di dasar perutnya.

Mbah Joyo membuka lembaran buku Primbon tersebut, menunjuk pada deretan aksara Jawa yang tak dipahami oleh Zaki.

"Weton-mu kuwi neptune ketemu raseksa, dene Wiwi neptune ketemu geni. Yen digabungake, itungane tiba ing pethi lan pegat pati. Iki dudu itungan sing sembarangan, Le. Iki pantangan gedhe kanggo wong Jawa!" (Weton-mu itu neptunya bertemu raksasa, sedangkan Wiwi neptunya bertemu api. Kalau digabungkan, hitungannya jatuh di peti dan cerai mati. Ini bukan hitungan yang sembarangan, Nak. Ini pantangan besar untuk orang Jawa!)

Mbah Joyo menatap Zaki lekat-lekat, menyalurkan peringatan yang luar biasa mengerikan.

"Yen pernikahan iki tetep mbok peksa, yen kowe lan Wiwi tetep nekat ijab kabul... Primbon iki nyebutake bakal ana nyawa sing dadi tumba. Bakal ana salah siji saka kowe utawa Wiwi sing nemoni pepati kanthi cara sing tragis sakwise rabi. Pati sing teka tanpa diundang, pati sing teka kanthi ngeri," (Kalau pernikahan ini tetap kamu paksa, kalau kamu dan Wiwi tetap nekat ijab kabul... Primbon ini menyebutkan akan ada nyawa yang jadi tumbal. Akan ada salah satu dari kamu atau Wiwi yang menemui kematian dengan cara yang tragis setelah menikah. Kematian yang datang tanpa diundang, kematian yang datang dengan mengerikan,) ancam Mbah Joyo, suaranya kini mendesis bagaikan ular yang memberikan peringatan mematikan.

Di dalam dada Zaki, amarah dan rasa muak yang selama ini ia kubur dalam-dalam kembali meledak.

Kematian tragis?

Kutukan?

Tumbal nyawa?

Kata-kata itu seolah menjadi ejekan bagi perjuangan Zaki selama ini.

Belasan tahun Zaki hidup dalam belenggu ketakutan karena ancaman dunia gaib. Ia telah berhadapan langsung dengan wujud-wujud iblis, ia telah merelakan perlindungan mistis terkuat dari Sekar Mayang, dan ia telah membuang seluruh ramalan masa depannya bersama Nisa yang dirajut oleh para lelembut.

Zaki telah bersusah payah membersihkan batinnya, merebut kembali kemerdekaannya sebagai manusia ber-Tuhan, dan menata ulang kewarasannya.

Dan sekarang, di saat ia akhirnya menemukan kedamaian murni bersama wanita biasa, di saat ia hanya ingin hidup normal tanpa bayang-bayang klenik... seorang pria tua datang membawakannya sebuah buku lusuh dan kembali mengancamnya dengan kematian tragis?

Zaki menarik napas panjang, menahan rahangnya agar tidak mengeras terlalu kentara. Ia memaksa dirinya untuk tetap menatap Mbah Joyo dengan pandangan yang tenang, meski di dalam kepalanya, ia ingin berteriak dan merobek buku Primbon tersebut.

"Mbah Joyo," ucap Zaki, suaranya terdengar jauh lebih rendah dan berat dari sebelumnya. Senyumnya pudar, digantikan oleh ekspresi ketegasan yang mutlak.

"Ngapunten ingkang kathah, Mbah. Ngapunten sakderengipun menawi ucapan kula mangke kirang mranani penggalih panjenengan," (Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Mbah. Mohon maaf sebelumnya jika ucapan saya nanti kurang berkenan di hati Anda,) Zaki membuka penolakannya dengan menggunakan bahasa Krama Inggil tingkat tinggi sebagai bentuk penghormatan terakhirnya pada usia sang sesepuh.

Mbah Joyo mengernyit, merasakan dinding penolakan yang tebal dari aura pemuda di hadapannya.

"Zaki sangat menghargai kedatangan Mbah Joyo ke sini. Zaki menghormati niat baik Mbah yang mengkhawatirkan keselamatan kami. Tapi..." Zaki memberi jeda, membiarkan keheningan mengambil alih sejenak untuk menanamkan ketegasannya.

"Zaki tidak akan membatalkan pernikahan ini, Mbah. Zaki dan Dek Wiwi akan tetap menikah bulan depan."

Mata Mbah Joyo membelalak lebar. Tangannya yang keriput mencengkeram erat tongkat kayunya hingga buku-buku jarinya memutih.

"Astaghfirullah, Le! Kowe iki ngremehake petungane leluhur apa piye?! Iki urusan nyawa, Le! Kowe wani nantang mbebaya sing wis katon cetha?!" (Astaghfirullah, Nak! Kamu ini meremehkan perhitungan leluhur apa bagaimana?! Ini urusan nyawa, Nak! Kamu berani menantang bahaya yang sudah terlihat jelas?!) hardik Mbah Joyo, suaranya meninggi, tak menyangka peringatan sakralnya akan ditolak mentah-mentah oleh seorang pemuda kemarin sore.

Zaki menggelengkan kepalanya pelan, sorot matanya tak goyah sedikit pun.

"Zaki tidak meremehkan leluhur, Mbah. Tapi Zaki jauh lebih takut meremehkan kekuasaan Gusti Allah," balas Zaki dengan argumen tauhid yang sangat kuat, sebuah argumen yang baru ia temukan kembali setelah lepas dari Sekar Mayang.

"Mbah Joyo... Zaki sudah terlalu lama hidup di bawah bayang-bayang ketakutan gaib. Zaki sudah pernah merasakan bagaimana rasanya hidup disetir oleh ramalan, oleh bisikan-bisikan yang menakut-nakuti masa depan. Dan Zaki sudah muak dengan itu semua, Mbah. Zaki muak diancam oleh hal-hal yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang."

Zaki mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke sepasang mata rabun Mbah Joyo.

"Mati, urip, rezeki, lan jodho... sedaya niku wewenange Gusti Allah, Mbah. Sanes wewenange buku primbon, sanes wewenange itungan weton," (Mati, hidup, rezeki, dan jodoh... semua itu wewenangnya Allah, Mbah. Bukan wewenangnya buku primbon, bukan wewenangnya hitungan weton).

Kalimat Zaki meluncur bagaikan pedang yang membelah dogma mistis yang selama puluhan tahun dipegang teguh oleh sang sesepuh.

"Kalau memang Zaki atau Dek Wiwi ditakdirkan meninggal besok, lusa, atau setelah menikah... itu murni karena takdir dari Sang Pencipta, bukan karena weton kami nggak cocok. Zaki sudah memilih Wiwi, dan Zaki akan bertanggung jawab penuh atas pilihan Zaki di hadapan Tuhan, bukan di hadapan primbon."

Penolakan Zaki yang begitu logis, religius, namun sekaligus menohok itu membuat Mbah Joyo terdiam seribu bahasa.

Pria sepuh itu kehilangan kata-kata. Dadanya naik turun menahan amarah yang bercampur dengan rasa tersinggung, namun ia tak bisa membantah kebenaran absolut tentang kekuasaan Tuhan yang dilontarkan Zaki.

Dengan tangan bergetar karena emosi yang tertahan, Mbah Joyo mengambil kembali buku Primbonnya, memasukkannya ke dalam saku surjan dengan kasar. Ia meraih tongkat kayunya, lalu bangkit berdiri dengan susah payah.

Zaki ikut berdiri, bermaksud membantu Mbah Joyo, namun pria sepuh itu menepis pelan uluran tangan Zaki dengan tongkatnya.

"Ya wis. Yen kowe pancen wis wangkal lan rumangsa luwih pinter tinimbang para leluhur... aku ora bisa meksa," (Ya sudah. Kalau kamu memang sudah keras kepala dan merasa lebih pintar daripada para leluhur... aku tidak bisa memaksa,) ucap Mbah Joyo dengan nada dingin dan penuh kekecewaan.

Mbah Joyo melangkah menuruni undakan teras.

Namun, sebelum pria sepuh itu mencapai pekarangan, ia memutar tubuhnya setengah, menatap Zaki dengan pandangan yang membuat bulu kuduk orang awam pasti akan meremang ngeri.

"Nanging elinga, Le... Yen tembe mburi ana musibah gedhe sing nibani kluwargamu, yen ana eluh lan getih sing tumetes amarga kelancanganmu dina iki... Aja tau kowe nyalahake sapa-sapa. Sing nandur, bakal ngundhuh, Le!" (Tapi ingatlah, Nak... Kalau di kemudian hari ada musibah besar yang menimpa keluargamu, kalau ada air mata dan darah yang menetes karena kelancanganmu hari ini... Jangan pernah kamu menyalahkan siapa-siapa. Siapa yang menanam, bakal menuai, Nak!)

Setelah menjatuhkan sumpah peringatan terakhirnya yang begitu mengerikan, Mbah Joyo memutar tubuhnya dan berjalan tertatih meninggalkan pekarangan rumah Zaki, menghilang di balik kerimbunan pohon jambu.

Zaki berdiri mematung di terasnya.

Matanya terus menatap ke arah perginya Mbah Joyo hingga sosok sepuh itu tak terlihat lagi.

Angin siang berhembus cukup kencang, menggugurkan beberapa helai daun mangga kering yang jatuh tepat di ujung kaki Zaki.

Ancaman tentang kematian tragis itu terus berdengung di telinganya.

Namun, Zaki merapatkan rahangnya. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

Ia benar-benar mengabaikan ucapan Mbah Joyo.

Baginya, itu hanyalah takhayul kuno yang diciptakan untuk menakut-nakuti kebahagiaan manusia yang sudah tidak memiliki pelindung gaib seperti dirinya sekarang.

Zaki telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah lagi tunduk pada kutukan dan ramalan mistis apa pun.

Ia telah menjadi manusia rasional yang hanya bersandar pada doa dan usahanya sendiri.

Zaki kembali duduk di kursinya, meraih cangkir kopinya yang kini sudah mendingin, dan menenggaknya hingga habis.

"Aku nggak akan biarkan omong kosong ini menghancurkan pernikahanku dengan Wiwi," gumam Zaki pada dirinya sendiri.

"Nggak akan pernah!"

"Aku nggak akan pernah lagi tunduk pada ramalan kuno apapun! ramalan bangsa perewangan manapun! Nggak akan!"

"JIKA MEMANG ADA KEMATIAN YANG DATANG, ITU SEMUA MURNI KUASA ALLAH!"

Ucapan terakhir dari mulut Zaki, tanpa dia sadari...

Telah menggema sangat keras di alam dunia gaib yang selalu mendampingi alam dunia nyata.

Dan, di tengah siang yang terik itu, dengan penuh keyakinan dan rasionalitas yang menggunung, Zaki tanpa sadar telah menutup rapat pintu kewaspadaannya.

Ia tak pernah tahu, bahwa penolakannya pada hari itu akan menjadi awal mula dari sebuah penyesalan paling mematikan...

YANG TIDAK AKAN PERNAH BISA DIA TEBUS SEUMUR HIDUPNYA.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang sekelas Nisa punya 2 perewangan 3 sama punya haruma saja perjuangan melawan santet kiriman yuli apalagi yg orang biasa ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ada pepatah yang terkenal dari dulu, Kak:

"Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin yang menerpa."

Mungkin itu pepatah yang sesuai sama kondisi kebatinan dan kemampuan Nisa yang sekarang. Kalau di awal-awal seri, Nisa kan cuma menghadapi bangsa lelembut kelas rendah (sosok Gilang misalnya). Nah, sekarang yang dihadapi adalah rasa dendam dari manusia yang bersekutu dengan iblis.
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh seperti itu ya serem juga ya dua santet kutukan tsb
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: klo nggak baca karya ini aku mana tau yg namanya santet
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
6 tahun di waktu yg sama

Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berburuk sangka pada manusia saja tidak dianjurkan, apalagi berburuk sangka pada Tuhan, yulll.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
astaga yullll barbar skali, udah kek preman cewek
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
wkwkwk asyuuu wong cerbon


aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤭🤭🤭

Makanya saya juga nulis dialognya natural aja, Kak... Wkwkwk... Biar terasa semirip mungkin sama kondisi nyatanya...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cirebon kota yang biasa disebut sebagai kota udang, kota nya sunan gunung jati.

Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.

Selamat Datang di Cirebon Yuli.
Irman
kesedihan yang datang berturut-turut untuk Yuli...😢
semangat yul💪💪
Irman: rasanya sakit hati ini, ka othor sukses buat pembaca serasa masuk dalam cerita... 👍👍👍
total 2 replies
Irman
aku juga pasti sedih jika d posisi keluarga Wiwi,,,😢
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak Irman...

Saya juga pas menulis naskah BAB ini, benar-benar meresapi bagaimana rasanya kalau saya yang jadi Yuli... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh sadissss

seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak...

Sebenarnya, dari semua seri TIRAKAT yang aku tulis, TIRAKAT 6 ini yang akan paling banyak pesan moralnya buat para pembaca, buat saya juga...

Pesan moral tentang rasa cinta, pengorbanan, dendam, amarah, kasih sayang, dan keluarga... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak cinta Zaky ke Wiwi tulus... itu knpa dia mengabaikan omongan mbah joyoo

yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kaaak... 🥰🥰🥰

Semoga nggak bosen-bosen ya Kak bacanya... hehehe...

Insya Allah, rencana saya buat TIRAKAT ini, The Last Chapternya ada di TIRAKAT 9.
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh Zakk ada yg nangis darah kna keegoisan kmu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh si mbok juga jadi korban ya? pantes Yuli dendam.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak... Karena Si Mbok pas hari dimana tragedi itu terjadi, beliau juga ada di dapur yang sama dengan Dek Wiwi... Hanya saja tidak banyak diekspos keberadaan Si Mbok, fokusnya memang ke Zaki dan Dek Wiwi saja...

Bahkan Yuli, Kakaknya Dek Wiwi pun, dari awal kisah pertemuan Zaki-Dek Wiwi, dirinya sama sekali nggak muncul satu dialogpun.

Sengaja baru dimunculkan sekarang... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh dendam kna mungkin mikir gara-gara zaky ngeyel dek wiwi jadi korban kali ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TEPAT!!! 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Setiap orang ada ujian nya masing-masing Zak... ada nya ujian itu kna kita mampu melewati nya. Ujian kamu, ujian Nisa berbeda kna kekuatan N kemampuan kalian juga berbeda, yg terpenting jngn lupa tetap bersyukur N bersabar ya Zakk

( duhh aku komen apa sihh) next aja ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🥰🥰🥰

Komen Kakak bisa jadi Quote of The Night, nih... Mwehehehe...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku lupa Sekar Arum masa lalu nya. klo Dayang putri sama sekarang mayang aku inget masa lalu mereka. perewangan Haruma ini ada pernah di bhs di Tirakat sblom nya kah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: ohh itu iya iya aku inget terimakasih udah diingatkan kak
total 7 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti Tirakat nya, Cinta Nisa ke Zaky juga nggak kaleng kaleng. 6 tahun menunggu, bukan mencari tapi menunggu tanpa berburuk sangka. klo jaman sekarang ada kah Seperti Nisa?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mungkin ada... Tapi... Sejuta banding satu kayaknya, Kak... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Tirakat nya Nisa nggak kaleng kaleng Zakk... bukan waktu yg sebentar tapi waktu yang lama, wajar klo nisa bisa seperti itu.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Nggak kebayang gimana kalau seandainya saya beneran jadi Zaki, terus lihat istri sendiri kayak begitu...

Wah... 🤨🤨🤨
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat sembuh Zakk, tenang obat yang sesungguhnya udah kamu miliki
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nisa ketempelan sekarang mayang kek nya wkwkwk jadi nggak pasif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!