Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Hujan deras masih mengguyur Seoul ketika Kim Seokjin kembali ke penthouse mewahnya. Ia melempar jasnya ke sofa, tangan kanannya gemetar hebat bukan karena dingin, melainkan karena sisa adrenalin dari ancaman Xiumin.
"Kecelakaan bisa terjadi kapan saja..."
Kalimat itu bergema di kepalanya seperti gong yang dipukul berulang kali. Jin tahu Xiumin tidak main-main. Jika mereka gagal menjatuhkan Jin melalui jalur korporat dan digital, mereka akan menyerang fisik. Dan target termudah, sekaligus yang paling menyakitkan bagi Jin, adalah Taehyung.
Jin mengambil ponselnya. Ia ingin menelepon Namjoon untuk mengatur pengawalan tambahan bagi Taehyung di kampus, tapi ia sadar itu tidak cukup. Pengawal pribadi bisa disuap atau diakali. Ia butuh seseorang yang memiliki kemampuan fisik setara dengan ahli bela diri, namun juga memiliki otoritas dan jaringan yang tidak bisa ditembus oleh kaki tangan Xiumin.
Ia membutuhkan Park Chanyeol.
Chanyeol bukan sekadar rekan bisnis. Ia adalah "Hyung" dalam arti sebenarnya-seorang mantan agen intelijen militer yang kini memimpin divisi keamanan swasta elit milik grup bisnis keluarganya. Chanyeol dingin, efisien, dan sangat protektif terhadap orang-orang yang ia anggap sebagai "keluarga".
Jin menekan tombol panggil. Hanya dua dering sebelum suara berat dan tenang terdengar.
"Jin-ah? Ada apa? Kau terdengar tidak stabil."
"Yeol-hyung," suara Jin parau. "Aku butuh bantuanmu. Bukan untuk perusahaan. Tapi untuk pribadi."
Di seberang sana, hening sejenak. "Sebutkan."
"Taehyung. Aku perlu kau menjaganya. Hari ini, besok, sampai aku selesai dengan semua kekacauan ini. Xiumin mengancamnya secara implisit di rapat dewan tadi. Mereka akan mencoba 'kecelakaan'."
Chanyeol menghela napas panjang. "Aku tahu posisimu sulit, Jin. Tapi Taehyung bukan anak kecil. Dia ahli bela diri. Dia punya Jungkook dan Jimin."
"Itu tidak cukup!" potong Jin, suaranya naik satu oktaf karena panik. "Musuh kita licik, Hyung. Mereka tidak akan bertarung satu lawan satu di ring. Mereka akan menggunakan racun, tabrakan mobil, atau jebakan yang bahkan ahli bela diri pun tidak bisa hindari jika datang dari titik buta. Aku harus melakukan siaran langsung besok pagi untuk menyelamatkan saham perusahaan. Fokusku akan terpecah. Aku tidak bisa melindungi Tae sambil bertarung melawan serigala di depan kamera."
Keheningan di ujung telepon terasa berat. Jin menahan napasnya, menunggu keputusan Chanyeol.
"Baiklah," akhirnya Chanyeol menjawab, suaranya datar namun tegas. "Aku akan menangani ini secara pribadi. Tidak ada tim lain. Hanya aku. Aku akan memastikan tidak ada satu helai rambut pun di kepala Taehyung yang tersentuh."
Rasa lega yang luar biasa menyergap dada Jin. Air mata hampir menetes, tapi ia menahannya. "Terima kasih, Hyung. Tolong... jangan biarkan dia tahu bahwa ini atas permintaanku. Dia akan merasa bersalah dan menolak. Bilang saja kau sedang melakukan inspeksi keamanan rutin di area kampus atau asrama."
"Dimengerti. Aku akan bergerak sekarang. Jin-ah... fokuslah pada siaran live-mu. Biarkan urusan darah dan besi ini padaku."
Telepon terputus. Jin menatap layar hitam ponselnya, lalu mengepalkan tangannya erat-erat. Sekarang, ia hanya punya satu tugas: menghancurkan Xiumin dan Chen di depan publik besok pagi.
Sementara itu, di asrama universitas, Taehyung sedang membersihkan lukisan abstraknya di studio seni. Suasana sepi, hanya ditemani oleh Jungkook yang sedang berlatih tinju di sudut ruangan dan Jihoon yang membaca buku hukum.
Tiba-tiba, pintu studio terbuka tanpa ketukan.
Seorang pria tinggi besar dengan bahu lebar memasuki ruangan. Ia mengenakan jaket kulit hitam dan kacamata hitam meski di dalam ruangan. Auranya begitu dominan hingga udara di ruangan terasa lebih dingin.
Jungkook segera berhenti berlatih, tubuhnya menegang siap bertarung. Jihoon bangkit dari kursinya, wajahnya waspada.
Taehyung meletakkan kuasnya, menatap pria itu. Ia mengenali wajah itu. Itu Park Chanyeol, rekan bisnis Jin Hyung yang jarang ia temui, namun selalu hadir dalam foto-foto keluarga besar Kim Corp.
"Chanyeol-hyung?" tanya Taehyung bingung. "Apa yang membawa Hyung ke sini?"
Chanyeol menurunkan kacamata hitamnya, menatap Taehyung dengan tatapan tajam namun tidak bermusuhan. "Kim Seokjin mengirimku."
Mendengar nama Jin, tubuh Taehyung menegang. "Ada apa dengan Hyung? Apakah dia baik-baik saja?"
"Dia baik-baik saja," jawab Chanyeol singkat. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya. "Tapi dia khawatir. Sangat khawatir. Jadi, mulai detik ini, aku adalah bayanganmu. Ke mana pun kau pergi, aku ikut. Makan, tidur, kuliah, latihan. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian bahkan untuk ke toilet."
Jungkook mengerutkan kening. "Menjaga? Dari siapa? Kami bisa menjaga V sendiri, Hyung. Kami bertiga-"
"Kalian bagus dalam pertarungan terbuka," potong Chanyeol dingin, matanya menyapu Jungkook dan Jihoon. "Tapi kalian belum pernah menghadapi pembunuh bayaran atau agen intelijen yang dibayar untuk membuat kematian terlihat seperti kecelakaan. Jin tidak mengambil risiko. Dan neither do I."
Jihoon, yang memahami konteks politik keluarga Jin, segera mengerti. Wajahnya pucat. "Ini berkaitan dengan Xiumin Hyung dan ChenHyung, bukan?"
Chanyeol menatap Jihoon sekilas, lalu mengalihkan pandangan kembali ke Taehyung. "Itu bukan urusanmu untuk diketahui detailnya, Park Jihoon. Tugasmu hanyalah tetap menjadi sahabat yang baik. Tugas ku adalah memastikan Taehyung tetap bernapas."
Taehyung menatap Chanyeol lekat-lekat. Ia melihat keseriusan mutlak di mata pria itu. Ini bukan permintaan biasa. Ini adalah perintah perlindungan tingkat tertinggi.
"Apakah Hyung dalam bahaya besar?" tanya Taehyung pelan.
Chanyeol menghela napas, sedikit melunak. "Dia sedang berperang, Tae. Perang yang tidak boleh ia kalahkah. Dan agar ia bisa menang, ia perlu tahu bahwa bagian terpenting dari hidupnya-yaitu kamu-aman. Jadi, jangan buat ini sulit. Jangan coba-coba kabur dariku. Jangan coba-cubah bertindak heroik sendirian. Ikuti instruksiku."
Taehyung menunduk, merasakan beban rasa bersalah yang berat. Jin sedang bertarung mati-matian demi perusahaan, demi nama baik mereka, dan kini Jin bahkan harus meminjamkan "pelindung pribadinya" hanya untuk menjaga adik angkatnya yang dianggap lemah.
"Aku mengerti," bisik Taehyung.
"Bagus," kata Chanyeol. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan cepat. "Mulai sekarang, jadwal kalian berubah. Jungkook, Jimin, Jihoon-kalian tetap bisa bersama Taehyung. Bahkan lebih baik, karena semakin banyak saksi, semakin sulit bagi musuh untuk bertindak. Tapi ingat, jika ada situasi mencurigakan, biarkan aku yang menangani. Jangan jadi pahlawan bodoh."
Jungkook mengangguk, meski masih merasa tersinggung sedikit karena dianggap tidak mampu. Jihoon tampak lega karena Chanyeol tidak melarangnya mendekati Taehyung.
Chanyeol berjalan menuju jendela, mengintip ke bawah melalui celah tirai. Di parkiran bawah, sebuah mobil sedan hitam dengan plat nomor khusus sudah terparkir. Sopirnya adalah salah satu anak buah terbaik Chanyeol.
"Malam ini kita tidak kembali ke asrama," announced Chanyeol tiba-tiba.
"Apa?" tanya Taehyung kaget.
"Terlalu mudah diprediksi. Kita akan pindah ke safe house sementara di distrik Gangnam. Pagar listrik, kamera thermal, dan tim reaksi cepat 24 jam. Kalian bisa belajar di sana. Besok pagi, setelah siaran live Jin selesai dan situasi mereda, kita evaluasi ulang."
Taehyung ingin protes. Ia tidak ingin dikurung. Tapi ia melihat ketegangan di rahang Chanyeol. Pria itu tidak bercanda.
"Baiklah," kata Taehyung pasrah. Ia mengambil tasnya. "Ayo, Kookie. Jihoon, apakah kau mau ikut? Atau lebih baik kau pulang saja malam ini?"
Jihoon menggeleng. "Tidak. Jika V pergi, aku pergi. Aku tidak akan membiarkan V menghadapi ini sendirian, bahkan dengan pengawal sekelas Chanyeol-hyung."
Chanyeol mengangkat alis, terkesan dengan loyalitas Jihoon. "Baik. Siapkan barang-barang penting. Kita berangkat dalam 10 menit. Dan matikan ponsel kalian. Jejak digital adalah jejak kematian di era ini."
Saat mereka bersiap-siap, Taehyung melirik ke arah ponselnya yang sudah dimatikan. Ia berharap Jin tahu bahwa ia aman. Ia berharap esok hari, Jin bisa tersenyum lagi di depan kamera, bebas dari bayangan ketakutan akan kehilangan adiknya.
Di luar, hujan semakin deras, seolah langit turut menangis menyaksikan perpecahan keluarga yang seharusnya saling mencintai, kini saling menghancurkan.