Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 Pertemuan
"Bunda, Aisyah ke rumah sakit dulu!" Aisyah menuruni anak tangga.
"Kerumah sakit lagi?" tanya Rahma, baru 3 jam yang lalu putrinya pulang dan mungkin baru saja tidur sebentar dan sekarang sudah rapi kembali dengan jubah dokternya.
"Dokter Indra masih berada di luar kota, jadi Aisyah harus menggantikan beliau," jawab Aisyah.
"Kamu sehat-sehat ya, Nak, perhatikan makan dan jangan lalai," ucap Rahma yang selalu kasihan dengan putrinya.
"Iya Bunda, kalau begitu Aisyah berangkat dulu. Assalamualaikum!" sapa Aisyah tidak lupa mencium punggung tangan sang Ibu dan juga memeluknya.
"Walaikumsalam," sahut Rahma.
"Kamu sudah benar-benar besar Aisyah, Bunda sangat bangga kepada kamu, kamu anak yang luar biasa, impian kamu akhirnya terwujud menjadi seorang dokter," batin Rahma sebagai seorang ibu dia pasti sangat bahagia melihat keberhasilan putrinya dan bahkan dia selalu memberi dukungan dan ada di balik kesulitan yang dihadapi putrinya.
Grab, sudah menunggu di depan rumah Aisyah, seperti biasa dia selalu terburu-buru.
"Aisyah!" wanita itu tidak jadi membuka pintu mobil ketika dipanggil.
Seorang pria sekitar berusia 50 tahunan itu yang dia lihat tadi malam, keluar dari mobil dan menghampirinya dengan langkah yang terburu-buru.
"Kamu ingin ke rumah sakit?" tanyanya.
"Iya," jawab Aisyah singkat.
"Ini kamu jangan lupa makan, ayah tadi mampir ke Restoran kesukaan kamu," ucap Dharma.
"Ayah yang membelikan atau wanita itu?" tanyanya sedikit menohok yang tidak mengambil paper bag tersebut
"Aisyah......"
"Kenapa ayah tidak sekalian saja meninggalkan Bunda, Aisyah sudah terbiasa hidup seperti ini, ada tidak adanya Ayah di rumah itu sudah terbiasa, lebih baik pergi daripada datang dan pergi dengan sesuka hati," ucap Aisyah.
"Apa yang kamu bicarakan, kamu tidak mengerti permasalahan rumah tangga. Ambil dan bawa ke rumah sakit!" tegas Dharma
Aisyah mengabaikan membuka pintu mobil tetapi ditahan oleh Dharma dengan memegang pergelangan tangan putrinya itu.
"Kenapa kamu bersikap dingin seperti ini kepada Ayah. Kamu putri Ayah dan Ayah melakukan semua untuk kamu, kenapa kamu hanya melihat dari sisi jahat dan tidak melihat dari sisi baik yang Ayah perjuangkan untuk kamu," ucap Dharma.
"Apa yang Ayah perjuangkan untuk Aisyah, semenjak Aisyah mengetahui bahwa Ayah memiliki wanita lain selain Bunda, Aisyah sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepada Ayah, Aisyah sudah mati rasa dan tidak mengharapkan apapun lagi dari Ayah, Aisyah juga kan baik-baik saja jika hidup tanpa Ayah!" tegas Aisyah yang kemudian memasuki mobil benar-benar tidak mengambil makanan itu, ada suara penuh dengan kekecewaan.
Dharma menghela nafas, lagi-lagi ditolak dan hanya melihat kepergian putrinya.
"Mas, Dharma...." Dharma membalikkan tubuhnya.
"Aku akan memberikannya pada Aisyah. Mas, sebaiknya masuk saja dan istirahat," sahut Rahma.
"Kamu tidak pernah berusaha untuk menunjukkan peran ku sebagai Ayah yang bertanggung jawab kepadanya, kamu membiarkanku gagal, mungkin aku gagal menjadi suami, tapi bukan berarti kamu membiarkanku gagal sebagai seorang ayah," ucap Dharma.
"Aisyah sudah dewasa, lebih baik berusaha untuk memahami perasaannya, daripada menuntut banyak darinya," ucap Rahma ngambil paper bag tersebut dari tangan suaminya dan kemudian masuk ke dalam rumah.
******
Kediaman Amira.
Di meja makan itu, terlihat 4 orang sedang sarapan.
"Apa salahnya coba, membelikan kiriman yang telah Amira inginkan, kenapa sih, Kakak itu pelit sekali," Amira sejak tadi tidak berhenti mengoceh karena apa yang dia minta tidak dibelikan oleh Kaivan.
"Amira, Kakak kamu itu baru saja pulang dari Amerika, kamu jangan terus menyalahkannya ini dan itu, kamu ini sudah besar tetapi tetap saja seperti anak kecil," sahut Lidya.
"Mama, Kak Kaivan tidak peka sebagai seorang Kakak, tidak pernah mengingat adiknya dan kalau saja tidak dijemput tepat waktu di bandara sudah pasti marah-marah," sahut Amira.
"Kalian ini bersaudara dan seharusnya akur-akur, tidak ribut seperti ini," sahut Toni geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya dan sementara Kaivan sejak tadi hanya diam saja menikmati sarapannya.
Bahkan keluhan yang dilontarkan adiknya itu tidak mengubah ekspresinya, tetap datar dan tenang.
"Assalamualaikum!"
Di tengah keluarga harmonis menikmati menikmati sarapan, terdengar suara begitu lembut.
"Sahabatku......" Amira begitu excited ketika melihat kedatangan Aisyah.
Lidya geleng-geleng kepala dengan putrinya yang terlalu lebay.
"Om, Tante!" Aisyah dengan ramah menyapa kedua orang tua tersebut dan mencium punggung tangan Lidya dan Toni secara bergantian.
Kepala Kaivan terangkat melihat Aisyah, tatapan mata Kaivan langsung tertuju pada dua bola mata yang indah itu, bola mata yang cantik memberikan cahaya pada wajahnya yang terlihat teduh, senyumnya yang begitu lebar saat berbicara dengan kedua orang tua Amira.
"Tuh, Mama dengar apa yang Amira katakan tidak bohong, Amira sudah kelelahan di dalam ruang IGD dan buru-buru ke Bandara untuk menjemput Kakak dan pada kenyataannya Kakak justru tidak menghargai dan tidak membelikan oleh-oleh kepada Amira," Amira lagi-lagi kesal, membuat mereka hanya tertawa dengan geleng-geleng kepala.
"Kaivan, kamu tidak ingin menyapa Aisyah!" tegur Toni.
Aisyah melihat ke arah Kaivan yang tanpa dia sadari sejak tadi menatap dirinya.
"Kak!" sapa Aisyah tersenyum.
Kaivan hanya merespon mengangguk kecil, mengalihkan pandangannya dan kembali melihat sarapannya.
"Hmmmm, Tante saya ingin menjemput Amira, Amira harus menemani saya, jadi maaf sekali harus mengganggu sarapannya," ucap Aisyah merasa tidak enak.
"Kamu bawa saja Aisyah, dari tadi mulutnya tidak berhenti merocos, kepala Tante benar-benar sakit, gendang telinga Tante sudah pasti pecah karena mendengar, suaranya," sahut Lidya.
"Mama!" kesal Amira.
"Ayo Amira, kita langsung pergi nanti kita telat!" ajak Aisyah.
"Oke!" sahut Amira berdiri dari tempat duduknya dan langsung berpamitan pada keluarganya.
"Kalian hati-hati," sahut Toni melihat kedua anak gadis itu bergenggaman tangan yang benar-benar sangat dekat pergi keluar rumah membuat keduanya geleng-geleng kepala.
Lidya menyenggol suaminya dengan arah matanya tertuju pada Kaivan yang ternyata melihat kepergian keduanya. Lidya tersenyum penuh maksud.
*****
Aisyah dan Amira terlihat sama-sama memasuki mobil Amira dengan posisi Amira yang duduk di kursi pengemudi dan Aisyah duduk di sebelahnya.
"Kamu tahu tidak Aisyah, saat kamu mengobrol dengan mama dan papa. Kak Kaivan sejak tadi memperhatikan kamu, hmmmm sepertinya dia itu benar-benar mengagumi kamu, dia itu menyukai kamu secara diam-diam!" goda Amira
"Kamu mulai lagi deh," sahut Aisyah kesal.
"Aku serius tahu, aku itu sangat mengenal siapa Kakaku, dia itu sangat sibuk dengan pekerjaan, tidak ada wanita yang dekat dengannya dan memang dasar dia tidak mudah tertarik dengan wanita manapun itu, tetapi saat kita sering bersama, dia itu selalu memperhatikan kamu secara diam-diam, apalagi jika bukan dia itu memiliki ketertarikan kepada kamu," ucap Amira meyakinkan sahabatnya itu.
"Jangan melebih-lebihkan perkataan," sahut Aisyah
"Aisyah, kita itu berteman dari kecil, dari Tk sudah bersama, kamu sudah mengenal keluargaku dan begitu juga dengan Kak Kaivan, bukankah wajar saja jika pertumbuhan kamu dari kecil sampai dewasa secara tidak langsung diikuti oleh kak Kaivan, jadi sudah pasti dia sangat mengetahui bagaimana luar dan dalamnya kamu, kepribadian kamu dan aku yakin itu yang membuatnya kagum sama kamu dan diam-diam memiliki rasa ketertarikan kepada kamu, hanya saja merasa tidak enak kepadaku karena kamu sahabatku," ucap Amira.
"Buruan cepat nyetir nanti kita terlambat!" tegas Aisyah yang tidak tertarik mendengar perkataan temannya membuat Amira menghela nafas.
Bersambung.....
suaminya loh ....pengantin baru looh