Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM GACHA RAJA KULINER

SISTEM GACHA RAJA KULINER

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Galang Kurniawan, seorang pedagang makanan kecil bernasib sial yang hidupnya selalu jalan di tempat. Di malam terburuk dalam hidupnya ketika gerobaknya dihancurkan dan ia hampir menyerah, Galang tiba-tiba membangkitkan Sistem Kuliner Acak yang memaksanya berjualan di lokasi-lokasi aneh dengan hadiah gacha yang fantastis. Dimulai dari berjualan di rumah sakit, Galang harus menghadapi berbagai macam pelanggan baru, persaingan bisnis yang kotor, koki arogan yang meremehkannya, hingga tantangan memasak bahan-bahan langka dari sistem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi kamar kos Galang yang pengap.

Galang duduk bersila di atas kasur lipatnya sambil menatap layar ponsel yang layarnya sudah retak di banyak sisi.

Matanya tidak berkedip melihat deretan angka lima juta rupiah yang masih utuh di aplikasi m-banking miliknya.

"Ini bukan mimpi kan?" gumam Galang sambil mencubit pipinya sendiri dengan cukup keras.

Aw.

Rasa sakit yang menjalar di pipinya membuktikan bahwa semua kejadian semalam benar-benar nyata.

Ia kini memiliki modal yang cukup untuk memulai lembaran baru sebagai pedagang kaki lima yang sebenarnya.

"Sistem, coba buka fitur ruang penyimpanan," ucap Galang pelan di dalam kamar yang sepi itu.

Sring.

Sebuah layar biru transparan muncul di hadapannya menampilkan kotak-kotak kosong bercahaya seperti di dalam permainan video.

Galang mengambil sebotol kecap hitam premium dari sudut kamarnya dan berniat menyimpannya.

Ia hanya perlu memikirkan benda itu masuk, dan dalam sekejap botol kecap di tangannya menghilang tanpa jejak.

Botol kecap itu kini muncul di dalam salah satu kotak kosong di layar biru tersebut.

"Gila, ini benar-benar sihir ruang dan waktu," ucap Galang sambil tertawa kecil karena merasa takjub.

"Kalau begini caranya, aku bisa menyimpan berkarung-karung beras dan telur tanpa perlu takut busuk atau dimakan tikus."

Galang segera memasukkan semua sisa bahan masakannya ke dalam ruang penyimpanan dimensi tersebut.

Setelah kamarnya rapi, ia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke bengkel gerobak langganannya.

Satu jam kemudian, Galang sudah berdiri di depan bengkel kayu milik Pak Yadi.

"Pak Yadi, saya mau merombak total gerobak saya ini hari ini juga," kata Galang sambil menunjuk gerobak reyotnya.

Pak Yadi yang sedang menggergaji kayu menghentikan pekerjaannya dan menatap Galang dengan heran.

"Merombak total? Kamu punya uang dari mana Lang?" tanya Pak Yadi dengan nada meremehkan.

"Kemarin saja kamu menawar harga kayu penyangga sampai tiga jam baru mau bayar."

Galang tersenyum lebar lalu mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribuan dari saku celananya.

"Ini uang mukanya Pak, saya ingin gerobak ini dicat ulang warna putih bersih," jelas Galang dengan mantap.

"Kacanya diganti baru yang lebih tebal, rodanya diganti ukuran besar, dan pasang lampu LED yang terang di sekelilingnya."

Pak Yadi langsung mengambil uang itu dengan mata berbinar dan sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat.

"Siap Bos Galang, kalau uangnya lancar begini, sore nanti gerobaknya sudah jadi seperti baru!" seru Pak Yadi bersemangat.

Sambil menunggu gerobaknya dikerjakan, Galang pergi ke pusat perbelanjaan terdekat.

Ia membeli tiga potong kemeja polos berwarna hitam dan dua buah celemek masak tebal yang terlihat profesional.

Ia tidak ingin lagi melayani pelanggan dengan kaus oblong pudar yang membuatnya terlihat seperti gembel jalanan.

"Penjual makanan itu dinilai dari kebersihannya dulu sebelum rasanya," batin Galang saat bercermin di ruang ganti toko.

"Kalau penampilanku rapi, orang tidak akan ragu membayar tiga puluh lima ribu untuk sepiring nasi goreng."

Sore harinya pukul empat, Galang kembali memarkirkan gerobaknya di trotoar sebelah Halte Bus Trans Utama.

Brum. Ciiit.

Suara rem motor tuanya terdengar berdecit saat ia menempatkan gerobak itu di posisi yang sama seperti kemarin.

Namun kali ini, pemandangannya sangat berbeda dari malam sebelumnya.

Gerobak Galang kini terlihat sangat mencolok dengan cat putih mengkilap dan lampu LED terang yang melingkar di atapnya.

Galang sendiri mengenakan kemeja hitam yang dimasukkan rapi ke dalam celana bahan, lengkap dengan celemek cokelat tua.

Ia terlihat seperti seorang koki kafe mahal yang sedang melakukan demonstrasi masak di pinggir jalan.

Trak trak trak.

Galang mulai menata peralatan masaknya dengan gerakan yang jauh lebih percaya diri.

Baru saja ia menyalakan kompor untuk memanaskan wajan, seorang pria paruh baya bertubuh gempal menghampirinya.

Pria itu memakai kaus kutang putih dan sarung yang dililitkan di pinggangnya, dengan wajah yang terlihat sangat marah.

"Heh anak muda, kau ini siapa berani-beraninya buka lapak di sini?" tegur pria itu dengan suara serak yang lantang.

Galang menoleh dan mengenali pria itu sebagai Mang Udin.

Mang Udin adalah penjual nasi goreng gila yang lapaknya berada sekitar lima puluh meter dari halte bus ini.

"Selamat sore Pak, saya Galang, saya baru mulai jualan di sini sejak kemarin malam," jawab Galang dengan sopan.

Brak.

Mang Udin memukul etalase kaca baru Galang dengan telapak tangannya yang besar dan kasar.

"Pantas saja daganganku semalam sepi parah dan cuma laku lima porsi!" bentak Mang Udin dengan mata melotot.

"Ternyata ada anak ingusan yang berani merebut pelanggan setiaku di wilayah ini!"

Galang mundur selangkah untuk menjaga jarak aman dari pria yang sedang tersulut emosi itu.

"Maaf Mang Udin, saya tidak merebut pelanggan siapa-siapa," bantah Galang dengan nada tenang.

"Trotoar ini fasilitas umum, siapa saja berhak berjualan di sini selama menjaga kebersihan dan ketertiban."

"Lagi pula rezeki sudah ada yang mengatur, pembeli bebas memilih mau makan di mana saja."

Wajah Mang Udin semakin memerah mendengar jawaban Galang yang terdengar seperti mengguruinya.

"Kau berani menceramahiku anak muda?" desis Mang Udin sambil menunjuk tepat ke depan hidung Galang.

"Asal kau tahu saja, aku sudah jualan di jalanan ini sejak kau masih mengompol di celana!"

"Aku kenal semua preman dan petugas keamanan di wilayah ini."

Mang Udin meludah ke tanah tepat di sebelah roda gerobak Galang yang baru diganti.

Cuih.

"Kalau malam ini kau masih berani buka lapak di sini, jangan salahkan aku kalau gerobak sok mewahmu ini tinggal arang," ancam Mang Udin.

"Mending kau kemasi barang-barangmu sekarang dan cari tempat jualan lain!"

Galang mengepalkan tangannya di bawah celemek, berusaha menahan amarah yang mulai naik ke kepalanya.

Ia baru saja terbebas dari preman pasar kemarin, dan sekarang ia harus berhadapan dengan preman berkedok sesama pedagang.

"Saya akan tetap berjualan di sini Mang, terserah Mamang mau bilang apa," jawab Galang dengan suara tegas yang tidak goyah.

"Kalau Mamang berani macam-macam, saya tidak akan segan lapor polisi atas tuduhan pengrusakan."

Mang Udin tertawa keras mendengar ancaman lapor polisi dari Galang.

"Polisi katamu? Coba saja lapor kalau kau punya bukti!" ejek Mang Udin sambil berkacak pinggang.

Belum sempat perdebatan panas itu berlanjut, suara klakson mobil memecah ketegangan di antara mereka berdua.

1
Dhewa Shaied
lanjut thor
Khalita Aazahra
lanjut
Wega Luna
perlu dicoba tuh ,,,aku suka daging bekicot yg disalah itu waktu hamil dulu bisa habis 10 tusuk langsung makan , berarti nasi goreng ala seafood yh
Nissa Safira: Bener juga sih... ayam lebih mahal dari bekicot 🤣 Oke deal, nanti kalau Galang bagi resep Nasi Goreng Bekicot aku share di sini. Mbak yang pertama cobain di rumah ya, kabarin kalau bocil-bocil pada ketagihan🤣🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!