Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Langkah kaki Salma berdetak nyaring, bergema di sepanjang koridor lantai paling atas gedung kantor pusat yang megah. Dengan blazer krem desainer berpotongan elegan, rok pensil senada, dan tas kulit impor yang menyangkut di lengannya, wanita muda itu berjalan dengan dagu terangkat tinggi. Wajahnya yang dipoles riasan tebal memancarkan rasa percaya diri yang berlebihan. Bagi Salma, setiap orang yang berselisih jalan dengannya harus melihat bahwa ia adalah istri dari seorang manajer senior seorang nyonya yang tetap berkelas dan kaya raya meski bisnis swalayannya sedang diterpa gosip miring.
Di sampingnya, Bian berjalan dengan langkah yang jauh berbeda. Pria setengah baya itu membungkuk sedikit, kemeja dan jas terbaiknya terasa sangat sesak menekan dadanya. Pelik kepalanya berdenyut-denyut, dan telapak tangannya dingin berbintik keringat. Setiap kali staf kantor berbisik-bisik seraya melirik ke arah mereka, jantung Bian serasa berhenti berdetak.
"Mas, kamu kok jalannya lemes banget sih?" bisik Salma penuh teguran, menyenggol lengan Bian dengan sikutnya. "Tegak dong! Kita ini mau ketemu direksi, mereka pasti mau kasih kita dana bantuan atau penyelesaian masalah toko. Kamu itu manajer senior di sini, jangan bikin malu aku di depan anak buah kamu!"
Bian tidak menjawab. Ia hanya menelan ludah yang terasa sekeras batu. Tenggorokannya kaku.
Pintu jati besar berukir elegan di ujung koridor pintu Ruang Rapat Utama Dewan Komisaris terbuka lebar. Seorang sekretaris berwajah dingin membungkuk formal tanpa sedikit pun mengumbar senyum. "Pak Bian, Bu Salma. Silakan masuk. Dewan komisaris dan jajaran direksi sudah menunggu."
Salma melangkah masuk terlebih dahulu dengan senyum manis yang dipaksakan, disusul Bian yang melangkah lunglai.
Suasana di dalam ruang rapat utama terasa begitu mencekam. Meja kayu oval berukuran raksasa itu dikelilingi oleh belasan pria dan wanita bersetelan jas gelap. Di ujung meja, duduk Pak Kusuma Komisaris Utama perusahaan distributor yang dikenal sangat tegas dan dingin. Di sampingnya, beberapa direksi memegang bundel dokumen tebal, sementara sebuah layar proyektor besar di dinding menampilkan slide-slide berisi potongan berita media sosial, spanduk segel swalayan, hingga laporan keuangan yang memerah total.
"Selamat pagi, Pak Kusuma, Bapak-Bapak Direksi yang saya hormati," sapa Salma dengan suara dibuat-buat seanggun mungkin. Ia bermaksud menarik kursi di samping Bian untuk duduk.
"Berdiri di sana, Bu Salma. Pihak manajemen tidak memberi izin bagi Anda untuk duduk," suara Pak Kusuma menggelegar dingin, memotong niat Salma tanpa ampun.
Salma tersentak. Tangannya yang memegang sandaran kursi seketika kaku. Wajahnya yang tadinya tersenyum manis mendadak menegang kaget.
"M-maksudnya gimana ya, Pak? Saya kan istri sahnya Mas Bian, manajer senior di sini"
"Cukup, Bu Salma!" potong Pak Kusuma keras, mengetukkan pulpen mewahnya ke atas meja. Matanya menatap tajam ke arah Bian yang berdiri mematung di samping istrinya. "Pak Bian, apakah Anda sadar alasan kenapa Anda dipanggil ke ruang rapat tertinggi ini pagi hari ini?"
Bian menundukkan kepalanya dalam-dalam. "S-saya... saya menduga ini berkaitan dengan masalah di toko swalayan saya, Pak..."
"Bukan cuma masalah toko swalayan Anda, Bian!" sela Pak Hendra, Direktur Operasional, seraya membanting sebuah bundel laporan ke meja hingga menimbulkan suara dentuman nyaring. "Masalah toko Anda yang gulung tikar, karyawan yang resign massal karena gajinya tertunggak, hingga kasus utang piutang ratusan juta yang melibatkan nama perusahaan kita sudah menjadi skandal nasional. Nama baik distributor utama yang kita bangun belasan tahun tercoreng total gara-gara ulah pribadi Anda!"
Salma yang tidak terima langsung menyela dengan nada ketus. "Tunggu dulu ya, Pak! Ini kan masalah bisnis pribadi Mas Bian! Lagipula swalayan itu bangkrut gara-gara ada pemicunya. Harusnya kantor pusat bantu kasih dana talangan atau pesangon tambahan buat Mas Bian menutupi kerugian, bukannya malah memojokkan begini! Mas Bian ini sudah mengabdi belasan tahun di sini."
Pak Kusuma tertawa sinis sebuah tawa yang penuh penghinaan hingga membuat jajaran komisaris lainnya menggeleng-gelengkan kepala.
"Mengabdi? Kamu bilang mengabdi, Bu Salma?" Pak Kusuma menatap Salma dengan pandangan jijik. "Sejak kemarin sore, kami menerima laporan investigasi internal dari tim auditor independen. Dan tahukah Anda apa yang kami temukan?"
Pak Kusuma mengisyaratkan sekretaris untuk menyalakan slide berikutnya di proyektor. Layar besar itu seketika menampilkan belasan lembar dokumen transaksi bank, slip penarikan ilegal, dan bukti pengagunan aset.
"Selama ini, posisi Bian sebagai manajer senior di perusahaan ini bisa bertahan dan mendapatkan kepercayaan penuh dari jajaran pemegang saham murni karena adanya jaminan aset serta dukungan finansial dari Ibu Husna!" tegas Pak Kusuma dengan suara membahana. "Ibu Husna istri sah yang sudah dipangkas dan dikhianati oleh Bian adalah pemilik sah dari jaringan distributor penyokong utama di daerah ini. Sertifikat tanah, jaminan modal, dan garansi nama baik yang dipakai Bian selama ini adalah milik Ibu Husna."
DEG!
Bagaikan disiram air es di tengah malam suram, tubuh Salma seketika bergetar hebat. Wajah cantiknya yang dipoles riasan tebal perlahan mendadak pucat pasi. "M-maksudnya... apa, Pak?"
"Maksudnya sangat jelas!" pangkas Pak Hendra dingin. "Kemarin sore, tim kuasa hukum Ibu Husna secara resmi telah mengirimkan surat pencabutan seluruh garansi aset, pembatalan jaminan utang, serta pemberitahuan gugatan cerai dan sita jaminan atas nama Bian! Ibu Husna memutus seluruh akses bisnis dan keuangan keluarga dari tangan pria ini."
Salma menoleh patah-patah ke arah Bian. Matanya membelalak lebar, memancarkan kaget dan ketakutan yang tak terkira. "Mas... M-mas Bian! Itu tidak benar, kan?! Kamu bilang perusahaan ini butuh kamu! Kamu bilang kamu yang pegang kendali di sini! Kamu bilang harta Husna itu harta kamu juga."
Bian sama sekali tidak mampu menjawab. Pria itu menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya, bahunya berguncang hebat menahan rasa malu yang amat luar biasa di hadapan belasan atasan dan rekan kerjanya.
"Bukan hanya itu," pangkas Pak Kusuma kembali mengambil alih pembicaraan. "Hasil audit sub-divisi menemukan bahwa Bian telah menyalahgunakan kewenangannya untuk memindahkan kas talangan internal demi menutupi kebocoran kas toko swalayannya dan membiayai gaya hidup anda ibu Salma selaku istri mudanya."
Pak Kusuma menunjuk blazer mahal dan tas impor yang dikenakan Salma. "Pakaian dan barang mewah yang Anda pakai berdiri di sana hari ini, Bu Salma... dibeli menggunakan uang penyalahgunaan wewenang suami Anda yang kini menjadi beban kerugian perusahaan."
Salma refleks memegangi tas mewahnya, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Rasa malu, terhina, dan kenyataan pahit menghantam dirinya tanpa ampun. Baju mahal bernilai puluhan juta yang ia pamerkan dengan bangga sejak pagi kini terasa bagaikan pakaian pesakitan yang menguliti seluruh harga dirinya.
"Atas dasar pelanggaran berat kode etik, pencemaran nama baik perusahaan, penyalahgunaan wewenang, dan hilangnya garansi aset utama," kata Pak Kusuma seraya mengangkat sebuah dokumen berstempel merah, "Dewan Komisaris dan Direksi secara resmi memutuskan untuk melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara tidak hormat kepada saudara Bian terhitung mulai detik ini."
DUMMM!
Kata-kata Pemutusan Hubungan Kerja secara tidak hormat bergema keras di dalam kepala Bian. Pria itu merasa dadanya dihantam batu besar hingga napasnya tertahan.
"M-Mas... kamu di-PHK?" bisik Salma dengan suara gemetar yang hampir tidak terdengar. Salma memegang lengan jas Bian dengan cengkeraman panik. "Gak mungkin... Gak mungkin. Terus pesangonnya gimana, Pak?, Mas Bian kan sudah kerja belasan tahun. Pesangonnya pasti miliaran kan?, Kami butuh uang itu buat bayar utang swalayan dan sewa rumah."
Pak Hendra tersenyum sinis, lalu melemparkan satu lembar amplop cokelat tipis ke tengah meja.
"Pesangon miliaran?" cetus Pak Hendra meremehkan. "Bu Salma, tolong buka mata Anda lebar-lebar. Sesuai dengan pasal pelanggaran berat dan penyalahgunaan kas perusahaan, Saudara Bian tidak berhak mendapatkan uang pesangon penuh maupun uang penghargaan masa kerja."
Pak Hendra membuka lembar rincian perhitungan di layar proyektor.
"Berdasarkan sisa masa kerja dan potongan ganti rugi atas penyalahgunaan kas perusahaan serta utang talangan yang belum dikembalikan, total uang sisa yang berhak diterima Bian... hanya sebesar tujuh juta lima ratus ribu rupiah."
"APA?! TUJUH JUTA LIMA RATUS?!" jerit Salma melengking hingga memenuhi seluruh ruangan rapat.
Suara lengkingan Salma begitu memekakkan telinga, namun tak satu pun direksi di ruangan itu yang merasa iba. Mereka menatap Salma dengan tatapan dingin dan penuh rasa muak.
"Tujuh juta lima ratus ribu itu pun sudah merupakan kebijakan kemanusiaan dari perusahaan agar saudara Bian tidak langsung kami laporkan ke pihak kepolisian atas tindak pidana penggelapan kas!" tegas Pak Kusuma dengan suara baritonnya yang menekan. "Uang itu akan ditransfer ke rekening Bian hari ini setelah dia menandatangani surat pemecatan dan menyerahkan seluruh atribut serta mobil dinas perusahaan."
"Mobil dinas?!" Bian seketika mendongak dengan mata merah berkaca-kaca. "P-Pak Kusuma... tolong kasihanilah saya, Pak... Mobil sedan itu satu-satunya transportasi yang saya miliki sekarang... Rumah saya sudah disita mantan istri saya... Kalau mobil diambil, saya dan Salma mau tinggal di mana, Pak?"
"Itu bukan urusan perusahaan lagi, Bian!" pangkas Pak Kusuma tanpa rasa kasihan sedikit pun. "Kamu yang memilih untuk menghancurkan hidupmu sendiri demi mengkhianati istri tulus yang membesarkan namamu. Kamu yang memilih menukar berlian demi kebohongan. Sekarang, tanggung akibatnya sendiri!"
Pak Kusuma memberi tanda kepada dua orang petugas keamanan berseragam lengkap yang sudah berdiri di pintu masuk.
"Satpam, kawal saudara Bian dan istrinya keluar dari gedung ini sekarang juga. Pastikan kunci mobil dinas dan kartu akses kantor disita sebelum mereka melangkah keluar dari gerbang!" perintah Pak Kusuma tegas.
"Baik, Pak!"
Dua petugas satpam bertubuh tegap langsung melangkah maju, memegang kedua lengan Bian dan Salma dengan cengkeraman kuat.
"Lepasin! Lepasin saya! Saya ini istri manajer senior! Kalian tidak berhak pegang-pegang saya!" teriak Salma histeris, berusaha memberontak dan mengibaskan tangannya. Namun cengkeraman satpam terlalu kuat. Baju blazer mewahnya kusut, rambutnya yang tertata rapi kini berantakan terurai.
"Pak Kusuma! Tolong Pak! Beri saya kesempatan sekali lagi! Pak." ratap Bian memohon seraya diseret paksa keluar dari ruang rapat.
Pintu jati besar itu ditutup rapat dari dalam dengan benturan keras, memutus total seluruh karier, kehormatan, dan masa depan yang selama ini dibangga-banggakan oleh Bian.
Di koridor kantor pusat yang ramai oleh lalu lalang karyawan, Bian dan Salma diseret bagaikan pesakitan. Ratusan pasang mata staf dan bawahannya menatap mereka dengan pandangan mencemooh, bisik-bisik ejekan, dan tawa sinis yang menyayat hati. Salma menutupi wajahnya dengan tas mewahnya sambil menangis histeris, menahan malu yang tak tertahankan, sementara Bian melangkah pasrah dengan kepala terkulai lemas.
Di pos satpam depan gedung, kunci mobil sedan dinas Bian dicabut secara paksa. Seluruh atribut kantor dilepas. Dua koper besar dan kardus-kardus pakaian milik mereka yang sempat berada di dalam bagasi mobil dilemparkan begitu saja ke atas trotoar di luar pagar gedung kantor.
BRUKK!
Koper-koper itu tergeletak berantakan di atas trotoar kotor, di bawah terik matahari pagi yang mulai membakar kulit.
Mobil sedan dinas itu dikemudikan pergi oleh petugas satpam masuk kembali ke dalam area parkir kantor, meninggalkan Bian dan Salma yang berdiri terpaku di tepi jalan raya yang padat oleh lalu lintas kota.
"Mas Bian...!" jerit Salma memecah tangisnya di tepi jalan raya. Ia memukuli dada Bian dengan tas mewahnya berulang kali. "Kamu bohong! Kamu penipu, Mas!, Kamu bilang kamu orang kaya. Kamu bilang kamu manajer hebat. Ternyata kamu cuma gembel yang numpang hidup sama mbak Husna. Tujuh juta setengah? Uang segitu buat bayar apa, Mas?! Buat beli baju aku aja gak cukup."
Bian yang sudah sampai di titik terendah dalam hidupnya melayangkan tatapan mata yang begitu dingin dan hampa ke arah Salma. Rasa cintanya pada wanita muda di hadapannya itu telah musnah sepenuhnya, berganti menjadi rasa benci dan muak yang teramat sangat.
"Cukup, Salma... Cukup!" bisik Bian dengan suara parau yang amat pecah. "Kamu mau uang? Ambil tujuh juta lima ratus itu! Ambil semua! Tapi jangan pernah panggil saya suami kamu lagi."
"Apa kamu bilang?! Mas Bian."
Di atas trotoar jalan raya yang bising, di antara barisan koper yang berserakan dan pandangan aneh dari para pengguna jalan yang melintas, dua insan yang dulu bersatu atas dasar keserakahan dan pengkhianatan itu kini saling berteriak dan menyalahkan. Tidak ada lagi jabatan manajer senior, tidak ada lagi mobil sedan, tidak ada lagi impian hidup mewah. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang terusir, miskin, dan hancur berkeping-keping di atas tanah kehancuran yang mereka gali sendiri.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?