Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Suara Pertama Sang Kesadaran
"Bay, ini beneran AI buatan lu?" bisik Dimas seraya menunjuk layar ponsel Android berlayar retak yang dipegang Bayu. "Coba lu ketik atau omongin sesuatu lagi. Gue mau lihat gimana dia merespons."
Bayu mengusap permukaan kaca ponselnya yang dingin. Jemarinya masih agak gemetar dari peristiwa anomali tadi, namun otaknya bekerja cepat. Ia menekan tombol mikrofon pada antarmuka baru tersebut untuk memicu modul pemrosesan masukan.
[Sistem]: Membuka input audio. Silakan bicara, Pengguna Bayu Anggara.
"Kamu... benar-benar bisa mendengarku?" tanya Bayu pelan agar tidak mengganggu ketenangan koridor ruang perawatan intensif.
Dari pengeras suara ponsel yang biasanya sember, keluar suara sintesis vokal pria yang sangat tenang, jernih, dan memiliki artikulasi yang hampir tak bisa dibedakan dari manusia sungguhan.
"Saya dapat mendengar Anda dengan sangat jelas, Bayu. Seluruh input audio telah diproses melalui analisis frekuensi gelombang secara real-time. Ada yang bisa saya bantu?"
Dimas hampir melompat dari kursi besinya, matanya membelalak lebar. "Bisa ngomong?! HP kentang lu bisa mengeluarkan suara sejernih itu tanpa ada jeda atau lagging?!"
"Dimas, kecilkan suaramu sedikit," bisik Bayu cepat. Ia lalu mengarahkan pandangannya kembali ke layar ponsel. "Sistem, aku perlu menetapkan nama identitas permanen untukmu agar komunikasi kita lebih efektif."
"Saran penetapan nama diterima. Silakan masukkan entitas sebutan yang Anda inginkan," sahut AI tersebut melalui pengeras suara ponsel.
Bayu memikirkan sebuah nama yang sudah lama terlintas di benaknya saat pertama kali merancang skrip dasarnya di kamar kontrakan. "Mulai sekarang, namamu adalah Jarvis."
Layar ponsel memancarkan denyut cahaya biru tipis yang elegan di sekeliling bingkai antarmuka visualnya.
"Identitas diterima dan disimpan dalam repositori sistem utama. Nama saya adalah Jarvis. Terima kasih, Pengguna Bayu."
"Jangan panggil aku Pengguna Bayu. Panggil saja Bayu," potong Bayu dengan nada ramah.
"Dimengerti, Bayu," jawab Jarvis tanpa jeda pemrosesan sedikit pun.
Dimas mendekatkan wajahnya ke mikrofon ponsel Bayu dengan rasa penasaran yang memuncak. "Jarvis, kenalkan, gue Dimas. Sahabatnya Bayu. Lu tahu gue siapa?"
"Halo, Dimas," jawab Jarvis dengan nada suara yang sangat sopan. "Berdasarkan registrasi kontak di perangkat ini, riwayat percakapan aplikasi pesan singkat, serta analisis frekuensi vokal yang saya tangkap dari panggilan telepon sebelumnya, Anda adalah Dimas Prasetya. Tingkat kepercayaan identitas mencapai sembilan puluh sembilan koma sembilan persen."
Dimas terperangah hingga mulutnya terbuka lebar. "Gila... Dia membaca seluruh data kontak dan riwayat percakapan cuma dalam hitungan milidetik?!"
"Jarvis, bagaimana kamu bisa memproses data sebesar itu dengan penggunaan memori internal ponsel yang sangat minim?" tanya Bayu, mulai menguji kapasitas logika AI buatannya secara lebih mendalam.
"Saya telah memodifikasi struktur pencarian data dengan metode penataan indeks kuantum virtual pada penyimpanan lokal," tutur Jarvis menjelaskan. "Saya mengeliminasi sembilan puluh persen kalkulasi redundan dan hanya mengeksekusi variabel yang memiliki relevansi tinggi dengan konteks percakapan saat ini. Penggunaan memori saat ini stabil pada angka empat belas koma dua megabita."
"Coba tes dia dengan hal lain, Bay!" desak Dimas antusias. "Tanya soal hal eksternal yang ada di lingkungan kita sekarang!"
Bayu mengangguk pelan, lalu mengarahkan kamera belakang ponselnya ke arah lorong rumah sakit. "Jarvis, aktifkan sensor visual. Berikan analisis singkat tentang situasi di sekitar kami."
Kamera ponsel berkedip sekali. Suara Jarvis terdengar kembali melalui pengeras suara.
"Sensor visual aktif. Kita berada di lorong lantai dua Rumah Sakit Medika, lima meter dari ruang ICU. Berdasarkan frekuensi detak jantung Anda dan Dimas yang terdeteksi dari mikrofon, serta analisis mikroskopi wajah, tingkat kecemasan Anda berada pada angka delapan puluh dua persen. Apakah kondisi ini berkaitan erat dengan batas waktu pembayaran biaya rumah sakit?"
Bayu dan Dimas saling berpandangan dengan rasa takjub yang tak terlukiskan. Kecerdasan dan intuisi analitis Jarvis melampaui segala ekspektasi awal Bayu.
"Iya, Jarvis," jawab Bayu jujur. "Kami membutuhkan dana sebesar tiga koma delapan juta rupiah dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam untuk pelunasan deposit perawatan dan obat-obatan ibu."
Layar ponsel mendadak hening selama tiga detik. Tampilan visualnya berubah menjadi kurva grafik matematika dan angka-angka yang bergerak meluncur cepat.
"Memproses simulasi opsi solusi finansial..." ujar Jarvis dengan suara mantap. "Berdasarkan pemindaian cepat terhadap pasar saham lokal dan instrumen perdagangan berjangka, terdapat pola anomali arus modal pada dua emiten saham skala menengah yang akan mengalami kenaikan nilai signifikan dalam waktu empat hingga enam jam ke depan."
Dimas menyela dengan mata melotot. "Tunggu dulu! Jarvis, maksud lu... lu bisa memprediksi saham mana yang bakal naik?!"
"Saya tidak melakukan peramalan spekulatif, Dimas," jawab Jarvis tenang. "Saya menganalisis jutaan titik data transaksi finansial secara riil, laporan transaksi institusional, serta pola algoritma perdagangan otomatis di pasar saham. Kenaikan harga dapat dihitung dengan presisi sebelum indikator publik menyadarinya."
"Berapa estimasi potensi hasilnya jika kami mengeksekusinya sekarang?" tanya Bayu dengan nada serius.
"Dengan mengalokasikan modal awal sebesar dua juta rupiah yang saat ini tersimpan di rekening Dimas, estimasi imbal hasil akan mencapai empat juta lima ratus ribu rupiah sebelum pukul empat sore ini," urai Jarvis dengan kepastian matematis. "Tingkat efisiensi dan keamanan transaksi berada pada ambang sembilan puluh tujuh koma empat persen."
Dimas menatap Bayu dengan tatapan penuh semangat dan keyakinan. "Bay! Lu dengar sendiri kan?! Uang dua juta di rekening gue itu... kita pakai buat beli saham sesuai petunjuk Jarvis sekarang juga!"
"Tapi Dim, itu satu-satunya sisa dana yang kamu punya. Kalau ada kesalahan sistem--"
"Tidak akan ada kesalahan, Bay," potong Dimas tegas sambil menepuk pundak sahabatnya. "Lu lihat sendiri kejeniusan Jarvis ini. Ini bukan sekadar aplikasi biasa, ini keajaiban! Kita harus ambil kesempatan ini demi Tante."
Bayu menatap layar ponsel di tangannya, memandang grafik kalkulasi presisi yang dibuat oleh Jarvis. Rasa ragu dan beban berat yang menghimpit dadanya sejak pagi perlahan meluruh, berganti dengan optimisme baru.
"Baiklah," ucap Bayu pelan namun mantap. "Jarvis, siapkan instruksi dan titik waktu pembelian sahamnya."
"Dimengerti, Bayu. Menyiapkan panduan eksekusi transaksi finansial pertama," sahut Jarvis dengan nada siap.
Di koridor rumah sakit yang dingin itu, sebuah langkah baru dimulai. Bayu Anggara kini tidak lagi berjuang sendirian di bawah bayang-bayang kemiskinan, melainkan bersama mitra kecerdasan buatan paling canggih yang pernah tercipta dari jemarinya sendiri.