“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Kecil
Menjelang tengah malam, tampaknya tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar ingin mengakhiri reuni kecil malam itu.
Setelah cukup lama menghabiskan waktu di area restoran utama, Juna akhirnya mengajak semuanya berpindah ke lantai atas. Di sana terdapat mini bar yang menjadi bagian lain dari konsep restoran miliknya.
Suasana di lantai atas jauh lebih santai.
Lampu remang-remang, musik yang mengalun pelan, serta obrolan hangat di antara mereka membuat malam itu terasa semakin nyaman.
Rasanya seperti kembali ke masa lalu.
Bedanya, kini mereka semua sudah tumbuh dewasa.
“Rasanya aneh ya Rafa ada di tengah-tengah kita lagi,” ujar Gema sambil terkekeh kecil. “Dulu kalau nongkrong begini kan cuma berenam.”
“Iya juga ya,” sahut Dinda. “Entah kapan kita mulai dewasa sampai bisa duduk minum-minum kayak gini.”
“Kamu minum juga?” tanya Rafa pada Aluna yang duduk di sampingnya.
Aluna menggeleng pelan.
“Nggak. Aku nggak bisa minum.”
“Tenang aja,” timpal Lila. “Aluna tuh benar-benar gambaran seorang tuan putri.”
Semuanya tertawa kecil.
Aluna hanya mencibir malas mendengar julukan yang kembali dilontarkan untuknya malam itu.
“Lo sendiri, Rafa?” tanya Juna. “Di luar negeri minum juga?”
“Nggak juga sih. Paling cuma minum sedikit kalau lagi meeting sama klien.”
“Cocok loh kalian,” goda Gema tiba-tiba.
Aluna langsung memijat pelipisnya malas.
“Jangan mulai.”
“Dia udah dijodohin sama Papanya,” celetuk Aluna cepat, seolah ingin mengalihkan pembicaraan.
“Belum aku terima, ya,” bantah Rafa.
“Kan ujung-ujungnya mau nggak mau.”
Rafa langsung menoleh ke arah Aluna dengan tatapan tidak suka.
“Jangan mulai deh, Al. Bikin bad mood aja malah diingetin.”
“Loh, kenapa? Ratu kan baik. Cantik juga.”
“Kok malah bahas dia sih?, emang udah pasti dia?.”
“Daripada kita dicocok-cocokin terus.”
“Segitu nggak maunya dicocok-cocokin sama aku?”
Nada suara Rafa mulai berubah.
Aluna yang awalnya masih santai pun menoleh ke arah sahabatnya itu.
“Bukan gitu, tapi—”
“Tapi apa?”
“Kok kamu marah sih?” Aluna mulai kesal. “Ngapain nada suara kamu naik?”
Suasana di meja mereka seketika berubah canggung.
Teman-teman mereka saling bertukar pandang, bingung apakah harus ikut bicara atau memilih diam saja.
“Nggak usah ikut campur, guys,” ujar Rafa pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari Aluna.
Tatapan keduanya sama-sama keras kepala.
“Apa?” tantang Aluna. “Kamu pikir aku takut sama kamu?”
“Kita udah dewasa ya, Aluna.”
“Siapa bilang aku masih anak-anak?”
“Mereka kenapa sih…” bisik Dea pelan pada Lila.
Lila hanya mengangkat bahunya.
“Aku mau pulang,” ucap Aluna tiba-tiba sambil berdiri.
“Aluna.”
“Apa lagi?”
“Ini udah malam.”
“Terus kenapa?”
“Aku khawatir kalau kamu pulang sendiri.”
“Katanya aku nyebelin? Ya udah, biarin aja.”
Aluna segera berjalan keluar dari mini bar itu.
Rafa mengusap wajahnya frustrasi sebelum akhirnya bangkit menyusul Aluna keluar.
“Hati-hati ya!” teriak Juna dari dalam.
“Baik-baik tuh anak gadis orang!” sambung Gema jahil.
Rafa hanya mengangkat satu tangannya tanpa menoleh ke belakang sebelum akhirnya menghilang dari pandangan mereka.
Begitu keduanya benar-benar pergi, suasana meja mereka langsung berubah jauh lebih tenang.
“Mereka kenapa sih?” tanya Dinda heran.
“Rafa kayaknya suka sama Aluna deh,” ujar Lila tiba-tiba.
“Suka?” Juna tertawa kecil. “Cara marahnya aja kayak gitu.”
“Justru karena suka,” balas Lila santai.
“Kayaknya nggak deh,” sanggah Gema. “Mereka emang dari dulu begitu. Berantem mulu.”
“Iya,” tambah Dea. “Mereka tuh udah kayak saudara.”
Lila menggeleng pelan sambil menyeruput minumannya.
“Nggak ada hubungan pertemanan antara cewek dan cowok yang nggak melibatkan perasaan.”
“Terus gue sama Dea?” protes Juna.
“Itu mah kalian udah jadi,” jawab Lila santai.
“Terus gue?” tanya Gema.
Lila menatap kedua sahabat laki-lakinya itu bergantian.
“Kawin tiga aja sana sama Dinda dan Lila.” celetuk Juna yang sangat suka asal bunyi.
“Gila lo.” umpat Gema tidak bisa membayangkan kedua sahabatnya itu malah dikawini sekaligus.
Tawa kembali terdengar di meja mereka.
***
Sementara itu, di area parkiran restoran, Aluna berjalan cepat menuju ke arah mobil Rafa.
“Aluna…” Panggil Rafa yang masih mengejarnya dari belakang.
“Apa?” jawab Aluna tanpa menoleh.
“Aku minta maaf.”
“Aku bisa naik taksi sendiri.”
“Jangan dong. Nanti aku digebukin Bang Abraham.”
“Nggak bakal.”
Rafa menghela napas panjang sebelum akhirnya mempercepat langkahnya dan berdiri tepat di depan Aluna.
Langkah Aluna pun terhenti.
“Al…”
“Apa lagi?”
“Aku minta maaf karena tadi nada suara aku naik.”
Aluna akhirnya menatap Rafa.
“Aku cuma kesal kamu terus bahas soal perjodohan itu.”
“Ya habis kamu bentak aku.”
“Aku nggak bentak.”
“Sama aja.”
Rafa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum kecil menyerah.
“Iya deh, salah aku.”
Aluna masih memasang wajah kesal.
“Emangnya kamu nggak kangen sama aku?” lanjut Rafa pelan. “Kita baru ketemu lagi setelah lima tahun.”
Kalimat itu membuat ekspresi Aluna sedikit melunak.
“Siapa suruh kamu nyebelin.”
“Maafin aku, ya?”
Aluna menghela napas pelan.
“Ya udah… aku maafin.”
Rafa tersenyum kecil.
“Balas dong.”
“Apa?”
“Pelukannya.”
Aluna memutar bola matanya malas.
“Banyak mau banget sih.”
Namun, ia tetap melangkah mendekat dan memeluk Rafa singkat.
Sebaliknya, Rafa justru memeluk tubuh mungil itu lebih erat.
Bagi Rafa, pelukan singkat itu terasa sangat kurang dibandingkan rasa rindu yang ia pendam selama tujuh tahun terakhir.
“Jangan kasar lagi ngomongnya sama aku,” gumam Aluna pelan.
“Iya. Aku janji.”
Mereka melepaskan pelukan perlahan.
“Aku antar kamu pulang, ya,” ujar Rafa.
“Tapi tadi kamu minum.”
“Cuma segelas.”
“Nggak boleh.”
Aluna langsung mengulurkan tangannya.
“Sini kuncinya. Aku yang nyetir.”
Rafa menatap Aluna ragu.
“Yakin?”
Aluna mengangguk mantap.
Walaupun selama ini ia lebih sering diantar oleh sopir pribadi, bukan berarti ia tidak bisa menyetir sendiri.
Akhirnya Rafa menyerahkan kunci mobilnya.
Mereka masuk ke dalam mobil secara bersamaan.
“Kamu mau pulang ke apartemen atau rumah Papa kamu?” tanya Aluna sambil menyalakan mesin mobil.
“Kenapa?”
“Biar aku antar. Nanti aku naik taksi atau suruh sopir jemput.”
“Nggak usah, Al.”
“Bahaya kalau kamu nyetir sendiri.”
“Aku minumnya cuma segelas.”
“Nggak.”
Rafa terkekeh kecil melihat Aluna yang mulai keras kepala.
“Kalau gitu ke apartemen aja.”
“Oke, kita berangkat. Kamu kalau mau tidur, tidur aja ya. Nanti aku bangunin kalau udah sampai.”
“Kamu nginep aja ya di apartemenku juga.”
Aluna refleks menoleh cepat.
Suasana di dalam mobil mendadak hening.
“Kamu sadar nggak sih,” ujar Aluna dengan tatapan tajam, “barusan kamu ngajak perempuan nginep?”
Rafa terlihat terdiam sejenak sebelum akhirnya mengernyit.
“Dih, apaan? Kita udah kayak keluarga juga.”