Sentuh Aku, Leluhurmu Tamat!
Lahir dengan meridian rapuh dan dijadikan samsak hidup oleh murid dalam sekte, Gu Ran membangkitkan sistem anomali yang menghubungkan nyawanya dengan figur terkuat dari siapa pun yang menindasnya. Semakin keras musuh mencoba melukainya, semakin sekarat leluhur tertinggi mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Provokasi datar Gu Ran membakar habis sisa akal sehat Fang Chen.
Melihat seorang mantan budak penempa menepuk dadanya sendiri dengan senyuman malas, mata Fang Chen memerah penuh amarah. Sebagai murid jenius peringkat tujuh di Balai Pedang, ia belum pernah dihina sedemikian rupa oleh manusia tanpa kekuatan Qi.
“Mati kau, sampah!”
Raungan buas keluar dari tenggorokan Fang Chen.
WUZZZH!
Lengan kanannya menyentak ke depan, mengerahkan seluruh sirkulasi energi Tingkat 8 Pemurnian Qi. Jurus Tusukan Pedang Menembus Awan melesat membelah udara jurang, mengubah bilah perak menjadi kilatan cahaya dingin yang meluncur secepat sambaran petir lurus ke arah ulu hati Gu Ran.
“Fang Chen, hentikaaaannn—!” jerit Song Ming histeris, berusaha melemparkan tubuhnya ke depan.
Namun kecepatan tusukan Fang Chen terlalu tinggi.
Gu Ran berdiri tak bergerak di tempatnya. Rambut putihnya terhempas ke belakang oleh hembusan angin pedang yang tajam. Ia bahkan tidak berkedip saat ujung runcing bilah perak itu menembus udara dan menyentuh kulit dadanya.
CRIING!
Ujung pedang itu menekan kulit ulu hati Gu Ran sedalam seujung kuku. Lapisan kulit terluar robek tipis, mengeluarkan setitik cairan merah segar yang membasahi tepi kain jubah sutra putihnya.
Tepat pada detik itu, sebuah ledakan sonik raksasa meledak di langit atas tebing.
BUMMM!
Udara di atas jembatan gantung pecah berkeping-keping. Gelombang kejut berkecepatan suara merontokkan kabut tebing dalam radius satu li, menggetarkan rantai-rantai besi penahan jembatan hingga menjerit melengkung.
Di angkasa terbuka, sesosok bayangan abu-abu meluncur turun bagai meteorit jatuh.
Song Pojun mendarat di atas papan kayu jembatan dengan dentuman keras. Dari sudut bibirnya, semburan darah hitam segar tumpah membasahi janggut putihnya. Di balik jubah abu-abunya, luka lama dantian sang Leluhur berdenyut ngilu tak tertahankan akibat goresan seujung kuku di dada Gu Ran!
“Anjing keparat keturunan iblis!” raung Song Pojun dengan urat leher yang hampir meledak keluar.
Sebelum Fang Chen sempat menyadari apa yang terjadi atau menarik kembali pedangnya, telapak tangan kanan sang Leluhur sudah mengibas di udara.
Pusaran angin badai berkekuatan Puncak Transformasi Jiwa menghantam lengan kanan Fang Chen.
KRAAAK! BRESSS!
Hantaman dahsyat itu seketika melumat daging dan persendian tangan Fang Chen.
Seluruh lengan kanan Fang Chen—dari pangkal bahu hingga ujung jemari yang menggenggam pedang—hancur berkeping-keping menjadi kabut darah merah dan serpihan tulang putih yang berhamburan ditiup angin jurang. Bilah pedang perak kebanggaannya remuk menjadi serbuk logam tak berharga.
“Aaaaaaaarrrghhh!”
Fang Chen menjerit melengking, suara jeritannya melengking tinggi menembus kabut tebing saat tubuhnya tersungkur memegangi pangkal bahunya yang kini buntung dan menyemburkan darah deras.
Dua murid inti di belakangnya jatuh terduduk dengan celana basah kuyup. Wajah mereka membiru pasi, memandang pendiri sekte mereka sendiri yang berdiri dengan mata merah liar penuh kengerian.
“K-Kakek Leluhur… ampun…” ratap dua murid itu dengan suara gemetar tercekat.
Song Pojun sama sekali tidak melirik rintihan mereka.
Orang tua itu berbalik dengan tangan gemetar hebat. Sepasang matanya yang liar menatap setetes darah merah di ulu hati Gu Ran. Napas sang Leluhur tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan kepanikan yang nyaris merenggut kesadarannya.
“Adik Gu… anak baik… jangan batuk, kakek mohon jangan batuk…” bisik Song Pojun terbata-bata dengan suara parau yang basah oleh darah hitamnya sendiri.
Dari sela lengan bajunya, sang Leluhur mengeluarkan sebuah botol giok hijau berukir teratai salju. Dengan gerakan yang sangat lembut dan berhati-hati, ia menuangkan serbuk salep obat termahal ke atas luka goresan tipis di dada Gu Ran.
Rasa dingin yang nyaman seketika meresap ke kulit dada Gu Ran, menutup luka goresan seujung kuku itu dalam hitungan dua detik.
Begitu luka goresan tertutup, Song Pojun menghela napas panjang yang gemetar. Rasa ngilu di rongga dadanya perlahan mereda.
Leluhur tua itu berbalik kembali menghadap tiga murid inti yang terkapar di lantai jembatan.
Sorot matanya seketika berubah menjadi hawa pembunuh yang pekat.
“Song Ming!” perintah sang Leluhur dengan nada sedingin dasar jurang es.
Song Ming melangkah maju dengan tubuh gemetar dan dahi basah oleh keringat dingin. “H-hamba, Kakek Buyut…”
“Lempar tiga anjing pembawa sial ini ke dasar jurang kabut,” ucap Song Pojun tanpa belas kasihan sedikit pun. “Biarkan mereka membusuk di dasar tebing seribu meter.”
Fang Chen yang kehilangan lengannya mencoba merayap memohon ampun, namun Song Ming tidak memberi kesempatan sedikit pun. Bersama empat murid dalam yang baru tiba, Song Ming menendang tubuh Fang Chen dan dua rekannya melewati pagar jembatan gantung.
Tiga jeritan panjang menggema membelah jurang kabut, meluncur jatuh bebas menuju dasar tebing bebatuan yang gelap gulita sebelum akhirnya lenyap ditelan kesunyian jurang.
Gu Ran merapikan kembali kerah jubah sutra putihnya, lalu melirik ke arah sang Leluhur yang masih menyeka darah hitam di dagunya.
“Luka dadaku sudah sembuh,” kata Gu Ran datar. “Tapi jembatan ini terlalu berisik untuk jalan-jalan sore.”