menikahi musuh? itu biasa.
menikahi sahabat masa kecil karena takut sial? itu baru bencana.
Baffin yang dingin dan serba rapi sangat membenci segala bentuk kekacauan. Sialnya, hidupnya selalu diacak-acak oleh Silva, sahabat masa kecilnya yang super ceroboh dan pembawa bencana.
Tepat di hari ulang tahun mereka yang ke-17, keduanya mendapat kejutan tak terduga: mereka dipaksa bertunangan karena sebuah mitos kuno. Konon, karena lahir di hari dan jam yang sama, menolak perjodohan ini akan mendatangkan kutukan kesialan seumur hidup.
Baffin tentu saja menolak mentah-mentah takhayul itu. Namun, Silva yang ketakutan setengah mati justru bertekad melakukan segala cara agar cincin pertunangan itu terpasang di jari Baffin—meski ia harus memecahkan lebih banyak piring dan terjungkir dari kursi demi mengejarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon whimsy quinn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Yang Kembali
Silva tidak langsung menjawab. Gadis itu tampak menimbang sesuatu di dalam kepalanya, lalu menepuk pundak tegap Baffin dengan gerakan ragu. "Apin... kalau kita mampir beli jajan dulu boleh gak? Aku pengen jajanan aja, gak usah dikasih uang tunai."
Baffin mengernyitkan dahi. "Boleh. Di mana?"
"Minimarket depan itu aja," tunjuk Silva ke arah gerai minimarket bernuansa merah-biru yang berjarak beberapa meter di depan mereka.
Tanpa banyak protes, Baffin kembali menarik gas dan memarkirkan motornya tepat di depan teras minimarket tersebut.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan yang ber-AC adem, Silva langsung mengulurkan tangannya, bersiap hendak menarik sebuah keranjang belanjaan plastik dari tumpukannya.
Namun, dengan gerakan secepat kilat, tangan besar Baffin sudah menyambar gagang keranjang itu lebih dulu.
"Aku bisa bawa sendiri kok," protes Silva, merasa agak sungkan karena tangannya menggantung kosong di udara.
"Sudah, cepat mau beli apa?" potong Baffin ketus, menghalau bantahan Silva dengan wajah datarnya yang kaku.
Akhirnya Silva hanya bisa mengangguk pasrah. Gadis itu mulai berjalan menyusuri lorong-lorong rak makanan dengan Baffin yang setia mengekor di belakangnya sambil menjinjing keranjang belanjaan. Selama proses berburu camilan itu, insting pelindung Baffin mendadak bekerja dalam mode siaga satu. Berulang kali tangannya harus bergerak refleks memegangi ujung jaket atau pergelangan tangan Silva.
"Pelan-pelan jalannya."
"Jangan grasah-grusuh, nanti raknya kesenggol."
"Tenang, Cilpa."
"Hati-hati."
Kalimat-kalimat peringatan itu terus meluncur dari bibir Baffin demi memastikan si pawang bencana ini tidak meruntuhkan gunungan ciki pajangan di dalam toko.
Silva sendiri tampak sibuk memilih beberapa camilan favoritnya.
Setiap kali mengambil makanan, Silva selalu mengambilnya dalam jumlah ganda—dua bungkus keripik kentang, dua kotak susu, dua bungkus biskuit cokelat dan seterusnya..
Setelah puas, ia mengorek-ngorek isi keranjang yang Baffin pegang untuk memastikan tidak ada yang kurang, Silva mendongak dan mengangguk cerah ke arah Baffin. "Udah," katanya.
Namun, tepat saat mereka berjalan melewati deretan freezer es krim menuju meja kasir, langkah kaki Silva mendadak terkunci rapat.
Sepasang matanya langsung berbinar-binar menatap deretan es krim berwarna-warni di balik kaca transparan. Silva menoleh cepat. "Kamu mau beli es krim gak?"
Baffin menggelengkan kepalanya tanpa ragu. "Enggak."
Silva mengerucutkan bibirnya, lalu menunjuk ke arah luar kaca minimarket yang memperlihatkan aspal yang mulai berasap karena terik. "Di luar lagi panas banget loh. Enak tahu makan es krim siang-siang begini. Seger."
"Kamu aja," jawab Baffin pendek.
Pada akhirnya, Silva tetap membuka pintu freezer dan mengambil es krim kesukaannya. Dan lagi-lagi, ia mengambilnya double.
Setelah Baffin menyelesaikan seluruh transaksi pembayaran di kasir, keduanya melangkah keluar membawa satu kantong plastik besar berisi jajanan.
Saat itu jam di ponsel Baffin baru menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi. Begitu tiba di teras, mata tajam Silva langsung menangkap sebuah gerobak hotdog di pelataran minimarket yang kebetulan baru saja membuka terpal jualan mereka.
Aroma sosis panggang yang gurih samar-samar mulai tercium di udara.
"Apin... kalau beli hotdog juga boleh? Temen aku itu suka banget hotdog soalnya," pinta Silva dengan wajah memelas yang luar biasa menggemaskan.
Baffin hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Setelah memesan dua porsi hotdog kepada sang penjual, mereka berdua memutuskan untuk duduk menunggu di bangku besi panjang yang disediakan di depan halaman minimarket.
Begitu pantatnya menyentuh kursi, Baffin langsung merogoh kantong jaketnya dan sibuk membuka ponsel, memeriksa pesan-pesan penting yang masuk. Sementara itu, Silva duduk di sebelahnya sambil menumpu dagu, memperhatikan si penjual hotdog yang gerakannya tampak sangat lambat karena masih harus beres-beres wajan dan baru mulai memanggang sosis.
Lama-kelamaan, raut wajah Silva berubah gusar. Ia melirik kantong plastiknya di atas meja dengan pandangan cemas. "Kok lama banget ya... nanti es krimnya keburu cair gimana?" ujar Silva mengeluh sendirian.
Baffin tidak membalas sepatah kata pun. Matanya masih melekat sempurna pada layar ponsel yang menampilkan obrolan grup futsalnya.
Beberapa menit berlalu, hotdog nya belum juga jadi. kekesalan Silva langsung naik satu tingkat. Gadis itu membongkar kantong plastik, mengambil satu bungkus es krim yang bagian ujungnya mulai terasa melunak, lalu tanpa aba-aba—puk, puk—ia menepuk-nepuk lengan kekar Baffin menggunakan es krim tersebut.
Baffin menurunkan ponselnya perlahan, lalu menoleh dengan tatapan ketus yang menuntut penjelasan. "Kenapa?"
"Yang jualan lama banget, Apin. Nanti es krimnya keburu cair dan berubah jadi air," ucap Silva bersungut-sungut, sambil menyodorkan es krim tersebut tepat di depan wajah Baffin. "Dimakan sekarang aja lah. Kamu satu, aku satu."
"Ini bukan buat temen kamu?" Tanya Baffin
Silva cemberut. "Sudahlah.. makan aja. Nanti keburu cair"
Baffin melirik ke arah penjual hotdog yang memang tampaknya masih butuh waktu lama untuk mematangkan sosisnya.
Mengembuskan napas pasrah, Baffin akhirnya meraih es krim tersebut dari tangan Silva, merobek bungkusnya, lalu mulai memakannya dalam diam.
Di sela-sela momen tenang mereka menikmati es krim di bawah terik cuaca Jakarta pagi itu, Silva tiba-tiba mendongak menatap langit, lalu menyeletuk santai, "Kok tiba-tiba aku jadi keinget es potek ya? Sudah lama banget rasanya aku gak makan es itu."
Uhuk! Uhuk!
Baffin langsung tersedak ludahnya sendiri dengan hebat. Dadanya naik turun berusaha meraup oksigen, sementara wajahnya memerah padam akibat serangan mental yang mendadak menyerang memorinya. Kalimat polos dari Silva barusan sukses memicu alarm bahaya di dalam otaknya.
"Sudah lama gak makan itu..." lanjut Silva bergumam tanpa dosa, masih asyik menjilati es krimnya sendiri tanpa menyadari kepanikan pria di sebelahnya.
Mendengar kelanjutan kalimat itu, Baffin diam-diam merasakan gejolak aneh di dalam dadanya. Di satu sisi, ada rasa hangat yang menyelinap karena Silva ternyata masih mengingat detail kebiasaan masa kecil mereka belasan tahun lalu.
Namun di sisi lain, Baffin yang juga sudah lama tidak memakan es potek seperti Silva justru merasa bahagia. Sebab bagi seorang Baffin Gualla Estuary, es potek bukanlah sekadar camilan manis pelepas dahaga.
Es potek adalah simbol bencana nasional dan kekacauan total—sebuah upeti keramat yang hanya akan dibawa oleh Silva jika gadis ceroboh itu baru saja menghancurkan barang paling berharga di dalam hidupnya.
•••
Motor matic besar milik Baffin akhirnya berhenti tepat di depan gerbang megah rumah Kenya. Begitu mesin motor dimatikan, Baffin langsung turun.
Dengan gerakan yang kini terasa jauh lebih luwes dan terlatih, tangan besarnya terulur untuk melepaskan pengait helm Silva, menjauhkan benda keras itu dengan hati-hati agar tidak mengulangi tragedi dagu terjepit.
Setelah helm terlepas, Baffin menatap Silva lekat-lekat. "Tunggu di sini aja ya. Nanti kalau urusan kamu sudah selesai, hubungi aku lewat HP temen kamu. Biar aku jemput pulangnya," ucap Baffin dengan suara beratnya yang memberi perintah halus.
"Ok, Apin!" sahut Silva riang, mengangguk patuh.
Baffin berdeham singkat, memakai kembali helmnya, lalu memacu motornya pergi meninggalkan perumahan tersebut.
Sementara itu, Silva berjalan memasuki halaman rumah Kenya dengan langkah ringan. Karena gerbang utama rumah mewah itu kebetulan sedang terbuka, Silva melangkah ke teras dan mengetuk pintu kayu tersebut beberapa kali.
"Kenya..."
Tak berselang lama, muncul seorang asisten rumah tangga paruh baya dari arah dalam. Begitu mengenali wajah Silva yang memang sudah sering berkunjung, wanita itu langsung tersenyum ramah. "Eh, Non Silva. Silakan masuk, Non. Non Kenya-nya ada di atas, masih di dalam kamar."
"Ah, iya, Bi. Makasih ya," balas Silva sopan.
Ia langsung melangkah menuju tangga dan menaiki anak tangga satu per satu menuju lantai dua, tempat kamar pribadi sahabatnya berada.
Sampai di depan pintu kamar bernuansa estetik itu, Silva mengetuknya pelan.
Tok, tok, tok.
"Siapa?" seru sebuah suara serak dari dalam.
"Silva..." sahut Silva setengah berteriak."Silva?! Masuk... masuk, gak dikunci!"
Mendengar perizinan itu, Silva memutar knop pintu pelan-pelan.
Begitu memastikan sosok Kenya ada di dalam, barulah ia melangkah masuk sepenuhnya. Pandangan pertama yang menyambut Silva adalah kondisi kamar yang masih agak remang-remang karena gorden belum dibuka sepenuhnya, ditambah sosok Kenya yang masih bergelung di atas kasur king size-nya.
Setengah tubuh gadis itu masih terbungkus rapat oleh selimut tebal.Silva berjalan mendekati ranjang. "Kamu baru bangun, Ken?"
Gadis berpiyama satin itu mengangguk malas sambil menguap lebar, meregangkan otot-totot tubuhnya yang kaku. "Bentar lagi kan sudah mau masuk sekolah baru, Sil. Gue mau memuaskan diri menikmati sisa-sisa hari libur terakhir gue dengan tidur seharian," gumam Kenya dengan suara khas orang baru bangun tidur.
Silva terkekeh kecil, lalu mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. "Jadi kamu belum makan siang?"
Kenya menggelengkan kepalanya lemas, matanya masih setengah terpejam. "Boro-boro makan, nyawa gue aja belum ngumpul semua ini."
Mendengar itu, senyum Silva semakin melebar. Dengan gerakan taktis, ia langsung mengangkat satu kantong plastik berukuran sedang yang sejak tadi ia jinjing di tangan mungilnya. "Kebetulan banget! Nih, aku bawa hotdog buat kamu!"
Seketika itu juga, sepasang mata Kenya langsung terbuka lebar. Rasa kantuk yang tadi menggelayuti matanya mendadak menguap entah kemana begitu aroma sosis panggang dan saus gurih dari dalam plastik menusuk indra penciumannya.
Diperlakukan bak ratu yang dibawakan makanan kesukaan tepat setelah membuka mata membuat suasana hati Kenya langsung meroket bahagia.
"Wah, gila! Pagi-pagi dapet asupan surga!" seru Kenya heboh, langsung mendudukkan tubuhnya tegak. Ia menatap Silva dengan pandangan penuh cinta.
"Gue gosok gigi dulu bentar, Sil. Lo duduk aja dulu, jangan sentuh barang-barang pecah belah di kamar gue ya!" pamit Kenya sambil melompat turun dari kasur dan berlari kencang menuju kamar mandi.
Silva hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebal mendengar peringatan terakhir dari sahabatnya itu.
Tidak butuh waktu lama bagi Kenya untuk menyelesaikan ritual di kamar mandi. Gadis itu keluar dengan wajah yang sudah segar dan rambut yang diikat asal-asalan.
Tanpa babibu, Kenya langsung duduk bersila di atas karpet bulu kamarnya, tepat di hadapan Silva yang sudah menata dua porsi hotdog dan beberapa jajanan double di atas meja kecil.
Kenya menyambar hotdog miliknya, lalu menggigitnya dengan khidmat. Di sela-sela kunyahannya, matanya melirik Silva dengan pandangan menyelidik. "Btw, Sil... lo ke sini sama siapa? Sendiri naik sepeda kayak biasanya?"
"Enggak," jawab Silva sambil membuka bungkus keripik kentangnya. "Aku ke sini dianterin sama Apin."