Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Brummm.
Raka menyalakan mesin mobilnya dan membuka gerbang gudang dari dalam menggunakan remot.
Ia melajukan mobil besarnya itu keluar dari kawasan industri yang sepi menuju jalan tol arah pusat kota.
Malam di Jakarta belum terlalu larut dan jalanan masih cukup ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang.
Raka menyalakan musik dari radio mobilnya untuk mencairkan suasana tegang setelah membantai orang di dunia kuno.
Namun matanya yang selalu waspada menangkap sesuatu yang aneh dari kaca spion tengah mobilnya.
Sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor terlihat terus menjaga jarak konstan di belakangnya sejak ia keluar dari jalan tol.
"Insting jalanan gue nggak mungkin salah, mobil itu pasti ngikutin gue dari tadi," gumam Raka menajamkan pandangannya.
Tiba-tiba ponsel di saku celana Raka bergetar menandakan ada panggilan masuk.
Raka menekan tombol di setir mobilnya untuk menyambungkan panggilan itu ke pengeras suara kabin.
"Halo Tuan Raka yang sibuk, kau sedang di mana sekarang?" sapa suara dingin Sasa dari seberang telepon.
"Saya sedang di jalan pulang ke rumah Pondok Indah Nona Sasa, ada rindu yang mendadak menyerang ya?" goda Raka santai.
"Jangan bercanda Raka, aku baru saja mendapat laporan darurat dari tim keamananku."
Nada suara Sasa terdengar sangat serius dan sedikit panik tidak seperti biasanya.
"Anak buah Kevin melacak transaksi kartu platinummu di sebuah toko perlengkapan militer siang tadi."
Raka mengerutkan dahinya sambil melirik ke kaca spion melihat sedan hitam itu masih setia membuntutinya.
"Toko taktis? Wah mereka cepat juga ya kerjanya."
"Ini bukan waktunya kagum Raka! Mereka tahu kau membeli senjata berbahaya dalam jumlah banyak."
Sasa menghela nafas kasar di ujung telepon sana karena merasa rekan bisnisnya ini terlalu menyepelekan musuh.
"Kevin pasti curiga kau sedang membangun pasukan atau menjaga gudang harta yang sangat besar."
"Lalu apa yang dilakukan anak manja itu sekarang Nona Sasa?" tanya Raka tersenyum miring.
"Dia mengirim tim pemburu bayarannya untuk mencegatmu di jalan malam ini juga."
Sasa mengetik sesuatu dengan cepat di komputernya yang suaranya terdengar sampai ke mobil Raka.
"Kirimkan titik kordinatmu sekarang, aku akan menyuruh Bima membawa pasukan untuk menjemputmu."
Raka menatap sedan hitam di belakangnya yang kini mulai mempercepat laju kendaraannya mencoba mendekat.
Dari balik kaca mobil hitam yang gelap itu, Raka bisa samar-samar melihat ada tiga pria berbadan tegap di dalamnya.
"Tidak perlu repot-repot Nona Sasa, sepertinya anjing pelacak Kevin sudah menemukan mobil saya duluan."
"Apa? Mereka sudah membuntutimu? Raka, jangan macam-macam! Mobilmu itu tidak anti peluru!" teriak Sasa panik.
"Tenang saja bos cantik, mobil ini memang tidak anti peluru tapi sopirnya kebal terhadap kematian."
Tut.
Raka langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak membuat Sasa pasti mengamuk di kantornya.
Ia mencengkeram setir mobilnya dengan kuat lalu menginjak pedal gas Range Rover itu semakin dalam.
Brummm!
Mobil SUV putih itu melesat membelah jalanan malam Jakarta yang mulai lengang meninggalkan sedan hitam di belakang.
Namun sedan hitam itu ternyata menggunakan mesin modifikasi balap yang langsung mengimbangi kecepatan Raka dengan mudah.
"Mau main kejar-kejaran ya? Boleh juga, hitung-hitung tes performa mobil baru Sasa ini."
Raka membanting setirnya ke kiri membelok tajam memasuki sebuah jalanan kawasan industri lama yang sangat sepi.
Sedan hitam itu ikut berbelok tanpa ragu mengejar Raka seperti bayangan maut yang tidak mau lepas.
Cittt!
Suara decitan ban mobil beradu dengan aspal memecah keheningan jalanan gelap tersebut.
Raka melihat dari spion kalau salah satu penumpang di kursi depan sedan hitam itu mengeluarkan separuh badannya dari jendela.
Pria berbaju hitam itu memegang sebuah pistol berperedam suara dan mengarahkannya tepat ke ban belakang mobil Raka.
"Wah, bawa senjata api beneran rupanya orang-orang elit ini."
Raka langsung membelokkan mobilnya secara zig-zag untuk menyulitkan bidikan penembak bayaran tersebut.
Psh! Psh!
Dua tembakan peluru meleset menghantam aspal dan memercikkan bunga api kecil di belakang mobil Raka.
Raka tertawa pelan merasa adrenalinnya terpompa sangat kencang malam ini.
Tadi sore ia melawan parang karatan, sekarang ia harus menghindari peluru panas dari mafia modern.
"Gue nggak boleh bawa mereka sampai ke rumah Pondok Indah, bisa bahaya buat nyawa Pak Yanto nanti."
Raka memutar otak cepat mencari lokasi yang pas untuk menyelesaikan masalah ini tanpa saksi mata.
Ia ingat ada sebuah lahan proyek pembangunan pabrik yang mangkrak dan terbengkalai di ujung jalan ini.
Raka menginjak gasnya hingga maksimal mengarahkan mobil putih besarnya menerobos pagar seng proyek tersebut.
Brak!
Pagar seng berkarat itu hancur ditabrak bumper kuat Range Rover milik Raka.
Mobil itu masuk ke dalam area tanah lapang berdebu yang dikelilingi kerangka beton bangunan setengah jadi.
Cittt!
Raka menginjak rem mendadak hingga mobilnya berputar seratus delapan puluh derajat menghadap ke arah jalan masuk.
Debu tebal beterbangan menutupi pandangan di sekitar mobil putih tersebut.
Sedan hitam milik anak buah Kevin ikut menerobos masuk dan berhenti berhadapan langsung dengan mobil Raka dalam jarak sepuluh meter.
Tiga orang pria berpakaian serba hitam keluar dari sedan tersebut dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
Mereka bertiga memegang pistol otomatis di tangan kanan dan langsung mengarahkannya ke kaca depan mobil Raka.
"Keluarlah Raka Mahesa, kami tahu kau ada di dalam!" teriak pria yang berdiri di tengah sebagai pimpinan.
Raka membuka pintu mobilnya dan melangkah turun dengan sangat santai.
Kedua tangannya ia angkat ke udara setinggi dada untuk menunjukkan kalau ia tidak memegang senjata.
"Malam-malam begini main tembak-tembakan, kalian tidak takut didatangi polisi ya?" sapa Raka tersenyum mengejek.
"Polisi tidak akan berani ikut campur urusan Tuan Kevin."
Pria di tengah itu berjalan mendekat sambil terus menodongkan pistolnya ke dada Raka.
"Bos kami sangat tertarik dengan pasokan ginsengmu yang tiba-tiba muncul di pasar hari ini."
"Oh ya? Suruh bos kalian itu beli sendiri di pasar herbal Glodok, banyak yang jualan di sana."
Pria itu mendecakkan lidahnya kesal mendengar candaan Raka yang sangat meremehkan.
"Jangan banyak bicara gembel beruntung! Katakan di mana gudang penyimpananmu atau kulebarkan lubang hidungmu dengan peluru ini."
Raka menurunkan kedua tangannya perlahan lalu memasukkannya ke dalam saku jaket kulitnya.
Ia sama sekali tidak takut ditodong senjata api karena ia masih punya satu trik sihir pamungkas yang tidak bisa dilawan logika manusia bumi.
"Kalau kalian mau tahu di mana gudangku, kalian harus bisa menangkapku dulu."
Raka meremas gagang pintu naga di dalam sakunya dan membatin perintah pada sistem gaibnya.