Indonesia
NovelToon NovelToon
PLAYING WITH FIRE

PLAYING WITH FIRE

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:67.3k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Jordan Carlton mengira Vanessa adalah wanita lemah yang tak akan pernah berani meninggalkannya.

Yessika mengira ia berhasil merebut segalanya dari Vanessa, termasuk calon suaminya.

Namun Vanessa memegang kunci takhta sejati keluarga Carlton dan ia memilih untuk menyerahkannya pada pria yang paling dibenci Jordan.
Alessio Carlton mungkin terlihat menakutkan, dingin, dan licik. Namun saat Vanessa menawarkan pernikahan sebagai senjata balas dendam, Alessio tersenyum gelap. Sebab, jauh sebelum Vanessa memasuki kamarnya malam itu, Alessio sudah menyiapkan panggung untuk menjadikannya sang Ratu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Yessika tersenyum lebar, merasa di atas angin saat melihat Alessio melunak. Dengan gerakan manja yang lambat, ia merangkak ke atas ranjang, memangkas jarak di antara mereka.

Jarinya yang lentik meluncur lembut dari rahang Alessio, turun mengusap dada bidang pria itu yang terekspos di balik kemeja putihnya yang terbuka.

"Aku tahu kau tidak bisa menolakku, Alessio..." bisik Yessika dengan deru napas hangat yang memburu.

Ia memejamkan mata, memajukan wajahnya hendak mendaratkan ciuman mesra di bibir Alessio. Namun, tepat sebelum bibirnya menyentuh kulit pria itu...

Bugh!

Satu pukulan tajam dan presisi menghantam tengkuk Yessika. Mata wanita itu seketika mendelik sebelum akhirnya tertutup rapat. Tubuhnya langsung ambruk tak sadarkan diri tepat di atas pangkuan Alessio.

Tanpa henti sedetik pun, Alessio mendorong tubuh Yessika secara kasar hingga terhempas ke sisi ranjang bagaikan karung beras. Ia bangkit berdiri, menatap tubuh wanita berbalut lingerie merah itu dengan raut wajah amat dingin dan tajam.

"Menjijikkan," desis Alessio.

Ia mengibaskan kemejanya, mengusap bekas sentuhan jemari Yessika di dadanya seolah baru saja terkena noda lumpur yang kotor. Setelah itu, ia memastikan Yessika masih bernapas teratur namun pingsan total, Alessio melangkah tenang keluar dari kamarnya.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis saat melirik koridor yang sudah kosong. Ia tahu betul ke mana bayangan wanita anggun itu melarikan diri.

Di dapur utama Kediaman Carlton yang redup dan sunyi, Vanessa berdiri menyandar pada konter granit. Tangannya yang gemetar memegang gelas berisi air dingin. Ia meminumnya teguk demi teguk demi meredakan gemuruh di dadanya.

Tubuhnya bergidik ngeri tiap kali ingatan visual di kamar Alessio terlintas.

"Tingkahnya benar-benar murahan," gumam Vanessa dengan wajah bersungut-sungut, mendesis geli sekaligus jijik. "Demi pria, dia rela memakai pakaian minim seperti itu dan mengemis sentuhan di tengah malam? Gila."

"Siapa yang kau sebut gila, Nona Vanessa?"

"Aww!"

Vanessa tersentak hebat hingga gelas di tangannya hampir terlepas. Suara berat itu bergema tepat di belakang telinganya.

Baru saja ia hendak menjerit ketakutan, sebuah telapak tangan yang lebar, hangat, dan beraroma kayu cendana langsung membekap mulutnya erat-erat.

Tubuh tegap Alessio mengurung Vanessa dari belakang, menekan wanita itu rapat pada pinggiran konter dapur.

"Jangan berteriak kalau kau tidak ingin seluruh penjaga dan Jordan terbangun," bisik Alessio tepat di samping pelipis Vanessa. Suaranya serak dan sarat ancaman yang intim.

"Anggukkan kepalamu kalau kau mengerti."

Vanessa menegang, pasrah menganggukkan kepalanya pelan.

Alessio perlahan menarik tangannya kembali, namun ia tidak mundur sedikit pun. Matanya yang tajam menatap lekat wajah Vanessa yang tampak kaget.

"Kau sungguh tidak sopan, Nona Vanessa," sindir Alessio dengan senyum miring yang provokatif.

"Malam-malam begini, bukannya tidur nyenyak di kamar, kau malah berkeliaran mengintip ke dalam kamar pria lain. Menikmati pertunjukannya, hm?"

Wajah Vanessa seketika memanas. Malu dan gengsi membakar dadanya, namun ia menolak terlihat terintimidasi. Ia mendongak, menantang tatapan Alessio dengan tajam.

"Siapa yang mengintip?!" sangkal Vanessa cepat, suaranya ditahan agar tetap pelan.

"Itu salahmu dan Yessika sendiri! Kalau mau bermesraan dan melakukan hal kotor, kenapa pintumu tidak ditutup rapat?! Kau pikir aku sudi melihat pemandangan murahan seperti itu?"

Alessio terkekeh rendah, menyilangkan tangannya di depan dada dengan santai.

"Lalu kenapa kau berdiri begitu lama di depan kamar kalau tidak tertarik?"

Vanessa memutar bola matanya, bersedekap dada menutupi gaun tidur sutranya yang tipis.

"Aku hanya lewat karena mau ke dapur!" tangkis Vanessa tajam.

Namun, matanya melirik sinis ke arah kancing kemeja Alessio yang masih terbuka, lalu menatap jam dinding dapur yang baru menunjukkan jeda waktu sangat singkat sejak ia meninggalkan koridor tadi.

Sebuah senyum ejekan terukir di bibir Vanessa.

"Ngomong-ngomong... kenapa cepat sekali kau keluar kamar? Apa cara mainmu memang secepat ini?"

Gerakan Alessio membeku. Selama empat detik penuh, pria itu hanya menatap Vanessa tanpa berkedip, terkejut oleh keberanian dan kalimat frontal yang meluncur mulus dari bibir manis wanita itu.

"Kau..." Alessio menyipitkan matanya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. "...sedang meremehkanku?"

Vanessa menahan napasnya, menolak mundur meski degup jantungnya berdentam gila-gilaan.

"Bukan begitu. Aku hanya menyatakan fakta. Kau baru saja menyuruh wanita itu masuk, dan tidak sampai lima menit kau sudah ada di sini. Wajar kan kalau aku curiga?"

Seringai berbahaya yang amat pekat terukir di wajah tampan Alessio. Tangannya terulur, bertumpu di konter di kiri dan kanan tubuh Vanessa, menguncinya sepenuhnya.

"Ingin membuktikannya sendiri?" bisik Alessio, suaranya turun satu oktaf, bergema dalam dan begitu menggoda di ceruk leher Vanessa.

"Kau bisa mencoba bertaruh denganku malam ini, Vanessa... untuk tahu seberapa lama aku sanggup bertahan."

Pipi Vanessa seketika memerah padam. Rona panas menjalar hingga ke telinga dan lehernya. Ia membelalak, mendorong dada tegap Alessio dengan jemarinya yang gemetar.

"B-bukan itu maksudku!" seru Vanessa terbata-bata, merutuki kegagapannya sendiri. Ia memalingkan wajah, berusaha keras menguasai diri.

"Lagipula... aku tidak sudi! Aku tidak berminat dengan pria bekas Yessika!"

Alessio tidak bergerak dari posisinya, namun tatapan matanya meleleh lembut, dipenuhi kilatan kepuasan saat melihat rona merah di wajah Vanessa.

"Aku bukan bekas siapa-siapa, Vanessa," ujar Alessio tenang namun tegas. "Aku belum menyentuhnya. Sama sekali."

Vanessa tersentak. Kepalanya mendongak cepat. Ia menatap mata Alessio mencari kebohongan di sana.

"Apa? Kau...tidak menyentuhnya?" ulang Vanessa heran. "Tapi tadi aku jelas-jelas melihat Yessika merangkak ke atas ranjangmu dengan pakaian seperti itu! Lalu... kalau kau tidak menyentuhnya, di mana Yessika sekarang?"

Alessio menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin, mengibaskan tangannya santai.

"Dia hanya menumpang tidur di kamarku. Jadi, ya... kuizinkan."

"Menumpang tidur?" Vanessa mengernyit bingung. "Maksudmu?"

"Aku memukul tengkuknya sampai pingsan dan membiarkannya tergeletak di atas kasurku," jawab Alessio tanpa rasa bersalah sedikit pun. "

Toh, dia sendiri yang bilang sangat ingin berada di kamarku malam ini, bukan?"

Vanessa melongo, menatap Alessio dengan tatapan tak percaya. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak terduga. Dingin, kejam, namun di saat yang sama memiliki prinsip yang tak tergoyahkan.

"Kau... benar-benar iblis, Alessio," gumam Vanessa lirih.

Alessio tersenyum miring, menundukkan wajahnya sedikit lebih dekat hingga bibirnya menyapu lembut sudut telinga Vanessa.

"Bagaimana dengan tawaran ku sebelumnya? Apa kau bersedia tidur dengan ku?"

1
mery harwati
Kapan hadir Allesio junior?
dewi rofiqoh
Lanjuut kak
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
akhirnya hama2 sedikit demi sedikit di Brantas habis 👍👍👍😉😁
mery harwati
Barang bekas mau dikasihin ke Vanessa 😛
dewi rofiqoh
Bukan karena Jordan yessika! Vannesa melakukan ini karena ingin melihat kalian hancur
rurry Irianty
perlu d getok kepala jalang satu ini,mana mau Vanessa SM mokondo busuk jordan
Sari Nilam: getok aja pake palu sekalian, ngapain balik ke jordan yang sudah gak ada apa2nya,
Alessio lebih bagus. ngarep tuh biar bisa balik ke alessio....halu
total 1 replies
ryuka
diiihhh siapa yg mau mungut sampah kaya jordon..kamu doank yessika 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Umi Zein
rasakan tuh pria tua Bendot, ngmbil harta hasil nipu ngerampas ya habis lah, sama aja lu Kya besan lu, si cathur sma2 serakah ngerampas harta anak sah
dewi rofiqoh
Giliran kamu benny🤭🤭
Umi Zein
dasar Bendot gak tau diri udh numpang hidup dr harta istri eeh istrinya malah di selingkuhin, bener2 gak tau malu lu Bendot tua, enak aja harta Mamanya Vanesa elu nikmatin sma selingkuhan dan anak haram lu 😠😠
Umi Zein
dirupiahkan bisa jdi brpa M itu?!🙄🙄🤣🤣
Umi Zein
ayo Vanesa rebut kembali harta ibu yg memang mnjdi hakmu, biar si Bendot tau rasa sma gundik dan anak haramnya 😏😏😠
Mundri Astuti
nah iya ...enak beud bapak kau klo dibiarin keenakan tuh si wewegombel
ryuka
bagus vanessaa 🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥
Al Bunda
nazis😡😡😤😤.
Umi Zein
makan tuuh kata penyesalan.. klo seandainya Vanesa ga punya apa2 juga elu gak bakalan mau sama Vanesa 😏😏
Umi Zein
Karena faktanya seluruh aset warisan itu milik Ale2 udh seharusnya balik ketangan Ale2 pemilik sah nya. dan atas dasar kesabaran Ale2 akhirnya dia bisa ngambil haknya kembali yg di rampas sma bpak durjana Elu Jordan sampah'. sekarang nikmatin hasil dari niat dan perbuatan busuk elu sm bpk durjana Elu 😠😠
dewi rofiqoh
Lanjuut
Umi Zein
hadeu Jor elu tuh mau mnta maaf mau ngemis sma Vanesa knpa malah jdi elu yg Emosi karna Vanesa udh cinta sm Ale2 😏😏😏

wong edan 🤣🤣🤣🤣
Umi Zein
semoga segera dapet debay biar joran pancingan gak ngusik2 Vanesa lagi😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!