Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:260
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panik

Tepat sekitar pukul 19.15.

Zevanna meninggalkan Verion Group. Ia mengendarai mobil, pulang sambil masih memikirkan pesan barusan.

Besok, jangan datang ke lantai enam.

Zevanna menyandarkan punggungnya ke jok mobil. "Kenapa gue nggak boleh ke lantai enam? Emang ada apa di lantai enam, sih?"

Beberapa menit kemudian, lampu indikator di dashboard mobil menyala Zevanna mulai bingung karena mobil terasa sedikit tidak normal.

Ia akhirnya menepi di tempat yang cukup aman dan mencoba memeriksa keadaan mobil.

"Aduh, kenapa lagi nih mobil?" Gumamnya, lalu ia keluar dari mobilnya.

Saat Zevanna sedang kebingungan, terdengar suara mobil berhenti tidak jauh di belakangnya.

Zevanna menoleh dan melihat mobil tersebut.

Ternyata itu Ravenzo yang kebetulan lewat.

Ravenzo turun dari mobil dan menghampiri Zevanna. "Kamu kenapa?"

Zevanna agak kaget. "Pak Ravenzo?"

Ravenzo melihat mobil Zevanna. "Mobilmu bermasalah?"

Zevanna mengangguk. "Iya, Pak. Tadi aku udah coba periksa tapi nggak ngerti, hehe."

"Ya udah, saya bantu benerin mobil kamu." Kata Ravenzo datar.

"Eh, nggak usah, Pak." Tolak Zevanna pelan.

Ravenzo menoleh dan mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Saya takut ngerepotin bapak." Jawab Zevanna mantap.

"Emang kamu mau sendirian terus disini?" Tanya Ravenzo dingin menatap Zevanna.

Zevanna terdiam sejenak. "Ya... Nggak sih..."

Ravenzo menghela napas. "Makanya jangan gengsi jadi orang."

"Saya nggak gengsi, Pak. Saya cuma takut kalau bapak kecapean bantuin mobil saya." Ucapnya sambil tersenyum kecil.

Ravenzo menatapnya datar. "Saya nggak kecapean."

Kemudian Ravenzo memeriksa bagian mobil Zevanna yang bermasalah sebisanya.

Zevanna berdiri di samping sambil memperhatikan. "Bapak ngerti soal mobil, kah?"

"Sedikit." Jawabnya singkat sambil melihat bagian mobil Zevanna.

"Oh kirain CEO cuma ngerti angka sama rapat aja." Kata Zevanna menatap jalan.

Ravenzo menoleh datar. "Saya juga manusia."

Zevanna menahan tawa. "Iya sih manusia es."

Ravenzo menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Zevanna.

Setelah diperiksa, masalahnya ternyata tidak terlalu serius.

"Mobil kamu nggak terlalu bermasalah, tapi harus dibawa ke bengkel." Kata Ravenzo menoleh ke arahnya.

"Bengkel ya? Ya udah aku telpon petugas bengkel aja ke sini." Zevanna hendak mengeluarkan ponselnya. Namun Ravenzo menahannya.

"Nggak usah." Katanya singkat.

Zevanna mendongak dan mengerutkan kening. "Kenapa nggak usah, Pak?"

"Ini udah malem, saya anterin kamu pulang." Jawab Ravenzo, mengibaskan tangannya yang terkena debu.

Zevanna menggeleng cepat. "Eh, nggak usah, Pak. Saya bisa pulang naik taksi atau ojol."

"Daerah sini mana ada taksi dan ojol, udah kamu masuk mobil saya. Kalau nggak, saya tinggal." Kata Ravenzo dingin membuat Zevanna tersentak.

"Jangan dong, Pak. Masa bapak tega sama saya sih? Saya ini cewek. Pak, kalau saya diapa-apain gimana?" Kata Zevanna sok drama membuat Ravenzo mendengus dingin.

“Kalau begitu, masuk. Saya antar.” Tegas Ravenzo.

Zevanna mengerucutkan bibirnya. "Iya, Pak. Saya masuk mobil nih."

Zevanna berjalan ke mobil Ravenzo.

Ravenzo masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.

Di dalam mobil, suasananya terasa canggung.

Zevanna sesekali melihat ke luar jendela.

Ravenzo meliriknya sekilas. "Kamu dari tadi diam."

"Saya lagi mikir." Jawabnya singkat enggan menoleh ke arahnya.

"Tentang apa?" Tanya Ravenzo.

Zevanna terdiam sejenak, ia hampir mengatakan tentang pesan anonim, tetapi mengurungkan niatnya.

"Tentang kerjaan. Pak." Balas Zevanna sambil tersenyum kecil.

Ravenzo menatapnya sekilas lalu kembali menatap ke depan. Ia tidak memaksa.

Zevanna menoleh ke arah Ravenzo yang serius menyetir mobil.

"Pak, saya capek."

"Capek kenapa?"

"Kenapa kerjaan saya banyak banget sih, Pak? Saya kan cuma staf biasa, saya manusia bukan robot jalan, Pak." Keluh Zevanna.

"Kamu baru jadi staf aja udah ngeluh, gimana jadi bos?" Kata Ravenzo dingin membuat Zevanna mendelik.

"Bapak tuh kalau ngomong suka bikin orang emosi." Cibirnya, merenggut masam.

"Tapi kamu masih terus bicara." Ledek Ravenzo kalem.

"Ya karena bapak nyebelin." Sungut Zevanna.

Ravenzo menahan senyum.

Zevanna menyadarinya. "Bapak barusan senyum?"

Ravenzo langsung menggeleng. "Tidak."

"Saya lihat tadi, bapak senyum. Udah nggak usah ditahan, Pak. Kalau mau senyum, senyum aja." Kata Zevanna. "Lagian bapak kaku banget, nggak mau senyum kayak bukan manusia."

Ravenzo langsung menoleh tajam. "Saya jarang senyum bukan berarti bukan manusia!"

"Ya makanya senyum, Pak. Senyum itu ibadah pak, kalau bapak senyum sedikit aja. Beban bapak bakal ilang, nih liat saya, Pak!" Seru Zevanna sambil tersenyum lebar.

Ravenzo menoleh ke arahnya. "Kamu sedang apa? Senyum kayak gitu?"

"Ya biar bapak tau caranya senyum, kayak gini, Pak." Zevanna memajukan wajahnya dan tersenyum manis.

"Saya sedang menyetir, Zevanna!"

"Makanya liat dulu, Pak. Bentar."

Ravenzo melirik ke arah Zevanna yang sedang tersenyum manis, ia menatapnya beberapa detik. Lalu kembali menatap jalan raya.

Ravenzo berdehem kecil. "Udah liat, puas kamu?"

Zevanna mengulum bibirnya dan mengangguk. "Gimana, Pak. Tadi senyumnya? Manis kan?"

Ravenzo menelan ludahnya. "Biasa aja." Jawabnya singkat.

"Masa biasa aja sih, Pak?" Tanya Zevanna.

"Emang kamu maunya dijawab apa?"

"Manis."

Ravenzo kembali menoleh. "Hm, manis."

Zevanna langsung merekah. "Nah, gitu dong, Pak. Jadi saya nggak sia-sia saya senyum tadi."

Ravenzo menghela napas dan menggelengkan kepalanya. "Dasar."

"Eh, Pak. Nanti berhenti di coffee shop, ya." Kata Zevanna pelan.

"Mau ngapain?" Tanyanya singkat.

"Ya mau beli kopi lah, Pak. Masa beli kambing sih!" Cetus Zevanna jengkel.

Ravenzo cuma berdehem. "Hm."

Mobil Ravenzo berhenti di sebuah tempat coffee shop yang cukup ramai.

Zevanna langsung turun.

Sekitar sepuluh menit, Zevanna kembali, ia membawa dua minuman.

Zevanna masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. "Nih, buat bapak." Ia menyerahkan satu minumannya pada Ravenzo.

Ravenzo menatap minuman itu. "Kenapa buat saya? Saya tidak minta."

"Saya tahu. Saya cuma mau kasih aja ke bapak. Biar nggak ngantuk pas di jalan. Kalau bapak ngantuk terus nabrak orang, kan bahaya itu." Cecar Zevanna menggebu.

Ravenzo menghela napas dan mengambil minuman itu. "Makasih."

Zevanna tersenyum kecil. "Sama-sama," ia meminum kopinya.

Ravenzo menatapnya cukup lama.

Zevanna yang merasa diperhatikan langsung menoleh. "Bapak kenapa liatin saya kayak gitu?"

Ravenzo tersentak lalu berdehem pelan. "Nggak apa-apa."

Zevanna manggut-manggut saja. "Ohhh, kirain kenapa."

Ravenzo kembali menjalankan mobilnya meninggalkan coffee shop tersebut.

Suasana mulai tenang.

Ravenzo tiba-tiba bertanya. "Kamu benar-benar baik-baik saja?"

Zevanna menoleh. "Kenapa bapak nanya kayak gitu?"

"Sejak kemarin kamu terlihat banyak pikiran." Jawabnya.

Zevanna terdiam. Ia hampir mengatakan tentang ancaman tersebut, tetapi kembali mengurungkan niatnya.

"Saya cuma kecapekan aja, Pak."

Ravenzo hanya mengangguk. "Kalau kecapekan, istirahat."

"Iya, Pak."

Ravenzo menghentikan mobilnya di depan rumah Zevanna.

Zevanna membuka pintu dan turun dari mobil. "Makasih ya, Pak. Udah anterin saya pulang."

"Besok bawa mobil kamu ke bengkel." Kata Ravenzo datar.

"Iya, ya udah, Pak. Saya masuk dulu." Zevanna hendak pergi.

Ravenzo memanggilnya. "Zevanna."

Zevanna menoleh ke arahnya.

"Jangan terlalu memaksakan diri." Ucap Ravenzo tegas.

Zevanna terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Iya, Pak. Bapak juga istirahat. Jangan sibuk kerja terus."

Ia kemudian masuk ke rumah.

Setelah Zevanna pergi, Ravenzo masih memandang ke arah rumahnya.

Ia melirik minuman kopi yang dikasih Zevanna. Ia meminum kopi tersebut.

Ravenzo teringat senyuman Zevanna.

Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit.

"Manis."

Lalu Ravenzo melajukan mobilnya meninggalkan rumah Zevanna.

Di tempat lain, Bisma sedang membereskan alat-alat pembersih.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

Ting!

Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Unknown: Kalau kamu masih ingin semuanya tetap aman, jangan bicara kepada Zevanna.

Bisma tersentak, seketika wajahnya berubah tegang. Ia menghapus pesan tersebut.

Namun sebelum memasukkan ponselnya masuk pesan kedua.

Ting!

Bisma kembali menatap layar ponselnya.

Unknown: Aku tahu apa yang kamu lakukan. Bisma.

Bisma menelan ludahnya, menatap layar dengan cemas.

"Nggak mungkin dia tau." Gumamnya.

Sementara itu, di sisi lain.

Hesa berada di area Pantry.

Ia mendapat telepon dari nomor tak dikenal.

Awalnya ia tidak mengangkatnya. Namun, telepon kembali masuk.

Akhirnya Hesa mengangkat telepon itu.

"Halo...?"

Suara di seberang hanya berkata.

"Jangan ikut campur."

Telepon langsung terputus.

Hesa terlihat takut, ia menatap sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya.

"Nggak mungkin ada yang tau ini!" Kata Hesa menggenggam ponselnya dengan erat. Lalu ia pergi meninggalkan pantry.

***

Keesokan harinya, Vera terlihat berbicara dengan seseorang di area luar perusahaan.

Percakapan mereka tidak begitu terdengar jelas.

Vera terlihat serius menatap lawan bicaranya.

Saat menyadari ada staf lain yang lewat, Vera langsung menghentikan percakapan dan pergi.

Staf tersebut hanya melihat dari kejauhan.

"Mbak Vera kenapa, ya?" Katanya heran.

Sementara itu, di dalam Verion Group, Zevanna kembali bekerja.

Ia masih memikirkan pesan anonim dari malam sebelumnya.

Tisha menyadari Zevanna terlihat tidak fokus.

"Lo kenapa sih akhir-akhir ini diem?" Tanya Tisha penasaran.

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak kenapa-napa kok."

Tisha menyipitkan matanya. "Yakin nggak kenapa-napa lo?"

"Iya, Tisha. Gue nggak kenapa-napa, lo bisa liat sendiri kan? Gue sehat walafiat!" Sentak Zevanna.

"Ya kirain lo sakit atau kenapa gitu, nggak biasanya diem. Jadi gue ngerasa lo aneh gitu!" Kata Tisha.

Zevanna mendelik tajam. "Maksud lo apa? Lo kira gue ini superhero? Robot? Pesulap? Badut? Speaker gitu?"

"Nggak gitu maksud gue, Zev." Balas Tisha pelan.

"Alah, bacot lo!"

Saat kembali menatap layar komputer, tiba-tiba Andrew menghampiri Zevanna dan kembali membawa makanan serta minuman.

"Nih, Zev."

Zevanna mendongak dan menatapnya. "Mas Andrew lagi?"

Andrew tertawa kecil. "Kenapa? Nggak boleh aku ngasih kamu makanan?"

"Boleh sih. Makasih ya." Zevanna menerima makanan itu.

Andrew mengangguk lalu pergi menuju ruangannya.

Zevanna menatap makanan tersebut sebentar.

Tisha menghampiri Zevanna. "Zev."

"Apa lagi sih?"

"Gue serius. Kenapa Mas Andrew sering banget ngasih lo makanan?" Tanya Tisha.

Zevanna menatap Tisha. "Ya kan gue udah bilang kemarin, dia mungkin cuma baik."

Tisha menatap Andrew yang semakin jauh. "Entahlah. Gue cuma ngerasa aneh. Feeling gue nggak enak sama tuh orang."

"Hadehhh... Lo tuh ya, curiga mulu sama orang. Dia cuma ngasih gue makanan bukan ngasih gue bom atom!" Kata Zevanna. "Nggak usah berpikir aneh sama orang nanti kualat, tau rasa lo!"

Tisha mendengus kecil. "Iyain aja, lah."

Saat mereka berbicara, Bisma lewat dan tanpa sengaja mendengar percakapan mereka.

Zevanna menoleh dan memanggil Bisma.

"Mas Bisma!"

Bisma berhenti dan menoleh. "Ya, Mbak?"

"Tadi saya liat area loker belum dibersihkan, Mas."

Bisma terdiam dan gugup. "Maaf, Mbak. Saya lagi buru-buru." Ia langsung pergi.

Zevanna mengerutkan kening. "Kok dia kayak menghindari gue, ya?"

Tisha ikut memperhatikan Bisma. "Dia keliatan gugup pas liat lo, Zev."

Zevanna mengangkat alisnya. "Hah?"

"Dia kayak ketakutan gitu pas liat lo!" Kata Tisha.

"Takut liat gue? Emang gue kenapa?"

Tisha mengangkat bahu. "Mana gue tau, mungkin lo punya salah sama dia."

Zevanna mendelik tajam. "Salah apaan? Orang gue diem aja, nggak ngapa-ngapain."

Sementara itu, Bisma masuk ke ruangan kosong dan mengeluarkan ponselnya.

Bisma membaca kembali pesan ancaman tadi malam.

Ia terlihat takut.

Kemudian seseorang masuk.

Ceklek!

Bisma buru-buru menyimpan ponselnya.

Orang tersebut ternyata Vera.

Vera memperhatikan ekspresi Bisma. "Lo kenapa?"

Bisma menggeleng cepat dan mengatur wajahnya. "Nggak apa-apa kok."

Vera menatapnya beberapa detik, seolah tahu Bisma sedang berbohong.

Vera kemudian pergi tanpa menjelaskan apa pun, membuat Bisma merasa lega.

Ia mengelus dadanya. "Selamat, untung dia nggak nanya-nanya lagi."

Di koridor lain, Hesa bertemu Vera.

Keduanya saling menatap.

Hesa tampak ingin mengatakan sesuatu. Namun, ia mengurungkan niatnya.

"Lo mau ngomong sesuatu?" Tanya Vera.

Hesa menggeleng. "Nggak."

Lalu Hesa pergi meninggalkan Vera sendirian.

Vera memperhatikan kepergiannya dengan ekspresi sulit dibaca.

"Kenapa dia kayak ketakutan gitu?" Gumam Vera.

Vera mengeluarkan ponselnya dan melihat layar sebentar.

Tidak ada pesan baru.

Ia kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

Tatapan Vera kembali tertuju ke arah Bisma yang baru saja pergi.

"Kenapa mereka berdua akhir-akhir ini aneh?" gumamnya pelan.

Vera menghela napas, lalu berjalan kembali menuju ruangannya.

Namun, sebelum benar-benar pergi, ia sempat menoleh ke arah koridor yang tadi dilewati Hesa.

Ekspresinya terlihat sulit dibaca.

***

Menjelang siang yang mulai memanas, Zevanna kembali ke meja kerjanya.

Ia melihat makanan dan minuman dari Andrew.

Rasa tidak nyaman mendadak merayapi tubuhnya. Bukan sakit parah, hanya rasa lelah yang menumpuk—mungkin akibat kurang tidur.

"Kayaknya gue cuma kecapekan," gumamnya pelan.

Ia belum menyentuh makanan tersebut lagi.

Beberapa saat kemudian, ia mendapat tugas keluar ruangan.

Saat Zevanna pergi meninggalkan meja untuk menjalankan tugasnya, Andrew kebetulan melewati area tersebut.

Langkahnya terhenti ketika melihat makanan dan minuman yang tadi ia berikan masih berada di atas meja Zevanna.

Andrew menatap makanan tersebut beberapa saat.

Ia kemudian melihat ke sekeliling, memastikan keadaan sekitar sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya.

Namun, tanpa disadari Andrew, seseorang memperhatikannya dari kejauhan.

Hesa berdiri di dekat lorong dan melihat Andrew yang tadi berhenti di meja Zevanna.

Hesa mengerutkan kening. "Ngapain Mas Andrew berhenti di meja Mbak Zevanna?" gumamnya pelan.

Andrew akhirnya berjalan pergi tanpa menyentuh makanan maupun barang apa pun di meja Zevanna.

Hesa masih memperhatikannya sampai sosok Andrew menghilang dari pandangan.

Kakinya sempat melangkah maju—berniat mengejar. Namun, ingatan tentang ancaman yang diterimanya malam sebelumnya kembali terlintas di kepalanya.

Ia mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Dengan napas yang tertahan dan berat.

"Aku nggak boleh ikut campur."

Hesa akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan lorong.

Zevanna kembali ke mejanya setelah menyelesaikan tugasnya.

Namun, langkahnya terhenti ketika menyadari posisi beberapa barang di atas mejanya sedikit berubah.

Ia melihat tasnya yang berada di samping kursi.

Benda kecil milik Zoyya masih ada di dalamnya.

Namun, posisi tas tersebut tidak seperti sebelumnya.

"Perasaan gue tadi naruhnya nggak kayak gini," gumamnya pelan.

Zevanna menatap sekeliling. Area meja kerjanya terlihat biasa saja, tidak ada yang tampak mencurigakan.

Tatapannya kemudian jatuh pada makanan dan minuman dari Andrew yang masih berada di atas meja.

Ia kembali teringat bagaimana Andrew beberapa kali memberinya makanan dan sempat memperhatikannya.

"Apa tadi ada orang lain ke meja gue, ya?" gumamnya sambil menggaruk kepalanya.

Ia terdiam sejenak.

"Ah, mungkin perasaan gue aja kali."

Zevanna akhirnya duduk kembali dan melanjutkan pekerjaannya.

***

Menjelang sore yang kian meredup, Zevanna mulai merasa tidak enak badan. Kepalanya terasa berat dan seluruh tubuhnya melemas.

Tisha langsung menatap lekat wajah Zevanna. "Zev, lo beneran enggak apa-apa?"

Zevanna menggeleng pelan sambil memaksa sebuah senyum. "Gue cuma kecapekan aja, Tis."

Namun, baru saja berniat berdiri, lutut Zevanna mendadak lemas hingga tubuhnya sedikit oleng.

Dengan sigap, Tisha langsung memegang kedua lengan Zevanna. "Gimana enggak apa-apa? Muka lo pucet banget gini, Zev!"

Dari kejauhan, Andrew memperhatikan interaksi itu. Raut santai di wajahnya seketika sirna, berganti dengan sorot mata panik saat melihat Zevanna yang nyaris ambruk.

Zevanna kembali duduk di kursinya dengan napas berat.

Tisha mengambil kotak makanan dari atas meja. "Yang ini dari Mas Andrew, kan?"

Zevanna hanya mengangguk lemah, tak punya tenaga untuk bersuara.

Tisha menatap makanan itu dengan curiga. “Tolong panggil Pak Ravenzo sekarang!” katanya kepada staf lain.

Beberapa saat kemudian, Ravenzo muncul dari lorong—langsung datang begitu mendengar kabar bahwa Zevanna tidak enak badan.

Langkah kaki Ravenzo bergerak cepat menghampiri meja itu. "Zevanna."

Zevanna mendongak, menatap Ravenzo dengan pandangan yang mulai kabur dan membayang. "Pak..."

Ravenzo menilai wajah pucat Zevanna sekilas. "Kita ke rumah sakit."

Zevanna mencoba kembali memaksa berdiri, tetapi kedua kakinya langsung kehilangan tumpuan. Tubuhnya ambruk ke depan, yang refleks ditangkap dan ditopang oleh Ravenzo.

Bersamaan dengan itu, kesadaran Zevanna menghilang dan kelopak matanya terpejam rapat.

"Zevanna? Bangun," panggil Ravenzo, nadanya tak lagi setenang biasanya.

"Aduh, dia pingsan, Pak!" seru Tisha panik.

Tanpa membuang waktu, Ravenzo langsung menyusupkan tangannya dan menggendong tubuh Zevanna ala bridal style. Ia melangkah lebar menuju keluar lobby kantor, disusul Tisha dan Arvin yang berlari kecil di belakangnya.

Di sisi lain ruangan, Andrew berdiri mematung.

Wajahnya perlahan memucat. Pandangannya tertuju lurus pada kotak makanan di meja yang tadi sempat ia berikan kepada Zevanna.

Tiba-tiba ponsel di genggamannya bergetar.

Ting.

Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Unknown: Sekarang semua orang akan percaya kalau itu ulahmu.

Tubuh Andrew seketika membeku. Jarinya kaku, hanya sanggup menatap layar ponselnya beberapa detik dengan napas tertahan.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!