Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1Perempuan yang Datang ke Pemakamannya Sendiri

Mobil yang dikendarai Naren berhenti di seberang rumah keluarga Mahardika ketika hujan baru saja reda. Kaluna belum membuka pintu. Ia tetap duduk sambil memperhatikan rumah dua lantai di balik pagar hitam. Lampu-lampu taman sudah menyala meskipun langit belum sepenuhnya gelap. Deretan mobil memenuhi halaman dan sisi jalan, menandakan banyak orang datang malam itu.

Tiga tahun lalu, Kaluna masih menyebut tempat itu rumah. Ia pernah memilih warna dinding ruang keluarga, memindahkan meja makan karena merasa letaknya terlalu dekat dengan dapur, lalu berdebat dengan Arsen mengenai tanaman yang cocok diletakkan di dekat teras. Di halaman belakang, pernah ada ayunan kecil berwarna putih untuk Elara.

Dari tempatnya duduk sekarang, Kaluna tidak bisa melihat apakah ayunan itu masih ada.

“Kita masih bisa balik,” kata Naren.

Kaluna mengalihkan pandangan dari rumah. “Kembali ke mana?”

“Hotel.”

“Setelah sampai sejauh ini?”

“Kau nggak harus menghadapi mereka malam ini.”

Kaluna kembali menghadap ke depan. Seorang petugas keamanan membuka pagar untuk menyambut tamu yang baru datang. Di belakangnya, rangkaian bunga putih memenuhi bagian teras.

“Aku sudah nunggu tiga tahun,” ucap Kaluna. “Kalau sekarang pulang, besok juga rasanya bakal sama.”

Naren tidak membantah. Tangannya masih berada di kemudi meskipun mesin mobil telah dimatikan.

“Aku cuma ngingetin,” katanya. “Kau datang buat lihat keadaan, bukan bikin keributan.”

“Aku tahu.”

“Kalau keadaan berubah, kita langsung keluar.”

Kaluna menarik napas perlahan. “Kau ngomongnya kayak kita mau masuk sarang penjahat.”

“Aku nggak tahu siapa saja yang ada di dalam rumah itu.”

“Aku tahu.”

Naren menoleh kepadanya. Kaluna tidak menjelaskan lebih jauh. Ia memang mengenal orang-orang yang tinggal di rumah itu, tetapi tiga tahun cukup lama untuk mengubah banyak hal.

Arsen telah menikah lagi. Elara tumbuh tanpa dirinya. Veyra kini tinggal di rumah yang dahulu menjadi miliknya. Bahkan tanda tangan Kaluna masih digunakan dua bulan setelah ia dinyatakan meninggal. Orang mati seharusnya tidak bisa menyerahkan saham dan rumah kepada siapa pun.

Kaluna membuka pintu mobil. Udara dingin langsung menyentuh wajahnya. Bau tanah basah membuat kepalanya sempat terasa berat, tetapi ia segera menahan diri.

Naren ikut turun.

“Kau nggak perlu menemaniku sampai masuk,” kata Kaluna.

“Aku nggak akan biarin kamu masuk sendiri.”

“Aku nggak datang buat ribut.”

“Masalahnya, kita nggak tahu mereka bakal ngapain setelah lihat kamu.”

Kaluna tidak menjawab. Ia menyeberang jalan bersama Naren, kemudian berjalan menuju pagar. Sejumlah tamu datang hampir bersamaan sehingga petugas keamanan hanya memeriksa undangan mereka sekilas.

Kaluna menundukkan wajah ketika melewati gerbang. Tidak ada yang mengenalinya. Mungkin karena rambutnya kini lebih pendek. Mungkin karena tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan tiga tahun lalu. Bekas luka kecil di dekat pelipis kiri juga membuat wajahnya sedikit berbeda.

Atau mungkin karena tidak ada seorang pun yang menyangka perempuan yang mereka kira sudah mati masih ada di tengah mereka.

Begitu memasuki rumah, Kaluna langsung mengenali aroma bunga sedap malam yang memenuhi ruangan. Ibu Arsen selalu memilih bunga itu untuk setiap acara keluarga. Para tamu mengenakan pakaian berwarna gelap. Mereka duduk dalam kelompok-kelompok kecil, berbicara pelan sambil memegang minuman.

Perhatian Kaluna berhenti pada sebuah foto besar di tengah ruangan.

Foto dirinya.

Dalam foto itu, Kaluna mengenakan gaun putih. Rambutnya disanggul sederhana dengan senyum tenang di wajahnya. Foto tersebut diambil saat perusahaan membuka cabang kedua. Sebenarnya Arsen berdiri di sampingnya ketika foto itu diambil, tetapi tubuh lelaki itu telah dipotong dari bingkai.

Di bawah foto terdapat tulisan kecil berwarna emas.

Mengenang Tiga Tahun Kepergian Kaluna Adiswara Mahardika.

Kaluna berdiri cukup lama di tempatnya. Rasanya aneh melihat wajah sendiri dipajang di tengah bunga-bunga duka. Lebih aneh lagi ketika orang-orang di sekelilingnya sama sekali tidak menyadari bahwa perempuan dalam foto itu sedang berdiri tidak jauh dari mereka.

“Dia masih muda waktu meninggal,” kata seorang perempuan di dekat meja hidangan.

Temannya mengangguk. “Tapi katanya sebelum kecelakaan, dia membawa uang perusahaan.”

“Aku dengar dia memang mau kabur.”

“Kasihan anaknya. Masih kecil sudah ditinggal ibunya.”

Jemari Kaluna merapat pada tali tas yang dibawanya. Naren berdiri sedikit di belakang. Ia tidak mengatakan apa pun, tetapi Kaluna tahu lelaki itu juga mendengar pembicaraan tersebut.

“Mungkin kecelakaannya terjadi karena dia panik,” lanjut perempuan tadi. “Orang yang punya masalah biasanya sudah tidak bisa berpikir jernih.”

“Kalau memang tidak bersalah, kenapa tidak ada kabar sampai mobilnya ditemukan?”

Kaluna ingin menoleh. Bukan untuk marah. Ia hanya ingin bertanya dari mana mereka mendapatkan cerita itu. Siapa yang pertama kali mengatakan bahwa dirinya membawa uang perusahaan dan mencoba melarikan diri?

Sebelum sempat bergerak, Naren menyentuh pelan sikunya.

“Bukan sekarang,” bisiknya.

Kaluna menahan napas, lalu mengangguk tipis. Ia datang bukan untuk meluruskan semua kebohongan malam itu.

Belum sekarang.

Suara langkah kecil dari arah tangga membuat beberapa tamu menoleh.

Seorang anak perempuan turun sambil membawa selembar kertas gambar. Rambutnya dikuncir dua. Ujung gaunnya sedikit terangkat karena ia berjalan terlalu cepat.

Kaluna langsung mengenalinya.

Elara.

Tubuh Kaluna seketika terasa kaku. Suara di dalam ruangan seperti menjauh.

Terakhir kali ia melihat putrinya, Elara baru berusia empat tahun. Anak itu masih sering salah memasang sandal dan selalu meminta lampu kamar dibiarkan menyala. Setiap malam, Elara memeluk boneka kelinci yang sudah kusam karena terlalu sering dicuci.

Sekarang putrinya sudah jauh lebih tinggi. Rambutnya lebih panjang. Bentuk wajahnya mulai menyerupai Arsen, tetapi mata bulat itu tetap sama.

Kaluna tanpa sadar maju satu langkah.

Elara tidak menyadarinya. Anak itu masih sibuk membawa kertas gambarnya menuju ruang tengah.

“Jangan berlari. Nanti jatuh.”

Suara seorang perempuan terdengar dari atas tangga.

Veyra muncul beberapa detik kemudian. Kaluna pernah mengenal setiap gerakannya. Cara Veyra merapikan rambut ke belakang telinga. Cara perempuan itu tersenyum ketika sedang berusaha menenangkan orang lain. Bahkan gaun krem sederhana yang dikenakannya masih sesuai dengan selera Veyra sejak dahulu.

Hanya satu yang berbeda.

Veyra kini tampak seperti pemilik rumah itu.

“Elara, tadi Mama sudah bilang jangan berlari di tangga,” katanya sambil menyusul.

Elara berhenti dan menoleh. “Aku mau menunjukkan gambar ini.”

“Pelan-pelan saja.”

Veyra menghampiri, lalu berjongkok di hadapan Elara. Ia menerima kertas gambar itu lalu memeriksanya sebentar.

“Ini siapa?”

“Papa.”

“Kenapa Papa paling tinggi?”

“Karena kalau Papa marah, kepalanya hampir kena langit-langit.”

Veyra tertawa kecil. Beberapa tamu yang berada di dekat mereka ikut tersenyum.

“Kalau yang ini?”

“Itu Elara.”

“Yang di tengah?”

Elara menunjuk gambar seorang perempuan berambut panjang.

“Mama.”

Senyum Veyra melembut. Ia mencium dahi Elara, kemudian memeluknya.

Kaluna tidak bergerak.

Satu kata itu membuat tenggorokan Kaluna tercekat.

Mama.

Putrinya memanggil Veyra dengan sebutan yang dahulu hanya diberikan kepadanya.

Kaluna sudah berusaha mempersiapkan diri. Naren pernah menunjukkan foto-foto Elara bersama Arsen dan Veyra. Ia tahu mereka tinggal di rumah yang sama. Ia juga tahu Veyra merawat Elara sejak menikah dengan Arsen.

Selama ini Kaluna hanya tahu dari foto dan cerita. Mendengarnya langsung membuat dadanya sesak.

Tangan Kaluna perlahan menggenggam sisi gaunnya. Ia tidak marah kepada Elara. Anak itu tidak bersalah. Elara hanya tumbuh bersama orang-orang yang terus mengatakan bahwa ibu kandungnya telah meninggal setelah membawa masalah bagi keluarga.

“Aku cuma mau dekat dengannya sebentar,” ucap Kaluna.

Naren bergerak lebih dekat. “Belum.”

“Itu anakku.”

“Aku tahu.”

“Aku nggak datang buat ribut.”

“Masalahnya, kita nggak tahu mereka bakal ngapain setelah lihat kamu.”

Kaluna kembali memperhatikan Elara. Anak itu sedang menunjukkan bagian lain dari gambarnya kepada Veyra. Wajahnya terlihat ceria. Tidak ada kesedihan atau ketakutan seperti yang sering dibayangkan Kaluna selama masa pemulihannya.

Setidaknya Elara baik-baik saja.

Kaluna mencoba berpegang pada pikiran itu, meski dadanya tetap terasa kosong.

“Kalau mau bicara sama dia, tunggu sampai tempat ini sepi,” kata Naren.

Kaluna tidak menjawab.

“Kita bisa cari waktu yang lebih aman.”

“Aku tahu.”

Mereka belum sempat bergerak ketika suara laki-laki terdengar dari arah lorong.

“Gambarnya sudah selesai?”

Arsen muncul dengan kemeja hitam berlengan panjang. Rambut di dekat pelipisnya mulai memutih. Tubuhnya masih tegap, tetapi wajahnya tampak lebih lelah daripada yang Kaluna ingat.

Elara segera berlari mendekatinya.

“Papa, lihat!”

Arsen menerima kertas gambar tersebut. “Ini Papa?”

“Iya.”

“Kenapa tangannya panjang sebelah?”

“Karena Elara capek menggambarnya.”

Arsen tersenyum tipis. “Masuk akal.”

Veyra berdiri di sampingnya. Tangannya merapikan kerah kemeja Arsen yang sedikit terlipat. Gerakan itu terlihat biasa, seolah telah dilakukan berkali-kali.

Kaluna memperhatikan mereka bertiga.

Arsen, Veyra, dan Elara berdiri di bawah cahaya lampu ruang keluarga.

Dari kejauhan, mereka tampak seperti keluarga yang utuh.

Tidak ada tempat kosong. Tidak ada tanda bahwa dahulu pernah ada perempuan lain di antara mereka. Foto Kaluna hanya menjadi bagian dari acara untuk mengenang seseorang yang telah mati, sementara kehidupan terus berjalan tanpa dirinya.

Kaluna kembali maju.

Kali ini, Naren menahan lengannya.

“Lepaskan,” kata Kaluna.

“Kaluna.”

“Aku nggak akan bikin keributan.”

“Wajahmu sudah berubah.”

Kaluna memperhatikan wajah Naren.

“Kau nggak datang buat minta izin hidup lagi,” lanjut Naren. “Tapi waktunya tetap harus pas.”

Kaluna mengatupkan bibir. Ia tahu Naren benar. Hanya saja, Elara berdiri beberapa langkah darinya. Rencana yang tadi mereka susun mendadak terasa sulit dijalankan.

Elara tiba-tiba menoleh ke arah para tamu. Tatapannya sempat melewati Kaluna tanpa berhenti.

Tidak ada pengenalan di mata anak itu.

Dada Kaluna terasa semakin berat.

Ia akhirnya mundur satu langkah.

“Kita keluar,” katanya.

Naren melepaskan tangannya. Kaluna membalikkan badan sebelum keberaniannya hilang. Ia berjalan menuju pintu utama sambil berusaha keras untuk tidak menoleh lagi.

Pada saat yang sama, seorang perempuan setengah baya keluar dari arah dapur sambil membawa nampan berisi beberapa gelas.

Kaluna mengenal perempuan itu.

Mbok Rini telah bekerja di rumah keluarga Mahardika sejak sebelum Elara lahir. Perempuan itulah yang sering membuatkan bubur ketika Kaluna sakit dan diam-diam memberikan permen kepada Elara meskipun sudah berkali-kali dilarang.

Mbok Rini sempat berjalan beberapa langkah sebelum mengenali wajah Kaluna.

Langkahnya berhenti.

Nampan di tangannya bergetar. Satu gelas terjatuh, disusul gelas lainnya. Suara pecahan kaca membuat seluruh percakapan di dalam ruangan seketika terhenti.

Semua orang menoleh.

Mbok Rini tidak memedulikan pecahan kaca di dekat kakinya. Wajahnya memucat. Bibirnya terbuka, tetapi beberapa detik berlalu sebelum suara keluar.

“Nona...” Suara Mbok Rini terdengar gemetar. “Nona Kaluna?”

Beberapa tamu saling memandang. Mbok Rini mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Kaluna.

“Nona Kaluna masih hidup.”

Arsen menoleh.

Veyra membeku.

Elara ikut memandang perempuan asing yang berdiri di dekat pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!