Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUARA DALAM KESUNYIAN
Duniaku tidak pernah memiliki suara.
Sejak aku lahir ke dunia ini, yang ada hanyalah hening. Tidak ada bunyi gemercik air hujan, tidak ada derak daun kering yang terinjak, dan tidak ada tawa nyaring orang-orang di sekitarku. Bagi banyak orang, kesunyian adalah tempat yang menakutkan. Namun bagiku, kesunyian adalah rumah tempatku tumbuh.
Sampai akhirnya, Kaito datang dan mengajari hatiku cara mendengar.
"Hana, selamat pagi."
Gerakan jemari yang lincah dan luwes itu membentuk rangkaian bahasa isyarat di udara. Di balik kacamata tipisnya, sepasang mata hangat milik Kaito menatapku lembut. Pagi itu, di bangku kayu taman depan perpustakaan kampus kami yang rindang, Kaito duduk di sampingku seraya menyerahkan sebotol susu kedelai hangat favoritku.
Aku menyunggingkan senyuman lebar, lalu mengangkat kedua tanganku untuk membalas isyaratnya. [Selamat pagi, Kaito. Kamu tidak ada kelas pagi ini?]
Kaito menggeleng pelan, lalu jemarinya kembali menari membentuk kata-kata. [Kelas hukumku baru mulai jam sepuluh nanti. Aku sengaja datang lebih awal untuk memastikan kamu tidak kesusahan mencari materi kuliah hari ini.]
Ia membuka tas punggungnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas catatan yang ditulis rapi. Di bagian atas kertas itu, tertulis rangkuman lengkap dari mata kuliah umum yang kami ambil bersama kemarin. Kaito bahkan memberi warna stabilo kuning pada bagian-bagian penting, lengkap dengan ilustrasi gerakan isyarat kecil di pinggir kertas untuk membantuku mengingat istilah-istilah yang sulit.
Melihat kertas catatan itu, dadaku terasa hangat seraya dihinggapi rasa haru.
Aku sudah mengenal Kaito sejak kami masih berusia lima tahun. Dulu, ketika anak-anak lain di lingkungan rumah kami enggan bermain denganku karena tidak paham cara berkomunikasi denganku, hanya Kaito satu-satunya yang tidak pernah berpaling.
Aku masih ingat betul kenangan masa kecil kami. Kaito kecil yang berusia delapan tahun membawa buku tebal panduan Japanese Sign Language (JSL) yang halamannya sudah lusuh di tangannya. Ia rela melatih jemarinya yang masih kecil hingga kaku dan pegal setiap sore, hanya agar ia bisa mengajakku berbincang.
Kaito belajar bahasa isyarat dari nol. Bukan karena tugas sekolah, bukan karena diperintah orang tuanya, melainkan murni demi satu alasan sederhana: agar aku tidak merasa terasing di dunia yang sunyi ini.
Memasuki jenjang kuliah di universitas ini pun, Kaito adalah sosok yang paling mengerti betapa sulitnya aku beradaptasi. Di saat dosen mengajar dengan cepat dan mahasiswa lain asyik berdiskusi verbal, Kaitolah yang selalu duduk di sampingku. Jemarinya bergerak cepat tanpa lelah di bawah meja, menerjemahkan setiap poin penting ucapan dosen agar aku tidak tertinggal.
Bagi Kaito, keberadaannya di sampingku adalah komitmen. Dan bagiku... kehadiran Kaito adalah sesuatu yang sangat pasti. Sesuatu yang begitu rutin dan selalu ada setiap hari—hingga tanpa sadar, aku mulai menganggap ketulusan luar biasa itu sebagai hal yang wajar.
Aku menganggap keberadaan Kaito sebagai sesuatu yang tidak akan pernah hilang dari hidupku.
Siang itu, suasana kafetaria kampus sangat riuh oleh antrean mahasiswa. Aku duduk di salah satu meja sudut seraya menunggu Kaito yang sedang mengantre makanan untuk kami berdua.
Tiba-tiba, seorang pemuda bertubuh tinggi dengan pakaian kasual yang modis berjalan melewati mejaku. Langkahnya terhenti saat sebuah gantungan kunci berbentuk bunga sakura di tas genggamku tak sengaja terjatuh ke lantai.
Pemuda itu membungkuk, mengambil gantungan kunci tersebut, lalu menyodorkannya kepadaku.
Aku sedikit terperanjat. Aku segera melambaikan tanganku pelan, mengusap dadaku sendiri, lalu membentuk isyarat sederhana: [Terima kasih.]
Pemuda itu menatap gerakan tanganku dengan alis terangkat heran. Ia menyadari sesuatu, lalu tersenyum sangat lebar dan cerah. Ia meraih telepon genggam dari saku celananya, mengetik sesuatu dengan cepat di layar, lalu menyodorkan layarnya kepadaku.
‘Sama-sama! Gantungan kuncimu lucu sekali. Namaku Haruto, mahasiswa Seni Rupa semester lima. Namamu siapa?’
Aku menatap layar ponsel itu, lalu menatap wajah Haruto. Wajahnya tampan, penuh percaya diri, dan memiliki pendar kharisma yang sangat asing bagiku. Selama ini, duniaku hampir sepenuhnya hanya diisi oleh Kaito. Kehadiran pemuda asing seperti Haruto yang tiba-tiba mengajakku berinteraksi dengan cara yang begitu kasual memberi rasa penasaran yang tak pernah kurasakan sebelumnya.
Aku mengambil ponselku sendiri, mengetik balasan: ‘Namaku Hana. Salam kenal.’
Haruto tertawa, matanya menyipit ramah. Ia kembali mengetik pesan di ponselnya: ‘Senang berkenalan denganmu, Hana! Boleh aku minta kontak media sosialmu? Kapan-kapan kalau kamu senggang, aku ingin mengajakmu melihat pameran seni di galeri fakultasku.’
Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Sebuah sensasi mendebarkan yang baru—rasa tertarik pada dunia luar yang selama ini tak pernah kujangkau. Tanpa berpikir panjang, aku mengetikkan ID akun media sosialku ke ponsel Haruto.
Tepat pada saat aku menyerahkan kembali ponsel itu kepada Haruto, sebuah bayangan tinggi berdiri di samping meja kami.
Aku menoleh. Itu Kaito.
Kaito berdiri membisu seraya memegang nampan berisi dua porsi makan siang kami. Di balik lensa kacamatanya, mata Kaito menatap lurus ke arah Haruto, lalu berpaling menatapku. Tidak ada amarah di raut wajahnya, tetapi ada sebuah pendar tatapan yang belum pernah kubaca sebelumnya—tatapan tenang yang dipenuhi ketidakpastian.
Haruto menoleh ke arah Kaito, menyunggingkan senyuman ramah. "Ah, kelihatannya temanmu sudah datang. Ya sudah Hana, nanti aku kirim pesan ya! Sampai jumpa!"
Haruto melambaikan tangannya santai lalu berjalan pergi meninggalkan kafetaria.
Kaito mendudukkan dirinya di kursi seberangku secara perlahan. Ia meletakkan piring makananku tepat di hadapanku. Ia menatapku sejenak, lalu tangannya bergerak membentuk bahasa isyarat dengan ritme yang sedikit lebih lambat dari biasanya.
[Teman baru?] tanya Kaito melalui isyarat tangannya.
Aku mengangguk cepat, menyunggingkan senyuman lebar. Tanganku bergerak lincah menceritakan kejadian tadi. [Iya! Namanya Haruto dari Fakultas Seni Rupa. Dia sangat ramah dan mengembalikan gantungan kunciku yang jatuh. Dia bahkan mengajakku melihat pameran seni nanti!]
Kaito diam mendengarkan isyarat tanganku. Jemarinya yang biasanya selalu membalas isyaratku dengan cepat kini tertahan sejenak di udara.
Ia menatap binar mataku yang tampak begitu bersemangat menceritakan sosok Haruto. Keantusiasan yang mungkin tidak pernah kutunjukkan saat menceritakan hal-hal kecil bersama Kaito.
Kaito perlahan mengukir senyuman tipis di bibirnya—sebuah senyuman lembut yang terasa sangat sepi.
[Bagus kalau begitu, Hana,] jemari Kaito bergerak membentuk kalimat balasan. [Kamu memang harus punya lebih banyak teman di kampus ini.]
[Ayo dimakan, nanti makanannya dingin,] lanjut Kaito seraya menyendok makanannya sendiri tanpa menatap mataku lagi.
Saat itu, aku sama sekali tidak menyadari arti di balik keterdiaman Kaito. Aku terlalu gembira, terlalu terbuai oleh pintu dunia baru yang terbuka di hadapanku. Aku tidak tahu bahwa di balik senyuman tipis Kaito siang itu, sebuah keretakan kecil mulai tercipta di hatinya—sebuah keretakan yang perlahan-lahan akan meruntuhkan seluruh ketulusan yang telah ia bangun demi aku selama bertahun-tahun.
Dan kebodohanku... baru saja dimulai.