Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Tatapan mata Ye Xuan yang sedingin jurang es membuat darah ketiga murid luar itu membeku. Zhao Ming, yang sebelumnya menyombongkan diri, kini merasa seolah lehernya sedang dicekik oleh tangan tak kasatmata.
Pemuda di hadapan mereka ini bukan lagi "sampah Bintang Lima" yang dibicarakan oleh kakeknya. Tekanan aura yang memancar dari tubuh Ye Xuan, ditambah kilau perunggu samar di kulitnya, memberikan ilusi bahwa mereka sedang berhadapan dengan seekor monster buas purba yang baru saja terbangun dari tidurnya.
"K-Kakak Zhao... a-apa yang harus kita lakukan? Dia... dia masih hidup..." bisik salah satu pengikutnya dengan gigi gemeretak.
Zhao Ming menelan ludah dengan susah payah, memaksakan diri untuk menutupi ketakutannya dengan arogansi palsu. Sebagai cucu keponakan dari seorang Penatua Inti Emas, ia belum pernah ditatap dengan cara merendahkan seperti ini oleh sesama murid luar, apalagi oleh orang luar yang belum resmi masuk sekte.
"Jangan panik! Dia hanya menggertak!" seru Zhao Ming, menghunuskan pedang panjangnya. Fluktuasi Qi setengah langkah Bintang Tujuh meledak dari tubuhnya, memberinya sedikit rasa aman.
Ia menunjuk Ye Xuan dari kejauhan. "Ye Xuan! Kau hanya beruntung bisa bertahan hidup di sini! Aku adalah Zhao Ming, cucu dari Penatua Zhao Ying! Kakekku adalah salah satu tetua pembuat keputusan di sekte ini. Berlututlah dan serahkan pedang besimu itu kepadaku, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk mengatakan hal-hal baik tentangmu kepada kakekku sebelum Ujian Sekte Luar dimulai!"
Mendengar ocehan itu, Ye Xuan hanya memiringkan kepalanya sedikit.
"Zhao Ying? Oh, anjing tua yang banyak menggonggong di aula utama hari itu," gumam Ye Xuan santai. Ia mulai melangkah menuruni Zona Tengah, mendekati perbatasan tempat ketiga murid itu berdiri. Setiap langkah telanjang kakinya yang menginjak bebatuan tajam meninggalkan jejak retakan di tanah, tanpa ada sedikit pun kulitnya yang tergores.
"Lancang! Beraninya kau menghina kakekku!" wajah Zhao Ming memerah karena marah. Kesombongannya mengalahkan ketakutannya. "Mati kau! Seni Pedang Azure: Tebasan Pemutus Angin!"
Zhao Ming menerjang maju. Pedangnya diselimuti oleh lapisan Qi elemen angin yang tajam, menciptakan suara siulan nyaring di udara. Ini adalah teknik andalan sekte luar, mampu membelah batu karang besar menjadi dua dengan mudah. Sasarannya adalah dada telanjang Ye Xuan.
Melihat serangan mematikan itu, Ye Xuan bahkan tidak repot-repot mengangkat tangan untuk menangkis, apalagi mencabut Pedang Besi Bintangnya. Ia hanya terus berjalan dengan kecepatan yang sama.
TRANGGG!
Suara benturan logam yang sangat keras bergema di lereng gunung. Bunga api memercik menyilaukan mata.
Kedua pengikut Zhao Ming melebarkan mata mereka, menunggu tubuh Ye Xuan terbelah, memuncratkan darah. Namun, pemandangan yang tersaji di depan mereka justru menghancurkan akal sehat mereka.
Ujung pedang Zhao Ming menancap tepat di dada kiri Ye Xuan. Namun, alih-alih menembus daging, pedang tingkat fana itu justru melengkung ekstrem. Sebuah riak energi perunggu keemasan berkedip di permukaan kulit Ye Xuan, menahan ujung pedang itu seolah dada pemuda tersebut terbuat dari berlian murni.
Tidak ada darah. Tidak ada goresan. Bahkan Ye Xuan tidak mundur satu milimeter pun.
"B-bagaimana mungkin..." Zhao Ming bergumam dengan wajah sepucat mayat, tangannya mati rasa menahan getaran balik dari pedangnya sendiri. "Bahkan kultivator Pembentukan Fondasi tidak berani menahan pedangku dengan tubuh telanjang..."
"Fisikmu terlalu lemah. Qi-mu terlalu kotor. Dan pedangmu..." Ye Xuan menunduk menatap bilah pedang yang melengkung di dadanya, lalu mendengus pelan. "...terlalu tumpul."
KRAK!
Ye Xuan hanya membusungkan dadanya sedikit, mengirimkan gelombang kejut murni dari kekuatan fisiknya. Pedang baja di tangan Zhao Ming seketika patah menjadi belasan serpihan.
Sebelum Zhao Ming sempat menjerit, tangan kanan Ye Xuan melesat layaknya hantu, mencengkeram wajah pemuda jangkung itu dengan kelima jarinya.
Dengan satu ayunan santai, Ye Xuan membanting tubuh Zhao Ming ke tanah berbatu di sisinya.
BOOM!
Sebuah kawah kecil berdiameter dua meter terbentuk dari benturan itu. Zhao Ming memuntahkan darah segar beserta tiga gigi depannya. Seluruh tulang rusuk kirinya remuk, dan meridian di lengannya hancur akibat tekanan dari jari-jari Ye Xuan. Pemuda arogan itu langsung jatuh pingsan dengan mata membalik putih.
Melihat Kakak Zhao mereka dikalahkan hanya dalam satu detik tanpa Ye Xuan menggunakan sedikit pun energi Qi, kedua pengikutnya kehilangan keberanian untuk bahkan sekadar memegang pedang. Senjata mereka jatuh bergemerincing ke tanah, dan keduanya berlutut dengan tubuh bergetar hebat.
"A-ampun! Senior Ye, ampuni kami! Kami hanya diperintah oleh Kakak Zhao! K-kami tidak bermaksud menyinggung Senior!" jerit mereka sambil bersujud berulang kali.
Ye Xuan menepuk debu dari tangannya. Ia mengabaikan kedua murid yang menangis itu dan membungkuk untuk mengambil kantong spasial kecil dari pinggang Zhao Ming yang pingsan.
Ia memindai isi kantong itu dengan kesadarannya. Puluhan koin perak, beberapa Pil Pemulihan Qi tingkat rendah, dan sekitar dua puluh helai Rumput Tulang Pedang.
"Bahan yang lumayan untuk menstabilkan tahap awal Tulang Besi Kulit Perunggu milikku," gumam Ye Xuan puas, melempar kantong itu dan isinya ke dalam cincin spasial miliknya.
Ia kemudian menatap kedua murid yang masih bersujud.
"Lepaskan jubah luar kalian," perintah Ye Xuan dengan nada dingin tak terbantahkan.
Kedua murid itu terkejut, namun tak berani membantah. Mereka segera melepas jubah luar biru berlogo Sekte Pedang Azure yang mereka kenakan dan menyerahkannya dengan tangan gemetar.
Ye Xuan mengambil salah satu jubah yang ukurannya paling pas, lalu mengenakannya untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang. Meskipun sedikit kebesaran, setidaknya ia tidak lagi terlihat seperti orang liar yang baru keluar dari hutan.
Ia berjalan melewati kedua murid itu, melangkah kembali ke Zona Tengah untuk memungut Pedang Besi Bintang Jatuhnya. Saat ia mengangkat pedang raksasa seberat seribu kati itu, gerakannya terlihat jauh lebih ringan dari sebelumnya. Otot-otot perunggunya menahan beban itu tanpa usaha yang berarti.
"Bawa tumpukan sampah ini turun," Ye Xuan menunjuk Zhao Ming yang terkapar menggunakan dagunya. "Sampaikan pesan pada anjing tua Zhao Ying. Beritahu dia, cucunya sangat dermawan telah mengantarkan Rumput Tulang Pedang untukku hari ini. Sebagai balasannya, aku tidak mengambil nyawanya. Namun jika anjing tua itu berani menggunakan trik murahan lagi di ujian nanti, aku akan secara pribadi mendatangi puncaknya dan mematahkan lehernya."
Kedua murid itu mengangguk histeris, buru-buru memapah tubuh Zhao Ming yang bersimbah darah, lalu berlari tunggang langgang menuruni gunung layaknya melihat iblis.
Setelah mereka pergi, Puncak Makam Pedang kembali sunyi. Ye Xuan berdiri di perbatasan gunung, menatap jauh ke arah Puncak Utama Sekte Pedang Azure yang diselimuti awan putih.
Dua puluh delapan hari penempaan neraka telah memberinya hasil yang sepadan. Kultivasi energinya telah menembus Alam Kondensasi Qi Bintang Enam. Sementara fisik Tulang Besi Kulit Perunggu-nya mampu menahan serangan dari senjata tingkat fana dan setara dengan ketangguhan binatang buas tingkat tiga.
"Dengan perpaduan Qi Naga Primordial dan fisik ini, kultivator Alam Pembentukan Fondasi tahap menengah hingga puncak tidak lagi menjadi ancaman mematikan bagiku," kalkulasi Ye Xuan dalam hati.
Teng... Teng... Teng...
Tepat pada saat itu, suara lonceng perunggu yang sangat dalam dan bergema terdengar dari arah Puncak Utama, memecah keheningan pegunungan. Lonceng itu dipukul tiga kali berturut-turut—penanda bahwa Ujian Sekte Luar, sebuah tradisi tahunan yang menentukan nasib ribuan murid, akan resmi dimulai pada esok hari.
Ye Xuan tersenyum tipis. Mata hitamnya memancarkan kedinginan yang membuat angin di Puncak Makam Pedang seolah bergidik.
"Satu bulan telah berlalu, Patriark Jian," gumam Ye Xuan seraya memanggul pedang hitamnya. "Sudah waktunya sekte ini menyerahkan medali Paviliun Pusaka kepadaku."
meLawan maka akan ada patriark yang baru
preeeeeetttttttt