Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.
Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.
Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**
Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.
Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.
Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.
Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Kau Hanya Boleh Kenyang di Depanku
Kali ini, tidak ada tempat tersisa sama sekali untuk melarikan diri, bersembunyi, atau mengarang kebohongan baru di hadapannya lagi.
Aku masuk ke ruang kerja luar Den Nara.
Pintu tetap terbuka selebar telapak tangan. Dari lorong, siapa pun bisa melihat meja, rak buku, dan tempatku berdiri. Den Nara tidak menutupnya. Dia juga tidak mendekat. Jarak satu meja panjang tetap berada di antara kami.
Semua batas itu seharusnya menenangkanku.
Botol kecil di telapak tangannya membuat kakiku tetap dingin.
Dia meletakkannya di atas meja dengan sangat hati-hati, tepat di antara kami.
"Ini apa?"
"Ramuan dari desa."
"Saya sudah tahu bagian itu." Matanya tidak lepas dari wajahku. "Apa hubungannya dengan kau tidak mau makan, tubuhmu yang selalu panas, dan aroma yang muncul setiap kali kau lelah?"
Darah di kepalaku seperti turun sekaligus.
Dia tahu semuanya.
"Den mengawasi saya?"
"Saya memperhatikan. Ada perbedaan."
"Botol itu Den ambil dari kamar saya?"
Rahangnya mengeras. "Semalam saya melihatnya jatuh dari ambang ketika kau menutup jendela. Saya mengambilnya dari lantai lorong pagi tadi. Saya tidak masuk ke kamarmu."
Aku teringat jendela yang kubuka untuk membuang air. Mungkin kain pembungkus tertinggal, sementara botol tergelinding melalui sela. Ketakutan telah membuatku langsung menuduhnya.
"Maaf."
"Jangan minta maaf sebelum menjawab." Suaranya tetap rendah. "Apakah ramuan ini membahayakanmu?"
Aku menggeleng.
"Arka?"
"Tidak. Saya bersumpah tidak pernah meminumkannya. Hanya setetes air campuran di kain, itu pun sudah diizinkan Bu Retno."
"Lalu kenapa kau menyiksa diri dengan lapar?"
Pertanyaan itu lebih tajam daripada tuduhan.
Aku mencoba berdiri tegak. "Saya tidak menyiksa diri."
"Setengah piring setiap hari. Bekerja sampai tengah malam. Membasuh tubuh dengan air dingin saat semua orang tidur. Apa namanya kalau bukan menyiksa diri?"
Aku menatapnya. Dia mengetahui air dingin.
Wajah Den Nara berubah sebelum aku sempat bertanya. "Semalam pintumu tidak tertutup rapat. Saya kebetulan lewat dan langsung pergi. Saya tidak masuk, tidak menyentuh apa pun. Seharusnya saya mengetuk atau menjauh lebih cepat. Untuk itu, saya minta maaf."
Seorang lelaki yang jauh lebih berkuasa dariku sedang meminta maaf tanpa mencari pembenaran.
Entah mengapa, justru itulah yang mematahkan pertahananku.
"Kalau saya kenyang, tubuh saya berubah," bisikku.
Dia diam.
"Bukan berubah menjadi sesuatu yang aneh. Saya tetap saya. Tapi aroma ini keluar lebih kuat. Tubuh saya lebih mudah terlihat... penuh. Orang-orang memperhatikan. Mereka bicara. Mereka menuduh saya sengaja."
Kata-kata berikutnya tersangkut. Tawa ibu-ibu warung, mata lelaki, dan makian Bapak bertumpuk di tenggorokan.
"Mbah Sari memberi ramuan karena saya sakit-sakitan sejak kecil. Ramuan itu membuat saya sehat. Akibatnya baru terlihat ketika saya besar. Mbah bilang saya tidak perlu malu, tetapi desa tidak pernah membiarkan saya lupa."
Den Nara tidak memotong.
"Bapak punya utang. Dia ingin menikahkan saya dengan orang yang memberi uang untuk melunasinya. Saya menolak. Bapak bilang tubuh seperti saya hanya akan membawa aib kalau tidak cepat dimiliki suami." Suaraku mulai pecah. "Malam sebelum akad yang dia atur, saya kabur."
Kakiku kehilangan kekuatan. Aku merosot ke lantai di sisi kursi, bukan berlutut kepadanya, hanya tidak lagi sanggup berdiri.
"Saya takut," kataku di sela napas yang patah. "Saya cuma takut dijual seperti barang. Kalau keluarga ini tahu, saya akan diusir. Kalau Bapak menemukan saya, dia akan membawa saya pulang. Saya tidak punya tempat lain."
Air mata jatuh ke punggung tanganku yang memerah karena bubur.
Den Nara bergerak satu langkah, lalu berhenti. Dia tidak menyentuhku. Dia mengambil sapu tangan putih dari saku kemeja dan meletakkannya di ujung meja yang dapat kuraih.
"Sekar."
Aku tidak sanggup mengangkat kepala.
"Lihat saya."
Perlahan, aku menatapnya.
Wajahnya tidak menunjukkan jijik. Tidak ada senyum mengejek. Yang ada hanya kemarahan yang sangat terkendali, tetapi kemarahan itu tidak diarahkan kepadaku.
"Rahasiamu saya jaga," katanya. "Saya tidak akan menceritakannya kepada siapa pun tanpa izinmu."
Aku mencari celah kebohongan di wajahnya. Tidak ada sumpah berlebihan, tidak ada tuntutan balasan, tidak ada rasa ingin tahu yang rakus. Hanya janji singkat dari lelaki yang, sejak awal, selalu melakukan lebih banyak daripada yang dia katakan.
"Kalau suatu hari keluarga Den bertanya?"
"Saya akan menjawab bahwa itu bukan urusan mereka."
"Kalau mereka menyuruh Den memilih?"
Alisnya bergerak, seolah pertanyaan itu terlalu jauh. "Rahasia seseorang bukan bahan pemungutan suara keluarga."
Jawaban sederhana itu meruntuhkan sesuatu yang selama ini kuanggap aturan dunia. Di rumah Bapak, tidak ada bagian diriku yang benar-benar milikku. Di sini, Den Nara mengatakan bahkan keluarganya tidak berhak mengambil cerita yang belum kuberikan.
"Den belum tahu semuanya."
"Kalau ada bagian yang belum sanggup kau ceritakan, simpan sampai kau siap."
"Kenapa?"
Dia tampak terganggu oleh pertanyaan itu. Pandangannya beralih ke jendela sebelum kembali kepadaku.
"Karena tak satu pun dari hal tadi adalah alasan untuk mempermalukanmu."
Tangisku pecah lebih keras. Aku menutup mulut agar suaranya tidak terdengar ke lorong.
Den Nara mengambil satu langkah lain, lalu jongkok pada jarak lebih dari satu lengan. Dia mendorong sapu tangan di lantai ke arahku tanpa menyentuh tangan.
"Dan karena kau bekerja di rumah ini. Selama kau tidak membahayakan Arka, tidak ada yang akan menyerahkanmu kepada siapa pun."
Aku mengambil sapu tangan itu. Kainnya bersih dan sedikit hangat.
"Termasuk kepada Bapak saya?"
"Terutama kepadanya."
Jawabannya tidak keras. Kepastian di dalamnya membuat dadaku sakit.
Aku mengusap air mata. "Bayu tahu?"
"Dia hanya saya minta memeriksa ancaman keamanan. Dia mungkin akan mengetahui soal utang ayahmu, tetapi tidak soal tubuh atau aroma. Saya akan memastikan batasnya."
"Terima kasih."
"Ada syarat."
Tubuhku menegang lagi.
Den Nara berdiri. Kali ini dia yang tampak tidak nyaman. Dia merapikan manset kemeja, lalu berkata tanpa menatapku, "Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."
Aku yakin salah dengar.
"Apa?"
Dia menarik napas. "Kau tidak perlu kelaparan untuk menyembunyikan sesuatu dari saya. Kalau kau takut aroma itu diketahui orang lain, makanlah sampai cukup saat saya ada. Saya akan menutupinya."
"Bagaimana caranya?"
"Itu urusan saya."
"Den tidak mungkin mengawasi setiap kali saya makan."
"Coba saja saya."
Untuk pertama kalinya, ada bayangan senyum yang sangat tipis di wajah dinginnya. Lalu bayangan itu hilang.
"Berdiri kalau sudah kuat. Kita makan siang."
"Saya harus membersihkan kamar."
"Tugas itu hanya alasan agar kita bisa bicara dengan pintu terbuka."
Aku menatap botol kecil di meja. Den Nara mengambilnya, lalu menyerahkan kepadaku dengan telapak terbuka.
"Simpan. Saya tidak akan mengambilnya lagi."
Aku menerima botol dan memeluknya. Namun untuk pertama kali sejak melarikan diri, benda itu tidak terasa seperti satu-satunya penjaga rahasiaku.
***
Mata sembapku langsung terlihat saat makan siang.
Mbak Ratih duduk di sebelah Mas Bagas. Begitu aku membawa sup ke meja, tatapannya menajam.
"Habis menangis di kamar Nara?"
Bu Retno menatapnya. "Ratih."
"Saya cuma bertanya. Tadi katanya membersihkan kamar, sekarang matanya merah."
Aku menurunkan mangkuk. "Tangan saya masih perih, Mbak. Mungkin karena itu."
"Kalau sedikit panas saja membuatmu menangis, jangan kerja di dapur. Dan makan jangan rakus. Pembantu yang kerjanya tidak becus tapi makannya banyak cuma menambah beban rumah."
Aku melihat piring untuk pekerja di meja samping. Seperti biasa, aku sudah berniat mengambil setengah nasi.
Den Nara meletakkan sendok.
"Sekar, duduk."
Semua orang berhenti.
"Den?"
"Di kursi ujung. Bu Nah, bawakan piring."
Bu Nah ragu, lalu menurut. Aku duduk di ujung meja, bukan sebagai keluarga, tetapi juga tidak berjongkok di meja dapur seperti biasanya. Jantungku berdebar di bawah tatapan Ratih dan Bu Retno.
Den Nara mengambil satu potong besar ayam dan meletakkannya di piringku. Dia menambahkan nasi, sayur, dan tahu sampai piring itu penuh.
"Makan. Sampai habis."
Ratih tertawa pendek. "Nara, kau memanjakan pembantu."
"Saya memastikan orang yang bekerja untuk keluarga ini tidak kelaparan."
"Kenapa harus dia?"
"Karena dia yang kau hina di meja ini."
Mas Bagas memegang lengan istrinya sebelum Ratih membalas. Pak Suryo memandang Nara dengan wajah sulit dibaca. Bu Retno tidak mengatakan apa-apa.
Aku menatap nasi putih yang mengepul. Selama bertahun-tahun, sepiring penuh selalu terasa seperti ancaman. Kenyang berarti aroma. Aroma berarti tatapan. Tatapan berarti hukuman.
Kini Den Nara duduk tidak jauh dariku, memenuhi syarat aneh yang baru saja dibuatnya.
Aku mengambil suapan pertama.
Lalu suapan kedua.
Pada suapan kelima, perutku yang lama kosong terasa nyeri. Aku berhenti, menekan ulu hati.
"Pelan," kata Den Nara. "Tidak perlu terburu-buru."
Bu Nah membawakan air hangat. "Kalau biasa makan sedikit, jangan langsung diserbu. Kunyah dulu."
Aku menurut. Nasi yang biasanya hambar terasa hangat sampai ke dada. Den Nara tidak terus menatapku seperti penjaga penjara. Dia berbicara singkat dengan Mas Bagas tentang pekerjaan, memberi ruang agar aku tidak merasa dipertontonkan, tetapi setiap kali sendokku berhenti terlalu lama, matanya kembali memastikan.
Tubuhku menunggu bahaya. Tak ada yang datang. Hanya suara sendok, napas Arka dari kamar sebelah, dan Den Nara yang tetap duduk seakan kehadirannya benar-benar bisa menjadi dinding.
Aroma manis mulai naik dari kulitku. Bu Nah mengendus udara.
Den Nara segera mengambil mangkuk buah. "Melonnya terlalu matang. Pindahkan setelah makan."
Bu Nah mengangguk, menerima penjelasan itu begitu saja.
Dia menutupinya.
Benar-benar menutupinya.
Tanganku bergetar. Air mata jatuh ke nasi sebelum sempat kutahan.
Kali ini bukan karena malu.
Untuk pertama kalinya, seseorang mengetahui seluruh alasan aku kelaparan, lalu memilih menyuruhku makan sampai kenyang.