Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Kiss
Acara lamaran akhirnya benar-benar usai. Para tamu satu per satu pulang, meninggalkan ballroom yang mulai sepi. Hanya ada sisa wangi bunga segar, cahaya lampu temaram, dan denting musik instrumental yang pelan.
Jingga duduk sebentar di kursi pelaminan, menarik napas panjang sambil menyentuh cincin di jarinya. Mozza dan Grey sibuk membereskan barang, sementara Arin pamit dengan pelukan hangat.
“Gila,… gue masih nggak percaya lo udah resmi dilamar. Gue ikut bahagia banget. Nanti cerita panjang ya,” bisik Arin sambil menahan air mata.
Jingga mengangguk sambil tersenyum haru. “Thanks, Rin. Lo selalu ada buat gue.”
Setelah semua orang benar-benar beranjak,
Levin mendekat, menatap Jingga penuh makna. “Capek?” tanyanya lembut.
“Capek… tapi bahagia,” jawab Jingga, matanya berbinar walau sisa air mata masih terlihat.
Levin tersenyum, lalu menawarkan tangan.
“Mau cari udara segar sebentar? Balkon hotel punya pemandangan kota yang indah malam ini.”
Jingga sempat ragu, tapi kemudian mengangguk.
“Boleh. Aku memang butuh tenang sejenak.”
Levin menggenggam jemarinya, hangat dan kokoh. Bersama-sama, mereka berjalan keluar ballroom menuju balkon hotel yang luas, dengan angin malam yang sejuk menyambut mereka.
Begitu pintu kaca terbuka, hembusan angin malam langsung menyapa wajah mereka. Balkon hotel itu luas, dengan pagar kaca transparan yang membuat pemandangan kota terlihat jelas. Lampu-lampu gedung berkilauan seperti bintang-bintang kecil yang turun ke bumi, berpadu dengan cahaya rembulan yang menggantung sempurna di langit.
Di sisi balkon, ada beberapa pot tanaman hijau dan lampu-lampu kecil berwarna kuning hangat yang dipasang di dinding, menciptakan nuansa intim. Udara terasa sejuk, menenangkan, seolah membawa mereka jauh dari hiruk-pikuk pesta di ballroom tadi.
Jingga berdiri di dekat pagar kaca, tangannya menyentuh permukaannya yang dingin. Matanya menatap hamparan kota yang berkilau, sementara rambutnya sedikit berantakan tertiup angin.
Levin berdiri di sampingnya, menatap bukan pada kota, tapi pada wajah Jingga yang diterangi cahaya rembulan. Ada keheningan sesaat—bukan canggung, melainkan tenang, seolah semesta memberi mereka ruang untuk meresapi momen itu.
“Cantik banget,” gumam Levin lirih, matanya tak lepas dari Jingga.
Jingga menoleh dengan sedikit tersipu. “Pemandangannya memang indah.”
Levin tersenyum samar. “Aku bukan ngomongin pemandangan kota…”
Jingga terdiam, jantungnya berdebar. Angin malam makin terasa dingin, tapi kehadiran Levin di sisinya justru membuat dadanya hangat.
“Aku… pengen bilang makasih,” ucap Jingga pelan. “Semua kejutan tadi… aku nggak pernah nyangka.”
Levin menatapnya, matanya berkilat lembut. “Aku cuma ingin kamu tahu betapa berharganya dirimu. Dan kalau bisa… aku ingin jadi alasan kamu tersenyum setiap hari.”
Tatapan mereka bertemu. Degup jantung Jingga tiba-tiba berlari kencang. Wajah Levin begitu dekat, hangat napasnya menyapu kulitnya.
Namun, sebelum ia bergerak lebih jauh, Levin berbisik nyaris tak terdengar:
“Boleh… aku menciummu, Jingga?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Jingga tertegun. Ia tak menyangka Levin—yang selama ini terlihat begitu percaya diri—akan meminta izin dengan cara selembut itu. Pipinya merona, tapi ia tak bisa menahan senyum. Perlahan, ia mengangguk.
Levin bergerak mendekat, perlahan sekali, seolah memberi waktu bagi Jingga untuk mundur bila ia ragu. Tapi Jingga tetap diam, menatapnya dengan mata yang sedikit bergetar.
Hingga akhirnya, jarak di antara mereka lenyap. Bibir Levin menyentuh bibir Jingga—ringan, singkat, nyaris ragu.
Namun ketika Jingga menutup mata dan membalas dengan lembut, sesuatu dalam diri Levin seakan meledak. Ia menangkup wajah Jingga dengan kedua tangannya, menariknya lebih dekat. Ciuman itu berubah lebih dalam, penuh rasa, panjang, dan begitu tulus.
Jingga merasakan dada Levin bergetar melawan tubuhnya. Tangannya refleks melingkar di leher pria itu, menyerah pada perasaan yang selama ini ia tahan.
Waktu seakan berhenti. Hanya ada detak jantung yang saling bersahutan, hangat napas yang berpadu, dan rasa yang tak bisa diungkap dengan kata-kata.
Ciuman itu berlangsung cukup lama, penuh rasa—bukan sekadar sentuhan fisik, tapi pengakuan tanpa kata.
akhirnya mereka melepaskan diri, napas mereka tersengal. Levin menyentuhkan keningnya pada kening Jingga, tersenyum dengan mata yang berkilau.
“Sekarang aku tahu,” ucapnya pelan, “kenapa cinta itu nyata.”
Jingga tersenyum tipis, air matanya menggenang karena terlalu terharu. “Dan aku tahu… kenapa aku akhirnya bisa percaya.”
“Jingga…” suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara angin.
Jingga mengangguk kecil. “Hmm?”
Levin menarik napas dalam, seolah mengumpulkan keberanian.
“Aku harus jujur… ini pertama kalinya aku merasa begini. Pertama kali aku… ingin sekali menyentuh seseorang, ingin dekat, tanpa ada alasan lain selain karena aku benar-benar mencintainya.”
Mata Jingga melembut, hatinya bergetar mendengar pengakuan Levin yang begitu tulus.
“Levin…” bisiknya.
“Itu… ciuman pertamaku,” bisiknya dengan suara serak.
Jingga membelalakkan mata, terharu sekaligus tak percaya.
“Serius? Kamu… belum pernah—?”
Levin tersenyum kecil, jempolnya mengusap lembut pipi Jingga yang basah oleh air mata bahagia.
“Aku selalu pikir… aku nggak butuh cinta. Tapi ternyata… aku cuma belum menemukan orang yang tepat. Dan sekarang, aku menemukannya.”
Jingga tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya menunduk sebentar, lalu menatap Levin dengan mata berbinar.
“Kalau begitu… terima kasih sudah menyimpannya untukku.”
Levin mengecup ujung hidungnya sekilas, lalu berbisik,
“Kalau begitu… siap-siap, Jingga. Karena aku berjanji, ini baru awal. Aku akan mencium kamu berkali-kali lagi… sampai kamu nggak bisa membayangkan hidup tanpa aku.”
Levin meraih bibirnya sekali lagi, kali ini lebih dalam, lebih lama. Ciuman yang bukan hanya sekadar sentuhan, melainkan janji tak terucap.
Dan di balkon itu di bawah langit penuh bintang dan gemerlap lampu kota—Levin dan Jingga mengikat hati mereka dengan cara yang paling indah: sebuah ciuman pertama yang akan mereka kenang seumur hidup.
----
Malam itu, setelah semua selesai Levin dan Jingga kembali ke rumah. Jingga langsung merebahkan diri di ranjangnya, tubuhnya lelah tapi hatinya penuh dengan rasa hangat yang sulit diungkapkan. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, mengingat kejutan-kejutan yang diberikan Levin, juga momen di balkon yang tak akan pernah ia lupakan.
Sementara itu, di kamarnya sendiri, Levin justru tak bisa tidur. Ia berbaring, memandang langit-langit, tapi pikirannya terus kembali pada satu hal—ciuman pertamanya dengan Jingga.
Tangannya terangkat, menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih merasakan jejak lembut Jingga di sana. Hatinya berdebar lagi, padahal momen itu sudah lewat beberapa jam.
“Jadi… ini rasanya ciuman?” gumamnya pelan, hampir tak percaya.
Semakin ia mengingatnya, semakin wajahnya memanas. Lalu, tanpa sadar, Levin terkekeh kecil. Bahkan kemudian ia cengengesan sendiri, seperti remaja yang baru jatuh cinta.
“Astaga, Jingga kau bikin aku hampir gila,” katanya sambil menutup wajah dengan bantal. Tapi senyum itu tak kunjung hilang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Levin benar-benar mengerti arti kehilangan kendali—bukan karena bisnis, bukan karena ambisi, tapi karena seorang perempuan bernama Jingga. Dan malam itu, ia tahu satu hal dengan pasti: ia ingin bertemu lagi, segera.