Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror malam
Malam hari di lalui keluarga Wihardja dengan sangat berat, suara suara di rumah mereka begitu mengganggu tidur mereka, bahkan atap rumah, dinding dan lantai juga terus terdengar suara derap langkah berjalan dan membuat Hatta juga Urfa waspada menjaga keluarga mereka.
"Nak, sosok itu benar benar cepat, hanya bayangannya saja yang terlihat" ucap Urfa
"Tidak apa apa Om, yang penting ada energi yang tersisa di tempat ini dan bisa di rasakan nenek Rukmini juga yang lain besok" jawab Hatta
Anak anak justru tertidur nyenyak karena mereka memakai penutup telinga yang di berikan oleh Sahara, bahkan tiga jin kecil itu juga tetap berada di kamar meskipun banyak suara mengusir mereka dari sana.
"Kakak, suaranya suara perempuan atau laki-laki, kenapa suaranya aneh" bisik Rissa
"Kakak yakin kalau dia perempuan, ingat tidak saat nyonya meneer membuka payungnya dan tiba tiba empat mata langsung jatuh dari atas, ada suara perempuan di luar tempat kita dan suara itu sepertinya adalah suara makhluk itu" jawab Rian
"Itu artinya makhluk yang ada di sini terhubung dengan nyonya meneer?" tanya Reza
"Iya, aku yakin begitu karena setiap mata yang di dapat nyonya meneer selalu dia masukkan ke dalam payungnya" jawab Rian
Brak. Brak.
Duk. Duk. Duk.
Suara benturan atau mungkin ketukan terdengar lagi di dinding rumah Karta. Itu adalah teror pertama untuk Karta setelah puluhan tahun dia tinggal di sana dan mengurus tanah miliknya.
"Zakariya, besok kamu akan ke Bandung dan mengurus perusahaan Hatta, jangan pernah khawatir dengan masalah yang ada di sini, kamu urus perusahaan itu dengan baik supaya tidak ada masalah" ucap Karta yang tidak bisa tidur karena suara suara itu benar benar mengganggunya, bahkan bayangan sosok itu juga sempet masuk ke dalam kamarnya dan mendorong Karta hingga terjatuh ke lantai.
"Tapi besan, mana mungkin saya tidak khawatir, cucu cucu kita dalam bahaya" jawab Zakariya
"Mereka punya pelindung sekarang, dan Allah SWT juga pasti akan melindungi kami" balas Karta
"Jangan lupa kabari saya setiap hari besan, Hatta dan Husna sering lupa soalnya" ucap Zakariya dan entah kenapa Karta terkekeh ditengah teror yang sedang menyerang rumahnya.
"Hatta memang sering lupa memberi kabar, mungkin Husna juga ketularan tapi aku kan seorang ayah, kamu juga jadi kamu tidak perlu khawatir, kamu pastikan saja semuanya baik baik saja di sana" jawab Karta
Brak.
"Innalilahi" kaget Karta saat pintu kamarnya tiba tiba di dobrak sesuatu dan terbuka.
"Hggrrrrrrr!"
"Tunjukkan dirimu!" bentak Karta melemparkan garam Rukmini ke arah pintu itu dan asap putih mulai terlihat.
"Aakkhhh! panas!" teriaknya dan wujudnya mulai terlihat.
Sosok berambut putih dengan pakaian putih dan juga mata berasap karena terkena garam yang di lemparkan Karta ke matanya.
"Matilah kalian!" ucap sosok itu akan menyerang Karta dan Zakariya tapi Urfa muncul dan melempar sosok itu hingga sosok itu menghilang menembus dinding rumah Karta.
"Bapak sebaiknya satu kamar dengan nak Hatta dan Husna akan pindah ke kamar anak anak" ucap Urfa
"Iya, Ayo Zakariya, kita di minta pindah ke kamar Hatta" ajak Karta karena Zakariya tidak bisa melihat Urfa juga sosok putih itu.
"Urfa, apa mungkin sosok tadi yang sudah membuat Hannah hampir jadi tumbal?" tanya Karta
"Sepertinya iya jangan tatap matanya" jawab Urfa dan Karta mengangguk.
"Anak anak..."
"Anak anak aman karena tiga jin itu membuat mahluk itu tidak bisa masuk ke dalam kamar anak anak, sepertinya ada sesuatu dalam tubuh para jin itu yang tidak di sukai oleh makhluk itu" jawab Urfa.
"Besan, pindah saja dari rumah ini" ucap Zakariya
"Tidak bisa Zakariya, perkebunan ini sudah aku jaga sejak lama dan kalau aku pindah, perkebunan ini harus di jual aku tidak mau, rumahku hanya di sini sekarang karena rumah baruku aku jual pada juragan Komar" jawab Karta
"Pindah ke Bandung saja dengan Hatta besan, kan kita bisa merawat cucu cucu kita di sana" bujuk Zakariya
"Aku akan pikirkan nanti" jawab Karta
Sampai di kamar Hatta, keduanya langsung di minta untuk tidur karena Hatta tahu ayahnya itu sudah sangat mengantuk begitupun dengan mertuanya, Husna pindah ke kamar anak anak dan ikut tidur di sana di jaga oleh tiga jin yang sekarang memanggil Husna mama dan Hatta papa.
"Tidurlah ma, Rissa akan jaga mama" ucap Rissa
"Terima kasih nak, nanti setelah jasad kalian ditemukan, mama dan papa akan membelikan kalian pakaian yang bagus" ungkap Husna mengusap rambut Rissa yang menitikkan air matanya karena dia merindukan ibunya.
"Terima kasih karena sudah menerima kami" ungkap ketiganya
•••••••••••••
Di dalam perkebunan.
"Bagaimana?" tanya seseorang laki bertubuh gendut yang memegang sebuah selendang berwarna putih.
"Dia lepas... dia sudah di mantrai keturunan Arwah hidup" jawab sosok putih yang mendatangi lelaki itu.
"Sial, bagaimana cara kita membebaskan nyonya kalau anak itu saja tidak bisa kita manfaatkan!" umpat lelaki itu
"Bebaskan nyonya...."
"Ya aku akan mencari cara lagi, kamu tetap awasi perkebunan ini, tanah ini harusnya jadi milikku tapi si Karta itu dengan tipu muslihatnya sudah membuat tanah ini kembali jadi milik Wihardja!" jawab lelaki itu membawa selendang yang dia genggam erat dan sosok putih itu kembali terbang ke arah rumah Karta.
Lelaki itu berjalan ke arah luar perkebunan dengan mudah bahkan keberadaannya tidak di ketahui Urfa karena selendang putih itu membuat dirinya tidak bisa di lihat manusia manapun.
"Tuan" ucap seorang berpakaian hitam membuka kan pintu untuk lelaki itu.
"Pulang, aku ingin menyusun rencana baru untuk bisa membebaskan leluhur ku dari tempat terkutuk ini" perintah lelaki itu
"Baik tuan besar" jawabnya segera menutup pintu mobil dan dia mulai menyalakan mesin mobilnya.
"Akan aku pastikan perkebunan ini kembali padaku Karta dan keluargamu akan kembali ke status kalian di jaman dulu, keluarga kacung" sinisnya ketika mobil itu sudah melaju.
Angin besar juga bertiup malam itu tapi hanya di sekitar perkebunan Wihardja, dan anehnya setelah orang itu pergi, angin besar dan teror teror malam itu juga menghilang dari rumah Karta.
"Alhamdulillah terornya berhenti" ucap Hatta yang sejak pukul sembilan malam tidak berhenti berdzikir dan berdo'a supaya gangguan itu segera berakhir dan keheningan malam mulai menyelimuti kawasan perkebunan Wihardja.
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭