Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Tit. Tit. Tit.

Suara monitor detak jantung menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Reyhan.

Ia membuka matanya perlahan dan menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang menyorot lembut dari langit-langit.

Ruangan ini sangat luas dan bersih, khas kamar VIP rumah sakit kelas atas.

Aroma cairan antiseptik tercium samar di udara mengiringi keheningan pagi itu.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok wanita berseragam kepolisian yang disetrika sangat rapi.

Itu adalah Alena.

Wajahnya terlihat jauh lebih segar dan tidak ada lagi kantung mata hitam yang menggantung di wajahnya.

"Kau sudah bangun, Pahlawan Kesorean?" sapa Alena dengan senyuman jahil yang sangat jarang ia tunjukkan.

Reyhan mencoba duduk namun dadanya masih terasa sedikit ngilu.

"Berapa lama aku pingsan, Detektif?" tanya Reyhan dengan suara yang sangat serak.

"Tiga hari penuh."

"Tim dokter bilang kau kelelahan ekstrem dan menghirup terlalu banyak asap karbon saat di dalam studio itu," jelas Alena.

Alena menarik sebuah kursi di sebelah ranjang dan duduk dengan santai.

Reyhan mengambil gelas air putih di meja nakas dan meminumnya perlahan.

Glek. Glek.

"Lalu bagaimana dengan bajingan gila itu?"

"Maksudmu teman lamamu si Gilang?"

Alena menyilangkan kakinya dan tersenyum puas.

"Gilang sudah dipindahkan ke rumah sakit penjara dengan pengamanan maksimum tingkat satu."

"KPK dan Propam bekerja sama membongkar habis Yayasan Pelita Hati sampai ke akar-akarnya."

"Brigjen Surya dan kawan-kawannya juga sudah resmi memakai rompi tahanan sekarang."

Alena lalu mengambil remote televisi di meja dan menyalakan TV layar datar yang ada di depan ranjang Reyhan.

"Lihat ini, kau pasti akan sangat menyukainya."

Layar televisi menampilkan siaran langsung dari aula utama Markas Besar Kepolisian.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia sendiri yang berdiri di mimbar konferensi pers tersebut.

"Dengan ini, pihak kepolisian secara resmi membersihkan nama Saudara Reyhan Mahardika dari segala tuduhan hukum."

"Beliau adalah saksi kunci sekaligus warga negara yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk membantu kami membongkar kejahatan luar biasa ini."

Suara riuh tepuk tangan wartawan terdengar bersahut-sahutan dari layar televisi.

Prok. Prok. Prok.

Reyhan menatap layar itu dengan perasaan lega yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Beban berat yang selama ini mengikat lehernya dan menghancurkan masa depannya akhirnya benar-benar terlepas.

"Mulai hari ini, kau bukan lagi Aktor Kematian yang diburu oleh negara, Reyhan."

"Kau adalah warga negara bebas dengan reputasi pahlawan yang sangat bersih," ucap Alena tulus.

Reyhan menoleh ke arah seragam Alena dan baru menyadari ada tanda pangkat baru yang berkilau di pundaknya.

"Dan sepertinya kau juga mendapat hadiah yang bagus, Inspektur Alena."

Alena tertawa pelan sambil merapikan kerah seragamnya dengan raut wajah bangga.

"Ya, aku baru saja dipromosikan menjadi Kepala Unit Khusus Investigasi Kriminal Mabes Polri."

"Ini semua berkat kerja sama nekat kita selama beberapa minggu terakhir, Reyhan."

"Terima kasih untuk semuanya."

Tok. Tok. Tok.

Ketukan pintu yang sangat keras dan tidak sabaran memotong obrolan hangat mereka berdua.

Kania menerobos masuk ke dalam kamar dengan membawa sekeranjang besar buah-buahan yang terlihat sangat mahal.

"Minggir, Bu Polisi, jurnalis nomor satu di Indonesia mau menjenguk narasumber utamanya!" seru Kania.

Gaya bicara Kania terdengar sangat percaya diri dan berlebihan.

Alena memutar bola matanya malas namun tetap menggeser kursinya untuk memberikan ruang bagi Kania.

"Kau berisik sekali, Kania," tegur Reyhan sambil menerima keranjang buah itu dan meletakkannya di kasur.

"Hei, aku pantas berisik hari ini."

"Berkat artikel eksklusifku tentang yayasan itu, portal beritaku sekarang menjadi perusahaan media independen paling besar di negara ini!" pamer Kania kegirangan.

Kania menarik kursi lain dan duduk berhadapan dengan Alena.

"Dan asal kau tahu saja, Reyhan."

"Banyak sekali produser film ternama yang menitipkan kartu nama mereka padaku sejak kemarin."

"Mereka semua antre panjang dan bersedia membayar mahal untuk menjadikanmu aktor utama di film layar lebar mereka."

Reyhan tersenyum tipis mendengar kabar bahagia tersebut.

Impian awalnya merantau ke ibu kota untuk menjadi aktor sukses akhirnya berada di depan mata.

"Nanti akan kuurus semua tawaran itu setelah aku keluar dari rumah sakit ini."

"Sekarang, bisakah kalian berdua keluar dari kamarku sebentar?"

"Aku ingin istirahat dan tidur siang dengan tenang," usir Reyhan dengan nada bercanda.

Alena dan Kania saling pandang lalu tertawa kecil bersama.

"Baiklah, Tuan Aktor Terkenal, kami permisi dulu."

"Cepat sembuh, Reyhan, tagihan rumah sakit ini dibayar penuh oleh kepolisian jadi nikmati saja fasilitasnya."

Ceklek.

Pintu tertutup kembali dan menyisakan Reyhan sendirian di dalam kamar yang sangat tenang tersebut.

Senyuman di wajah Reyhan perlahan memudar seiring dengan perginya kedua wanita itu.

Ia memejamkan matanya dan mulai fokus memusatkan pikirannya ke dalam.

"Sistem, apa proses evolusimu sudah selesai?" batin Reyhan memanggil asisten gaibnya.

Selama tiga hari ia pingsan, sistemnya sama sekali tidak memberikan respons atau suara apa pun.

Wenggg.

Suara dengungan mekanik yang terdengar jauh lebih jernih dan berwibawa dari sebelumnya memenuhi kepala Reyhan.

[Ding! Proses Evolusi Sistem Pemeran Penjahat Profesional telah mencapai seratus persen.]

Sebuah layar transparan yang kini berwarna emas gelap muncul mengambang tepat di depan wajah Reyhan.

[Sistem telah berhasil diperbarui secara permanen ke Versi 2.0.]

[Semua batas waktu penggunaan skill dasar telah dihapus dan fungsi manipulasi energi telah ditingkatkan secara maksimal.]

Reyhan membaca perubahan drastis itu dengan mata berbinar puas.

Ini adalah peningkatan kekuatan yang sangat luar biasa untuk karirnya ke depan.

Namun, notifikasi peringatan selanjutnya membuat darah Reyhan mendadak berdesir sangat dingin.

[Pesan enkripsi eksternal darurat diterima.]

[Sistem mendeteksi adanya transmisi data masuk dari jaringan global yang tidak dikenal.]

"Pesan eksternal?" gumam Reyhan kebingungan sambil mengernyitkan dahinya.

"Bagaimana bisa ada pesan dari luar yang menyusup masuk ke dalam sistem pribadiku?"

[Membuka pesan enkripsi dalam tiga detik...]

Layar sistem yang berwarna emas gelap itu tiba-tiba berkedip dan berubah menjadi warna merah darah.

Sebuah teks muncul perlahan seolah-olah diketik oleh seseorang secara langsung dari tempat yang sangat jauh.

"Pertunjukan teater kecilmu di Jakarta sangat menghibur, Tuan Reyhan Mahardika."

"Namun, sistem yang kau dan temanmu gunakan itu adalah properti curian milik organisasi kami."

"Gilang hanyalah pencuri amatir yang tidak tahu cara menggunakan teknologi kami dengan benar."

"Kami telah mengawasi setiap perkembangamu melalui satelit sistem."

"Bersiaplah."

"Karena sutradara yang sesungguhnya dari organisasi kami akan segera datang menjemput properti kami kembali."

Teks berwarna merah darah itu berkedip dua kali lalu perlahan menghilang.

Layar sistem kembali normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Reyhan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di atas selimut rumah sakit.

"Organisasi?"

"Jadi sistem ini dan sistem Gilang bukanlah keajaiban acak yang turun dari langit untuk orang-orang putus asa."

Ada sebuah sindikat atau organisasi elit di luar sana yang menciptakan teknologi ini.

Dan mereka kini menjadikan Reyhan sebagai target utama untuk mengambil kembali sistem yang mengikat jiwanya tersebut.

Mengambil sistem dari jiwa seseorang tentu saja berarti satu hal.

Mereka harus membunuh Reyhan.

Reyhan menoleh dan menatap keluar jendela rumah sakit menuju langit biru kota Jakarta.

Masa damai dan kebebasan yang baru saja ia dapatkan ternyata hanyalah waktu istirahat yang sangat singkat.

Panggung pertunjukan yang baru dan musuh yang jauh lebih mematikan sudah menunggunya di depan mata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!