Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEHANGATAN YANG PERLAHAN MEMBEKU
Suara deru mesin kereta api menggema pelan di sepanjang rel yang basah, beradu dengan ketukan konstan butir-butir air hujan yang menghantam dinding luar gerbong. Suasana di dalam gerbong kereta jurusan malam itu sangat lengang. Hanya ada beberapa penumpang yang duduk terpisah, sibuk dengan pemikiran dan ponsel mereka masing-masing.
Aku duduk menyandarkan kepala di balik kaca jendela yang buram berembun. Di sebelah kiriku, Kaito duduk membisu.
Bahunya yang sebelah kanan sepenuhnya basah kuyup. Saat kami berjalan bersama menyusuri trotoar kampus menuju peron stasiun tadi, Kaito sengaja memiringkan gagang payung hitam besarnya ke arahku. Ia membiarkan setengah tubuhnya disiram badai dingin demi memastikan mantel rajut dan tubuhku tidak terkena cipratan air.
Sebuah pengorbanan kecil yang teratur, yang selalu ia lakukan tanpa pernah meminta balasan atau pujian.
Aku menoleh perlahan ke samping. Kaito sedang menundukkan kepalanya, memejamkan mata dengan napas yang teratur namun terasa begitu berat. Kacamata tipis yang bertengger di hidungnya sudah ia lepas dan ia genggam di jemarinya yang pucat. Rambut depannya yang basah menempel di dahi, meneteskan sisa air hujan ke atas celana kainnya.
Rasa bersalah yang teramat sangat menyelusup masuk ke dalam rongga dadaku, menghimpit paru-paruku hingga terasa sesak.
Aku menggeser posisiku perlahan, lalu merogoh kantong plastik dari apotek yang Kaito berikan tadi. Aku mengeluarkan plester penurun panas dan handuk kecil kering yang sempat ia belikan. Dengan gerakan sepelan mungkin, aku menyentuh lengan Kaito, mengusap bekas tetesan air di kening dan rambutnya.
Kaito perlahan membuka matanya. Sepasang manik mata yang teduh itu menatapku langsung. Tidak ada amarah di sana, tidak ada nada tuduhan. Yang ada hanyalah pancaran rasa lelah yang luar biasa dalam.
Aku mengangkat kedua tanganku, membentuk gerakan bahasa isyarat yang lambat dan penuh keraguan. [Kaito... maafkan aku. Seharusnya aku tidak nekat. Seharusnya aku mendengarkan ucapanmu dan tidak membuatmu berlarian di bawah hujan deras seperti ini.]
Kaito menatap jemariku yang bergerak. Ia tidak langsung membalas. Ia mengambil kembali kacamata tipisnya, mengenakannya, lalu menegakkan posisi duduknya.
Ia mengangkat tangannya, jemarinya menari dengan gerakan yang begitu halus namun terasa dingin. [Tidak apa-apa, Hana. Yang penting kamu selamat dan tidak jatuh sakit. Asmamu bisa kumat kalau kebasahan terlalu lama.]
Isyaratnya begitu singkat. Terlalu wajar. Namun justru kewajaran itulah yang membuat dadaku terasa seperti dihantam batu besar. Dulu, jika kejadian seperti ini terjadi, Kaito pasti akan mengomeliku panjang lebar melalui bahasa isyarat, menyisipkan candaan konyol, atau mengacak rambutku gemas seraya tertawa tanpa suara.
Tapi kali ini, ia hanya memberikan jawaban formal. Seolah-olah aku adalah seorang teman biasa, bukan lagi sahabat kecil yang paling berharga di dunianya.
[Kaito,] tanganku bergerak lagi, menahan napas. [Besok kan hari Minggu... Mau masak nabe bersama di rumahku? Seperti biasa?]
Kaito menatap mataku cukup lama. Keheningan di antara kami terasa kaku, tertutup oleh suara roda kereta api yang bergulir di atas rel logam. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun hubungan kami, aku melihat Kaito mengalihkan pandangannya dariku. Ia menatap ke arah pintu keluar gerbong.
Jemarinya bergerak perlahan, seolah setiap gerakan bahasa isyarat itu sangat berat untuk ia bentuk. [Maafkan aku, Hana. Besok aku ada urusan di fakultas. aku harus mengurus riset hukum. Sepertinya aku tidak bisa datang.]
Jantungku berdegup kencang secara tidak teratur. ohh begitu yah?
[jadi kapan bisa nya?] jemariku membalas dengan tremor halus yang tak bisa kusembunyikan. [terakhir ini kamu sering mengabaikan ku?]
Kaito kembali menatapku. Senyuman tipis dan samar terukir di bibirnya senyuman paling sedih yang pernah kubaca dari raut wajahnya.
[ Lagipula... belakangan ini kamu sangat sibuk dengan duniamu yang baru bersama Haruto. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasimu.]
Kata-kata isyarat itu sederhana, tetapi dampaknya menghantam jiwaku hingga hancur berkeping-keping. Itu bukanlah tuduhan, melainkan kenyataan yang tak bisa kubantah. Aku sendiri yang telah mengabaikannya. Aku sendiri yang tidak pernah menanyakan kabarnya dalam beberapa minggu terakhir karena terlalu terbuai oleh warna-warna indah yang ditawarkan oleh Haruto.
Sebelum aku sempat membalas isyaratnya, suara pengumuman stasiun bergema pelan. Kereta mulai melambat dan berhenti di peron stasiun dekat lingkungan rumah kami. Pintu gerbong terbuka lebar, mengembuskan angin malam yang dingin menusuk kulit.
Kaito berdiri lebih dulu. Ia meraih tas ranselnya yang setengah basah, lalu membukakan jalan untukku.
Kami melangkah keluar dari stasiun, berjalan menyusuri gang kompleks perumahan yang sepi di bawah naungan satu payung hitam yang sama. Lampu-lampu jalan memancarkan cahaya kuning keemasan, memantul di atas permukaan aspal yang basah oleh genangan air.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah kami yang saling berdekatan, tidak ada lagi bahasa isyarat yang tercipta. Hanya ada suara langkah kaki kami yang beradu dengan irama tetesan air dari atap rumah-rumah warga. Kaito terus berjalan di sisiku, menjaga agar tubuhku tetap terlindungi payung, sementara bahunya sendiri makin membasah oleh sisa hujan.
Hingga akhirnya, kami sampai di depan pagar rumahku.
Aku berbalik menatapnya. Di bawah pendar remang lampu teras, wajah Kaito tampak sangat pucat. Bibirnya agak membiru menahan dingin, tetapi matanya tetap memancarkan kehangatan yang sama seperti saat kami masih berusia tujuh tahun.
Kaito menyerahkan payung hitam besar itu ke genggaman tanganku. Ia memilih berdiri di bawah rintik hujan gerimis yang tersisa.
Tangannya terangkat, membentuk isyarat terakhir untuk malam ini. [Masuklah. Segera mandi air hangat dan minum obat yang kuberikan tadi. Selamat malam, Hana.]
Aku memegang gagang payung itu erat-erat. [Kaito, kamu sendiri bagaimana? Jaketmu basah kuyup, kamu bisa sakit!]
Kaito menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. [Rumahku cuma berjarak lima rumah dari sini. Aku bisa berlari kecil. Jangan mengkhawatirkanku.]
Ia berbalik jalan tanpa menunggu jawabanku lagi. Pria itu menyusuri trotoar malam yang lengang, berjalan sendirian menembus gerimis tanpa payung, dengan kepala yang menunduk dalam.
Aku berdiri terpaku di depan pintu pagar rumahku. Aku memperhatikan punggung Kaito yang perlahan-lahan menghilang di belokan gang.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, di dalam duniaku yang sunyi tanpa suara, aku merasakan sebuah jeritan ketakutan yang teramat sangat di dalam dada. Dinding tebal yang dibangun Kaito bukan lagi sekadar prasangka. Ia benar-benar mulai melangkah mundur, perlahan-lahan melepaskan pegangan tangannya dariku, dan mempersiapkan dirinya untuk menghilang sepenuhnya dari duniaku.
Dan yang paling menyakitkan adalah... aku tahu akulah yang memaksanya untuk melakukan itu.