"Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Demi cinta yang ia kira tulus, Annisa yang baru berusia 24 tahun itu rela menyembunyikan identitas aslinya. Ia berpura-pura cuma gadis yatim piatu biasa saat dipersunting Rian, pria yang kini berumur 28 tahun. Annisa cuma ingin menguji—apakah Rian benar-benar mencintainya atau cuma mengincar hartanya.
Dan suatu hari, jawaban dari ujian itu makin jelas kelihatan.
Tiga tahun pengorbanannya. Tiga tahun penyamarannya. Tiga tahun kesabarannya menahan hinaan mertua dan ipar demi menjaga harga diri Rian ... semuanya dibalas dengan pengkhianatan murahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Kartu Kredit yang Membisu-2
Rian mendadak bungkam. Kata-katanya terhenti di tenggorokan.
Ia baru teringat! Kartu kredit yang dipegang Sisil selama ini bukanlah kartu kredit atas nama Rian, melainkan *kartu kredit tambahan* milik Annisa! Kartu yang dulu Annisa berikan kepada Sisil saat Sisil baru masuk kuliah dengan alasan "untuk keadaan darurat dan beli buku".
"Nisa ...," desis Rian dengan gigi bergemeletuk. Wajahnya yang tadinya tenang kini berubah pucat pasi bercampur amarah yang meluap-luap.
"Mas Rian! Cepetan transferin Sisil uang empat juta sekarang! Sisil malu banget disetir-setirin sama orang restoran dan ditontonin temen-temen Sisil!" tangis Sisil makin pecah dari ujung telepon.
Rian mengepalkan tangannya di atas meja. Masalahnya, saldo di rekening pribadi Rian saat ini hanya tersisa tidak sampai dua juta rupiah! Pekan lalu, Rian baru saja menguras tabungannya sebesar empat puluh delapan juta rupiah untuk membayar gelang berlian Eriska secara tunai dan transfer, demi membuktikan pada Eriska bahwa ia adalah Manajer kaya raya!
Gajinya baru akan masuk pada akhir bulan, yang mana masih berjarak dua minggu lagi!
"Sil ... dengarin Mas," ucap Rian dengan suara berbisik, menyampingkan ponselnya agar Eriska tidak mendengar kepanikannya. "Uang di rekening Mas lagi menipis karena ada keperluan kantor mendadak. Kamu ... kamu ada kartu debit lain tidak?"
"Nggak ada, Mas! Mas kan tahu uang jajan Sisil cuma dari kartu itu! Mas gimana sih?! Katanya Mas Manager kaya?! Masa uang empat juta aja gak punya?!" bentak Sisil frustrasi, melupakan sopan santun pada kakaknya.
Suara Sisil yang cukup keras itu membuat Eriska yang berdiri di dekat Rian menaikkan sebelah alisnya, menatap Rian dengan pandangan aneh dan penuh selidik.
Rian merasa harga dirinya diremuk-remuk. Muka Rian makin memerah menahan malu di depan Eriska.
"Kamu jangan berisik, Sisil!" bentak Rian pelan namun tajam. "Kamu minta temen-temen kamu patungan dulu! Nanti malam Mas ganti!"
"Nggak mau, Mas! Temen-temen Sisil nggak ada yang bawa uang tunai sebanyak itu! Mas Rian ke sini sekarang atau bayarin lewat m-banking! Kalau nggak, Sisil dipanggil polisi!" ancam Sisil histeris.
Rian mengusap wajahnya dengan kasar. Keringat dingin mulai membahasi pelipisnya. Dengan rasa gengsi yang menumpuk dan kepanikan yang melanda, Rian terpaksa membuka aplikasi pinjaman online cepat cair di ponselnya—sesuatu yang belum pernah ia bayangkan akan ia lakukan sebagai seorang Manager. Dengan bunga yang mencekik, Rian mengajukan pinjaman darurat sebesar lima juta rupiah.
Setelah proses verifikasi yang menegangkan selama sepuluh menit, dana itu akhirnya masuk ke rekening Rian. Tanpa membuang waktu, Rian langsung mentransfer empat juta rupiah ke rekening Sisil.
"Sudah Mas transfer! Bayar sekarang dan cepat pulang!" bentak Rian lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Rian menyandarkan punggungnya di kursi kerja, napasnya memburu kencang. Tangannya gemetaran menahan amarah yang begitu pekat. Ia tahu pasti siapa dalang di balik semua kekacauan ini.
Annisa Septiani.
Istrinya yang biasa penurut, diam, dan tak banyak bicara itu, telah berani memblokir kartu kredit tanpa memberitahunya terlebih dahulu!
Puk!
Eriska menepuk bahu Rian pelan, menatap Rian dengan senyum manis yang penuh kepalsuan. "Mas sayang ... kamu kenapa? Kok kelihatannya panik banget? Ada masalah keuangan ya?"
Rian buru-buru menyunggingkan senyum paksaan, merapikan jasnya demi menjaga wibawa di depan selingkuhannya. "Nggak ada apa-apa, Sayang. Cuma adik Mas biasa, manja mau beli tas baru tapi lupa bawa kartu debitnya. Mas cuma bantu transferin."
Eriska tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di dada Rian. "Ooh ... kirain ada apa. Ingat ya Mas, nanti siang kita jadi makan di restoran Jepang langganan kita. Kamu janji mau traktir aku sama temen-temen divisi pemasaran, kan?"
Jantung Rian serasa berhenti lagi. Makan siang di restoran Jepang bersama tim pemasaran? Itu artinya ia harus mengeluarkan uang setidaknya tiga sampai empat juta lagi! Sedangkan sisa uang pinjaman online-nya tadi hanya tersisa satu juta rupiah!
"I-iya, Sayang ... pasti," sahut Rian dengan tawa hambar, sementara di dalam hatinya rasa panik dan murka membakar habis seluruh kesadarannya.
Rian menyambar kunci mobilnya di atas meja. "Kamu tunggu di bawah ya, Riska. Mas mau telepon istri Mas dulu sebentar."
Setelah Eriska keluar dari ruangan dengan langkah manja, Rian langsung menekan tombol panggilan ke nomor Annisa. Hanya butuh dua kali nada dering sebelum suara lembut nan tenang Annisa terdengar di ujung telepon.
"Halo, Mas Rian?"
"Nisa! Apa-apaan kamu, hah?!" bentak Rian meluapkan seluruh emosinya tanpa tedeng aling-aling. Suaranya bergema di dalam ruang kerja Manajer yang kedap suara itu. "Kamu sengaja memblokir kartu kredit Sisil?! Kamu tahu gak Sisil hampir dipermalukan di restoran gara-gara tindakan bodoh kamu ini?!"
Di ujung telepon, hening sejenak. Tidak ada suara kepanikan, tidak ada permintaan maaf, dan tidak ada isakan tangis yang Rian harapkan.
"Nisa cuma melakukan apa yang menurut Nisa benar, Mas," sahut Annisa dengan nada suara yang sangat dingin dan teratur, seolah sedang membicarakan cuaca hari ini.
"Benar pala otakmu!" maki Rian murka. "Itu kartu kredit yang biasa dipakai adikku! Kenapa kamu main blokir sembarangan tanpa izin dari Mas?!"
"Bukannya Mas Rian sendiri yang bilang tadi pagi di meja makan?" tanya Annisa balik dengan tenang. "Mas bilang jatah uang belanja Nisa dipotong dua juta untuk Sisil. Nisa pikir, kalau Sisil sudah dapat uang tunai dua juta dari Mas Rian, buat apa lagi dia pakai kartu kredit atas nama Nisa? Lagi pula, Nisa kan cuma wanita bodoh yang nggak punya penghasilan. Nisa takut nggak sanggup bayar tagihan kartu kredit itu bulan depan."
Kata-kata Annisa menghantam ulu hati Rian bagai pukulan godam. Kalimat yang persis sama dengan yang diucapkan Rian dan ibunya tadi pagi kini dikembalikan oleh Annisa dengan sangat menyengat.
"Kamu ... kamu membalas Mas, Nisa?!" desis Rian dengan napas memburu. "Buka blokirnya sekarang! Mas perintahkan kamu buka blokir kartu itu hari ini juga!"
"Maaf, Mas Rian. Kartu itu sudah Nisa tutup permanen di bank," jawab Annisa santai. "Kalau Sisil mau belanja atau makan mewah lagi, bukannya ada Mas Rian? Mas kan Manager hebat dengan gaji puluhan juta. Masa adik sendiri masih harus bergantung sama kartu kredit milik istri dari pria yang katanya cuma numpang hidup?"
"Annisa Septiani!" jerit Rian murka, mukanya memerah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar.
"Selamat bekerja ya, Mas Rian. Selamat menikmati makan siang mewahnya," bisik Annisa pelan, lalu mematikan telepon tepat sebelum Rian sempat membalas makiannya.
Tut ... tut ... tut ...
Rian membeku di tempatnya. Ponsel di tangannya serasa menjadi sangat berat. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan mereka, Rian merasakan ketakutan yang aneh. Suara Annisa tadi ... bukan suara istri yang bisa ia injak-injak lagi. Itu adalah suara seorang wanita yang sedang memegang kendali penuh atas nasibnya.
Bersambung...
🥰🥰🥰🥰🥰
kini duduk di kursi pesakitan,,,ohhh Tuhan
seandainya engkau mengingatkan kala itu
mungkin tidak akan terjadi seperti ini ratapan rian hidayat 😮😮😭😭 sekarang Tuhan sedang berkehendak,,
demi adeknya sekarang mengemis menghiba,,,sapa yang perduli dengan dirimu Rini dan sisil ,,,bertahanlah seperti Anissa ketika menjadi menantu dirimu