Indonesia
NovelToon NovelToon
AKULAH SANG PENGUASA JIWA

AKULAH SANG PENGUASA JIWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action / Fantasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

Xiao Yi pernah menjadi pembunuh yang ditakuti dunia. Namun sebuah konspirasi merenggut nyawanya.

Ketika membuka mata kembali, ia justru terbangun di Benua Yanlong, dalam tubuh seorang tuan muda lemah yang baru saja dikhianati tunangannya dan dibunuh sepupunya sendiri.

Semua orang menganggapnya sampah.
Mereka tidak tahu bahwa Xiao Yi yang dahulu telah mati.

Kini, di tubuh itu hidup seorang petarung yang terbiasa berjalan di antara darah dan kematian. Lebih mengejutkan lagi, Pedang Bingluan yang ikut menyebabkan kematiannya muncul kembali sebagai Jiwa Bela Diri misterius.

Dengan kehidupan kedua dan kekuatan yang seharusnya tidak dimilikinya, Xiao Yi hanya memiliki satu jawaban bagi mereka yang ingin menginjaknya lagi:

Jika dunia ini menghormati yang kuat, maka ia akan berdiri di puncaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Satu Tamparan, Satu Taruhan

Tetua Kelima, Tetua Ketujuh, dan Tetua Kedelapan terdiam.

Wajah mereka sama-sama muram, tetapi tak seorang pun mampu membantah perkataan Xiao Yi.

Aturan klan telah diwariskan sejak leluhur Klan Xiao. Sekalipun mereka memandang rendah Xiao Yi, mereka tidak mungkin melanggarnya secara terang-terangan hanya demi menyingkirkan seorang pewaris Patriak.

Suasana Ruang Sidang pun berubah menyesakkan.

Sebaliknya, Xiao Zhong menatap Xiao Yi dengan sorot mata berbeda.

Awalnya, Tetua Ketiga mengira malam ini Xiao Yi akan dipaksa memilih antara kedudukannya dan kesempatan memasuki Gua Ziyun.

Namun pemuda itu bukan hanya tidak tunduk.

Ia bahkan menggunakan aturan klan untuk membungkam beberapa tetua sekaligus.

"Yi'er benar-benar sudah berubah."

Ada kelegaan di hati Xiao Zhong.

Setidaknya, anak yang dipercayakan kepadanya itu kini sudah mampu membela dirinya sendiri.

Saat suasana masih membeku, Xiao Ruohan tiba-tiba berdiri.

Ia memberi hormat kepada para tetua dan Diaken sebelum berbicara.

"Para tetua, perkataan Xiao Yi memang tidak salah."

Kalimat pembukanya langsung menarik perhatian semua orang.

"Namun Gua Ziyun hanya dibuka sekali setiap tiga tahun. Kesempatan memasuki tempat itu sangat berharga bagi generasi muda Klan Xiao."

Xiao Ruohan melirik Xiao Yi.

"Jika pewaris Patriak memang memiliki kemampuan yang sebanding dengan generasi muda terbaik klan, tentu tak seorang pun akan keberatan."

"Tapi kalau seseorang memperoleh tempat hanya karena kedudukannya, sementara kekuatannya jauh di bawah yang lain..."

Ia sengaja berhenti.

"...bukankah itu justru tidak adil?"

Beberapa Diaken mulai mengangguk.

Xiao Ruohan melanjutkan dengan tenang.

"Aturan leluhur dibuat agar Klan Xiao berkembang, bukan untuk memberikan keuntungan kepada seseorang yang tidak memiliki kemampuan."

"Karena itu, menurutku aturan tersebut tidak perlu dihapus. Kita hanya perlu membuat cara penentuan tempatnya lebih adil."

Tetua Keempat yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

Ia terkenal sebagai orang paling netral di antara para tetua Klan Xiao.

"Ruohan, apa usulmu?"

Xiao Ruohan tersenyum.

"Setengah bulan lagi, sebelum Gua Ziyun dibuka, klan akan mengadakan Turnamen Generasi Muda."

"Sembilan peserta terbaik memperoleh tempat."

Ia menatap Xiao Yi.

"Biarkan Xiao Yi ikut bertanding."

"Jika ia mampu masuk sembilan besar dengan kekuatannya sendiri, tidak seorang pun akan keberatan melihatnya memasuki Gua Ziyun."

Tetua Keempat mengangguk perlahan.

Usulan itu memang terdengar masuk akal.

"Xiao Yi, bagaimana menurutmu?"

"Aku menolak."

Jawaban Xiao Yi datang begitu cepat hingga beberapa orang tercengang.

Tetua Keempat mengernyit.

"Kenapa?"

"Seorang kultivator harus berani menghadapi tantangan. Jika kau bahkan tidak berani bertanding melawan generasimu sendiri, bagaimana kau akan menapaki jalan kultivasi?"

Xiao Yi tersenyum tipis.

"Tetua Keempat salah memahami maksudku."

"Tempat memasuki Gua Ziyun sejak awal adalah hak pewaris Patriak."

Ia menunjuk dirinya sendiri.

"Aku sudah memilikinya."

"Lalu kenapa aku harus mempertaruhkan sesuatu yang sudah menjadi milikku demi memperoleh sesuatu yang sama?"

Xiao Yi mengangkat bahu.

"Itu bukan keberanian."

"Itu kebodohan."

Beberapa orang di aula mendadak terdiam.

Bahkan beberapa Diaken tanpa sadar merasa perkataannya masuk akal.

Tetua Kelima hampir mengertakkan gigi.

Anak ini benar-benar berubah.

Dahulu, cukup dengan satu bentakan, Xiao Yi mungkin sudah menundukkan kepala.

Sekarang mulutnya justru lebih tajam daripada pisau.

Xiao Ruohan tidak kehilangan ketenangannya.

"Jadi kau takut?"

Xiao Yi menoleh kepadanya.

"Takut?"

"Kalau aku menerima usulmu dan kalah, aku kehilangan tempat memasuki Gua Ziyun."

"Lalu kalau aku menang, apa yang kudapat?"

Xiao Ruohan terdiam.

"Tidak ada."

Xiao Yi tersenyum mengejek.

"Semua risiko berada di pihakku, sementara kau tidak mempertaruhkan apa pun."

"Kalau begitu, kenapa aku harus menerimanya?"

Tatapan Xiao Ruohan berubah sedikit.

Ia mulai menyadari arah pembicaraan Xiao Yi.

Benar saja, Xiao Yi melanjutkan,

"Namun karena usul ini berasal darimu, aku bisa mempertimbangkannya."

"Asalkan kau mempertaruhkan sesuatu yang setara."

Xiao Ruohan menyipitkan mata.

"Apa yang kau inginkan?"

"Sederhana."

Xiao Yi bangkit dari kursinya.

"Setengah bulan lagi aku akan mengikuti Turnamen Generasi Muda."

"Jika aku gagal masuk sembilan besar, aku menyerahkan tempatku di Gua Ziyun."

"Tapi kalau aku berhasil..."

Langkahnya berhenti tepat di depan Xiao Ruohan.

"...kau menyerahkan tempatmu."

Mata Xiao Ruohan langsung berubah.

"Apa?"

"Kau mendengarnya."

Xiao Yi menatapnya tanpa berkedip.

"Kalau aku menang, kau tidak boleh memasuki Gua Ziyun kali ini."

Suasana aula kembali hening.

Semua orang memahami nilai taruhan tersebut.

Xiao Ruohan berusia tujuh belas tahun dan sudah mencapai Alam Penempaan Tubuh Tingkat Tujuh.

Bagi seorang kultivator muda, usia sebelum delapan belas tahun merupakan salah satu masa terpenting untuk membangun fondasi.

Jika melewatkan pembukaan Gua Ziyun kali ini, ia harus menunggu tiga tahun lagi.

Saat itu usianya sudah dua puluh tahun.

Kerugiannya tidak kecil.

Xiao Yi mendekat setengah langkah.

"Bagaimana, Xiao Ruohan?"

Sudut bibirnya terangkat.

"Berani?"

Xiao Ruohan tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya malam itu, keraguan muncul di wajahnya.

Xiao Yi tertawa kecil.

"Kenapa?"

"Jenius terbesar generasi muda Klan Xiao ternyata takut mempertaruhkan tempatnya melawan orang yang selama ini kau sebut sampah?"

Wajah Xiao Ruohan langsung memerah.

"Siapa yang takut?!"

"Kalau tidak takut, terima."

Xiao Ruohan mengepalkan tangan.

Ia tahu Xiao Yi sengaja memancingnya.

Namun di depan begitu banyak tetua, Diaken, dan generasi muda klan, bagaimana mungkin dirinya mundur?

Terlebih lagi...

Apa yang perlu ditakutkan?

Peserta terlemah yang mampu memperebutkan sembilan besar setidaknya berada di sekitar Alam Penempaan Tubuh Tingkat Enam.

Sementara Xiao Yi?

Dalam pengetahuan Xiao Ruohan, sampah itu bahkan belum lama ini hanya berada di Tingkat Satu.

Setengah bulan.

Mustahil baginya mengejar kesenjangan sebesar itu.

"Aku—"

Belum selesai Xiao Ruohan berbicara, Xiao Yi tiba-tiba menyela.

"Atau memang kau hanya pandai bersembunyi di belakang ayahmu?"

"Sampah!"

Xiao Ruohan kehilangan kesabaran.

"Kau pikir aku takut pada—"

Plak!

Suara tamparan keras menggema di seluruh Ruang Sidang.

Semua orang membeku.

Kepala Xiao Ruohan terpaling ke samping.

Bekas telapak tangan merah perlahan muncul di pipinya.

Ia bahkan membutuhkan beberapa detik untuk memahami apa yang baru saja terjadi.

Xiao Yi...

Menamparnya?

Di depan seluruh tetua dan Diaken?

"Kau..."

Mata Xiao Ruohan perlahan memerah.

"Kau berani memukulku?"

"Aku lebih penasaran kenapa kau merasa aku tidak berani."

Suara Xiao Yi berubah dingin.

"Xiao Ruohan, jaga mulutmu."

Niat membunuh langsung muncul dari tubuh Xiao Ruohan.

"Kau mencari mati!"

Qi Sejati melonjak.

Namun Xiao Yi bahkan tidak mundur.

Sebaliknya, ia menatap Xiao Ruohan dengan dingin.

"Coba serang."

Dua kata itu membuat Xiao Ruohan berhenti.

Xiao Yi kemudian menoleh kepada Tetua Keempat.

"Tetua Keempat, menurut aturan klan, bagaimana hukuman bagi generasi muda yang menghina seseorang dengan kedudukan lebih tinggi?"

Tetua Keempat terdiam sejenak sebelum menjawab,

"Untuk pelanggaran ringan, hukuman cambuk dan kurungan."

"Jika tindakannya berat, hukumannya dapat diperberat."

"Dan jika sampai menyerang atau mencoba membunuh seseorang dengan kedudukan tinggi di klan, pelakunya bahkan dapat diusir."

Xiao Yi kembali menatap Xiao Ruohan.

"Sudah dengar?"

Wajah Xiao Ruohan semakin buruk.

Secara kekuatan, ia dapat menghajar Xiao Yi dengan mudah.

Namun secara kedudukan...

Xiao Yi masih pewaris Patriak.

Statusnya berada jauh di atas generasi muda biasa.

Dahulu tidak ada yang memedulikan hal tersebut karena Xiao Yi sendiri terlalu lemah untuk mempertahankan martabatnya.

Tetapi Xiao Yi sekarang berbeda.

Ia tahu kapan harus menggunakan tinjunya.

Dan tahu kapan aturan jauh lebih mematikan daripada tinju.

"Kau..."

Xiao Ruohan hampir kembali mengumpat.

Namun tatapan Tetua Keempat membuatnya menelan perkataan itu.

Xiao Yi tersenyum.

"Jadi?"

"Berani menerima taruhan atau tidak?"

Xiao Ruohan mengepalkan kedua tangan begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih.

"Baik!"

Ia menggertakkan gigi.

"Aku terima!"

"Setengah bulan lagi, jika kau berhasil masuk sembilan besar, aku akan menyerahkan tempatku di Gua Ziyun!"

"Tapi kalau kau gagal..."

"Kau kehilangan tempatmu."

Xiao Yi menyelesaikan kalimatnya.

"Lalu semuanya selesai."

Ia kemudian menoleh kepada seluruh orang yang hadir.

"Para tetua dan Diaken menjadi saksi."

"Taruhan ini sudah disepakati."

"Tidak ada yang boleh menarik kembali perkataannya."

Tetua Keempat mengangguk.

"Baik."

Dengan persetujuannya, masalah itu pun diputuskan.

Rapat yang berlangsung hampir seharian akhirnya berakhir dengan sebuah taruhan yang tidak pernah dibayangkan siapa pun.

Sebelum meninggalkan Ruang Sidang, Xiao Yi melewati Xiao Ruohan.

Langkahnya berhenti sesaat.

"Setengah bulan."

Ia berbisik cukup pelan agar hanya Xiao Ruohan yang mendengar.

"Jaga baik-baik tempatmu sebelum menjadi milikku."

Xiao Ruohan menatap punggungnya dengan penuh kebencian.

Namun ia tidak tahu satu hal.

Xiao Yi yang berdiri di hadapannya bukan lagi pemuda lemah yang pernah ia dorong dari tebing.

***

Malam semakin larut.

Di kediaman Tetua Kelima, Xiao Ruohan duduk dengan wajah muram.

Bekas tamparan di pipinya belum sepenuhnya hilang.

Tetua Kelima berjalan mondar-mandir.

"Ruohan, kau terlalu gegabah."

"Kesempatan memasuki Gua Ziyun sangat penting. Seharusnya kau tidak mempertaruhkannya."

"Ayah terlalu khawatir."

Xiao Ruohan tersenyum dingin.

"Untuk masuk sembilan besar, setidaknya dia harus memiliki kekuatan mendekati Alam Penempaan Tubuh Tingkat Enam."

"Berapa tingkat kultivasinya sekarang?"

Tetua Kelima terdiam.

Dalam pengetahuan mereka, Xiao Yi masih berada di dasar Alam Penempaan Tubuh.

Xiao Ruohan melanjutkan,

"Bahkan aku membutuhkan hampir setahun untuk naik dari Tingkat Lima ke Tingkat Enam."

"Lalu Xiao Yi ingin mengejar beberapa tingkat hanya dalam setengah bulan?"

Ia tertawa dingin.

"Mustahil."

Tetua Kelima akhirnya mengangguk.

"Benar."

Namun sesaat kemudian, ia teringat sesuatu.

"Yang Fu belum mengirim kabar."

Senyum Xiao Ruohan perlahan menghilang.

"Mungkin dia belum menemukan kesempatan untuk menyusup ke kediaman Xiao Yi."

"Bagaimanapun, ini wilayah Klan Xiao."

Tetua Kelima mengangguk.

Tak satu pun dari mereka mengetahui bahwa pembunuh yang mereka tunggu tidak akan pernah kembali.

Yang Fu sudah menjadi abu.

Dan orang yang seharusnya ia bunuh...

sedang bersiap melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar mempertahankan tempat di Gua Ziyun.

Dalam setengah bulan, Xiao Yi berniat membuat seluruh Klan Xiao menelan kembali setiap hinaan yang pernah mereka lemparkan kepadanya.

......................

Bersambung...

1
Momu
👍👍👍
Momu
👍👍
Jojo Shua
🫡🤣
Jojo Shua
😄
Jojo Shua
7
Jojo Shua
3🫡
Momu
👍👍
Ryyy
up trusthor🤭 semangat 💪💪💪💪
Ryyy
semangat thor💪
Adek Darmansyah
smngt trusss thorrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!