Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17
Kartu yang Belum Dibuka
Selama empat hari setelah pemeriksaan polisi, Bimo tidak membuat masalah.
Ia tetap tinggal di bagian lain kediaman Adiningrat, keluar hanya untuk menemui pengacara, lalu kembali sebelum malam. Suryani berhenti mendatangi sayap utama. Bahkan suara para pelayannya tidak lagi terdengar di koridor Ratri.
Ketenangan itu justru membuat Wira lebih waspada.
"Orang seperti mereka tidak berubah hanya karena satu kekalahan," katanya di kantor Ratri.
"Mereka sedang mencari pisau yang tidak memiliki sidik jari mereka," jawab Ratri.
Anin yang duduk di depan meja menunduk. Sejak rapat pemegang saham, ia datang setiap pagi untuk memberi keterangan tambahan dan membantu memetakan dokumen yang pernah disentuhnya. Ia tidak lagi memakai ponsel pemberian Bimo. Semua akses kantor yang pernah dimilikinya dibekukan sampai pemeriksaan selesai.
"Mas Bimo pernah bilang kalau rencana saham gagal, Bu Suryani akan meminta bantuan keluarga Wiryawan," ujar Anin. "Mereka mau membuat Mbak terlihat tidak pantas berada di lingkungan Adiningrat."
"Bagaimana?"
"Aku tidak tahu rinciannya. Katanya, hukum mungkin tidak bisa menyentuh Mbak, tapi nama baik bisa dihancurkan di depan orang-orang penting."
Ratri menyandarkan tubuh. "Sekar."
Anin mengangguk. "Mas Bimo beberapa kali menghubunginya. Mama juga diminta menyebarkan cerita tentang ibu kandung Mbak."
Suhu ruangan seakan turun.
Wira menatap Anin, tetapi Ratri tidak menunjukkan kemarahan.
"Cerita apa?"
"Aku tidak sempat dengar. Mbak, aku benar-benar tidak tahu."
"Kalau tahu, katakan. Kalau tidak, jangan menebak."
Anin mengangguk cepat.
Ratri menutup catatan. "Satu hal lagi. Berhenti menganggap semua perintah ibumu sebagai utang yang harus kau bayar. Dia melahirkanmu, bukan memiliki hidupmu."
Mata Anin memanas. "Mama akan bilang aku anak durhaka."
"Biarkan. Lebih baik disebut durhaka daripada dipakai melakukan kejahatan."
Itu bukan pengampunan. Namun, Ratri memintanya datang lagi besok untuk membantu Mbak Lia. Bagi Anin, kepercayaan kecil itu lebih berharga daripada semua janji saham Bimo.
Ketika Anin keluar, Wira meletakkan sebuah ponsel tanpa tanda pengenal di atas meja.
"Reza mengirim perkembangan. Dua rekening pembayaran sudah dibekukan sementara melalui prosedur pelacakan. Orang yang membeli kuasa suara mulai saling menyalahkan."
"Jangan sentuh rekening yang tidak terkait langsung," kata Ratri. "Kita tidak sedang menakuti mereka dengan kekuasaan. Kita sedang membuktikan perbuatannya."
"Siap, Bos."
Baskara kebetulan berdiri di luar dinding kaca. Ia tidak mendengar semua kalimat, tetapi melihat Wira menyerahkan ponsel, menunggu perintah, lalu pergi tanpa satu pertanyaan pun. Lima menit kemudian, dua surel dari pihak yang selama berhari-hari menolak bekerja sama tiba hampir bersamaan.
Jaringan Ratri bergerak tanpa suara dan tanpa meninggalkan nama di depan pintu.
Panji belum menemukan jawaban utuh. Reza pernah menangani beberapa perkara besar, tetapi jejak yang menghubungkannya dengan Ratri selalu berhenti pada laporan resmi. Ada orang yang sengaja membersihkan jalur di antara keduanya.
Baskara bukannya kecewa. Ia justru semakin yakin bahwa istrinya seperti setumpuk kartu yang baru dibuka satu per satu.
"Masih mengintip?" tanya Ratri dari dalam.
Baskara membuka pintu. "Aku sedang menunggu istriku pulang."
"Saya masih bekerja."
"Kalau begitu aku menunggu lebih lama."
Malamnya, keluarga berkumpul dalam satu meja makan untuk pertama kali sejak rapat. Pak Ganda mengatakan jamuan itu permintaan Suryani demi memulihkan keharmonisan rumah.
Tidak seorang pun percaya alasan tersebut.
Suryani duduk dengan senyum tipis. Bimo berada di sampingnya, wajah muram dan tangan sibuk memutar gelas. Anin memilih kursi dekat Ratri. Pilihan kecil itu tidak luput dari mata ibunya.
Baskara datang terakhir dan duduk di sebelah Ratri tanpa bertanya.
"Kita ini keluarga," kata Suryani setelah hidangan dibagikan. "Masalah kantor seharusnya tidak membuat hubungan di rumah rusak."
"Hubungan di rumah rusak ketika anak Anda masuk ke kamar saya dan memberi obat ke minuman," jawab Ratri.
Sendok Bimo jatuh ke piring.
"Polisi belum membuktikan semuanya," kata Suryani.
"Rekamannya membuktikan cukup banyak."
Baskara menuangkan air untuk Ratri. "Kalau tujuan makan malam ini meminta laporan dicabut, jawabannya tidak."
"Mas Baskara selalu membela dia," keluh Bimo. "Saya ini adik Mas sendiri."
"Adik seayah," kata Baskara. "Dan itu tidak memberimu hak menyentuh istriku."
Suryani menggenggam serbet. Senyumnya hampir retak, tetapi ia mempertahankannya sampai makan selesai.
Pak Ganda masuk membawa sebuah nampan kecil. Di atasnya terletak amplop hitam dengan tulisan emas.
"Kiriman untuk Ndoro Putri. Pengantar meminta agar diserahkan malam ini."
Ratri membuka segelnya.
Undangan itu berasal dari keluarga Wiryawan untuk sebuah malam amal di hotel paling bergengsi di Jakarta. Nama Priyo Wiryawan tercetak sebagai tuan rumah. Di sudut bawah ada tanda tangan Sekar.
Suryani pura-pura terkejut. "Wiryawan mengundangmu? Acara itu hanya dihadiri orang penting. Sebaiknya jangan datang kalau belum punya pakaian yang pantas."
"Saya punya pakaian."
"Nama baik tidak bisa dibeli seperti gaun."
Anin menatap Ratri dengan cemas. Peringatannya terbukti lebih cepat dari dugaan.
Baskara mengambil undangan itu, membacanya, lalu berkata, "Kita tidak perlu datang."
"Takut?" tanya Ratri.
"Aku tahu apa yang mereka rencanakan."
"Saya juga tahu."
"Lalu kenapa memberi mereka panggung?"
Ratri mengambil kembali undangan. "Karena orang paling mudah dihancurkan ketika dia yakin panggung itu miliknya."
Ia membalik kartu tebal tersebut.
Di bagian belakang, Sekar menulis satu baris dengan tinta hitam.
Datang ya, Mbak. Semua orang penting akan hadir... untuk melihatmu.