Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Masa Depan
“Jadi, kau adalah istri masa depanku?”
Celetukan Edris berhasil membuat raut wajah Esmera yang semula tenang seketika berubah dingin. Tatapannya mengeras, seolah pria di hadapannya baru saja menyentuh luka yang paling ingin ia sembunyikan.
“Pantas saja kau sangat berani padaku,” lanjut Edris dengan nada penuh arti.“Dan sekarang kau ingin melarikan diri dari takdirmu?”
Esmera mengepalkan jemarinya di balik lengan bajunya.
Takdir?
Kata itu terdengar begitu menyebalkan di telinganya.
Iya aku akan merubah takdirku.
Esmera sudah pernah menjalani takdir yang katanya indah itu. Menjadi seorang ratu, menjadi istri seorang raja, dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di istana hanya untuk berakhir dengan kematian di tangan adiknya sendiri.
Tidak. Kali ini ia tidak akan membiarkan siapa pun menentukan jalan hidupnya.
“Dengan mengatakan semua itu, kuanggap Yang Mulia sudah mempercayaiku.” Esmera menarik napas panjang, berusaha mengabaikan tatapan Edris yang terasa seolah mampu membaca pikirannya."Kalau begitu, aku akan langsung menawarkan sebuah kerja sama yang sangat menguntungkan bagi Anda dan bagi kelangsungan kerajaan.”
Esmera sengaja mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak ingin masuk ke dalam jebakan Edris yang mulai mengulik hubungan mereka di masa depan. Semakin banyak yang ia katakan, semakin besar kemungkinan pria itu mengetahui kelemahannya.
Terlebih lagi, Esmera takut. Bukan pada Edris yang sekarang. Melainkan pada perasaan yang pernah ia miliki untuk pria itu.
Perasaan yang sudah susah payah ia kubur bersama dengan kehidupan masa lalunya. Ia tidak ingin perasaan itu bangkit kembali.
“Bukankah kau sudah tahu jika aku adalah musuhmu?” Edris menyandarkan tubuhnya dengan santai.“Nenek moyangku telah berkhianat pada nenek moyangmu, Esmera. Lalu kenapa kau malah menawarkan bantuan kepada musuhmu sendiri?”
Nada suara Edris terdengar tenang, tetapi tatapan matanya jelas sedang memancing. Ia ingin melihat seberapa jauh kesabaran Esmera.
Dan benar saja, wajah gadis itu perlahan memerah. Bukan karena malu, melainkan karena amarah yang mulai mendidih di dalam dadanya.
Edris tersenyum sinis.“Kau ingin mengkhianati leluhurmu sendiri?” Kalimat itu membuat Esmera akhirnya kehilangan sedikit kesabarannya.
“Aku tidak peduli dengan konflik itu,” ketus Esmera. Tatapannya tajam menusuk wajah Edris.
“Ketika aku hidup menderita di istana, tidak ada seorang pun yang peduli padaku. Tidak ada yang datang menanyakan apakah aku baik-baik saja. Tidak ada yang peduli apakah aku bahagia atau tidak.” Suaranya mulai bergetar, tetapi Esmera segera menahannya.
“Lalu kenapa aku harus peduli pada konflik yang bahkan tidak pernah aku mulai?”
Dia terdiam sejenak. Bayangan masa lalu kembali berkelebat di kepalanya.
Lorong istana.
Rasa sakit yang menusuk tubuhnya.
Dan wajah seseorang yang telah membunuhnya.
Bahkan adikku sendiri, dengan wajah santainya ,menusukku dengan pisau sampai aku mati. Kenapa aku harus peduli pada mereka?
Untuk sesaat, ruangan itu terasa sunyi.
Esmera menatap wajah datar Edris dengan tatapan penuh kebencian. Ada begitu banyak luka yang ingin ia luapkan, tetapi ia tidak akan memberikan kepuasan kepada pria itu untuk melihat dirinya hancur.
Esmera sudah mati sekali, dia tidak akan membiarkan siapa pun membuatnya mati untuk kedua kalinya.
Dia mengangkat dagunya, berusaha mengembalikan ketenangannya.
Aku tidak akan terjebak oleh permainanmu, Edris Ruan. Apa pun yang ingin kau ketahui tentang masa depan, aku tidak akan memberitahukannya dengan mudah.
Dan jika kau ingin menggunakan masa lalu leluhur kita untuk memainkan emosiku, kau salah besar!
“Kau menderita di istana?” Edris menatap Esmera dengan alis sedikit terangkat. Pengakuan itu rupanya sedikit mengganggunya.“Memangnya apa yang telah kulakukan? Apa aku terus memaksamu untuk berhubungan suami istri? Apa aku melakukannya sambil mengikatmu, atau…”
“Bukan seperti itu!”
Esmera langsung memotong ucapan Edris sebelum raja itu menyelesaikan kalimatnya. Wajahnya seketika memerah karena tidak menyangka seorang raja bisa berbicara sebebas itu.
Dia menatap Edris dengan tatapan tidak percaya.“Bagaimana bisa seorang raja mengatakan hal-hal seperti itu?” gerutunya, benar-benar merasa telinganya terganggu.
Edris justru tampak santai. Tidak ada sedikit pun rasa malu di wajahnya. Ia malah menyandarkan tubuhnya dengan tenang, seolah apa yang baru saja ia katakan merupakan hal yang sangat wajar.
“Kenapa?” tanyanya polos."Bukankah kau adalah istriku. Itu bukan hal yang aneh jika di masa depan aku melakukan semua itu padamu.”
Esmera semakin mengernyitkan kening.
Memang benar mereka adalah pasangan suami istri di masa depan, tetapi mendengar Edris membicarakan hal semacam ini dengan wajah setenang itu tetap membuatnya tidak nyaman.
Karena dahulu, jangankan untuk berbicara seperti ini, melihat bayangan seorang Edris Ruan saja Esmera harus menunggu berhari-hari tanpa kepastian.
“Lagipula,” lanjut Edris,"aku hanya bertanya, hal apa yang membuatmu menderita?” Nada suaranya mulai terdengar lebih serius, meskipun sudut bibirnya masih menyimpan senyum tipis.
“Aku ingin tahu apa yang terjadi di masa depan. Kalau kau mengatakan kehidupanmu di istana begitu buruk, tentu aku harus tahu penyebabnya.”
Esmera terdiam sejenak.
Ada sedikit kesungguhan dalam tatapan Edris yang membuatnya sulit mengabaikan pertanyaan itu. Namun sebelum Esmera sempat menjawab, Edris kembali membuka mulut.
“Bisa saja di masa depan aku melakukan itu semua,” katanya santai.“Karena sekarang pun rasanya aku ingin sekali me...”
“Hentikan, Yang Mulia!” Esmera kembali memotong ucapannya dengan wajah kesal.“Ucapan Anda yang sangat tidak sopan ini sangat mengganggu telingaku.”
Edris masih memberikan tatapan datarnya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap.
Esmera memasang wajah kesal, sementara Edris justru terlihat seperti sedang menahan tawa. Tidak lama kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil."Kau gadis yang sangat pemarah.”
Esmera mendengus pelan. Ia sudah mulai lelah menghadapi pertanyaan-pertanyaan Edris yang menurutnya terlalu pribadi. Terlebih lagi, lelaki itu terus saja membicarakan masa depan seolah-olah penderitaan yang dialaminya hanyalah sesuatu yang menarik untuk dibahas.
“Kalau Anda terus berbicara sembarangan, tentu saja aku akan marah.”
Edris terlihat mengangguk pelan, seolah baru saja menemukan sesuatu yang menarik. Bukannya tersinggung, sudut bibirnya justru sedikit terangkat. Tatapannya kembali tertuju pada Esmera, memperhatikan setiap perubahan ekspresi gadis itu dengan penuh selidik.
Namun, beberapa saat kemudian wajahnya kembali serius.“Tapi aku masih sangat ingin tahu penyebabnya, Esmera. Apa yang membuatmu menderita ketika menjadi istriku?"
Pertanyaan itu lagi.
Sejak mengetahui bahwa Esmera bisa melihat masa depan dan bahwa dirinya adalah suami gadis itu di masa tersebut, Edris seolah tidak pernah merasa cukup dengan jawaban yang diberikan.
Esmera menyipitkan mata.“Aku sudah mengatakannya berulang kali, Yang Mulia. Aku sakit hati karena dibuang oleh kerajaan sebab tidak bisa memberikan penerus untuk Anda.”
Edris tidak langsung menjawab. Lalu...
“Bagaimana jika aku berjanji padamu?”
Esmera mengerutkan kening.“Berjanji apa?”
“Bahwa aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang terlihat di masa depan.”
Esmera terdiam.
Edris menatapnya lurus-lurus.“Jika suatu hari kau benar-benar menjadi ratuku, aku tidak akan membuangmu hanya karena kau tidak mampu memberiku seorang penerus. Apa kau masih ingin melarikan diri dariku?"