Anjani Pitaloka Notokoesoemo terbiasa hidup serba kecukupan, apapun yang ia inginkan pasti mampu ia dapatkan, termasuk jabatan yang sekarang ia pakai.
Anjani adalah perempuan yang berpengaruh di dunia bisnis. Dia mempunyai kekuasaan, gelar dan harta melimpah.
Tidak hanya itu, Anjani juga mempunyai suami seorang CEO di perusahaan ternama. Siapapun pasti tergiur dengan kehidupan pribadinya, tentu juga menilai bahwa dia adalah perempuan yang kehidupannya sangat sempurna.
Namun, setelah lima tahun pernikahan, Anjani mengetahui Syahrul Bhaskara telah berselingkuh dengan seorang sekretaris bernama Yeshika Larasati.
Hidup Anjani seperti berhenti, dan otaknya berpikir, ternyata selama ini ia tidak pernah mendapatkan cinta dari suaminya?
Semalaman menangis, akhirnya ia memutuskan untuk diam. Alih-alih mengemis cintanya lagi, ia membiarkan mereka bermain, dan ia menyelidiki seberapa jauh mereka berselingkuh untuk ia jadikan objek balas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lullabyyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Hati Syahrul
Rapat yang dimaksud Syahrul adalah bergumul dengan Yeshika di hotel yang biasa mereka pesan. Tadi pagi ia baru melihat pesan Yeshika, lalu kekasihnya marah-marah lewat telepon memaksanya untuk segera datang, dan berakhir bermain di ranjang.
"Apa yang kamu lakukan semalam hingga mendapat tagihan kerugian?" Kepala Syahrul langsung terasa pening tatkala membaca pesan dari bagian administrasi hotel, ia mendapat tagihan dengan nominal dua puluh juta dalam semalam, hal itu tentu saja membuatnya hampir murka acap kali melihat wajah Yeshika.
Yeshika masih berbaring dengan menggunakan paha Syahrul sebagai bantal. Tubuhnya tidak mengenakan pakaian, hanya selimut tipis yang menutupi bagian pusar hingga bawah.
"Aku hanya tidak suka dengan alasanmu sibuk. Aslinya sibuk dengan Anjani, kan?" gerutu Yeshika.
Syahrul makin jengkel. Ia menghembuskan napas kasar, menyalakan rokok dan segera menenangkan diri di antara kepulan rokok. Sementara tangannya yang lain bergerak memutar pada dada Yeshika.
"Dia masih istriku," balas Syahrul seadanya, tetapi berhasil membuat kekasihnya terduduk di depannya tanpa sehelai benang pun dan menatapnya marah.
"Syah--"
"Sst, jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu," potong Syahrul sambil mendorong tubuh Yeshika kembali berbaring, lalu ia turun dari atas kasur menuju kamar mandi tanpa memedulikan seorang perempuan yang menatapnya sebal.
Tidak lama kemudian Syahrul kembali dengan hanya mengenakan handuk, dia baru saja mandi. Mengganti pakaian di depan Yeshika, setelah itu termenung menatap beberapa dokumen yang tertata di atas meja rias.
Syahrul mengambilnya dan membacanya dengan teliti, tidak menggubris Yeshika yang sibuk membereskan kekacauan kamar sambil terus bersenandung pelan.
"Pastikan semua dokumen kamu baca ulang, hubungi beberapa investor untuk melakukan pertemuan rutin mulai minggu depan, sebentar lagi perusahaanmu akan beroperasi." Tumpukan kertas itu Syahrul letakkan kembali, lalu menatap cermin rias sambil bersiul-siul, sesekali matanya melihat Yeshika dari pantulan cermin.
Yeshika telah berpakaian. Dia duduk di pinggir ranjang dan tampak menikmati sesuatu dari ponsel yang dia pegang.
Ponsel hitam di atas nakas diambil oleh Syahrul. Dia duduk di samping Yeshika dan mulai membuka beberapa aplikasi, membiarkan ruangan yang mereka huni menjadi sunyi.
Hingga Syahrul menuduh Yeshika melakukan sesuatu yang tak pernah dilakukan perempuan itu.
"Kau menghapusnya?"
"Hapus apa?"
"Foto Anjani."
Yeshika mematung, seluruh tubuhnya seketika seperti dijatuhi puluhan ton balok-balok es, lalu disambar petir dari entah berantah. Syahrul memarahinya barusan, ia pikir karena ada masalah gawat di foto itu, ternyata foto istrinya.
"Aku tidak menghapusnya," beo Yeshika, ia masih menahan diri untuk tidak marah, menekan lututnya menggunakan telapak tangan.
"Jangan bohong. Di ruangan ini hanya ada---"
"Syahrul! Bahkan ponselmu itu memakai sidik jarimu untuk membukanya, bagaimana aku bisa menghapus foto manis istrimu itu!!" pekik sang perempuan, dia berdiri menghadap Syahrul, tatapannya menjadi sinis.
Syahrul yang masih duduk tidak mengatakan apapun, justru dia menyimpan ponselnya dan menatap Yeshika dengan tenang, seolah amarah sang kekasih bukanlah suatu hal yang besar.
"Hanya sebuah foto, kenapa begitu penting?" Yeshika menunduk, jarinya menarik dasi merah yang Syahrul kenakan, ia mencoba mencari tahu jawabannya sendiri. Namun, Syahrul sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Yeshika melepas pegangannya pada dasi, "Ah, apa karena itu Anjani? Pose seperti apa yang ada di foto itu? Pose bergairah? Atau sesuatu yang membuat adik manismu di bawah itu menjadi tegang?!"
Syahrul seketika berdiri, menampar Yeshika dengan cepat hingga kepala perempuan itu berputar tiga puluh derajat ke arah kiri.
"Kenapa kau jadi membosankan seperti ini?" sungut Syahrul sambil menatap Yeshika.
Tamparan yang mengenai pipinya itu adalah kenyataan amat pahit. Selama ini Yeshika tak pernah merasakan hal konyol ini. Pipinya panas, tangannya mengusap permukaan kulitnya, sementara air mata jatuh dari pelupuk matanya.
"Aku membosankan?" Suara Yeshika bergetar. Yang ditampar pipinya, tetapi yang sakit hatinya. "Bukankah kamu yang mulai merasa nyaman dengan Anjani!" lanjutnya sambil mendorong bahu Syahrul dengan sekuat tenaga.
Kaki Syahrul berhasil mundur ke belakang satu langkah. "Kau sedang membicarakan apa?!"
"Sekarang aku tanya satu hal darimu. Setelah ini kamu benar akan menceraikan Anjani? " Yeshika menatap Syahrul, pria itu masih diam. Air matanya semakin deras.
"Kamu diam. Berarti selama ini memang nggak ada pemilihan? Memang sejak awal aku nggak pernah dipilih? Kau hanya datang kepadaku ketika kamu bosan dengan rumah tanggamu, apa aku emang nggak pernah ada dihatimu barang sedikit, pun?"
Hancur sudah pertahanan Yeshika selama ini. Emosinya benar-benar meledak dalam satu kalimat panjang yang ia lontarkan pada Syahrul. Perasaan yang amat menusuk di sisi lain tubuhnya seolah perlahan-lahan merobek jiwanya.
Yeshika jatuh terduduk ke atas lantai. Kedua tangannya menjuntai begitu saja di atas pahanya. Kepalanya tertunduk dan getaran di bahu semakin kencang.
Perlahan, isak tangis Yeshika terdengar nyaring, baru saat itu Syahrul langsung duduk jongkok dan membawa Yeshika ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku, Yeshika. Sungguh, aku tidak bermaksud memainkan hatimu. Aku hanya terbawa emosi," bisik Syahrul, tetapi tidak didengar oleh perempuan itu, justru tubuhnya sering kali dipukuli hanya untuk memuaskan rasa marah sang pujaan hati.
Tatapan Syahrul jauh lurus ke jendela kaca, tak ada gelombang bersalah pada sorot matanya, sementara tangannya terus membelai punggung Yeshika berusaha menenangkan.
Beberapa menit berlalu, Yeshika tertidur di pelukan kekasihnya. Sebab itu, Syahrul seketika langsung menggendong tubuh agak berisi Yeshika ke atas ranjang, menutupnya menggunakan selimut dan menghela napas panjang.
"Dia perempuan yang emosinya suka sekali naik turun, berbeda dengan Anjani yang terlalu tenang," gumam Syahrul. Jemarinya mengetik sesuatu di ponsel, lalu menatap perempuan yang sedang tertidur dengan tatapan lembut.
Tak lama ponselnya berdering, ia mengangkat panggilan itu, "Tolong sediakan layanan VVIP untuk Nona Yeshika."
"Siap, Tuan Syahrul."
Setelah mendapat balasan di sebrang sana, Syahrul langsung mengakhiri panggilannya. Lalu ia membuka satu aplikasi, langsung menunjukkan sebuah vidio, perlahan senyumnya mengembang.
"Lucu sekali," bisik Syahrul sambil menyeringai. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan pergi menuju pintu keluar, meninggalkan Yeshika yang masih tertidur pulas.
"Kamu terlihat manis bila ketakutan, Anjani."