Indonesia
NovelToon NovelToon
RED CROWS

RED CROWS

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:670
Nilai: 5
Nama Author: D'syam

"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."

Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.

Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.

Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1 Minggu

Bau gosong tembakau mahal dan deru halus pendingin udara ruangan menyambut langkah kaki Daren begitu dia melintasi gerbang baja bertekanan tinggi Sektor Zero. Kemeja putih seragam sekolahnya masih terpasang rapi, namun jaket kulit hitamnya terlipat rapat di tangan kanan. Wajah tampannya yang biasa dingin kini diselimuti oleh kepekatan fokus yang sangat pekat—sebuah pendar emosi yang tertahan dari pertemuannya dengan Brian di Taman Kota.

Daren tidak melangkah menuju kamarnya, melainkan lurus menyusuri koridor marmer hitam menuju Ruang Pribadi Pemimpin Tertinggi.

SZZZT!

Pintu jati ganda mendesis terbuka secara otomatis.

Di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu, Argus sedang berdiri di dekat meja batu granit hitamnya seraya meminum cangkir kopi pahit. Pria penguasa dunia bawah tanah itu menengadah, menyunggingkan senyuman tipis saat melihat kedatangan murid kesayangannya.

"Kau kembali cepat dari taman kota, Daren," ucap Argus dengan suara tebalnya. "Joe baru saja memberitahuku bahwa kau menghabiskan sebatang rokok bersama Brian dari Blue Horns."

Daren melangkah lebar, berhenti tepat dua meter di depan meja Argus. Manik mata kelabunya menatap lurus ke dalam mata sang Pemimpin Tertinggi tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Tuan Argus," panggil Daren dengan suara yang sangat tebal, rendah, dan bergetar oleh ketegasan mutlak. "Saya menghadap untuk meminta izin dari Anda. Saya ingin menundukkan seluruh faksi geng motor Blue Horns dan membawa mereka sepenuhnya di bawah cengkeraman kekuasaan Red Crows."

Mendengar permintaan tersebut, alis tebal Argus seketika menyatu. Pria besar itu meletakkan cangkir kopinya ke meja dengan dentukan pelan, memandangi Daren dengan raut wajah kaku dan penuh keheranan.

"Blue Horns?" ulang Argus seraya menggelengkan kepalanya pelan. "Daren... mereka hanyalah sayap kroco jalanan skala kecil milik Viper Syndicate. Menundukkan mereka hanya akan membuang energi pasukan kita dan memicu peringatan dini bagi Viktor di Sektor Selatan sebelum kita siap meratakan markas utamanya. Kenapa kau mendadak ingin menyentuh faksi kecil seperti itu?"

Daren tidak menceritakan pengakuan Brian mengenai kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tua kandungnya. Daren sengaja mengunci penderitaan dan dendam lamanya di dalam relung jiwanya sendiri. Dia tidak ingin Argus atau para Eksekutif lainnya menganggap keputusan taktisnya didorong oleh kecerobohan emosi pribadi.

Daren merapatkan posisinya, menatap Argus dengan pandangan mata yang membeku.

"Mereka adalah saksi kunci sekaligus perisai depan terkuat yang dimiliki Viktor di jalanan Sektor Barat, Tuan Argus," jawab Daren dengan alasan taktis yang sangat logis. "Jika kita memotong Blue Horns dan menundukkan mereka di bawah cengkeraman kita, kita tidak hanya melumpuhkan mata-mata Viktor di jalanan, tapi kita juga mendapatkan puluhan pengendara yang paham seluruh rute rahasia dan persembunyi musuh di Sektor Selatan."

Argus membisu sejenak. Pria penguasa bawah tanah itu menatap mata kelabu Daren secara mendalam, mencoba membaca kebenaran di balik alasan muridnya. Argus menyadari ada kilatan bara api yang sangat dalam di balik dinginnya mata Daren—sebuah kegigihan yang tidak bisa dipatahkan oleh siapa pun.

Setelah keheningan panjang menyelimuti ruangan, Argus menghembuskan napas panjang, menganggukkan kepalanya pelan.

"Baiklah, Daren," tegas Argus. "Aku izinkan kau menundukkan Blue Horns dengan caramu sendiri. Tapi ingat... jangan sampai pergerakanmu membuat Viktor melarikan diri sebelum kita memotong lehernya."

"Diterima, Tuan Argus. Terima kasih," sahut Daren tegas sebelum membungkuk hormat dan membalikkan badannya melangkah keluar dari ruangan.

Sektor Utara – Laboratorium Khusus Riset dan Medis Sektor Zero

Langkah kaki Daren kini membawa tubuh tegapnya menuruni lorong steril berdinding kaca tebal di lantai tiga fasilitas medis bawah tanah. Suasana di laboratorium utama sangat tenang, hanya diisi oleh suara bip halus dari mesin-mesin indikator zat kimia dan pendar cahaya penerangan bernuansa kebiruan.

Di dalam ruangan kaca berukuran luas, terlihat Firman sedang berdiri mengenakan jas laboratorium putih. Remaja jenius kimia itu sedang berjibaku dengan sangat tekun di depan meja reaktor stainless-steel, meracik dan menguji kestabilan larutan pemurni baru di bawah bimbingan sesosok pria berambut uban berpenampilan anggun.

Dr. Anthony. Kepala Divisi Sains, Obat-obatan, dan Teknologi Biologis Red Crows.

Daren menekan tombol panel pintu kaca, melangkah masuk ke dalam area laboratorium steril.

SZZZT!

Firman yang sedang meneteskan cairan kimia ke dalam tabung reaksi tersentak pelan, menengadah. "Daren?"

Dr. Anthony membetulkan kacamata bacanya, memalingkan wajahnya menatap Daren seraya menyunggingkan senyuman tipis yang ramah. "Ah, Daren... Ada apa berkunjung ke laboratorium medis siang ini? Firman baru saja menyelesaikan formula pemurni zat sintetis yang sangat stabil."

Daren mengangguk tipis pada Firman, namun pandangan mata kelabunya lurus terkunci pada Dr. Anthony.

"Dr. Anthony," suara Daren keluar tebal dan serius. "Saya butuh bantuan Anda untuk urusan pribadi yang sangat krusial."

Dr. Anthony menaikan sebelah alisnya, menghentikan aktivitasnya. "Urusan pribadi? Katakan, Daren. Jika itu mengenai kesehatan atau kondisimu, aku siap membantumu."

Daren melangkah mendekati meja kerja Dr. Anthony. Dia menyandarkan kedua tangannya yang kokoh di atas meja, menatap dokter senior itu dengan ketelitian tinggi.

"Bagaimana caranya..." kata Daren pelan namun menuntut kebenaran, "...agar aku bisa memutar dan mengingat kembali seluruh memori ingatanku saat aku berusia lima tahun?"

Mendengar pertanyaan dari mulut Daren, Firman di sudut meja seketika membeku kaku, sementara Dr. Anthony mendadak tersentak hebat. Dokter tua itu membelalakkan matanya di balik kacamata, menatap Daren dengan pandangan terkejut luar biasa.

"Mengingat memori usia lima tahun?" ulang Dr. Anthony dengan suara yang agak bergetar. "Daren... trauma psikologis dan blokade ingatan di usia belita adalah mekanisme pertahanan alami otak manusia. Mengapa kau mendadak ingin menggali ingatan dari masa kecilmu yang sudah terkubur belasan tahun lalu?"

"Karena di dalam ingatan masa kecil itu..." jawab Daren, matanya memancarkan pendar kepekatan dendam yang membakar, "...terdapat kebenaran mutlak mengenai kecelakaan maut yang merenggut nyawa kedua orang tua kandungku. Aku harus melihat wajah dan nama pelaku utama yang memerintahkan pembunuhan itu."

Dr. Anthony menelan ludahnya yang terasa sangat pahit. Dokter tua itu menghela napas panjang, melangkah perlahan menuju sebuah lemari besi tertutup di sudut laboratorium yang dilapisi enkripsi tiga lapis.

Dr. Anthony menempelkan telapak tangannya pada scanner biometrik. Pintu lemari besi itu mendesis terbuka, memperlihatkan sebuah perangkat teknologi tinggi yang sangat kompleks.

Perangkat itu berwujud sebuah helm serat karbon hitam yang terhubung dengan belasan kabel serat optik halus, dipadukan dengan konsol pemindai gelombang otak dan monitor proyeksi visual tiga dimensi.

Dr. Anthony memandangi perangkat itu dengan raut wajah yang sangat ragu dan cemas.

"Perangkat ini..." kata Dr. Anthony pelan seraya menyentuh helm serat karbon tersebut, "...bernama Neuro-Memoria Proyektor. Sebuah mesin eksperimental yang kurekayasa secara rahasia selama empat tahun terakhir. Fungsinya adalah memetakan gelombang sinapsis otak terdalam, menembus lapisan amnesia traumatik, dan memproyeksikan rekaman ingatan masa lalu ke dalam bentuk visual tiga dimensi."

Firman melangkah mendekat dengan mata membelalak heran. "Mesin perekat memori? Apakah alat itu bekerja, Dok?"

Dr. Anthony memalingkan wajahnya menatap Daren dengan pandangan yang sangat cemas.

"Secara teori... ya, alat ini sanggup memutar kembali ingatan masa kecil yang terhambat," jelas Dr. Anthony. "Tapi Daren... aku sangat ragu untuk menggunakannya padamu. Pertama, alat ini belum pernah diuji coba secara penuh pada manusia hidup. Kedua, aku belum mendapatkan izin resmi dari Tuan Argus. Dan yang paling berbahaya... menembus amnesia traumatik secara paksa menggunakan stimulasi listrik halus dapat memicu kejang saraf hebat atau merusak sel otakmu jika gagal!"

Mendengar risiko kematian dan kerusakan saraf tersebut, Firman memegang lengan Daren dengan cemas. "Daren... itu terlalu berbahaya! Jangan lakukan!"

Namun, Daren sama sekali tidak berkedip. Ancaman kerusakan saraf atau risiko kegagalan tidak ada artinya dibanding dahaganya akan kebenaran masa lalu.

Daren mencengkeram tepi meja besi Dr. Anthony, menatap dokter tua itu dengan ketegasan membeku yang tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun di bumi.

"Aku tidak peduli pada risikonya, Dr. Anthony," tegas Daren, suaranya tebal dan bergetar oleh kepatuhan pada tujuannya. "Jadikan aku bahan percobaan pertamamu untuk mesin ini. Aku siap menanggung seluruh konsekuensinya!"

"Daren! Kau tidak boleh bertindak segila ini!"

Sebuah suara tebal dan marah mendadak menggema keras dari arah pintu laboratorium!

BRAAK!

Argus melangkah masuk ke dalam laboratorium bersama Mike! Pria penguasa bawah tanah itu memiliki raut wajah yang sangat tegang. Melalui kamera pemantau internal laboratorium, Argus telah mendengar seluruh percakapan nekad murid kesayangannya itu.

Argus melangkah kencang mendekati Daren, menepuk bahu tegap pemuda itu dengan kencang.

"Kau tidak boleh menyentuh mesin gila itu, Daren!" bentak Argus dengan suara yang memendam amarah dan kecemasan seorang ayah. "Aku tidak akan membiarkan Eksekutif Utama terbaikku mempertaruhkan nyawa dan sel otaknya demi mesin eksperimental yang belum teruji! Aku melarang penggunaan alat ini!"

Daren menengadah, menatap lurus ke dalam mata hitam Argus. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, Daren menunjukkan penolakan dingin terhadap perintah langsung pimpinan tertingginya.

"Tuan Argus..." suara Daren keluar sangat rendah namun menusuk ke bagian terdalam jiwa Argus, "...selama enam tahun saya mendedikasikan hidup dan darah saya untuk Red Crows dan perintah Anda tanpa pernah membantah sepatah kata pun. Tapi untuk urusan ini... ini adalah tentang penderitaan dan darah kedua orang tua kandung saya sendiri."

Daren menegakkan dadanya yang tegap, tidak menundukkan kepalanya. "Saya yakin tubuh dan jiwa saya tidak akan pernah hancur hanya karena stimulasi mesin ini. Izinkan saya melakukan percobaan ini, atau saya akan mencari cara sendiri di luar markas ini."

Keheningan yang sangat berat dan mencekam menyelimuti seluruh area laboratorium steril.

Argus membeku di tempatnya berdiri. Manik matanya menatap Daren dengan rasa terkejut yang luar biasa besar. Pria penguasa bawah tanah itu melihat dengan sangat jelas bahwa di dalam dada Daren, ada sebuah kebutuhan akan kebenaran yang jauh lebih besar dari rasa takutnya pada kematian.

Argus menundukkan kepalanya tipis, menghembuskan napas panjang yang sangat berat. Dia menyadari bahwa melarang Daren hanya akan membuat pemuda itu bertindak nekat secara liar di luar kendali mereka.

Argus memalingkan wajahnya menatap Dr. Anthony. "Anthony... bagaimana kesiapan mesinmu?"

Dr. Anthony mengusap keringat dingin di dahinya, memeriksa konsol indikator pada mesin Neuro-Memoria Proyektor.

"Mesin ini belum siap seratus persen untuk digunakan hari ini, Tuan Argus," jawab Dr. Anthony dengan nada analisis yang cermat. "Ada beberapa modul stabilisator gelombang sinapsis dan pendingin cairan otak yang masih harus kurancang dan sempurnakan agar tidak membakar saraf Daren saat stimulasi berjalan."

Dr. Anthony menatap Daren dengan pandangan mata yang sangat serius. "Aku butuh waktu tepat satu minggu untuk menyempurnakan rancangan dan merakit modul keamanan terakhir pada mesin ini, Daren. Jika kau bersabar menunggu satu minggu... aku berjanji akan menguji coba mesin ini padamu dengan tingkat keamanan tertinggi yang bisa kubuat."

Daren mengepalkan tangannya di samping paha. Waktu satu minggu terasa begitu lama di tengah dahaga kebenarannya, namun dia menyadari bahwa memberi waktu bagi Dr. Anthony untuk menyempurnakan alat tersebut adalah langkah strategis yang paling rasional.

Daren mengangguk kencang tanpa ragu sedikit pun.

"Satu minggu," ucap Daren dengan ketegasan mutlak. "Aku memberi Anda waktu satu minggu, Dr. Anthony. Dan setelah satu minggu itu... aku akan duduk di atas kursi itu dan melihat seluruh kebenaran masa laluku!"

Argus menepuk bahu Daren dengan kencang seraya tersenyum bangga di balik ketegangannya, sementara Firman hanya bisa menghela napas pasrah melihat tekad baja sahabatnya.

Hitungan mundur tujuh hari menuju pembukaan rahasia masa lalu sang Gagak Merah... kini secara resmi telah dimulai di kedalaman Sektor Zero.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!