Indonesia
NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:183
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27. Perjalanan. Wati Pingsan

Panas terik matahari terasa sekali. Suhu panasnya sangat menyengat sekali, terasa membakar kulit, kepala terasa tersengat oleh sinar dan panasnya.

Wati masih terus saja berjalan menuju ke Balai kampung dengan jarak yang terlihat antara dirinya dan Slamet.

"Bu Wati, nanti sepulang dari Balai Kampung kita singgah di warung Widuri ya!" kata Slamet sedikit berteriak dengan nafas ngos-ngosan tidak teratur, sebab dirinya mulai keletihan. Padahal Slamet guru olahraga.

Wati tetap saja tIdak menghiraukan Slamet, sebab tujuannya adalah ke Balai kampung untuk menyelesaikan persyaratan yang diminta Kepala kampung, lagi pula dirinya masih teringat dengan jelas peristiwa Harjo berjalan berdua bersama Widuri dengan mesra, membuat hatinya bertambah kesal dan marah karena perasaan cemburu yang kembali membesar, mendesak di dada dan pikirannya. Dirinya sudah semakin terbakar saja.

Slamet mencoba kembali mendekati untuk mengutarakan maksud di dalam hatinya, namun kembali Wati mempercepat langkahnya.

"Sudahlah, Wati mungkin masih marah terhadap ku. Aku terima nasib saja, apapun yang di ucapkan Wati nantinya." gumam Slamet, merasa pasrah menghadapi apa yang akan terjadi nantinya di Balai kampung.

"Padahal Aku hanya ingin membahas sedikit persoalan ini, tetapi Wati masih saja terus mempercepat langkahnya. Aduh bagaimana ini." Runtuk Slamet penuh kebimbangan dan keraguan. Dirinya juga cukup letih mengejar Wati.

Slamet akhirnya berhenti di bawah sebuah pohon rindang, untuk mengurangi penat dan menghindari panas sinar matahari yang tampak begitu besar dan kuning menghiasi langit tanpa awan, bak telur mata sapi yang menggoda buatan Widuri, perawan cantik, pemilik warung makan di persimpangan jalan itu.

Wati tetap saja berjalan tanpa menghiraukan keberadaan Slamet. Panas matahari menambah sesak dihatinya. ***

Di sebuah warung yang ramai oleh pelanggan yang sedang makan siang, Widuri sedang sibuk melayani pelanggannya yang adalah bapak-bapak dan pemuda yang adalah penduduk kampung ini. Tiba-tiba dirinya bersin-bersin dan kepalanya terasa pusing seperti di pukul. Namun karena sedang melayani pelanggan maka semuanya diindahkannya saja. Untungnya kejadian itu terjadi ketika dirinya berada jauh dari orang lain dan juga dagangannya, sehingga tidak ada yang komplen. ***

Wati yang sudah berjalan sejauh ini, sudah meninggalkan Slamet hingga beberapa belokan. Dirinya sudah cukup lelah berjalan di bawah sinar terik matahari dengan hati penuh luka, ketika mendekati persimpangan jalan di dekat warung Widuri.

Kepala Wati terasa semakin sakit dan berat, pandangan matanya semakin gelap, tubuhnya terasa lemas sekali dan akhirnya perlahan-lahan tubuh Wati mulai tidak sanggup lagi menahan dan Wati mulai terjatuh, tetapi sebelum semua itu terjadi, seorang pemuda dengan sigap menangkapnya.

Wati pingsan.

"Bu Wati... Bu Wati..." Panggil pemuda itu, mencoba menyadarkan Wati, namun tidak ada jawaban.

Para pelanggan warung Widuri yang berada di dekat tempat terjadinya, segera berhamburan keluar hendak melihat peristiwa yang terjadi atau berniat menolong juga.

Mereka semua segera berada di persimpangan jalan itu, Widuri pemilik warung juga mengikuti dari belakang karena dirinya belum mengetahui peristiwa yang telah terjadi.

Dari kejauhan Widuri melihat Harjo pemuda yang dicintainya sedang merangkul seorang wanita muda juga cantik, berkulit putih dan berambut panjang yang tak lain dan tak bukan adalah Wati.

Bagai di sambar gledek di siang hari perasaan WIduri.

Perasaan cemburunya memuncak, iri dan ingin sekali berada di posisi Wati saat ini. Di rangkul Harjo adalah impiannya.

Namun Widuri hanya dapat memendam semuanya, dirinya tidak mempunyai hak apa pun terhadap Harjo.

Melihat kejadian itu seseorang yang sudah cukup berumur namun sehat, berkata.

"Bawa masuk ke warung Widuri saja Jo. Mungkin kepanasan sehingga jatuh pingsan." pinta Pak Mul kepada Harjo.

"Iya benar, disitukan panas. Bawa ke dalam saja Jo." Widuri menambahkan.

Para pelanggan yang berada di tempat itu juga membenarkan saran dari Pak Mulya dan Widuri.

Widuri segera menyusun beberapa bangku yang tidak digunakan pelanggan sebagai tempat Harjo membaringkan Wati.

Harjo mengangkat tubuh Wati yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri menuju warung Widuri dengan menggendong ala bride. Warga yang berada di sekitar, hanya dapat melihat dan memberikan jalan kepada Harjo, serta mengikutinya kembali ke dalam warung.

Harjo segera membaringkan tubuh Wati atas bangku yang telah di siapkan Widuri dengan posisi kepalanya di atas pangkuan Harjo agar tidak terlalu turun ke bawah. Harjo menyediakan pangkal pahanya untuk sandaran kepala Wati, sedangkan Widuri membawakan minyak angin yang sengaja dibawanya dari rumah.

Widuri sering menyediakan minyak angin sekedar untuk menghangatkan tubuhnya ketika udara terasa dingin, sehingga minyak angin selalu tersedia dengan merk Sinyong-nyong itu.

Awalnya Harjo menolak untuk mengoleskan minyak angin ke kening dan hidung Wati sebab menurutnya Widuri sebagai sesama wanita lah yang lebih tepat untuk melakukannya.

"Sebaiknya kamu saja yang mengoleskannya." pinta Harjo kepada Widuri.

"Tidak, kamu saja Jo, tanganku masih pedas karena cabai pada dagangan ku, lagi pula aku tidak dapat melayani pelanggan kalau tanganku beraroma minyak angin, dong?" Widuri memberi alasan, mengapa dirinya tidak dapat melakukannya.

Pak Mulya yang juga kembali ke dalam warung untuk melihat keadaan dari Wati, serta melanjutkan kegiatan makannya, mendengar pembicaraan antara Harjo dan Widuri pun memberikan pendapatnya,

"Sudah, kamu saja Jo yang mengoleskannya, inikan keadaan genting dan di muka umum juga. Jangan sungkan, sebab Kamu hanya bermaksud menolong. Kami semua saksinya." tutur Pak Mulya, mendukung Widuri agar Harjo melaksanakan tugasnya.

"Benar.. Benar sekali." sambut beberapa pelanggan yang juga sedang melanjutkan kegiatan makannya.

"Baiklah... Saya akan lakukan." Ungkap Harjo, menuruti nasihat dari Pak Mulya dan para pelanggan.

Harjo pun segera mengoleskan minyak SiNyong-Nyong pemberian Widuri, kebagian tepi kepala dan sedikit di kening Wati, serta mendekatkan minyak angin tersebut ke hidung Wati.

Widuri memperhatikan sesekali kegiatan yang dilakukan oleh Harjo. Walaupun cemburu di dalam hatinya kembali menyeruak namun Widuri tetap tabah dan dengan profesional melayani pelanggannya dengan membuatkan setiap pesanan dengan baik.

Tiba-tiba dari pelupuk mata Wati yang tertutup, mengalir air mata. Wati yang masih pingsan tidak menjawab panggilan Harjo yang refleks menggoyang atau menampar kecil pipih Wati.

"Bu.. Bu Wati, bangun.. Mengapa anda menangis?" tutur Harjo sembari tetap menampar-tampar kecil bagian pipih dari Wati dengan penuh rasa khawatir.

Widuri yang melihat peristiwa itu segera datang mendekati sambil membawa makanan serta lauk ke atas meja disebelah tempat Wati berada.

Wati mengambil sapu tangan bersih dan langsung meminta Harjo mengelap air mata Wati, lalu mengingatkan Harjo untuk segera makan.

"Makanlah setelah kau selesai mengelap air matanya, Dia tidak apa-apa." pinta Widuri kepada Harjo yang sedari tadi belum sempat minum apa lagi untuk makan.

Harjo awalnya terkejut sekali, sebab Widuri merasa yakin sekali atas apa yang sedang terjadi dan di lain sisi, Widuri secara tiba-tiba sekali menyuruh makan tanpa dirinya meminta dibuatkan atau memesan terlebih dahulu. ***

Apakah Harjo akan makan?

Mengapa Widuri seakan-akan mengerti apa yang saat ini menimpa Wati?

Apa sebenarnya yang saat di alami Wati?

Bagaimana dengan Slamet?

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!